Titian Rapuh Malaysia-RI

Selasa, 15 Januari 2008







Harian Sindo, Selasa, 15/01/2008
Tepat dua tahun lalu, saya hadir dalam pertemuan bilateral Indonesia- Malaysia di Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumbar).Saya berkesempatan menguping diskusi yang terjadi, baik dari delegasi Malaysia maupun Indonesia.Kala itu optimisme lebih meluap,terutama dalam bidang ekonomi, pendidikan, dan budaya. Pemerintah Provinsi Sumbar juga ikut optimistis.Karena alasan itu juga saya datang ke Kuala Lumpur,walau sadar tidak akan seleluasa di negeri sendiri.

Benar saja.Pertemuan bilateral ini terasa hambar,seperti gulai ikan di Nasi Kandar Pelita Jalan Ampang. Atmosfer yang terjadi menjelang pertemuan memang diusahakan cair, yakni dengan ”hadiah”berupa keputusan awal tentang kasus Nirmala Bonat.

Majikannya dinyatakan bersalah.Lalu,ada a nugerah Kehormatan Malaysia Darjah Seri Mahkota Negara oleh Yang Dipertuan Agong untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang diberikan oleh Seri Paduka Baginda Yang Dipertuan Agong XIII Malaysia Al- Wathiqu Billah Tuanku Mizal Zainal Abidin Ibni Al-Marhum Sultan Mahmud Al-Muktafi Billah Shah yang hanya pernah diberikan kepada 30 orang.

Sebelumnya, ada informasi betapa Presiden Yudhoyono menolaknya, namun mampu diyakinkan untuk menerima dalam upacara yang tidak megah. Yudhoyono memang serbakikuk, mengingat banyak masalah di Tanah Air yang membutuhkan perhatiannya. Dua jam pertemuan di kantor perdana menteri hanya menghasilkan memorandum dan sejumlah langkah yang akan dilakukan.

Memorandum di bidang perdagangan dan investasi seakan melengkapi memorandummemorandum sebelumnya.Yang baru adalah penunjukan 14 orang eminent person’s group, yakni tujuh orang dari masing-masing negara untuk mendiskusikan masalah-masalah yang muncul. Dengan cara itu, persoalan-persoalan yang muncul tidak langsung menyebar, melainkan terkonsentrasi kepada mereka.

Proposal pembentukan lembaga ini datang dari Malaysia yang nanti beranggotakan kelompok generasi muda, tokoh masyarakat, ulama,budayawan, tokoh wanita, cendekiawankeduanegara, dankelompok kepentingan lain. Usulan lain dari Malaysia adalah pembentukan semacam forum pers bersama. Para elite Malaysia percaya bahwa masalah-masalah yang muncul selama ini datang dari pers Indonesia yang lebih bebas.

Lagu Kotabaru

Lalu,adegan terakhir dalam pentas kesenian peringatan 50 tahun hubungan kedua negara, artis Malaysia melantunkan lagu Malaysia yang dikatakan tercipta pada 1980.Saya yang menyaksikan dari kamar hotel, berhubung direlai secara live oleh televisi Malaysia,langsungterkejut.

Bukankah itu lagu Indonesia yang sangat terkenal pada tahun 1960-an? Search saja di internet, segera kita menemukan syair yang sudah diubah di Malaysia itu, yakni ”Kotabaru gunungnya bamega...” Lagu yang dipopulerkan lagi oleh A Rafiq itu bahkan menjadi maskot Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, tempat lagu itu hidup. Ketika hadir dalam agenda konferensi pers pada hari terakhir di hotel JW Marriot, ternyata kursi kosong.

Presiden dan rombongan sudah kembali ke Jakarta.Yang ada di benak saya adalah SBY mungkin tersinggung lagi atas lagu itu. Tetapi tidak, karena seorang diplomat menyatakan bahwa SBY kembali ke Jakarta untuk memantau dari dekat kesehatan Soeharto. Namun saja saya tetap yakin lagu terakhir pentas kesenian itu akan menyisakan kopi pahit yang sulit ditelan.

Ketersinggungan demi ketersinggungan kakak-beradik itu akan selalu hadir di masa-masa datang.Apalagi sang adik jauh lebih kaya dari kakaknya, dari segi penanaman investasi. Investasi Indonesia di Malaysia hanya bernilai miliaran,sementara investasi Malaysia di Indonesia berjumlah triliunan.

