Catatan Akhir Tahun: Kalau Bukan Demokrasi, Apa?

Rabu, 26 Desember 2007
Koran Tempo, 26 Desember 2007. 

Persoalan reshuffle kabinet mengemuka sebagai langkah politik yang ditunggu pada awal 2007. Namun, sejumlah diskusi penutup akhir tahun justru mulai meragukan demokrasi. Sungguh ironis, para peragu atas demokrasi itu datang dari komunitas masyarakat sipil dan politik. Mereka berkata, betapa demokrasi berbiaya mahal, persoalan sepele dibahas berbulan-bulan, keindonesiaan ditelanjangi, olahraga selalu kalah, sedangkan rakyat tetap miskin.

Sikap lelah atas demokrasi sama berbahayanya dengan ketakutan atas sistem monarki dan diktatorial. Kita masih ingat petuah Tan Malaka, betapa yang sama berpengaruh buruk atas republik adalah kolonialisme dan feodalisme. Ketika kolonialisme tertendang dan feodalisme memudar, kekuasaan menjadi personal dalam orasi Bung Karno dan senyum Soeharto.

Ahli sayap pesawat terbang lulusan Jerman, Profesor Dr B.J. Habibie, mereparasi keindividuan kekuasaan itu dengan menyodorkan demokrasi. Dan Habibie menjadi korban pertama demokrasi yang dia lahirkan, yakni ditolak menjadi presiden hasil pemilihan umum. Abdurrahman Wahid, yang seluruh hidupnya bertumpu pada ranah demokrasi kultural, ikut-ikutan terjungkal lewat demokrasi struktural dan prosedural.

Bangsa malang ini lantas mendapatkan seorang jenderal purnawirawan lagi, setelah Soeharto, yakni Susilo Bambang Yudhoyono. Tentu ia bukan peracik sajian demokrasi itu, kendati mendirikan Partai Demokrat. Sejauh ini Yudhoyono pantas disebut sebagai aktor penting yang gandrung akan demokrasi. Yudhoyono tidak tampak seperti jenderal, walau muncul sinyalemen bahwa ia lebih berperilaku sebagai menantu jenderal. Saking demokratisnya, Yudhoyono lebih berupaya memperkuat sistem multipartai ketimbang sistem presidensial. Ia memberi porsi kepada wakil-wakil partai di kabinet.

Doktrin Kalla

Lain lagi Jusuf Kalla, sekondan Yudhoyono. Ia terlalu menimbang untung dan rugi dalam neraca demokrasi. Tidak mengherankan kalau Kalla sering menuduh demokrasi tidak efektif dan inefisien. Biaya demokrasi terlalu mahal. Pemilu legislatif harus bersamaan dengan pemilu eksekutif. Kalau bisa, pemilihan kepala daerah digelar serentak. Demokrasi bukan tujuan, melainkan alat mencapai tujuan. Begitulah bunyi "doktrin Kalla".

Ironis, banyak yang mengikuti doktrin Kalla. Dr Amir Santoso (Pelita, 16 Desember) dan Radhar Panca Dahana (Seputar Indonesia, 19 Desember) mulai mengutuk demokrasi. Lembaga Ketahanan Nasional mengatakan gubernur seharusnya ditunjuk saja oleh presiden. Para aktivis juga ikut-ikutan menyatakan demokrasi mengubah Indonesia menjadi negara politikus, setelah tampak seperti negara polisi. Kaum muda menyatakan saatnya mereka berkuasa, tapi emoh masuk partai politik.

Tapi doktrinasi sudah kehilangan tempat. Para politikus di Senayan menolak keras doktrin itu. Ya, masyarakat yang mengatakan partai politik paling tidak dipercaya barangkali menganggap bahwa yang untung dengan demokrasi hanya segelintir partai politik dan aktivis lembaga swadaya masyarakat, sebagaimana tuduhan Amir Santoso. Maka wajar-wajar saja partai politik mendukung demokrasi.

Bangsa Indonesia memang tidak pernah sabar atas demokrasi. Seusai Pemilu 1955 yang ultraliberal, empat tahun kemudian Soekarno tidak lagi menjalankan pemilu, dengan mengeluarkan konsep demokrasi terpimpin. Hasilnya, Soekarno diangkat sebagai presiden seumur hidup. Soeharto, atas nama demokrasi Pancasila, malah bertahan lebih lama. Hanya mahasiswa bandel dan cendekiawan keras kepala yang membangkang, tapi segera menghuni pintu penjara.

Dengan pola kediktatoran terselubung itu, rakyat memang terlihat sabar. Hanya, sejarah mencatat betapa hak-hak warga negara terampas, pelanggaran hak asasi manusia meningkat, serta kekayaan menumpuk hanya di segelintir konglomerat hitam.

Sewindu

Hanya delapan tahun sejak Pemilu 1999, ada yang mencoba mengusik lagi ketidaksabaran rakyat atas demokrasi. Belum ada yang menawarkan monarki atau diktatorialisme. Pola partai tunggal juga tidak diberi alternatif. Adapun teokrasi terdengar sayup-sayup sampai dalam teriakan-teriakan di jalan-jalan. Berarti penolakan atas demokrasi disertai oleh ruang hampa menganga, tanpa tawaran apa-apa. Sabdo pandito ratu? Manunggaling kawulo-gusti? Atau Ana al-Haq?

