Ini tentang Bos di Kantor..

Sabtu, 8 Desember 2007
Suara Pembaruan, 7 Desember 2007, CATATAN JAKARTA

Jusuf Wanandi dan "Perdjuangan Kita" oleh Sabam Siagian  

Jusuf Wanandi, tokoh Centre for Strategic and International Studies yang lahir pada 15 November 1937 di Minangkabau, Sumatera Barat, merayakan ulang tahunnya secara meriah. Maklumlah, Bung Jusuf, yang dikenal oleh kalangan luas bukan saja di dalam negeri, tapi juga di luar negeri, tidak mungkin merayakan ulang tahun ke-70 secara diam-diam.   Berbagai jamuan makan diselenggarakan, baik di kalangan keluarga dan sahabat-sahabat akrab maupun di lingkungan sahabat CSIS dan teman-teman seperjuangan. Bahkan dengan rekan-rekan internasional sehubungan diselenggarakannya sebuah konferensi internasional di Jakarta pada 7 dan 8 Desember 2007.  

CSIS, yang didirikan pada 1971, adalah lembaga pemikiran strategik yang tertua di Indonesia. Pada awalnya, lembaga itu diasosiasikan dengan dua tokoh yang dekat dengan Jenderal Soeharto, yakni Ali Moertopo dan Soedjono Humardani. Itu berarti bahwa CSIS pernah merupakan lembaga kontroversial. Demikian juga tokoh- tokoh perintisnya, seperti, Joesoef Wanandi, dulunya dianggap sebagai kontroversial. Perananannya sekitar Peristiwa 15 Januari 1974 pernah dipertanyakan. Ironinya, karena "Malari" (Malapetaka 15 Januari) itulah saya jadi berkenalan dengan tokoh-tokoh CSIS dan Bung Jusuf.   Sejumlah koran sebagai akibat peristiwa itu menjadi almarhum, yaitu koran-koran populer seperti Pedoman, Indonesia Raya, Abadi, Nusantara dan lainnya. Yang masih selamat terpaksa meneliti peta politik purna-Malari secara cermat. Pada waktu itu saya bertugas sebagai Wakil I Pemimpin Redaksi Harian Sinar Harapan dan masih ingat rapat-rapat evaluasi yang kami lakukan. Antara lain, disarankan (jarang diambil keputusan yang tegas) supaya hubungan dengan CSIS dikembangkan sebagai pusat kekuatan politik yang muncul. Karena kebetulan saya memang suka menghadiri seminar-seminar internasional, maka sayalah yang diharapkan membina hubungan tersebut. Partisipasi dalam berbagai konferensi atau seminar internasional yang disponsori CSIS sungguh meluaskan wawasan saya, yang pada gilirannya amat membantu dalam mengomentari peristiwa internasional.  

 

Peristiwa yang mendorong saya dekat dengan Bung Jusuf adalah inisiatifnya untuk mendirikan koran berbahasa Inggris pada 1983 yang kemudian dinamakan The Jakarta Post. Pada awalnya, koran itu hasil kerja sama tiga penerbitan; Tempo, Kompas dan Suara Karya (ketika Jusuf Wanandi masih aktif di harian tersebut). Karena partisipasi saya sangat diharapkan sebagai chief editor, akhirnya koran Sinar Harapan juga diikutsertakan.  Agaknya di dunia ini jarang ada suatu usaha yang memerlukan perhatian dan asuhan yang begitu intensif dan terus-menerus, seperti mengembangkan sebuah koran baru sampai dia dewasa dan stabil. Itulah yang dilakukan Bung Jusuf.

Komitmennya pada pengembangan The Jakarta Post memang luar biasa. Meskipun dia sering berkelana ke luar negeri, seperti, seorang menlu de facto, tapi dia selalu mengikuti perkembangan harian berbahasa Inggris itu secara cermat. Bung Jusuf yang menyelamatkan The Jakarta Post ketika dia hampir bangkrut beberapa tahun lalu, karena keputusan finansial yang tidak tepat.   Bila The Jakarta Post memperingati ulang tahunnya ke-25 pada April 2008 dalam kondisi yang lumayan, dan sekaligus memasuki gedung kantor baru yang dimiliki sendiri, maka itu semuanya terutama karena visi dan tekad keras Jusuf Wanandi.    