Sebaliknya, sebanyak 1,5 juta lebih—ada yang mengatakan 3 juta— pekerja legal dan ilegal Indonesia di Malaysia,berarti hampir 10% jumlah penduduk Malaysia sendiri. Bisa dibayangkan kalau di Indonesia ada 30–40 juta penduduk negara lain yang bekerja di banyak sektor. Dengan jumlah pekerja migran yang bejibunitu,mustahil untuk tidak menemukan orang Indonesia di Malaysia.

Sebutan Indon pun sudah mulai surut, seiring beragam gugatan pers Indonesia,sekalipun sampai kini masih banyak yang tak paham. Bagi mereka, Indon sama terhormatnya dengan menyebut Melayu atau India dan China bagi orang-orang yang sudah menjadi warga negara Malaysia. Cuma, pers Indonesia mengatakan sebutan itu sebagai penghinaan.

Di dalam negeri,Malaysia dikejutkan oleh penembakan seorang pimpinan politik dari etnis India. Sulit dibayangkan kalau itu terjadi di Indonesia. Dia ditembak di lift pada siang hari, setelah makan-makan dengan teman-teman separtai.Sketsa polisi di koran lokal menunjukkan tersangkanya juga seorang warga India.Yang juga menyita perhatian, dari beberapa kali saya ke sana, adalah penculikan anak-anak.Liputan luas selalu dilakukan berhalaman-halaman.

Belajar Bersama

Apa yang kita bisa pelajari dari negeri itu? Terlalu banyak.Tentang keberhasilannya menyepuh Kuala Lumpur menjadi akrab dengan manusia. Pedagang eceran, kaki lima, grosir, sampai mal-mal yang menjajakan barang dan makanan mahal bisa didapat. Benar, seluruh kota dipenuhi jalanan, tol yang melingkar-lingkar, sehingga rumah teman saya yang dulu sunyi sepi kini dideru kendaraan di sebelahnya. Tetapi tetap ada ruang bagi pejalan kaki,walau jas dan dasi lekat di badan.

Jembatan rapuh Malaysia dan Indonesia tidak bisa menemukan itu. Terlalu banyak kunjungan luar negeri yang dilakukan pejabat pemerintah dan parlemen Indonesia ke negaranegara lain yang lebih hebat.Terlalu kurang perhatian kepada negeri tetangga sendiri.

”Kita bisa memilih teman, tetapi kita tidak bisa memilih tetangga,” kata Muhammad Najib dalam tayangan televisi,ketika membuka konferensi pemuda Malindo. Kalau kita melihat terlalu jauh, tentu yang tampak hanya kejauhan. Jadi, diperlukan semacam lembaga yang lebih permanen untuk saling belajar antarkedua negara. Mungkin seperti East-West Center yang juga sering diikuti para akademisi dan diplomat Indonesia.Ya, Indonesia-Malaysia Center.

Dengan cara itu, pengutamaan arus pengetahuan menjadi agenda, termasuk dalam membandingkan apa yang sama dan apa yang berbeda,serta mengantisipasi masalah-masalah yang muncul. Barangkali, 14 orang tokoh yang bergabung sebagai eminent person’s group itu bisa menjajaki, sehingga terjalin hubungan yang lebih kuat, tanpa harus tergantung pada naik-turunnya emosi masingmasing pihak oleh perkembangan politik dalam negeri.

Sungguh, saya kecewa dengan tidak adanya delegasi Gubernur Sumbar dari 150 orang anggota rombongan Presiden Yudhoyono. Bagaimana bisa pertemuan dua tahun lalu dievaluasi, kalau peserta pertemuan terdahulu tidak lengkap? Selain itu, dibutuhkan pertemuan dari kepala-kepala pemerintah daerah yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia, sehingga didapatkan program kerja sama perbatasan yang lebih konkret.

Pemberlakuan bebas fiskal bagi penduduk Sumbar yang datang ke Malaysia adalah bentuk dari kerja sama itu. Akankah agenda setahun atau dua tahun lagi hanya berisi kegiatan seremonial? Saya tidak tahu. Tetapi,saya ingin tetap datang...(*)
» KOMENTAR (1)

© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com