Politik 2007 memang penuh dengan pemilihan kepala daerah serta sengketanya. Juga barisan politikus dan pejabat yang masuk penjara. Mereka ada pada pucuk pemimpin lembaga atau organisasi yang disebut sebagai tulang belakang demokrasi, yakni partai politik. Mereka besar dan dibesarkan oleh coblosan para pengemis serta orang lapar, penyakitan, dan berpendidikan rendah di kotak-kotak suara. Sebagai pemulung suara rakyat dengan jabatan terhormat, mereka tak segan mempertontonkan fasilitas mewah yang diterima.

Tapi apa benar demokrasi yang menjadi tersangka silang-sengkarut itu? Rasa-rasanya bukan. Kalau demokrasi tidak hadir, barangkali pasukan loreng masih merajalela di jalan-jalan. Preman berpentung dan menggunakan sangkur di pinggang juga terus memburu pedagang kaki lima. Warung-warung makan beratap rumbia dipenuhi oleh gambar pemilik warung bersama orang-orang berpangkat. Ruang-ruang tamu orang-orang pasti dihiasi foto salaman dengan pejabat.

Jelas sudah, demokrasi menghilangkan pangkat orang berpangkat. Presiden pun mudah dituduh tidak punya nyali atau memilih orang-orang tak tepat. Apabila tidak suka dengan keputusan presiden, bisa Anda gugat di pengadilan. Para ulama yang kehilangan terompah di tangga Istana diam-diam ditinggal umatnya. Menteri-menteri yang doyan bernyanyi tak lagi bisa dihafal nama-namanya oleh para pelajar. Buku-buku yang tak masuk akal disobek-sobek atau dicorat-coret hingga tak bisa lagi dibaca.

"Minimal kami punya satu suara untuk menentukan ini negeri, Tuan!"

Itu jawaban atas soal-soal demokrasi yang diseret-seret ke wilayah abstrak dan filosofis itu. Selain rakyat, Anda semua adalah pengemis. Memang, Anda gagah di depan kami, tapi tanpa suara kami, Anda terus menghinakan diri. Demokrasi terang sekali memberi makna substantif, suara rakyat adalah suara Tuhan. Kini Anda presiden, besok pagi silakan jadi pesinden. Kemarin Anda susah dicari ketika berkuasa, hari ini Anda harus menyediakan secangkir kopi dan sepiring gorengan untuk membujuk para wartawan datang.

Delapan tahun terlalu singkat untuk sekadar lelah dengan demokrasi. Bagi ukuran pelajar, masih setahun lagi lulus sekolah menengah serta belum tentu lulus masuk perguruan tinggi negeri. Usia sewindu hanya memanjangkan beberapa depa pohon kelapa tradisional, kecuali kelapa salak yang bisa berbuah dalam usia satu setengah tahun. Artinya, kalau Anda lelah dengan demokrasi, panjat saja sebatang pohon kelapa berusia 20 tahun. Paling Anda berkeringat atau terjatuh, tapi batang pohon itu tetap tertancap kukuh.

Tanpa kearifan intelektual dan kegigihan bak pejuang, demokrasi memang terlihat menyedihkan. Hanya, bangsa ini belum pernah benar-benar hidup berdampingan dengan demokrasi. Akibat-akibat negatifnya berusia lama, termasuk kegamangan atas demokrasi yang mengalir dalam pena para penolaknya.
» KOMENTAR (5)
  • Kearifan Intelektual
    Komentar :
    Tataran pemikiran intelektual untuk memperbaiki demokrasi ini seolah belum menunjukan kearifan yang bisa dirasakan rakyat. Secara pemikiran banyak kontribusi untuk membenahi kebobrokan demokrasi. Namun realitanya, apalagi didikan dari punggawa punggawa negara menunjukan ketidak munculan nilai nilai demokrasi yang membuat rakyat tersenyum. Bencana melanda rakyat, presiden hanya berusaha membantu, tanpa ada tindakan nyata. Minimal demokrasi yang kita impikan para pemimpin kita bisa langsung berbicara apa yang rakyat butuhkan. Dan para intelektual memberikan pencerahan pencerahan bagi rakyat, agar tersenyum dengan kehidupan demokrasi
    --S Hariyanto(renunganpemikiran@gmail.com) -Jakarta/Indonesia | Senin, 07 Januari 2008

    Posted by
    indrapiliang on January 7th, 2008, 04:59:00 PM
  • Bukan hanya Indonesia
    Komentar :
    Saya heran bahwa sdr. Indria Piliang heran. Dia heran bahwa orang meragukan demokrasi. Silahkan baca buku dari Robert Dahl maupun Charles Lindblom, atau buku apa saja oleh ahli politik Amerika. Semuanya pasti sepakat bahwa demokrasi itu sudah ditelan oleh kaum pengusaha, sudah menjadi oligarki. Demokrasi di Amerika, mereka katakan, pada dasarnya adalah "poliarchy." Dalam keadaan yang seperti ini, hanya pelaku bisnis yang berjaya. Silahkan baca lagi buku-buku yang standard tentang demokrasi, dan anda tidak akan heran lagi. Indonesia tidak sendiri, bung.
    --I. Wibowo(iww@indo.net.id) -Jakarta, Indonesia | Minggu, 06 Januari 2008

