Sultan Dadi Presiden
Minggu, 20 Januari 2008
Periskop, Sindo, 20/01/2008| Minggu, 20/01/2008 | |||
| Di tanah Jawa, sering ada anekdot tentang “Petruk Dadi Ratu”. Sebagai punakawan alias pelawak kerajaan,Petruk tentu akan selalu salah tingkah bila menjadi orang penting. Petruk, bersama Gareng, Bagong, dan sang supervisor, Semar, sudah terbiasa bersimpuh menghadap raja. Dalam cerita komik masa kecil generasi kami dulu, Petruk hadir di Desa Tumaritis, dalam kehidupan bersahaja. Nah, bagaimana kalau lakon itu diubah, yakni sang raja sendiri yang ingin menjadi kepala desa di Tumaritis? Tentu akan menimbulkan pergunjingan, hiruk-pikuk. Itulah yang terjadi tatkala Sultan Hamengku Buwono X dikabarkan akan diusung menjadi calon Presiden Republik Indonesia ke-7. Bahkan hanya dengan kehendak melepas jabatan sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta saja para kepala desa se-Yogyakarta menolaknya. Begitu pula tatkala Rancangan Undang-Undang tentang Keistimewaan Yogyakarta berisikan materi tentang pemilihan langsung bagi jabatan gubernur yang dengan sendirinya tidak lagi menempatkanSultanHamengku Buwono X dan turunannya sebagai gubernur secara otomatis. Apakah Sultan HB-X sudah jenuh menjalankan dua jabatan, yakni sebagai sultan sekaligus gubernur, setelah sang ayah yang legendaris meninggal dunia? Atau Sultan melihat arah kehidupan berbangsa dan bernegara begitu kabur sehingga dia memutuskan langsung terjun dalam kancah politik yang sebenarnya? Belum ada kepastian sampai hari ini. Itu juga pertanda baik bahwa Sultan sedang menunggu saat yang tepat untuk maju atau mundur. Sultan memiliki ketahanan mental yang kuat untuk itu. Ketika didapuk menjadi pahlawan reformasi pada Peristiwa Mei 1998, Sultan dengan karisma yang besar mengamankan Yogya dari amuk massa. Saat itu Solo, kampung Wiranto, terbakar hebat. Sultan juga ada di Ciganjur bersama Amien Rais, Abdurrahman Wahid, dan Megawati Soekarno Putri di depan para mahasiswa yang sedang berang. Akan tetapi,ketika menggunakan jaket kuning Partai Golkar, karisma Sultan— yang juga Ketua Umum Masyarakat Jawa di luar Jawa seperti Pujakesuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatera) di Sumatera—lantas hilang.Dia tidak mendapatkan dukungan luas dalam konvensi nasional Partai Golkar 2003- 2004. Dia memilih sebagai kelompok kultural ketimbang bagian dari kelompok politikus struktural yang senang akan kekuasaan. Karena itu pula dia dianggap tidak memiliki uang sebagaimana para ”don” di Partai Golkar, seperti Don Aburizal Bakrie, Don Jusuf Kalla,Don Wiranto, Don Surya Paloh, Don Ginandjar Kartasasmita, atau Don Prabowo Subianto. Loyalis Sultan terbatas di lingkungan Ngayogyakarta. Sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Golkar Yogya, Sultan tidak terlihat sebagai mainstream dalam dinamika politik di lingkungan Partai Golkar. Sebagaimana ayahnya, Sultan HB IX,Sultan HB X ini tidak terlihat mengikuti karier yang sama. Sultan HB IX pernah menjadi menteri pertahanan dan wakil presiden dari Soeharto. Sultan HB X tidak pernah jadi menteri, apatah lagi memasang badan untuk menjadi orang nomor dua di RI.Dia terlalu nyaman dengan dua jabatan tadi, sultan dan gubernur bagi Yogya. Atau barangkali kedua jabatan itu pun terlalu menyita perhatiannya.Yogya adalah kota para pelajar dan seniman,walau kian hari kian tampak dihuni simbol-simbol konsumtivisme ala Jakarta. Hal-hal yang tak hilang dari Yogya adalah keberadaan para pedagang kaki lima,pengayuh becak, sais dokar, dan kedaikedai makanan lesehan. *** Dibandingkan dengan calon-calon presiden lain, Sultan hanya menempati urutan nomor tiga di bawah Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Soekarnoputri sebagai calon terpopuler.Tapi, dia dipilih sebagai tokoh politik nomor satu alias People of The Year 2007 oleh