Buku Greget Tuanku Rao

Selasa, 25 Desember 2007

Dua hari ini aku membaca “Greget Tuanko Rao”, karangan Basyral Hamidy Harahap (BHH) terbitan Komunitas Bambu, Jakarta, September 2007. Dua bulan lalu, aku sempat diundang ke UI menghadiri launching buku ini. Sayangnya, aku tidak bisa hadir, karena dijadwalkan bertemu dengan Muladi, Gubernur Lemhannas, di kantornya, pada jam yang sama. Bukan aku lebih mementingkan Muladi juga, tetapi sejak awal aku menyepakati “model tak pasti” ketemu pejabat seperti dia. Jadwal ketemu Muladi juga dalam rangka penyusunan modul pendidikan di Lemhannas. Pada Gatra bidang politik, aku terlibat bersama Kusnanto Anggoro, Didin S Damanhuri, lalu belakangan Saldi Isra dan Denny Indrayana.  

Sejak awal aku memang tidak terlalu bergairah membaca buku ini. Apalagi kontroversinya juga mencuat di Majalah Tempo, yakni gugatan atas kepahlawanan Tuanku Imam Bonjol. Bagiku, sejak mengenali studi sejarah, Imam Bonjol memang hanya sekadar tokoh yang membenci sabung ayam, judi dan perilaku “amoral” lain untuk ukuran zamannya. Sama saja dengan yang dilakukan oleh Habib Rizieq dengan FPI-nya menyerang cafe-cafe atau tempat-tempat jualan minuman keras di zaman ini. Imam Bonjol adalah Habib Rizieq pada zamannya.   Tetapi, demi sebuah objektifitas, aku bisa katakan bahwa buku ini memang menarik dan penuh greget. Yang paling kusuka adalah petatah-petitih berbahasa Batak. Akar bahasanya sama dengan lingua franca Melayu. Kalau dipelajari, bisa dipahami, walau lebih banyak yang tidak kumengerti. Untung BHH menerjemahkan kedalam bahasa Indonesia.  Baca ini: “…tongkat di tempat yang licin, pelita di tempat yang gelap, si penambah yang kurang, si pembuang yang berlebih, pohon dadap yang tak bisa didekap..”  

Itu julukan untuk Bandaro, nenek moyang BHH. Ia memiliki pedang, dua bilah keris, lalu sebutir pusia ni tauru, insek semut tak bersayap. Ia pahlawan yang melawan pasukan Tuanku Tambusai, panglima perang pasukan Paderi.  Buku ini, makin diikuti, lebih mirip kisah silsilah keluarga dari BHH sendiri. Sejenis tambo di tanah Batak, khususnya yang berbatasan langsung dengan Sumatera Barat. Maka, emosi tampil disini. Buku ini melengkapi, atau lebih tepat mengkritisi, apa yang ditulis oleh Mangaraja Onggang Parlindungan (MOP). MOP menulis buku berjudul Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao: Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak 1816-1833. gara-gara buku itu, MOP berpolemik dengan Buya HAMKA.  Buku melahirkan buku. Buku MOP yang menjadi sumber inspirasi penulisan buku BHH ini. Dari sini, aku menyenangi orang tua ini, BHH. Begitu juga aku menyenangi MOP dan hubungannya dengan Buya HAMKA. Boleh dikatakan mereka saling menghormati. Berpolemik sekeras apapun, mereka tetap berteman, saling mengimami kalau sholat. Ini yang menjadi soal dalam dunia politik sekarang. Kalau anda tidak suka seseorang, entah karena alasan pribadi atau ideologi, anda akan tidak mau lagi bertegur sapa. Lihat saja bagaimana Megawati dan Yudhoyono tidak pernah bisa bertemu sejak tahun 2004, hanya karena yang satu kalah, yang satu menang, dalam pemilu. Sungguh, satu kekerdilan jiwa yang tak patut. Bagaimana bisa mereka memimpin bangsa dan negara sebesar ini, dengan ego yang sebesar gunung itu?  Kelemahan terbesar buku ini adalah dari sumber-sumber yang digunakan, nyaris tanpa kritik. BHH hanya memindah-mindahkan apa yang ditulis orang lain, terutama sumber-sumber Belanda, lantas memintalnya dalam benang pikirannya sendiri.