    Posted by indrapiliang on January 6th, 2008, 03:55:34 PM
  • Demokrasi atau demokrazy?
    Komentar :
    Rupanya, kita perlu mengulas dan memaknai apa gerangan yang bernama demokrasi itu. Banyak elit politik berbicara masalah demokrasi, ya muter-muter pasti itu saja. Demokrasi politik lah, demokrasi liberal lah, demokrasi kerakyatan lah dan demokrasi ala 'trasi'. Saking banyaknya istilah, sering kita dengar plesetan baru, 'demokrazy'. Melihat realitas yang terjadi, negeri ini pantas dengan istilah yang impresi sinis itu. Bisa dilihat dan diamati, masalah-masalah pelik selalu menghiasi wajah negeri ini yang bertambah suram. Kesuraman itu mungkin disebabkan bekas flek-flek warisan orde baru yang belum bisa diputihkan. bagimana bisa negeri ini merealisasikan tujuan dicitakan, kalau demokrazy menjadi pendamping hidupnya. Ya, bangsa ini perlu bercermin di depan kaca kebenaran dan kejujuran. lakon-lakon demokrasi mau tidak mau harus bercermin, kalau negeri ini menemukan jati dirinya. Bukan hanya 'pamer wajah', tapi memandang dengan pandangan hati nurani dan kepekaan. Elit politik juga harus menata niat yang tulus dalam mengemban tugas pemong rakyat selalu siap mendampingi.Bukan sebaliknya, menjadi pengreh yang arogan dan egois. Ya, itu tantang an berdemokrasi. kalau tak berdemokrasi, ya mendingan berdemokrasi ria. Rakyat tak memedulikan apa itu demokrasi, yang penting bagi mereka hidupnya diperhatikan . Kesejahteraan dan kemakmurannya terjamin, begitu harapan yang sesungguhnya. rakyat akan crazy kalau dua kepentingan itu tak menjadi hal utama bagi pemerintah. kalau rakyat crazy karena kesulitan ekonomi dan beban hidup, sedang elit pemerintah crazy karena dekadensi moral dan tak bernurani. Lebih baik manakah antara keduanya?
    (ulin nuha, mahasiawa bahasa inggris fakultas keguruan dan ilmu pendidikan Universitas Muria kudus(UMK) )
    --ulin nuha(ulin_tbs_kds@yahoo.com) -kudus-indonesia | Sabtu, 05 Januari 2008