harian SINDO.Pada 2006,tokoh yang muncul pada penghargaan tahunan tersebut adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Artinya, seiring dengan turunnya pamor Yudhoyono, simbol Sultan tergerek naik. Padahal, Sultan juga terlihat tertatih dalam penanganan Yogya pascagempa. Ketika Gunung Merapi diberitakan mau meletus, bahkan Sultan ”dikalahkan”MbahMaridjan, juru kunci Gunung Merapi yang diangkat oleh ayahnya, Sultan HB IX. Kalau tokoh-tokoh lain bak tinggal dalam kandang politik masing-masing, Sultan mampu menembus batas dan sekat. Dia bisa diterima lingkungan Cendana, kongkow dengan Amien Rais, bertemu Yudhoyono, berbisik kepada Megawati, bergurau bersama Abdurrahman Wahid, serta masih menjadi tokoh yang diminta hadir dalam seminar atau aktivitas kalangan kelompok masyarakat sipil. Dia bukan orang yang senang berbicara seperti Amien Rais, tetapi bukan juga tokoh pendiam bagai Megawati. Sultan juga dikenal tidak memiliki kawan yang betul-betul dekat di lingkungan purnawirawan jenderal atau memiliki “simpanan” pengusaha atau konglomerat tertentu. Sultan jelas punya terlalu banyak kawan, tetapi dengan jarak yang tidak juga dekat. Dia dekat dengan pelbagai kalangan, namun juga berjarak dengan semuanya. Dia lebih menyerupai sosok intelektual ketimbang politikus. Padahal, dia tidak dikenal mendalami ilmu pengetahuan tertentu sebagai akademisi mumpuni, sebagaimana almarhum Romo Mangun yang juga tokoh Yogya berpengaruh bergelar arsitek. Sultanmunculsebagaiintelektual alamiah dan kultural, bukan tokoh kampus yang dididik penuh disiplin keilmuan. Beragam catatan itu menempatkan Sultan sebagai sosok yang tenang, tidak meledak- ledak, serta melintasi batas-batas politik tradisional. Sosok seperti ini sulit diterima dalam dunia politik yang mengandalkan militansi, loyalitas, dan keberpihakan. Tetapi dalam membingkai keindonesiaan hari ini dan beberapa tahun ke depan,sosok seperti ini memberi dampak positif. Dia teramat pantas menjadi Presiden RI ke-7, walau jalan begitu berkelok dan terjal. Hanya saja,kalau dia tercatat maju dalam pemilihan presiden, lantas menang atau kalah,maka sisi dan karakter yang selama ini terbangun pasti dengan perlahan juga akan hilang. Tidak mudah bagi siapa pun di republik ini membawa dirinya sendiri dalam jabatan tertinggi yang dikepung sejuta kepentingan. Sejumlah partai politik telah mencoba menggerek bendera politik Sultan seperti Partai Amanat Nasional. Teramat sedikit memang untuk mendapatkan tiket, apalagi kalau syarat dukungan di atas 15% dari jumlah kursi yang diraih di DPR. Tetapi demi kepentingan lebih luas, yakni jangan sampai muncul dua blok politik yang saling terjang dan tikam dalam pemilu 2009 antara Megawati dan Yudhoyono,keikutsertaan Sultan akan menjadi alternatif penuh makna. Mungkin Sultan sulit meraih kemenangan,walau itu juga bukan mustahil.Toh presiden yang terpilih belum tentu menjadi yang terbaik. Sultan layak memainkan satu peran lagi yang tidak pernah dilakoni oleh sang ayah, yakni menjadi calon Presiden RI. Kalau Petruk hanya bermimpi jadi ratu, mana tahu Sultan beneran bisa keluar dari istananya, lantas memimpin rakyat jelata, sebagai orang jelata juga, dengan melepas segala simbol keningratan. Bersediakah dia? | |||
Kolom Sebelumnya
» KOMENTAR (6)
-
2009
Sultan jadi Presiden
Ramalannya klik di http://tokocdkomputerpopuler.wordpress.com
Posted by hendri on April 13th, 2009, 10:19:08 PM -
Bangsa ini tidak punya cukup stok untuk mencari pemimpin bangsanya. Tidak ada pilihan yang baik, kalau tidak bisa dikatakan pilihannya memang buruk. Diantara semua yang buruk itu, Sultan adalah alternatif terbaik .
Posted by Pelaut Bugis on October 16th, 2008, 06:49:22 PM -
saya orang jogja yang sebagian masa kecil saya habiskan di Sulawesi dan Sumatra hingga akhirnya balik ke Jogja.
