Membaca Kaum Muda

Jumat, 4 Januari 2008

Tulisan AM Lilik Agung ini mencoba memasuki wilayah polemik kaum muda yang muncul di sejumlah media. Kelihatan kelompok epasos (ekonomi pasar sosial) makin kehilangan pembelanya. Kelompok neo-liberal juga belum muncul lantang..



Kompas, Sabtu, 29 Desember 2007

Membaca Kaum Muda

oleh AM Lilik Agung  

Dari sebuah gang di Jalan Kaliurang, Yogyakarta. Sebuah patung manusia dengan wajah penguasa otoriter negeri ini dinaikkan ke atas becak dan diarak menuju tempat demonstrasi. Halaman depan Balairung Universitas Gadjah Mada semakin riuh atas kehadiran patung berwajah penguasa otoriter tersebut.   Peristiwa itu pantas dicatat dalam sejarah penumbangan rezim otoriter Orde Baru. Patung tersebut dibakar habis para demonstran. Inilah api yang menyulut demonstrasi akbar para mahasiswa di hampir seluruh pelosok Tanah Air.  Benar bila Indra Jaya Piliang menyebut bahwa gerakan mahasiswa 1998 bukan produk mahasiswa Jakarta, melainkan disampaikan secara bergelombang dari sejumlah mahasiswa yang terluka dan terbunuh di Medan, Lampung, Makassar, dan Yogyakarta. (Kompas, 15/12/2007). Ketika para mahasiswa di Jakarta masih disibukkan dengan mengejar IPK dan jalan-jalan di mal, mahasiswa daerah lain (terutama Yogyakarta dan Bandung) harus menghadapi pentungan, gamparan, darah, penjara, penculikan, hingga kematian untuk demokrasi.

Namun, ketika Indra Piliang menyebut bahwa kaum muda Jakarta hanyalah kepala tanpa kaki tangan, buntung secara so- sial, tunasosial, dan tanpa keringat, pernyataan ini jadi cacat yang layak untuk di- gugat. Benar bahwa ada kaum muda Jakar- ta seperti apa yang disebut Indra. Namun, banyak kaum muda
Jakarta yang utuh secara sosial dan bergelut dengan keringat untuk menegakkan keadilan sosial.   Sebagai contoh kasus yang dilakukan kaum muda profesional Jakarta (baca: pelaku bisnis). Ketika terjadi bencana di mana pun di negeri ini, kaum muda profesional
Jakarta menjadi orang yang paling awal mendatangi korban bencana tersebut. Walaupun semua kegiatan tersebut bersifat karitatif, menandakan di tengah keterjepitan waktu mengejar target pekerjaan, para profesional muda
Jakarta melek secara sosial. Hanya saja, aktivitas ini jauh dari publikasi media massa ataupun perbincangan politik karena mereka memang tidak ingin ditampilkan ke media
massa seperti layaknya tokoh politik. 
 



Bebas primordialisme Pascagerakan mahasiswa 1998, tak bisa dielakkan mayoritas pelaku gerakan berlarian menyerbu Jakarta. Sebagian bergiat pada ranah politik praktis. Sebagian lagi bergiat di wilayah lembaga swadaya masyarakat, media
massa, ataupun kampus. Tak sedikit yang menjadi profesional perusahaan atau menjalankan usaha sendiri. Benar seperti apa yang ditulis Mohamad Sobary bahwa dibandingkan dengan tokoh-tokoh bisnis, media, keilmuan, dan LSM, tokoh politik kaum muda jauh tertinggal. Kualitas tokoh politik kita (kaum muda) hanya setingkat dengan stereotip yang kita lekatkan kepada pegawai negeri: seadanya, kurang kreatif, ogah berinisiatif, dan gigih menjaga "tradisi" tak bertanggung jawab (Kompas, 2/12/2007).  