    Posted by indrapiliang on January 5th, 2008, 05:00:19 AM
  • Apa beda antara politikus dan Ilmuwan? Almarhum sahabat saya mengatakan"Politikus tidak pernah salah,boleh bohong tetapi tidak musti jujur.Sedangkan,ilmuwan bisa salah, tidak boleh bohong dan musti jujur".
    Komentar :
    Kita masih beruntung,sejak reformasi di negeri kita tercinta Indonesia, sampai hari dan detik ini masih bisa membaca media-media (cetak dan kaca)yang terus menerus selalu menyajikan akan budaya pemimpin (eksekutif dan anggota legislatif) baik tingkat nasional maupun daerah (lokal)yang hobbinya dengfan sangat serius dan rakus memperkaya diri sendir-kelurag dan kelompoknya menilap,mencuri,membuka rekening liar untuk kekayaan (asset negara)secara tidak sah alias korupsi (mengkorupsi).Pengadilan-pengadilan mulai dari Sabang sampai Merauke mengadili para korupsi baik secara sendiri-sendiri maupun secara berjamaah.Belum lagi anti menunggu gilirannya diadili seperti pengumuman Mendagri ada sebanyak 62 pejabat daerah yang akan diizinkan untuk diproses di pengadilan.Untuk sementara ada kemauan untuk mengadili para koruptor ini kita sambut dengan baik dengan catatan tidak boleh hangat-hangat tahi ayam dan harus dilaksanakan terus dengan tuntas.Sebab yang bersalah tetap dihukum.Ini mungkin bisa kita sebut demokrasi dalam menegakan keadilan dan hukum bagi yang melanggar hukum dan merugikan bangsa dan negara.
    Jika yang disebut ini baru mengadili para pejabat (elite nasional) dalam negari yang nilai yang di korupsinya dalam bentuk uang rupiah misalnya,miliyarn rupiah atau triliun rupiah,bagaimana dengan para pejabat atau kepala-kepala perwakilan RI di Luar Negeri korupsinya dalam bentuk dolar?
    Kita dapat baca misalnya pada Tempo,11 November 2007.
    MOCHAMAD SLAMET HIDAYAT,Dubes di KBRI Singapura dan sekarang Direktur Jenderal Multilateral Departemen Luar Negeri,dengan enteng saja beliau mengatakan bahwa pada waktu gedung KBRI Singapura direnovasi memang dia Dubesnya waktu itu, tetepi "mengaku tak tahu soal penympangan proyek renovasi kedutaan" tetapi tidak kaget waktu dikucurkan kepadanya Slamet Hidayat dia sendiri sebesar US$ 220 ribu, dan EDDIE SURYANTO HARIJADHI yang gaya senyumnya sperti Menlu (wakil duta besar dan penanggung jawab tender renovasi)yang sekarang adalah Direktur Jenderal Amerika dan Eropah menerimah kucuran US$ 200 ribu.Sedangkan SUDJADNAN PARNOHADININGRAT saat itu Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri dan sekarang Duta Besar LB & BP di Washington DC,Amerika mendapat kucuran sebesar US$ 220 ribu.Duit tersebut diserahkan tunai saat Sadjadnan Parnohadiningrat berad di Singapura antara bulam Maret dan April 2004.Itu baru renovasi KBRI Singapura yang tentunya banyak lagi yang lain belum terungkap. Seperti adanya rencana hal sama seperti KBRI di Korea Selatan yang sempat muncul kepermukaan tetapi dapat digagalkan.Seandainya tidak terbuka soal penyelewengan renovasi KBRI ada kemungkinan masalah seperti ini akan berlaku pula pada KBRI dan Perwakilan lainnya di Luar Negeri.Penyelewengan secara fisik mungkin bisa mudah dilihat tetapi bagaimana penyelewangan secara moral yang dapat merusak citra bangsa dan negara yang dilakukan oleh Kepala Perwakilan. Misalnya selingkuh di Konjen New York dan mungkin pada Perwakilan yang lain diman Dubesnya berselingkuh dengan wanita setempat (atau pacaran)pergi dan meninggal pekerjaan ada tugas luar padahal pergi dengan pacarnya dan ongkos beban perwakilan.Dubes sperti biasanya punya mobil pribadi (CD) dan dia stir sendiri tapi biaya-biaya dari kantor.Waktu peristiwa di Konjen New York ada Dubes yang mendesakj Menlu untuk menindaknya (Gatra) ternyata tidak dilakukan.Musti Mentlu harus menindak tegas mereka yang selingkuh ini karena secara moral terang-terang merusak citra bangsa dan negara.Perwakilan disuruh menjaga dan memelihara citra dan nama baik bangsa dan negara di LN,tetapi pejabat yang merusaknya harusnya ditindak tegas dan bukan diaminkan saja.Sepertinya pejabat-pejabat Deplu ini suka selingkuh dan malas menindaknya.Untuk itu isteri-isteri diplomat yang lagi bertugas di perwakuilan jangan percaya saya sang banyak tugas diluar, padahal mereka lagi berpacaran dengan wanita setempat atau simpanan.
    Sudah ada penyelewengan dan ada buktinya serta jelas orang-orang yang menerima dolarnya,tetapi MENLU tetap mengangkatnya menjadi Direktur Jenderal dan Dubes di LN. Ada apa sebenar terjadi di DEPLU sejak HW menjadi MENLU? Apakah pejabat yang punya mentalitas dan karakter sperti Mochamad Slamet Hidayat, Eddie Suryanto Harijadhi,Sudjadnan Parnohadiningrat sudah banyak sekali jasa ke DEPLU dan harus diberi posisi dan jabatan di Deplu?
    Menlu mengatakan bahwa yang diangkat menjadi dubes-kepala perwakilan dan atau pejabat eselon I dan II di Deplu adalah putra-putra anak bangsa yang terpilih dan terbaik. Apakah anak-anak bangsa yang terpilih dan terbaik itu harus seperti Slamet Hidayat,Eddie Suryanto,Sudjadnan Parnohadiningrat,dan mantas Dubes di KL yang sedang diadili dsb.nya.Inikah bentuk politik birokrasi Deplu?.Semua orang di Deplu tahu dan bukan rahasia lagi bahwa Sekjen Deplu adalah punya peran dan fungsi serta kekuasaan yang besar seperti untuk berhubungan dengan Departemen Keuangan. Mereka-mereka dari Sekretariat Jenderal ini yang pergi ke Dirjan Anggaran,Dep. Keuangan untuk berunding dan tawar-menawar maka parda waktu renovasi KBRI Singapura ada kucuran US$ 120 ribu untuk pejabat Dirjen Anggaran,Dep.Keuangan lewat staf keuangan Depatemen Luar Negeri.
    Dynasti (anak-anak diplomat masuk Deplu) paling banyak di Deplu,dan Sekjen Sadjadnan bersama Menlu juga tidak ketinggalan membangun dynastinya di Deplu. Sekarang anak dan mantu Sadjdnan sudah masuk Deplu sudah jadi diplomat dan begitu juga Menlu ada anaknya mdenjadi diplomat.Selama lebih dua puluh tahun tidak pernah ada system magang di Perwakilan-perwakilan Luar-Negeri,tetapi semenjak anak Bapak-bapk masuk Deplu ada saja duit untuk magang tiga bulan diluar negeri dan sekarang sedang dipersiapkan pula SK suami-isteri sama-sama diplomat penempatan di LN dan SK untuk mempercepat penempatan anak-anak bapak-bapak pejabat Deplu posting.Sekilas dikemukakan sebagai sedikit gambaran dari potret pejabat (eksekutif dan legislatif) di tahun 2007.
    Perlu kita perhatikan dan ketahui,walaupun kita sepakat hasil demokrasi itu segera kita nikmati tapi kita harus sabar dan berusaha terus serta aktif mendorong semua pihak untuk memantapkan implementasi demokrasi itu.UUD 45 dan Pancasila sebagai referensi dan pedoman bangsa dan negara berperilaku dan bertingkah laku harus membacanya dengan rajin dan baik dan benar dan mengamalkan-mengimplemtasikannya dengan baik dan benar pula.Contoh,kita memunyai hak memilih dan dipilih,hak ini
    sudah kita pakai dan gunakan melalui PEMILU.Kita sudah mulai menggunakan hak kita untuk kebebasan berbicara dan mengeluarkan pendapat serta untuk berserikat dan berkumpul baik melaui berbagai forum diskusi dan media,demontrasi yang teratur di Gedung Proklamasi Pegangsaan Timur,Bundaran HI dan didepan Istna dbs.nya.Hak-hak ini kita tingkatkan terus kwalitasnya disamping perjuangan kita dalam haka mendapatkan pekerjaan, pendidikan, kesehatan,keamanan,bebabs buta hurum, keadilan dan perlindungan hukum dsb.nya termasuk usaha kita bersama untuk berhasil sehingga bangsa kita masa akan datang benar-benar sesuai dengan harkat dan derajatnya.Kita tidak banyak meminta hanya yang sederhana saja yaitu bagi yang korupsi dan melanggar hukum harus dihukum dan jadi prioritas utama negara untuk menegakannya. Jangan yang hukuman cepat dijatukan hanya pada orang miskin yang lapar dan maling ayam. Jadi kita yang telah sepakat dan sepaham bahwa demokrasi adalah pilihan tepat untuk hidup berbangsa dan bernegara,kita juga rajin memberikan masukan dan usul kepada penyelenggara negara ini dan pada para pakar yang merajik dan menyajikan Demokrasi kepada kita (Pak Indra dll.nya).Ketika DemokrasiPancasila,kita hati-hati berbicara di negeri kalau mau aman,coba bayangkan jika anda sampai menginjak bayang-bayang Soeharto bisa-bisa menjadi masalah,apalagiberani-berani mengeluarkan suara dan mengeritiknya. Waktu demokrasi Pancasila (Soeharto) guyon sahabat saya kalau cabut gigit banyak yang pergi ke Singapura karena disana bebas membuka mulut lebar-lebar cabut gigi dan disini buka mulut bisa berbahaya.Kontras,selama reformasi kita dapat melihat Presiden bercelana pendek di Istana dan masayarakat awam bersilaturrahmi waktu Lebaran dengan Presiden di Istana ada yang pakai sendal jepit,Presiden hanya mengatakan memang itulah rakyatku. Sekian dan selamat demokrasi...suksessss.
    --Pejamhutama Bonar(pejahutama.bonar@yahoo.com) -Indonesia | Rabu, 02 Januari 2008