Aku tidak bisa mengerti, bagaimana keseluruhan dialog bisa lahir, dalam peristiwa yang dia ceritakan, seolah dia hadir di dalam peristiwa itu? Ia mengutip Willer yang dikatakan mengenali langsung Datu Bange dan Raja Hurlang. Apa benar Willer melihat langsung seluruh peristiwa yang dia catat? Tulisan Willer penuh kebencian kepada Tuanku Tambusai. Ini tentu masuk akal, karena Belanda berperang melawan Paderi. Karena pihak yang diperangi Tuanku Tambusai adalah pihak Datu Bange, sementara secara psikologis Datu Bange dan roombongannya adalah pihak yang dibela BHH, maka sumber-sumber Belanda yang menistakan Tuanku Tambusai ditelannya juga mentah-mentah.  Yang juga kuheran adalah jumlah pihak yang dibunuh oleh Tuanku Tambusai, jumlah rumah yang dibakar, jumlah perempuan yang diperkosa, dan lain-lain. Kalau itu mencapai ribuan rumah atau ribuan orang, apakah populasi penduduk waktu itu, awal abad ke-19, sudah sedemikian banyaknya di kampung-kampung terpencil itu? Padahal, di halaman 63, BHH menulis jumlah rumah tangga di 11 distrik, dari sumber Willer lagi, yakni hanya 805 di Padang Lawas (distrik Batang Onang, Portibi, Batang Pane dan Kota Pinang), 1.235 di Dolok (Bukit, Simanabun, Simase dan Tambiski) dan 620 di Barumun (Aeknabara, Asahatan dan Hayuara). Bagaimana bisa ribuan rumah hangus di daerah luas yang dihuni oleh 2.680 rumah tangga? Sungguh, aku tidak bisa membayangkan model bumi hangus seperti apa yang dilakukan dan holocaust seperti apa yang terjadi.  

BHH juga rajin menggunakan istilah-istilah abad ke-20, bahkan abad ke-21 ini. Misalnya, holocaust itu sendiri. Bahkan dia yang juga menonton film 300, yakni kisah bangsa Sparta yang menghadapi balatentara dari Timur, juga memasukkan kisah Ja Sobob sama dengan kisah Ephialtes. Orang yang cacat fisik, hingga berkhianat kepada bangsanya. Ia juga mengutip karya-karya orang lain, termasuk psikolog Austria, untuk membenarkan “analisa”-nya. Tidak jarang kita temukan lembaran-lembaran Wikipedia dalam buku ini.  Untuk memperlihatkan keperkasaan Datu Bange, BHH malah menyamakan dengan Geronimo dan Winnetou, dua “pahlawan” Indian, satu historis, satu rekaan Karl May. “Trio Datu Bange, Geronimo dan Winnetou adalah pejuang hak-hak asasi manusia yang universal” (hal 83), tulis BHH. Padahal, BHH menyadari bahwa Winnetou hanyalah tokoh rekaan Karl May yang juga tidak datang ke Amerika ketika menulis karya-karya petualangannya itu. Karl May hanya bermodalkan peta ketika menulis kisah-kisahnya.  Jadi, aku sulit mengkategorikan buku ini sebagai karya sejarah. Ini hanyalah buku yang berisikan klipingan dengan cara merobek-robek buku-buku lain atau sumber-sumber wikipedia atau ingatan BHH tentang sesuatu, lantas ditempel-tempelkan menjadi sebuah buku. Greget Tuanko Rao hanya buku gombal alias buku yang berisi tempelan-tempelan buku-buku lain dan dijahit sembarangan.  Tetapi, apapun itu, buku ini memang bikin greget. Nilai terpenting buku ini memang pada kekerasan kepribadian orang-orang Batak Mandailing. BHH menunjukkan bagian-bagian yang justru menjadi inti dari kebudayaan, atau katakanlah, peradaban orang-orang Batak. Kalau BHH menggali dari sumur ini, dengan cara menelusuri sumber-sumber dari orang-orang Batak sendiri, saya yakin buku ini akan sangat bermutu. Karena tidak seperti itu, buku ini lebih mewakili sebuah kisah “terima kasih” atas Belanda dan sumber-sumber Belanda yang sukses menerapkan taktik dan strategi devide et impera selama berabad-abad, ketika menguasai Nusantara yang besar dan kaya ini.  

Apa karena itu juga, maka di Sumatera Utara sekarang muncul lebih dari 200 calon gubernur, jelang pilkada 2008? Sebagaimana yang kulihat tanggal 16-17 Desember lalu ketika singgah dan bermalam di Medan? Dengan 200 calon, berarti minimal ada 200 buku yang saling tikam, saling bunuh, saling perkosa. Ketika BHH menulis berkali-kali tentang perkosaan yang dilakukan oleh pasukan Tuanku Tambusai – yang juga terdiri dari orang-orang Batak –, maka buku ini turut memperkosa sejarah itu sendiri. Wallahu ‘Alam…

» KOMENTAR (36)

© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com