Mengharap kaum muda memimpin negeri ini jelas tidak bisa diharapkan hanya dari kaum muda yang sekarang bergiat di ranah politik. Kolaborasi menjadi tidak terelakkan antara tokoh politik dan tokoh bisnis, tokoh media, tokoh keilmuan, dan tokoh LSM. Mengoptimalkan tokoh bisnis muda untuk ikut memimpin menjadi sebuah keharusan.  
Ada banyak keunggulan tokoh bisnis muda dibandingkan dengan tokoh-tokoh muda lainnya. Dari segi pendidikan, mereka sangat terdidik dan bahkan banyak lulusan universitas terbaik di luar negeri.



Dari sudut ekonomi, mereka golongan masyarakat strata A yang tidak lagi takjub untuk bepergian ke luar negeri ataupun rapat di hotel berbintang. Dari sisi manajemen, mereka sudah bergaul intim dengan apa yang disebut cara mengelola organisasi secara efektif dan efisien. Lebih dari itu mereka relatif terbebas dari wawasan sempit primordialisme lantaran lingkup kerja dan pergaulan mereka sudah global. Hanya dua hal yang perlu dipoles dari mereka: kecakapan berpolitik dan kecerdasan menggerakkan
massa. 
 
Kapitalisme

Pepatah bijak Sun Tzu mengatakan bunuhlah ular dengan rumputnya. Pepatah ini pantas untuk menengahi opini Sukardi Rinakit (Kompas, 4/12/2007) dalam menjawab opini Sonny Mumbunan menyoal kereta baru milik kaum muda, yaitu ekonomi pasar sosial (epasos), bisa jadi bakal mogok karena bahan bakarnya keliru pada aras konsep (Kompas, 21/11/2007).  

Kaum muda era sekarang dibesarkan dalam sebuah tatanan kapitalisme global. Mereka melihat, merasakan, dan bergaul dengan kapitalisme. Ketika tiba-tiba mereka harus membendung dengan kereta bernama epasos jelas akan terengah-engah kehabisan napas. Cara paling cerdas, "meniduri" kapitalisme tersebut dengan aktif di dalamnya.  Pada dasarnya kapitalisme bersifat netral. Ia bisa digerakkan individu ataupun negara. Bahkan pada era ketika privatisasi BUMN sedang gencar dilakukan di negeri ini, justru di negeri tetangga BUMN mereka ramai-ramai mengakuisisi perusahaan swasta. Sebutlah contoh Temasek (Singapura), Petronas (Malaysia), atau yang paling fenomenal, yaitu Dubai Corporation (Uni Emirat Arab). Tiga raksasa besar BUMN ini yang bisnisnya menggurita dan "lebih" kapitalis dibandingkan dengan perusahaan multinasional seperti yang selama ini dipahami.  Lebih dari itu, kapitalisme bisa menjadi malaikat penyelamat apabila berada di tangan orang-orang bijak. Bisa disimpulkan gerakan filantropis global dengan penyandang dana nyaris tak terbatas berasal dari perusahaan multinasional ataupun perorangan yang sejauh ini dicap sebagai kapitalis buas. Bill Gates merupakan orang yang paling banyak mengucurkan dana untuk kegiatan filantropis. Di bawahnya ada Warren Buffet, Mike Bloomberg, dan George Soros yang jelas seorang kapitalis murni.  

Pada sisi lain, para penganjur ekonomi jalan tengah, epasos, ekonomi kerakyatan, atau apapun namanya di negeri ini justru pendidikannya banyak dibiayai oleh perusahaan kapitalis, semisal Toyota Foundation, Ford Fondation, Rockefeller Foundation, hingga perusahaan lokal Astra Foundation dan Sampoerna Foundation.
Ada dikotomi di sini. Pada satu sisi mereka menentang kapitalisme, tetapi di sisi lain mereka dibiayai kapitalisme.
 Prinsip paling bijak ketika kaum muda memulai memimpin, mereka berkawan dengan kapitalisme. Jangan ketika kaki kanan bernama politik masih rapuh harus mengamputasi kaki kiri ekonomi dengan melawan kapitalisme. Sementara itu, konsep ekonominya sendiri masih diperdebatkan. Roda ekonomi sebuah negara bukan sebuah konsep, tetapi tindakan.  