    Posted by indrapiliang on January 2nd, 2008, 02:39:03 AM
  • beberapa komentar di www.tempointeraktif.com

    Tulisan cerdas
    Komentar :
    Tulisan saudara cukup cerdas,ada kegalauan untuk melihat,berfikir tentang demokrasi di NKRI tercinta ini dengan hasil dan dampak pada peradaban kongkrit/kesejahteraan.Untuk seorang aktifis sejati uraian saudara sebagai agregat untuk mewujudkan artikulasi penegakan demokrasi yang mendekati bentuk idealnya.Bagi seorang scholar/pengamat gagasan ada sebagai bentuk absurditas bukan? Catatan2 sejarah hanya sebagai kronik-kronik unik,transformasi msyarakatnya pun belum ada bingkai analisa yang pas.Semua berharap pada demokrasi sebagai jiwa pelaku peradaban yang kita rekam jejaknya untuk masa depan.Kalau berharap pada perubahan tanpa kerjanyata dan organisasinya,absurditas lagi yang menyambutnya.Demokrasi si itu metode ideal,penerapan aturan adalah menu programnya,kemakmuran adalah tujuannya.Demokrasi tidak menuntut apa-apa pada dirinya,pemujanyalah yang mesti harus memenuhi keinginannya untuk mewujudkan kemakmuran, penegakan aturan dan moral baiknya.Sukses selalu
    --agussusilo(gausgolan@yahoo.co.id) -bekasi | Selasa, 01 Januari 2008



    yang penting sekolah gratis
    Komentar :
    Bagi saya dan kebanyakan orang saat ini.. yang terpenting adalah adanya kesempatan merubah nasib. Dan itu hanya bisa diperoleh dengan terjangkaunya pendidikan. pendidikan S1. Saya sangat beruntung karena lulus SMA tahun 90, dimana biaya kuliah masih murah. Kalau saya lulus SMA sekarang.. mungkin nasib saya tidak berbeda dengan nasib orang tua saya. miskin. kami.. dan orang-orang miskin lainnya tdk butuh demokrasi yang tdk bisa menjamin kesempatan untuk merubah nasib. Bicara demokrasi.. jangan hanya bicara PEMILU pak. Tapi perubahan nasib. Itu yang paling penting.
    --bambang purwandi(bambang.purwandi@lafarge.com) -gresik jawa timur | Senin, 31 Desember 2007



    Demokrasi Apa ?
    Komentar :
    Saya lahir dari generasi Babby Boomers, berbagai peristiwa pemilu sdh pernah saya lihat dan 4 kali pemilu sebagai Golput ketika hak pilih saya dapatkan saat Suharto berkuasa. Ketika semua bergerak menginginkan perubahan, bagiku kesadaran untuk "berdemokrasi" baru masuk dlm ranah belajar. Kalau sekarang orang mulai meributkan soal demokrasi,rasanya kesadaran kolektif kita yang harus dipertanyakan. Kenapa kita ragu-ragu pada pilihan yang telah kita jatuhkan. Atau karena social capital kita yg sudah rusak ? Anda tahu jawabnya ?
    --Rahmanta S(r_set61@yahoo.co.id) -Madiun/Indonesia | Senin, 31 Desember 2007



    Perangkap Demokrasi dan Buta Huruf Demokrasi
    Komentar :
    Dalam teori sosiologi politik, demokrasi adalah mobiltas suara rakyat tanpa tekanan, yang peruntukannya bagi kepentingan publik. Tapi kini Indonesia berada dalam jebakan eforia demokrasi, demokrasi hanya sekedar dimaknai sebagai media kompetisi antara kelompok satu versus kelompok lainnya. Yang keterlaluan pemenang dalam ranah demokrasi adalah mereka yang tergolong "buta huruf demokrasi"

    Demokrasi dalam artian luas, adalah memberikan kemerdekan pada rakyat dalam menyatakan partisipasinya terhadap berbagai kepentingan masyarakat, rakyat diberikan hak untuk memberikan masukan termasuk mengkritisi, pelayanan publik, berupa layanan kesehatan, pendidikan, penyediaan lapangan kerja oleh pemerintah, penggunaan pajak, dsb. tetapi, selain rakyat belum pandai memanfaatkan haknya yang kini dilindungi oleh Undang Undang, para anggota legislatif, eksekutif dan yudikatif pura-pura tidak tahu akan kepentingan publik dengan menutup mata dan telinga, yang lebih celaka lagi "ketiga pendekar negara" itu malah ingin dilayani oleh rakyat.

