Cendana Pulang ke Beringin

Rabu, 13 Februari 2008

Sindo, 12 Februari 2008 



Sinyal itu sudah datang juga. Keluarga Cendana yang dimotori oleh Siti Hardiyanti Rukmana binti Soeharto akan kembali ke Partai Golkar. Pergerakan politik seperti ini sulit diduga ketika Soeharto masih hidup. Sudah kadung diingat betapa Golkar telah menjadi brutus yang menaikkan dan menurunkan Soeharto pada akhir masa jabatannya. Dendam politik bisa berusia lama, bahkan cenderung berdarah pada era monarki.  

Tetapi, dendam itu segera berakhir, seiring dengan koor pengampunan dan permaafan atas kesalahan-kesalahan Soeharto. Defenisi kesalahan Soeharto sebetulnya juga datang dari frase-frase politik yang dimasukkan ke dalam Tap MPR No. XI/1998. Kala itu, mayoritas anggota MPR berasal dari Golkar. Sepuluh tahun menghadapi “status tak berstatus”, kasus-kasus yang ditimpakan kepada Soeharto seperti hendak dikubur, seiring dengan pemakaman yang dipimpin langsung oleh Presiden Soesilo Bambang Yoedhoyono. Pidato Soesilo atas Soeharto menunjukkan simpati dan empati yang dalam atas jasa-jasa yang sudah dibuat oleh Soeharto semasa hidupnya.  

Hanya saja, Mbak Tutut lebih memberikan apresiasi kepada Partai Golkar. Bakti terakhir partai ini memang luar biasa. Di samping menggerakkan kader-kader utama untuk memintakan permaafan dan pengampunan atas Soeharto, Partai Golkar juga berupaya menjadikan Soeharto sebagai pahlawan nasional, sebagaimana sudah diberikan kepada Ibu Tien Soeharto. Barangkali sebuah jalan juga diberikan nama Jalan Soeharto, berikut patung megah, kalau perlu di jalanan yang paling padat kendaraan yang lewat.  

Partai Tanpa Bapak 

Selama sepuluh tahun terakhir ini, Partai Golkar seperti kehilangan bapak. Pergantian kepemimpinan menghasilkan tokoh-tokoh luar-Jawa, Akbar Tandjung dan Jusuf Kalla. Dari sisi kultur politik, tokoh-tokoh itu lebih memainkan semangat egaliter dan terbuka. Akbar yang beristrikan orang Solo, telah menunjukkan pola kepemimpinan transisional yang menggabungkan otoritas dengan demokrasi. Hanya Akbar yang tidak berada di jalur eksekutif, ketika memimpin Partai Golkar.  

Pola Akbar itu tidak dilanjutkan oleh Kalla. Tinimbang melihat Partai Golkar muncul sebagai kekuatan oposisional di DPR-RI, Kalla memajukan diri sebagai Ketua Umum dan menang atas dukungan elite-elite utama Partai Golkar. Beringin kembali memasuki halaman Istana. Pengandaian bisa saja terjadi di sini, yakni duet Soesilo-Kalla akan mudah sekali goyang, ketika tidak ditopang oleh Fraksi Partai Golkar di DPR-RI.  

Sungguhpun begitu, Partai Golkar tetap terlihat sedang mencari bapak. Dalam masyarakat tradisional dan transisional Indonesia yang bergulat dengan krisis, figur kharismatis tetap diperlukan. Dan ini bukan khas Indonesia. Tidak juga bisa dikatakan bahwa ini keadaan yang buruk. Tokoh pemersatu dalam tubuh partai politik untuk tingkat kemajemukan masyarakat yang tinggi juga terjadi di India, Pakistan, Thailand, Malaysia, Philipina, bahkan juga Amerika Serikat. Dari sisi ketiadaan bapak ini, kematian Soeharto seolah memberikan pencerahan kepada keluarga Cendana dan keluarga Beringin untuk menyatukan diri yang dulu memang satu keluarga politik besar.  