AM Lilik Agung Mitra Pengelola High Leap Consulting, Praktisi Bisnis
» KOMENTAR (2)
  • Sosialisme, Kapitalisme, dan Komunisme

    I . Latar Belakang

    Suatu ideologi mempunyai peranan penting dalam kehidupan negara dan bangsa. Pengikut suatu ideologi sudah barang tentu harus berani berjuang, bahkan menyambung nyawanya demi ideologi yang di ikuti. Manusia dan masyarakat hidup di dalam bermacam-macam kegiatan dan bidang dari waktu ke waktu. Disamping itu mereka juga mengalami perkembangan dan mendapat pengaruh-pengaruh baik yang positif maupun yang negatif, baik dari dalam maupun dari luar.

    1 . 1 . Sosialisme

    Sosialisme merupakan tanggapan terhadap revolusi industi dan terhadap kondisi-kondisi yang diciptakan revolusi industri itu. Sosialisme sendiri adalah suatu ideologi yang mengagungkan kapital milik bersama seluruh masyarakat atau milik negara sebagai alat penggerak kesejahteraan manusia. Revolusi industri menimbulkan berbagai masalah sosial dan masyarakat, terjadi eksploitasi manusia atas manusia. Demi keuntungan dan kemajuan perusahaan, upah kerja manusia ditekan serendah-rendahnya, tenaga kerja wanita dan anak-anak disalahgunakan menjadi buruh murah dan kasar, jam kerja yang di luar batas dan keadaan pabrik sangat membahayakan dan mengganggu kesehatan. Keprihatinan terhadap kondisi-kondisi ini telah menyebabkan munculnya pemikiran-pemikiran dan pandangan-pandangan Sosialis.

    1 . 2 . Kapitalisme

    Pasca runtuhnya daulah Islam di Istambul, dunia ini di hadapkan dengan tantangan global. Dimana ideologi Kapitalis Sekuler menjadi ideologi yang di emban dan di sebar luaskan oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Kapitalisme ialah nama lain dari Liberalisme yang berarti paham pada kemasyarakatan dengan penguasaan alat-alat produksi pada perseorangan. Jadi seorang individu dibebaskan untuk memiliki apapun dan dengan cara apapun. Memiliki apapun dapat diartikan tidak lagi halal atau haram, tidak ada lagi batas-batas kepemilikan antara mana yang dimiliki individu, dan mana yang hanya dapat dimiliki negara dan masyarakat.
    Negara-negara dunia ke-3 yang notabene adalah dunia Islam dijejali dengan paksa di bawah tekanan internasional untuk menerima Kapitalisme Sekuler. Dengan menempatkan agen-agen kepercayaan yang duduk di kursi pemerintahan menjadikan usaha barat untuk menghegemoni dunia menjadi sebuah keniscayaan. Kapitalisme sendiri tidak dapat dilepaskan dari berbagai peristiwa yang melatarbelakanginya baik berlatarbelakang sains dan teknologi, politik, ekonomi, dan lain sebagainya.

    1 . 3 . Komunisme

    Komunisme ialah suatu ideologi kaum buruh yang ingin memperbaiki nasibnya melalui suatu revolusi sosial. Komunisme lahir dari kesadaran kaum buruh untuk mengubah nasibnya dari penindasan dan penghisapan kaum Kapitalis melalui revolusi sosial. Komunisme merupakan senjata idiil kaum buruh, dan kaum buruh menjadi senjata materiil komunisme. Di atas kemenangan revolusi sosial maka dapat didirikan pemerintahan Demokrasi Rakyat kemudian berkembang menjadi Diktatur Proletariat yang mempunyai tugas utama memperbaiki nasib kaum buruh dan kaum miskin lainnya.