Salah satu mata acara yang direncanakan untuk merayakan ulang tahun ke-70 (tonggak penting dalam perjalanan hidup seorang intelektual dan aktivis) Jusuf Wanandi adalah penerbitan sebuah buku dengan sumbangan para sahabat dan rekannya. Clara Joewono dan Hadi Soesadtro, dua tokoh pimpinan di CSIS, berperan sebagai para redaktur. Lebih dari 80 tulisan berhasil dijaring, baik dari para sahabat di dalam negeri maupun rekan internasional.  Agak lama saya renungkan, tulisan seperti apa yang akan saya sumbangkan untuk memenuhi permintaan para redaktur buku kenangan itu. Tulisan yang tidak sekadar basa-basi saja. Akhirnya saya putuskan untuk menyoroti tulisan Sutan Sjahrir yang diterbitkan pada awal November 1945, kira-kira sepuluh minggu setelah Proklamasi Kemerdekaan dan sebelum dia menjadi Perdana Menteri RI pertama (sekaligus Menteri Luar Negeri) pada 14 November 1945. Ia berumur 36 tahun. Tulisan tersebut yang berjudul "Perdjuangan Kita" (ejaan lama) sungguh luas dan mendalam dampaknya. Brosur yang cukup padat ini membuka tabir isolasi mental yang menyelubungi masyarakat, setelah hidup selama 3,5 tahun di bawah pendudukan militer Jepang.  

Bung Sjahrir tanpa tedeng aling-aling menandaskan bahwa Revolusi Indonesia harus merupakan revolusi demokratik yang menghormati hak-hak asasi perorangan. Dan mengikis semua sisa fasisme Jepang sebagai pengaruh pendudukan militernya selama 3,5 tahun.   Bagaimanakah Bung Sjahrir memandang posisi Indonesia setelah Perang Dunia ke-II berakhir dan perimbangan kekuatan baru muncul di panggung internasional dengan dikalahkannya Nazi Jerman dan Jepang yang fanatik fasis? Bab I dan Bab II yang serba singkat menguraikan analisa Bung Sjahrir tentang "Situasi Setelah Perang Dunia ke-II Berakhir? (Bab I) dan "Posisi Indonesia di Dunia Sekarang". (Bab II)  Ia secara realistik mengobservasi bahwa Amerika Serikat dengan daya mampu industrinya yang amat besar akan cenderung dominan di panggung dunia. Dan mau tidak mau akan berhadapan dengan Uni Soviet. Secara dini Bung Sjahrir telah mendeteksi akan timbulnya apa yang kemudian disebut sebagai Perang Dingin.   Kemudian secara dingin Bung Sjahrir mencatat bahwa letak geografis Indonesia adalah dalam cakupan kekuasaan Inggris dan Amerika. Dan Belanda itu dari dulu pun pada dasarnya amat bergantung pada kekuatan Inggris. Konklusi yang dapat ditarik memang logis. Pertama, Revolusi Indonesia harus berprinsip demokratis, yang menghormati hak asasi perorangan. Ini karena merupakan prinsip. Juga berdasarkan realisme. Revolusi yang kekiri-kirian sudah pasti akan berhadapan dengan kekuatan kapitalisme Inggris dan AS.  

Kedua, sasaran diplomasi RI adalah merayu Inggris dan mengisolir Belanda. Inilah yang dilakukan pemerintahan Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Meskipun sebagai akibat serangan umum Belanda pada Juli 1947, secara militer RI dipukul, namun masalah Indonesia dibicarakan di Dewan Keamanan RI pada 14 Agustus 1947. Sutan Sjahrir yang telah mengundurkan diri sebagai perdana menteri dan berfungsi sebagai Utusan Khusus Presiden RI tampil di sidang Dewan Keamanan. Suatu kemenangan diplomatik yang luas dampaknya.  

Saya melihat ada kemiripan antara perjuangan Bung Sjahrir untuk mencapai pengakuan internasional terhadap eksistensi RI dan kegiatan Jusuf Wanandi yang aktif di bidang hubungan internasional. Kegiatan Bung Jusuf, yang tidak mengenal jerih payah itu dan selalu mengutamakan kepentingan nasional Indonesia, tidak begitu diketahui masyarakat luas.   Dalam tulisan yang saya sumbangkan (judul: "Sutan Sjahrir" a Views on World Affairs") saya bubuhi catatan kaki seperti berikut (terjemahan bahasa Indonesia): "... semoga keyakinan perikemanusiaan dan demokrasi yang dianut Sutan Sjahrir sebagai landasan dari analisanya yang serba tajam tentang masalah dunia dapat menjadi sumber inspirasi bagi Jusuf Wanandi dalam menekuni kegiatannya yang serba luas di bidang masalah internasional".  Penulis adalah pengamat masalah internasional


Last modified: 7/12/07
© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com