Jika saya membandingkan kehidupan d Jogja dan diluar Jogja berdasarkan pengalaman pribadi dan komentar teman-teman saya semasa mahasiswa (yg berasal dari luar jogja terutama luar jawa), kehidupan di jogja jauh lebih enak dan lebih mudah. Biaya hidup di jogja MURAH, lingkungan masyarakat KONDUSIF, fasilitas dan infrastruktur publik LENGKAP, orang mau berusaha AMAN, kerusuhan sepak bola TIDAK ADA, dan jika anda mencari yang lain, ibarat JOGJA tu Indonesia mini, lengkap termasuk dengan segala permasalahannya. Kemudian ada beberapa hal yang saya catat dari teman-teman luar jawa terutama yg dari riau dan kalimantan bahwa jalan-jalan di jogja sampai ke pelosok seperti daerah tepus, gunungkidul atau kokap, kulonprogo…. MULUSS padahal PEMDANYA JAUH LEBIH MISKIN DARI RIAU APALAGI KALTIM…. busyet g tuh… dan asyiknya lagi ada g jalanan gelap di jogja? kayaknya sedikit deh….. Wuiihh…ckckck
AND WHO’S THE LEADER?
Posted by nandywilasto on October 9th, 2008, 03:41:03 PM -
bung Nico, terima kasih. saya mengemasnya dengan populis, tentunya. saya banyak belajar budaya Jawa, kekuasaan di tanah Jawa, bahkan lebih banyak dari pada mempelajari Budaya Minang sendiri, bung. dan memang, jauh lebih sulit mengemas untuk hari ini.
Posted by indrapiliang on January 28th, 2008, 03:15:08 AM -
Bung Indra, penyebutan punakawan sebagai "pelawak kerajaan" menurut saya terlalu dangkal. Sebab punakawan dalam terminologi Jawa adalah penjelmaan rakyat itu sendiri. Keberadaan sosok punakawan dalam pewayangan adalah kreatifitas Sunan Kalijaga yang orisinil Indonesia dan tidak ada di dalam alur cerita dari India. Keberadaan punakawan untuk menyambung keterputusan kelas sosial antara penguasa (kelas menengah dan elit) yang berkasta-kasta dengan rakyat jelata. Seorang Semar, berwajah jelek, perutnya gendut, mata belekan, dll tapi pada saat tertentu sanggup mengalahkan dewa yang paling sakti sekalipun. Dewa tentu lebih tinggi dari para kesatriya seperti Arjuna. Punakawan adalah penjelmaan rakyat jelata yang sebenarnya juga disadari oleh Sunan Kalijaga, sebagai "pemilik sesungguhnya" dan berperan sentral dalam konsep kedaulatan itu sendiri. Memang peran rakyat biasanya adalah remeh-temeh, menghibur "pelawak?", dan membantu penguasa. Seorang semar juga berperan memberikan masukan kepada tuannya (Arjuna, dll) yang tak lain adalah penguasa (pemimpin harus mendengarkan rakyatnya). Tentu ini harus disadari dalam konteks budaya feodal ketika cerita "petruk dadi ratu" tersebut diciptakan. Memang hal ini sulit dipahami oleh orang non-jawa atau yang tidak sungguh-sungguh mempelajari budaya Jawa. Bahkan saya yakin banyak juga orang jawa yang sudah tidak memahaminya karena gempuran budaya pop. Frans Magnis Suseno yang orang Jerman itu bisa jadi lebih "Jawa" dari orang jawa sendiri. Namun sebagai upaya anda untuk membuka tulisan atau memberi suasana Jawa dengan sang tokoh Sultan HB X sebagai sentral sah-sah saja. Terima kasih.
Posted by Nico Andrianto on January 27th, 2008, 11:02:06 PM -
Saya sangat menaruh harapan sebenarnya dengan orang ini. Kalau mengikuti iklan motor Honda, dia kayaknya yang paling cocok untuk memmimpin Indonesia. Orangnya berwibawa tapi tidak gila hormat. Tidak pintar, tapi bisa menjawab semua pertanyaan ( walaupun gaya jawabannya kadang kadang khas Yogya / muter muter dan mengambang ).
Dan yang paling penting, tidak cacat moralnya. Memang untuk mencari manusia sempurna sangat sulit. Tapi menurut penilaian saya, diantara yang paling sulit tersebut untuk pilihan yang paling mudah adalah Sultan.
Saya juga sependapat dengan prespektif yang mas Indra gambarkan.
Bravo sultan HB X.
Posted by Faizal Hadi on January 20th, 2008, 07:07:33 AM