Bang Yos untuk Nusantara
Minggu, 3 Februari 2008
Sindo, Periskop, Minggu, 03 Februari 2008Jumat pagi (01/02), saya menghadiri Rapat Koordinasi Nasional Partai RepublikaN.Pada baliho besar di depan ruangan, terdapat gambar Sutiyoso. Partai RepublikaN memang menjadi satu di antara 12 partai politik baru yang sedang menggadang-gadangkan Bang Yos –sapaan Sutiyoso. Namun, belum begitu jelas bagaimana komitmen Bang Yos atas partai ini.
Kedua belas partai itu sedang bersaing menjadi parpol yang resmi menjadi kendaraan Bang Yos. Bang Yos sudah mendeklarasikan pencalonan sebagai presiden, setelah Megawati Soekarno Putri.
Praktis, hanya Bang Yos dan Mbak Mega yang kini bersaing merebut kursi presiden, sebab tokoh-tokoh lain belum mencalonkan diri. Tentu, kalau diadu, Bang Yos kalah jauh dari Mbak Mega. Bang Yos pernah menjadi ”anak buah” Mbak Mega, yakni sebagai Gubernur DKI Jakarta.
Jelang pemilu 2004 Bang Yos menggusur para pedagang kaki lima,membongkar banyak emperan, termasuk sebelumnya mengusir abangabang becak dari Jakarta.Karena dianggap sebagai bagian dari kebijakan Mbak Mega, suara PDIP rontok di Jakarta, dari pemenang menjadi hanya nomor tiga.Ketika aksi massa memblokir jalan-jalan menuju tempat pemilihan dan pelantikan Bang Yos untuk kedua kalinya di DPRD DKI Jakarta, Mbak Mega tetap teguh mendukungnya.
Boleh dikatakan Bang Yos sulit membangun loyalitas vertikal, baik dengan Soeharto, Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, ataupun Susilo Bambang Yudhoyono. Lima orang itu menjadi presiden ketika dia menjadi gubernur selama dua periode (1997– 2007). Sepuluh tahun kepemimpinan Bang Yos di Jakarta menghasilkan pembangunan busway, pemagaran lapangan Monas,peruntuhan lapangan sepak bola Menteng, hingga reklamasi pantai utara Jakarta.
Dari segi fisikmaterial, Bang Yos sangat berhasil sehingga sempat menganjurkan konsep Megapolitan yang ditolak DPR. Tetapi, dari sisi pembangunan dalam segi sosial dan kebudayaan, Bang Yos tidak berjejak. Untuk harga kandang seekor gorila, Bang Yos pernah mengeluarkan dana sebesar Rp13 miliar yang disetujui DPRD DKI Jakarta. Tapi, jangan dikira Bang Yos tidak punya modal.
”Saya mengerti soal petani,nelayan, dan lain-lain,” ujarnya ketika kami bertemu secara tidak sengaja di bandara Soekarno- Hatta. Dalam pembicaraan satu jam itu saya melihat Bang Yos menggunakan logika tersendiri atas kehadirannya dalam panggung politik. Tentu, dia memiliki perhitungan matang.
Yang terpenting dari argumen itu adalah lawan-lawan politiknya tidak lebih baik alias masingmasing memiliki kelemahan. Hanya seorang yang tidak dia sebut secara jelas,yakni Mbak Mega. Selebihnya, Yudhoyono, Jusuf Kalla, Sultan Hamengku Buwono X, dan Wiranto, turut dia sebut.Bukan di tempat ini saya menceritakan perspektif Bang Yos itu. ***
Lalu, siapa para pendukungnya? Yang sudah mulai dikenal adalah Sutiyoso Center yang dikelola secara profesional oleh para konsultan (pemasaran) media. Sebut saja Hersubeno Arief.Partai politik? Belum ada.Soetrisno Bachir, Ketua Umum PAN pernah menyebut namanya, tetapi Bang Yos berjajar dengan nama-nama lain juga. Dari tujuh partai politik yang lolos electoral thresholddalam Pemilu 2009,hanya PAN yang menyebut nama Bang Yos.
Partai Golkar, PDIP, Partai Demokrat, PPP, PKB, dan PKS tidak menyinggung sama sekali. Bang Yos sempat disebut sebagai ”capres independen” atau ”perseorangan”, tetapi ketentuan itu tampaknya sulit masuk ke Rancangan Undang-Undang tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden yang sedang dibahas. Barangkali, kalau Bang Yos gagal mencapreskan diri, dia akan menjadi pihak yang bersengketa di Mahkamah Konstitusi.
Sampai kini belum ada pihak yang maju ke lembaga negara penting itu untuk menggugat ketentuan UU bahwa yang berhak maju sebagai capres hanyalah calon dari partai politik atau gabungan partai politik. Pihak Dewan Perwakilan Daerah RI sendiri berkeyakinan bahwa ”misteri” dalam UUD 1945 hasil amendemen tidak menutup capres perseorangan. Lalu, dari segi daerah militan yang mendukung Bang Yos,jelas bukan DKI Jakarta. Partai RepublikaN sendiri merasa ”ngeri” dengan Jakarta.
Bagaimanapun,warga kota ini sulit melupakan begitu saja kebijakan-kebijakan kontroversial yang dibuat Bang Yos ketika menjadi gubernur, walau secara pelan ada pihak yang memujinya. Bagaimana dengan Jawa Tengah, daerah asal Bang Yos? Ketika turun dari pesawat di Bandara Adisucipto, Semarang, saya melihat para penjemput Bang Yos hanya dari kalangan purnawirawan atau veteran tentara.