    Memang Indonesia adalah negeri yang "malang". Disebut malang karena alam demokrasi yang diperjuang selama hampir 32 tahun hampir bernasib sia-sia.

    Kita masih terjebak pada arti demokrasi yang sempit dengan eforia demonstrasi di jalan jalan, dan birokrat dan DPRnya tergolong buta huruf demokrasi.

    Sekarang, kita sedang bertanya, dimana demokrasi berada, Demokrasi yang dikawal oleh orang orang yang berpihak pada kepentingan rakyat. LSM. Akademisi, Tokoh Agama, Tokoh Politik, Pengusaha, Tokoh Adat hendaklah jangan diam membiarkan rakyat terjebak pada demokrasi yang sempit.
    --Joko Hadi Prayogo(lpumura@yahoo.com) -Lubuklinggau Sumsel/ Indonesia | Minggu, 30 Desember 2007



    Demokrasi a'la RI
    Komentar :
    Kita rakyat RI belum tahu berdemokrasi, kita sangka demokrasi itu setiap orang harus menang dengan pendapatnya. Kalau tidak mereka berhak memboikot atau berdemo. Dasar utama dalam berdemokrasi adalah bersifat kesatria, kalau kalah harus menerima dengan lapang dada atas kekalahannya. Contoh yg kita bisa lihat adalah ketika Ibu Mega kalah dalam pemilu, beliau tidak pernah memberi selamat ke Pak SBY dan sejak itu semua undangan oleh Pak SBY ditolak. Nah, kalau pemimpin memberi contoh seperti itu tentu saja banyak rakyat akan meniru.
    --Mustafa Sabaroedin(musabar@optusnet.com.au) -Australia | Minggu, 30 Desember 2007


    Setuju Pak Jayasaputra
    Komentar :
    Sekarang bukan bicaranya yang banyak tetapi kerjanya lebih banyak lagi. Pemimpin kita harus serius memimpin negara untuk kemajuan,kedamaian,kesejahteraan rakyatnya,demokrasi dsb. supaya rakyatnya juga ikut serius dan belajar keras dan bekerja keras untuk menjalankan kehidupan di jaman kebajuan ilmu dan teknologi ini.Bangsa yang tidak saat ini akan tertinggal dalam segala bidang. Maka saya setuju bicara demokrasi bukan sekedar wacana tetapi menjadi taruhan untuk kemajuan bangsa dan negara. Oleh karena itu,harus serius menyajikan dan memimplementasikan sampai mantap.Jika saat ini kita telah berdemokrasi dan banyak banyak kelemahannya disana-sini didalam prakteknya mari kita perbaiki terus,yang sudah baik dibikin lebih baik yang belum baik diperbaiki menjadi lebih baik. Jangan putus di jalan sebab untuk mencapai yang baik harus dimulai dengan langkah yang baik dan diikuti oleh langkah-langkan yang lebih baik untuk menjadi baik dan mantap.
    Bangsa dan negara mempunyai banyak ilmuwannya,pakar-pakar yang harus didorong lebih serius untuk menyelesaikan masalah bangsa dan negara sesuai dengan ilmu dan keahlian yang dimilikinya.Selama pemimpin belum serius menjalankan tugas dan menyelesaikan masalah yang melilit bangsa dan negara,saya rasa lima puluh tahun lagi kita akan tetap seperti sekarang,jalan ditempat dengan masalah yang sama bertahun-tahun mulai dari masalah harga bahan pokok naik terus sepanjang waktu,kemiskinan,kebodohan, pengangguran,korupsi dan sebagainya.
    Tidan ada bangsa dan negara didunia ini yang tidak punya masalah. Kenapa mereka bisa keluar dari masalah itu. Jawabnya,mereka serius untuk memecahkan masalah tersebut dan tidak mau masalah yang sama tetap ada bertahun-tahun. Kunci serius,kalau memang kita semua punya niat baik untuk memajukan bangsa dan negara tercinta Indonesia ini.Jangan lupa bahwa genasi yang akan datang akan pergi ke museum danb perpustakaan dan membaca buku-buku, dan dilihatnya bahwa pendahulu-pendahulunya tidak serius mengurus negara sehingga bangsa dan negara dililit terus dengan masalah.Tentu kita tidak ingin meninggalkan sejarah yang tidak baik untuk generasi yang akan datang. Waktu pelihan anggota DPR dan Presiden diusulkan secara langsung yang bvanyak menolak adalah elite politiuk atau elite parpol mengatakan rakyat belum siap. Ternyata rakyat yang 100% siap dengan Pemilu secara langsung dan jutru elite politik-elite parpolnya yang tidak siap...sampai sekarang.Sekali lagi,mari kita sama-sama serius memajukan bangsa dan neara ini.Tentunya,Pak Indra akan lebih serius lagi meracik dan menyajikan demokrasi kepada kita. Ditungguuuu selalu dari Pak Indra dan yang lainnya.
    Selamat untuk demokrasi.
    --Budiman Darmawan(budimandarmawan@yahoo.com) -Indonesia | Sabtu, 29 Desember 2007