    2 . Perbandingan Berdasarkan Sistem Perekonomian

    Dalam ideologi Sosialisme, Kapitalisme, dan Komunisme berdasarkan sistem perekonomiannya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

    2. 1 . Sistem Perekonomian / Tata Ekonomi Sosialisme
    Sistem perekonomian Sosialisme memberikan kebebasan yang cukup besar kepada setiap orang untuk melaksanakan kegiatan ekonomi tetapi dengan campur tangan pemerintah. Pemerintah masuk ke dalam perekonomian untuk mengatur tata kehidupan perekonomian negara serta jenis-jenis perekonomian yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara seperti air, listrik, telekomunikasi, gas dan lain sebagainya.
    Dalam sistem ekonomi Sosialisme atau Sosialis, mekanisme pasar dalam hal permintaan dan penawaran terhadap harga dan kuantitas masih berlaku. Pemerintah mengatur berbagai hal dalam ekonomi untuk menjamin kesejahteraan seluruh masyarakat.

    2 . 2 . Sistem Perekonomian / Tata Ekonomi Kapitalisme
    Sistem perekonomian Kapitalisme memberikan kebebasan secara penuh kepada setiap orang untuk melaksanakan kegiatan perekonomian seperti memproduksi barang, menjual barang, menyalurkan barang dan lain sebagainya. Dalam sistem ini pemerintah bisa turut ambil bagian untuk memastikan kelancaran dan keberlangsungan kegiatan perekonomian yang berjalan, tetapi bisa juga pemerintah tidak ikut campur dalam ekonomi.
    Dalam perekonomian Kapitalis setiap warga dapat mengatur nasibnya sendiri sesuai dengan kemampuannya. Semua orang bebas bersaing dalam bisnis untuk memperoleh laba sebesar-besarnya dan bebas melakukan kompetisi untuk memenangkan persaingan bebas dengan berbagai cara.

    2 . 3 . Sistem Perekonomian / Tata Ekonomi Komunisme
    Sistem perekonomian Komunisme, dimana peran pemerintah sebagai pengatur seluruh sumber-sumber kegiatan perekonomian. Setiap orang tidak diperbolehkan memiliki kekayaan pribadi, sehingga nasib seseorang bisa ditentukan oleh pemerintah. Semua unit bisnis mulai dari yang kecil hingga yang besar dimiliki oleh pemerintah dengan tujuan pemerataan ekonomi dan kebersamaan. Namun tujuan sistem komunis tersebut belum pernah sampai ke tahap yang maju, sehingga banyak negara yang meninggalkan sistem Komunisme tersebut.