Bang Yos mengaku hanya mendapat sambutan bagus di Sulawesi Utara.Daerah lain masih menyimpan sinyal dukungan yang lemah. Kalau dari segi etnis,Bang Yos berhadapan dengan Mbak Mega,Yudhoyono, Sultan HB X,dan Wiranto di tanah Jawa. Ya, tentu juga Abdurrahman Wahid.Dari segi kelompok nasionalis, sama juga. Namun, ada satu hal yang membedakan, yakni Bang Yos adalah ”tokoh baru” capres bersama Sultan HB-X.
Keduanya sudah bergelut dengan soal-soal yang riil selama sepuluh tahun. Bang Yos di DKI Jakarta, Sultan HB-X di Yogyakarta.Di ketentaraan,Bang Yos berasal dari kesatuan elite Kopassus yang pernah ditakuti di Asia Tenggara, bahkan Australia. Maka,tidak heran kalau ketakutan itu berimbas kepada aksi penggeledahan kamar Bang Yos ketika dia berada di Australia. ***
Pengaruh Soeharto begitu kentara kepada krisis kepemimpinan nasional. Tidak ada yang betul-betul siap dan dipersiapkan secara khusus untuk mengambil alih tongkat estafet kepemimpinan nasional. Kutukan pergantian kekuasaan yang berdarah di tanah Jawa berulang dua kali,pada masa Soekarno dan Soeharto,dalam era Indonesia modern.
Soekarno dan Soeharto pernah dianggap sebagai pemimpin abadi sehingga kalau ada tunas-tunas kepemimpinan baru yang lahir, dia akan segera dipotong. Kalau ada pihak yang berbisik tentang ”suksesi”, tunggu saja begitu banyak kesulitan hidup yang diterima. Perilaku itu juga mulai terlihat sekarang, ketika semakin sedikit kesempatan kepada kaum muda untuk diproyeksikan sebagai pimpinan nasional.
Kehadiran Bang Yos barangkali untuk sekadar menunjukkan bahwa adagium itu salah. Politik di Indonesia bukanlah kalkulasi matematika dan hitunghitungan statistik.Dia berani menunjuk dada bahwa dia layak dipilih. Atau, lebih jauh,dia sanggup dan mampu menjadi presiden. Desakralisasi jabatan presiden itulah yang sedang dilakukan Bang Yos. Bisa jadi dia kalah atau dikalahkan,tanpa pernah memegang karcis pencalonan.
Tetapi, dengan semangat keras kepala itu juga dia menunjukkan karakter dirinya. Mungkinsimpatipada akhirnya akan datang, sebagaimana mampir ke dalam diri Yudhoyono yang pernah juga jadi pecundang dalam pemilihan Wakil Presiden untuk Megawati.Yudhoyono,dalam pemilihan di MPR RI itu, bahkan dikalahkan Hamzah Haz dan Akbar Tandjung.
Politik bukan sekadar perhitungan logika, tetapi juga mengandalkan taktik dan strategi. Unsur ketiba-tibaan masih akan memberikan magnet pada masyarakat yang telanjur bosan dengan retorika sesaat.
Sebagai seorang ksatria, Bang Yos tentu ingin memperlihatkan tembakan panah terakhir. Apakah panah itu akan menuju sasaran atau melenceng jauh? Kita menunggunya. Semakin banyak yang maju dalam pilpres mendatang, semakin baik tatanan demokrasi kita di bumi nusantara ini. (*)
Kolom Sebelumnya
» KOMENTAR (3)
-
Hanya Seorang Juwono Sudarsono yang bisa menghantar Bang Yos ke RI 1
Posted by Irwan on December 4th, 2008, 12:56:20 PM -
ada beberapa calon luar jawa. selasa kemaren saya diundang makan malam di rumah dinas Fadel Muhammad di Gorontalo. hm, mungkin nanti ada artikel yang saya tulis tentang Fadel. Irwand Yusuf menurutku bisa juga, asal dia sedikit lebih berani menjadi seorang nasionalis. juga Teras Narang, walau bisa jadi orang mempersoalkan kekristenannya. tetapi coba kita lihat, apa demokrasi bisa menampung kelemahan dan kekurangan masing-masing orang.
Posted by indrapiliang on February 17th, 2008, 12:37:55 PM -
siapa itu sutiyoso?
sutiyoso hanya ada di jakarta,itupun bagi masyarakat dan golongan yang merasa beruntung dan mendapatkan "jatah" selama kepemimpinan sutiyoso.
sutiyoso di luar jakarta, siapa yang tahu!! tapi dunia politik penuh dengan rekayasa, pengadangan opini dan permainan image. itulah yang sedang dilakukan sutiyoso. jakarta tak menerima sutiyoso sepenuhnya karena mereka tahu siapa sutiyoso!
mental pembangunisme masih melekat pada diri "didikan" orde baru ini. hasil pembangunan adalah tolok ukur keberhasilan sebuah rezim, pembangunan adalah sebuah ideologi yang kering dari nilai emotional apalagi spritual. tapi kita tunggu saja apakah rakyat semakin cerdas dan sadar dalam menilai.
masih banyak figur baru yang lebih pantas diusung kepermukaan untuk menjadi calon presiden dan wakil presiden, sebut saja Prabowo dan sri Sultan. lalu bagaimana dengan calon luar jawa?
Posted by zamzami on February 7th, 2008, 04:59:19 AM