    Harapan,Bagaimana implementasi demokrasi yang baik dan benar di negeri tercinta ini?
    Komentar :
    Sebagai orang awam, selama ini hanya lebih banyak mendengar dan membaca artikel-artikel demorasi yang disajikan oleh para pakarnya.Makanya, bagi saya yang terpenting sekarang dan masa yang akan datang Pak Indra secara serius dan terus-menerus harus banyak meracik dan menyajikan demokrasi itu kepada masyarakat supaya masyarakat (awam)tahu dan mengerti benar arti serta praktek kehidupan bernegara dalam alam demokrasi itu (dalam hal ini,tentunya yang menyangkut nilai-nilai demokrasi,hukum dan budaya demokrasi sebagai pedoman oleh rakyat/masyarakat dalam menjalankan kehidupannya). Dengan demikian diharapkan,Pak Indra harus meracik demokrasi dalam sajian pendidikan untuk murid-murid sekolah dan mahasiswa di perguruan tinggi,misalnya. Sedangkan untuk masyarakat awam tentu peracik menyajikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Inilah yang saya maksud dengan perkatan"harus serius" mengungkapkan demokrasi jika memang menjadi pilihan yang terbaik masa kini dan masa akan datang di Indonesia.Juga,Pak Indra harus yakin dan percaya bahwa demokrasi adalah pilihan yang tepat sehingga kita yang awam ini tidak ragu dan ada pegangan dan pedodam yang baik dan benar tentang demokrasi untuk diikuti.Pak Indra harus menyajikan demokrasi untuk jangka panjang bukan hanya untuk generasi sekarang saja tetepi untuk generasi-generasi yang akan datang-berikutnya.Berdoalah Pak Indra sebagaimana Nabi Ibrahim berdoa,Baitullah yang aman berabad-abad kemudian ramai dikunjungi sepanjang waktu dan setiap tahunnya umat Islam dari pelosok dunia datang berhaji ke tanah suci.Saya menyokong keseriusan Pak Indra yang melihat keadaan bangsa dan negara serta solusinya sesuai dengan bidang ilmu yang Pak Indra miliki.Hari ini hari kita,esok hari-hari generasi yang akan menikmati hidup penuh dengan, kemajuan, kedamaian, kesejahteraan,menghargai perbedaan dan demokrasi.
    Pengalaman dari demokrasi ala Indonesia yang lalu yaitu demokrasi terpinpin dan demokrasi Pancasila sepertinya baru demokrasi-demokrasian yang hanya untuk kepentingan pemimpinnya atau dirinya dan kelompoknya dan bukan demokrasi untuk rakyat Indonesia,cukup menjadi pelajaran dan jangan terulang lagi.
    Selamat untuk Pak Indra.
    --Jayasaputra Bushran(jayabushran@yahoo.com) -Indonesia | Sabtu, 29 Desember 2007



    minta mail
    Komentar :
    saya tertarik dgn konsep GNTPPB yang pernah di gagas oleh Indra J. P, bisakah redaksi memberi mail beliau? atau situs beliau. Konsep GBTPPB layak didengungkan di Riau saat ini menjelang moment pilkada Gubri medio 2008..terimakasih...
    --Fadhli(f4dhli3@yahoo.co.id) -Pekanbaru | Jum'at, 28 Desember 2007



    Demokrasi Versus Perut Lapar
    Komentar :
    Ketika rezim Soeharto berkuasa telalu lama, sebagian rakyat Indonesia bermimpi datangnya demokrasi di Indonesia, Tetapi ketika pintu demokrasi terbuka 1998, Rakyat ternganga : ternyata demokrasi itu sebangsa makhluk aneh yang sulit dicerna, rakyat sudah kadung menduga bahwa demokrasi akan mendatangkan kemaslahatan berupa, kemakmuran, kebebasan, dan pelayanan publik dari birokrasi yang prima. Sekali lagi demokrasi adalah "nightmare" yang menakutkan.

    Salah satu gagalnya demokrasi di Indonesia adalah, bahwa demokrasi tidak mampu mensejahterakan rakyat, yang lebih celaka lagi DPR,Birokrat,dan Pengusaha berpesta pora sementara rakyat masih belum beranjak dari deraan kemiskinan.

    Kini, rakyat mempersetankan apa yang disebut dengan demokrasi, bahkan sebagian mengatakan bahwa zaman lebih enak ketika Soeharto menindas tetapi perut tidak lapar, daripada sekarang, yaitu negara demokrasi tetapi kita sulit cari kerja, sekolah mahal, biaya kesehatan tak terjangkau,harga minyak naik terus.ditambah lagi bencana alam terus menerus menyambangi negeri ini.

    Sesungguhnya, kita memang tak boleh alergi dengan demokrasi, tetapi masalahnya siapa pengawal demokrasi agar negara ini tidak salah urus. Tampaknya Indonesia sedang butuh "orang waras" yang mengerti demokrasi. Termasuk ajari rakyat mengenal demokrasi yang benar.
    --Joko Hadi Prayogo(lpumura@yahoo.com) -Lubuklinggau/ Indonesia | Jum'at, 28 Desember 2007



    Putus asa
    Komentar :
    Tulisan Indra Piliang telihat putus asa dan bingung mencari pilihan. Ada yg lebih baik dari demokrasi yakni Islam, ini bukan pilihan/alternatif tetapi kewajiban kita sebagai muslim menjadikan ideologi Islam sebagai way of live. Wujudnya berupa penerapan syari'at Islam sehingga kehidupan lebih baik dan diridhai Alla swt.