Pengaruh keluarga Cendana meningkat dalam kancah politik dan pemerintahan pada pertengahan tahun 1980-an. Mereka sudah mulai besar dan mengerti dengan urusan ekonomi. Dalam fase itu, kesuksesan Soeharto dalam melakukan swasembada pangan juga menyeruak, termasuk peranan yang mulai meningkat secara regional dan internasional. Kalau jarum jam sejarah dibalik, itulah saat yang tepat bagi Soeharto untuk berhenti dari jabatannya sebagai presiden. Kita tahu, Soeharto tidak berhenti, tetapi melanjutkan kiprah kepresidenannya.  

Ketika anak-anak Soeharto makin besar, sejumlah benturan kepentingan menyeruak dan makin besar pada pertengahan tahun 1990-an. Meninggalnya sang buah hati, Ibu Tien Soeharto, sebetulnya sudah memotong satu sayap Soeharto. Tetapi, iapun makin terbelit oleh kepentingan di sekelilingnya. Hanya dengan satu sayap, Soeharto diangkat lagi sebagai Presiden RI tahun 1998. Beban krisis multi-dimensional yang berat ternyata mematahkan sayap yang satunya lagi. Soeharto berhenti dengan tragis.  

Tutut sebagai Simbol 

Dibandingkan dengan anak-anak Soeharto yang lain, Tutut telah mendapatkan jalur politik yang lempang. Ia pernah mencetak banyak buku yang menceritakan kisah herois ayahnya pada saat menduduki Yogyakarta. Ia juga menyebarkan jutaan buku lain yang bercerita tentang Orde Baru. Bahkan, seingat penulis, Mbak Tutut pernah mengatakan bahwa Orde Baru akan abadi, sesuatu yang menyalahi logika kesejarahan.  

Mbak Tutut kini menjadi simbol keluarga Cendana. Beringin yang telah menegaskan diri sebagai partai politik nomor satu dalam pemilu 2004, semakin hari semakin turun pesonanya, dilihat dari penanjakan suara PDIP yang dipimpin Megawati Soekarnoputri. Dibandingkan dengan Megawati, Mbak Tutut jelas sudah lebih berpengalaman di bidang politik dan pemerintahan, serta kegiatan-kegiatan sosial. Dulu, tidak ada yang yakin bahwa Mbak Mega akan mampu menjadi presiden dan simbol utama PDIP. Kini, siapa yang yakin bahwa Mbak Tutut bisa seperti ayahnya?  

Roda kekuasaan seperti pedati, bisa naik, bisa turun. Sepuluh tahu masa “pemasungan” politik barangkali memberi bekal cukup bagi keluarga Cendana. Memang, terdapat PPKB yang didukung oleh Mbak Tutut dalam pemilu 2004. Namun dukungan itu tidak terlalu meriah alias hanya menunjukkan perbedaan dengan partai-partai lain. Mbak Tutut paham mengulur waktu. Apalagi, kekuatan Cendana belum lengkap, mengingat Tommy Soeharto masih di penjara.  

Dari perkembangan satu-dua minggu terakhir ini, terdapat dua skenario yang dilakukan oleh keluarga Cendana. Pertama, masuk ke semua parpol, terutama parpol besar. Ada usaha memasukkan Tommy ke PDIP, Titiek ke PKB dan Tutut ke Partai Golkar. Kedua, karena yang memiliki talenta politik hanya Mbak Tutut, maka bisa jadi hanya Ia yang aktif di politik. Keluarga Cendana yang lain akan sibuk dengan kegiatan ekonomi, sosial atau budaya.  

Soeharto tidak hanya mewariskan harta-kekayaan yang banyak, melainkan juga kasus-kasus hukum. Kalau hanya sendirian, keluarga Cendana sulit menghadapi kasus-kasus itu. Beban tentu akan dibagi merata, termasuk lewat partai-partai politik. Sudah merupakan hal yang lumrah ketika orang-orang yang memiliki kasus tetap bertahan di parpol atau mendirikan parpol. Pohon Beringin yang rindang, walau mulai berbagi lahan dengan PDIP dan Partai Demokrat, masih menyisakan tempat nyaman bagi Cendana. Dan kita akan saksikan, betapa akan banyak yang terusik kenyamanannya atau juga bertepuk tangan dengan bersemangat.. 


© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com