Yang Tua Yang Bersedia

Kamis, 4 October 2007

Sindo, 04 Oktober 2007 



September dan Oktober 2007 ini adalah bulan parade tentang siapa yang bersedia menjadi calon presiden 2009. Minimal sudah terdapat tiga nama, yakni Megawati Soekarnoputri, Abdurrahman Wahid dan Sutiyoso. Boleh dikatakan, mereka adalah golongan tua negeri ini, bersama Susilo Bambang Yudhoyono, Wiranto, Jusuf Kalla dan nama-nama lain. Apa lacur, kita memang belum mampu melakukan kaderisasi kepemimpinan (politik) nasional.  

Tapi, jangan harap golongan muda juga lebih siap. Sampai sekarang, belum ada yang berani mendeklarasikan diri sebagai calon presiden. Kebanyakan masih melakukan politik hit and run ala “Kabinet Bayangan” di DPR RI. Belum ada yang benar-benar serius berjibaku dengan massa, melemparkan ide-ide pembaharuan, lantas membalikkan opini-opini kontra secara cerdas dan matang. Kebersediaan golongan tua adalah jawaban dari ketiadaan golongan muda yang berani menyodorkan diri.  

Maka, jangan berani tertawakan apa yang dilakukan oleh Mbak Mega, Gus Dur dan Bang Yos itu. Mereka jelas telah menunjukkan secara piawai tentang jalan kearah perebutan kepemimpinan nasional. Kalaupun caranya terkesan jago kandang, yakni pada forum partai sendiri, atau bahkan elitis dan borjuis karena dideklarasikan pada sebuah hotel berbintang, sudah terlihat mereka punya nyali.  

Lalu, dimana para anak-anak muda? Sebagian besar masih menjadi penyanyi latar dari tampilnya golongan tua itu. Mereka menjadi begitu fasih menyampaikan tentang keunggulan komparatif para golongan tua yang mereka dukung dan sokong. Ada yang menyebut nasionalisme, yang lain moralitas, sisanya relegiusitas. Indonesia memang memiliki pengalaman dengan retorika menembus langit dan keyakinan menghunjam bumi.  

Sungguh sayang, hampir tidak ada lagi yang berteriak deras dan keras seputar humanisme. Kasih sayang sesama manusia yang hidup meranggas. Perhatian minim kepada kaum miskin dan anak-anak telantar. Para kelompok elite bertepuk tangan atas pendeklarasian Bang Yos jadi Bakal Calon Presiden, sementara kalangan gelandangan, pengemis, Pak Ogah, pedagang asongan, dan lain-lain di Jakarta merana kena Perda Ketertiban Umum. Yang namanya Perda, tentu disusun bersama-sama, kolaboratif, antara Gubernur dengan DPRD DKI Jakarta.  

Kaum  miskin dan anak-anak telantar makin diabaikan oleh negara. Akibatnya? Pelanggaran konstitusi secara telanjang dan lantang. Soalnya, UUD 1945 menyatakan bahwa fakir miskin dan anak-anak telantar dipelihara oleh negara. Karena itu pula, ketika ada Perda yang menyuruh masyarakat mengabaikan kelompok fakir miskin dan anak-anak telantar, sudah selayaknya para penyusun Perda itu dikategorikan sebagai pelanggar hak-hak konstitusional warga negara.  

***  

Mengapa golongan tua terus bersedia menyalonkan dirinya? Pertama, kenikmatan dalam mempertahankan kekuasaan, sembari memberi jalan kepada kelompoknya sendiri. Kedua, ketiadaan upaya untuk bekerjasama di antara golongan tua sendiri, dengan peranan berbeda. Ketiga, ketersediaan sumberdaya pendukung, terutama material. Keempat, ketidakpercayaan kepada kelompok muda.  

Tentu yang paling dominan adalah ketidakpercayaan kepada golongan muda. Barangkali faktor terpentingnya adalah anak-anak muda juga menjadikan golongan tua itu sebagai patron. Hubungan egaliter sulit dibangun dalam situasi politik yang membutuhkan loyalitas, baik vertikal (kepada pemimpin), maupun horizontal (kepada organisasi). Loyalitas itu bahkan mengalahkan kesetiaan kepada negara dan ketakutan pelanggaran atas hukum.  

Kita tentu masih berharap betapa golongan muda yang mendominasi ranah demografi (kependudukan), akan terwakili dalam kancah politik. Golongan muda yang mampu membaur dengan kebutuhan masa sekarang dan masa datang, bukan tergayut punggungnya dengan masa lalu. Ada sejumlah anak-anak muda yang setia kepada partai politik dan tokoh pahlawan idola pada masa lalu, tetapi mengabaikan masa depan. Dendam menjadi pilihan untuk memicu perlawanan.  

Beberapa negara bisa menjadi makin baik, ketika energi perlawanan ditujukan kepada negara lain. Misalnya: Malaysia atas Singapura dan Korea Selatan terhadap Jepang. Sementara kita terus memupuk dendam atas pilihan masa lalu yang buruk, berdarah dan kejam yang diambil oleh para tokoh bangsa. Padahal, kenalpun kita tidak kepada mereka. Bangsa ini tentu akan terus terkoyak apabila menjadikan persoalan golongan tua sebagai masalah bersama.  

Perhatian yang lebih kepada golongan kanak-kanak adalah bagian penting dari keindonesiaan hari ini. Sayang, memang, halaman-halaman media terlalu dipenuhi oleh muka-muka golongan tua, sehingga bangsa ini selalu menoleh ke masa lalu. Sesekali, kehadiran para kanak-kanak yang bermimpi menjadi calon presiden juga perlu ada. Para orang tua yang bersedia menjadi presiden mudah-mudahan bukanlah orang-orang yang disibukkan dengan perseteruan di antara mereka, melainkan yang memikirkan nasib kanak-kanak Indonesia yang kian menggenaskan hidupnya.  

Selain itu, tampilnya para tokoh tua layak diikuti dengan visi yang jelas atas masa depan bangsa ini. Berikut, mereka layak menyusun kabinet bayangan atau kabinet impian. Dengan cara seperti itu, masyarakat bisa melakukan simulasi dan eksperimentasi, apakah mereka bisa saling bekerjasama atau selalu menohok kawan seiring, sebagaimana ditunjukkan oleh sejumlah tokoh hari ini. Dan yang paling penting, apakah mereka bisa disumpah untuk tidak takut kehilangan kekuasaan, apabila gagal memerintah?  

Usia memang menjadi salah satu prasangka dalam hubungan antar manusia, juga budaya. Barangkali itu yang terbenam dalam benak kita, ketika sejumlah orang yang disebut golongan tua selalu berkuasa, sementara dalam sejumlah patahan sejarah justru golongan muda menjatuhkannya. Tetapi, sejumlah kearifan juga bisa didapatkan dari kelompok-kelompok tua, selain tentu juga kepikunan kolektif dan kembali kepada situasi kekanak-kanakan. Mencari pemimpin dari kalangan tua, seperti meletakkan nasib negeri ini pada tangan yang melemah, pandangan yang kabur dan emosi yang menaik. Tetapi, mau bilang apa, apabila kaum muda tidak juga menunjukkan keberanian dan tenggelam dengan kasak-kusuk...
© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com