Rezim Pembajak Demokrasi!
Detik.com, 10/12/2007 14:24 WIB
Lembaga-lembaga Negara Tengah Dibajak Demi Pemilu 2009
Ramdhan Muhaimin – detikcom
Jakarta - Kontroversi pimpinan KPK yang baru belum berakhir. Pimpinan KPK yang baru terpilih itu dinilai bagian dari rezimisasi kekuasaan Presiden SBY. Targetnya adalah kemenangan Pemilu 2009. "Terlihat yang terjadi sekarang proses rezimisasi SBY. Artinya rezim yang berkuasa berhasil menempatkan orang-orangnya untuk kepentingan politik 2009," kata pengamat politik dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indra J Pilliang.
Hal itu disampaikan dia di sela-sela diskusi tentang Pilkada Maluku Utara di Gedung
Menurut dia, rangkaian rezimisasi SBY terlihat sejak proses seleksi anggota KPU dan pimpinan KPK. Dalam proses itu, pemerintah dinilai berhasil menempatkan perpanjangan tangannya di kedua lembaga tersebut.
"Proses pemilihan KPU dan KPK berasal dari Presiden. Untuk KPU, Presiden calonkan 21 nama ke DPR. Sedangkan KPK, Presiden calonkan 10 nama ke DPR. Proses politisasinya terjadi di DPR, dan terjadi pembajakan terhadap lembaga ini untuk kepentingan rezim," lanjut Indra.Indikasi tersebut menurutnya juga terlihat pada wacana yang dicetuskan Lemhannas agar gubernur dipilih langsung Presiden, serta penguasaan KPU atas KPUD seperti dalam kasus Pilkada Maluku Utara dan Aceh Tenggara.
Rezimisasi ini, sambung Indra, sepertinya akan semakin terbukti pada pemilihan anggota Mahkamah Konstitusi (MK) pada 2008. Dalam proses pergantian hakim konstitusi itu, berdasarkan UU, Presiden berhak mencalonkan 3 nama, Mahkamah Agung (MA) 3 nama, dan DPR 3 nama.
"Coba bayangkan, Presiden sudah dapat 3, dari MA bisa dapat 1, dan dari DPR bisa dapat 1. Artinya Presiden sudah pegang 5. Kalau fraksi perpanjangan Presiden di DPR sejalan dengan rezim ini, bisa 7 dipegang Presiden," bebernya.
Menurut Indra, dari indikasi rezimisasi tersebut, sudah bisa ditebak sejak sekarang siapa yang akan menjadi pemenang di Pemilu 2009. "Ini pembajakan demokrasi. Pemilu sebenarnya sudah selesai. Pemenangnya sudah ketahuan, karena lembaga-lembaga ini sudah dibajak," tandasnya. ( nvt / sss