    3 . Perkembangan dan Penerapannya di Berbagai Negara
    Sosialisme sebagai ideologi, telah lama berkembang sejak ratusan tahun yang lalu. Pada akhir abad ke-19, Karl Marx dan Friedrich Engels mengembangkan beberapa tesis untuk membedakan antara Sosialisme dan Komunisme. Menurut mereka, Sosialisme adalah tahap yang harus dilalui masyarakat untuk mencapai Komunisme. Dengan demikian Komunisme atau masyarakat tanpa kelas adalah tujuan akhir sejarah. Konsekuensinya, tahap Sosialisme adalah tahap kediktatoran rakyat untuk mencapai Komunisme, seperti halnya pendapat Lenin yang mengatakan bahwa Uni Sovyet berada dalam tahap Sosialisme.
    Hingga saat ini, partai-partai Sosial Demokrat masih tetap berdiri seperti halnya di Eropa seperti di negara Jerman, Belanda, Norwegia dan Prancis. Beberapa yang menganut Sosialisme juga seperti halnya partai-partai buruh di Inggris dan Itali. Sedangkan di Indonesia atau dapat disebut dengan Sosialisme Indonesia atau sering disebut juga Sosialisme Religius, menurut E. Ultrech S.H. adalah Sosialisme yang di Indonesiakan atau Indonesia yang disosialiskan.
    Sosialisme Indonesia itu muncul di dalamnya jiwa seluruh rakyat Indonesia, tumbuh subur didalam kebudayaan, dan adat-istiadat bangsa Indonesia meskipun Sosialisme itu tidak seratus persen diterapkan oleh perilaku bangsa Indonesia. Disebut sebagai Sosialisme Religius itu pun merupakan cerminan dari masyarakat Indonesia yang religius. Maka salah apabila Sosialisme Indonesia tersebut digambarkan sama dengan Sosialisme di negara-negara lain yakni Sosialisme yang menolak Pluralisme Demokratis. Justru sebaliknya, Sosialisme Indonesia adalah sangat menjunjung Pluralisme Demokratis itu, yaitu menjunjung tinggi keberagaman yang ada di tanah air Indonesia.
    Dalam perkembangannya pula, banyak diantara para pemikir Sosialis maupun praktisi gerakan-gerakan Sosialisme masih mengandalkan Komunisme ( Marxisme ) sebagai dasar pemikiran maupun gerakannya. Ada yang menggunakan Marxisme secara kritis akan tetapi ada juga yang secara dogmatis memujanya hingga saat ini. Kecenderungan-kecenderungan demikian terjadi tidak hanya di negara-negara Eropa akan tetapi juga di negara-negara dunia ketiga sepertihalnya di Indonesia.
    Di Eropa, Marxisme digunakan sebagai alat analisa pemikiran, maka peran Marxisme lebih berlaku pada perdebatan-perdebatan intelektual filsafat dalam melahirkan berbagai varian-varian baru. Sementara di negara-negara dunia ketiga dimana tingkat kegiatan praksis Sosialisme lebih berjalan, Marxisme masih menjadi ideologi dasar dan terutama bagi mereka yang baru saja lepas dari kungkungan rezim otoriter militeristik.
    Diantara ideologi Sosialisme dan ideologi Kapitalisme terjadi konflik yang tidak dapat dihindarkan, hal ini dikarenakan Kapitalisme ingin mempertahankan pemilikan perorangan atas alat-alat produksi dan ingin mempertahankan penghisapan manusia atas manusia melalui sistem kerja upahan di mana besarnya upah ditentukan oleh pemilik kapital. Sedangkan Sosialisme ingin membebaskan manusia dari belenggu rantai penghisapan manusia atas manusia dan bangsa atas bangsa melalui revolusi di mana alat-alat produksi harus menjadi milik bersama seluruh masyarakat, digunakan bersama, dan hasilnya untuk memenuhi kepentingan hidup bersama di bawah pengaturan negara.
    Dalam ideologi Kapitalisme, negara adalah pelayan kaum Kapitalis. Negara harus membuat undang-undang untuk melindungi kepemilikikan kapital kaum Kapitalis. Disamping itu negara harus melaksanakan kebijakan politik yang melindungi dan menguntungkan kaum Kapitalis. Sedangkan di dalam ideologi Sosialisme, negara merupakan pelayan rakyat. Dalam arti, negara harus membuat undang-undang untuk melindungi kepemilikan bersama seluruh masyarakat atas alat-alat produksi dan disamping itu, negara harus melaksanakan kebijakan politik yang melindungi dan menguntungkan kaum pekerja (buruh).


    Posted by melky on November 16th, 2008, 09:41:23 PM
  • Generasi muda adalah generasi penerus bangsa. Di pundanya diletakkan tanggung jawab, tidak hanya tentang harapan-harapan bangsa, tetapi juga aneka persoalan yang di hadapi bangsa ini.

    Bagi saya, yang juga termasuk dalam golongan kaum muda, saya berpendapat bahwa yang terpenting adalah sebagai kaum muda dia harus mempersiapkan diri secara matang. Kaum muda harus pertama-tama meningkatkan kualitas diri, baik secara akademis (di bangku kuliah) maupun sosial politik (lewat berorganisasi, dst)

    Jadi dengan demikian, pernyataan bung Indra bahwa kaum muda Jakarta hanyalah kepala tanpa kaki tangan, buntung secara so- sial, tunasosial, dan tanpa keringat, lantas kemudian dalam tulisan di atas dgugat oleh bung Lilik Agung dapat ditemukan jalan tengahnya.

    Posted by kris bheda on January 9th, 2008, 04:49:10 AM

© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com