    Suara rakyat juga bukan suara Tuhan, kalau mayoritas suara rakyat yg terwakili di DPR menginginkan pelacuran di lokalisir dg lokalisasi, apakah Allah swt melegalkan perzinaan. Hati-hati dalam berucap, semua ada hisabnya di akhirat nanti.

    azh
    --azhari(azhari_qa@yahoo.com) -Jakarta | Jum'at, 28 Desember 2007


    Pendapat ini amat mendekati....
    Komentar :
    kenyataan di grass root: demokrasi itu tidak lebih berharga daripada kenyataan hidup yang makin senjang dan makin berat ... hiperinflasi 2005 berekor panjang hingga sekarang, sementara peluang bisnis makin terdesak oleh persaingan dengan negara2 yang lebih melihat dan mampu beradaptasi dengan era bisnis sekarang ... hiperinflasi adalah pelajaran termahal bwat rejim yang sekarang berkuasa ... hiperinflasi membwat ekspektasi masyarakat marginal terhadap demokrasi tidak menjadi kenyataan, itu yang membuat keletihan terjadi
    --apatisabis(apoitkjo@gmail.com) -bogor | Jum'at, 28 Desember 2007

    Democracy in Indonesia is not the real democracy
    Komentar :
    Rakyat melihat demokrasi sebagai alat untuk mencari orang terbaik di negara ini.

    Parpol dan oportunis2 politik melihat demokrasi sebagai alat untuk memperoleh kekuasaan aka UUD (Ujung Ujungnya Duit).

    orang2 ini membuat image yg maha dashyat yg sebenarnya adalah missleading.

    Demokrasi hanya terjadi di awalnya saja yakni ketika memilih sang calon tapi ketika di tuntut janjinya tdk ada satupun yg mau memperntanggung jawabkan janjinya.

    Ketika sang presiden hendak naik dan terlihat dia akan menang, semua parpol KKN. Ketika naik, parpol menagih janji dan memaksa presiden untuk menempatkan orang2nya di kabinet dan mengabaikan suara rakyat untuk memilh sang pembantu yg kredibel. Akibatna karena parpol2 tersbut telah menghabiskan dana yg tidak sedikit tentu mereka harus mengambil untung dan balik modal. Kembali lagi presiden tidak punya suara karena suarnya kalah di DPR. Seharusnya presiden punya suara absolute untuk memenuhi janjinya. Dan parpol tidak bisa memaksa untuk menaruh orang2nya di posisi yg basah.Ketika janji pemilu tidak bisa di tepati, tidak ada satupun orang yg bertanggung jawab, termasuk presiden.

    Ketika rakyat menderita, parpol2 ini tidak mau mendengarkan keluhan mereka atau mencari solusi malah semakin membabi buta menghabiskan uang negara.

    Jadi sama ketika konsumen membeli barang. Harga seharusnya menunjukan kualitas. Ketika kualitas tidak sama seperti janji, seharunya (bila mau di bilang demokrasi), barang tersebut bisa di kembalikan.

    Cara berpikir yg baik adalah ketika konsumen mengeluhkan, pemimpin negara dan parpol harus turun langsung kebawah mendengarkan keluhan, memberi solusi dan memperbaiki sistem.

    Legislatif, Yudikatif dan eksekutif saat ini malah membutakan, membisukan dan mentulikan diri.

    Prestasi tidak kunjung datang sedangkan dana habis sia2 tanpa ada hasil.

    Makanya saya bilang, orang2 parpol, eksekutif, yudikatif dan legislatif belum tahu benar akan demokrasi, manfaat, cara kerja.

    Mereka baru ibarat orang udik baru datang ke jakarta dan gembar gembor ke keluarga betapa hebat Jakarta ini.
    --maya(acoolguyfromnz@yahoo.com) -Jakarta | Rabu, 26 Desember 2007



    Berhala Bernama Demokrasi
    Komentar :
    Kampanyekan dan jalankanlah berhala kekuasaan bernama 'demokrasi'. Ia hanya sistem yang dibangun, ideologi kaum yang punya cita-cita luhur tentang bagaimana negara diperintah. Tapi cita-cita itu mimpi, hanya menjadi berhala kaum moderen. Demokrasi hanya utopia sebab toh akhirnya akan melahirkan pemerintahan oligarki. Parpol-parpol di seluruh dunia menjadi pengemis dan menggerogoti kekayaan negara. Yang berkuasa adalah korporasi, termasuk yang menyeponsori acara-acara aktivis demokrasi. Ada USAID, AUSAID, dan macam-macam lembaga yang menohok leher kemerdekaan intelektual melalui anggur berbau harum memabukkan.

    Indonesia dengan suapan demokrasi itu terjual kepada asing. Kaum muda pun menjadi antek demokrasi asing palsu yang disuarakan dalam kebohongan.

    Mari teruskan mimpi ketika rakyat dalam demokrasi memilih para pencuri. Demokrasi melahirkan pemerintahan pencuri dan penipu.

    Jika bukan demokrasi ...., tak ada yang lebih baik darinya, kecuali negara diperintah keadilan dan kebajikan moral. Dan, moralitas menjadi minoritas. Dan, minoritas dalam demokrasi kuantitas akan kalah, tersingkir....

    Apa harapan rakyat dalam demokrasi ketika demos itu tak punya pilihan baik?
    --Subagyo(cakbagio@yahoo.co.id) -Surabaya | Rabu, 26 Desember 2007

    Posted by indrapiliang on January 1st, 2008, 03:26:01 PM

© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com