Lepas Dasi Pasca-Kenaikan Harga BBM

Jumat, 30 Mei 2008

KoranTempo, 30 Mei 2008 



Lepas Dasi Pasca-Kenaikan Harga BBMIndra Jaya Piliang, analis politik dan perubahan sosial CSIS, Jakarta


Kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, jangan hanya melemparkan isu, berikan solusi. Kita tidak tahu siapa yang melemparkan isu, siapa pula yang harus memberikan solusi. Pemerintah adalah lembaga yang sangat kuat, mungkin terkuat dibanding lembaga negara lain. Apa pun dipunyai, dari lembaga penelitian, badan usaha milik negara, uang, sampai hak mengeluarkan kebijakan. Ketika ada kelompok lain di luar pemerintah melakukan reaksi, sebaiknya pemerintah menyiapkan kontra-reaksi, bukan malah melakukan tindakan represif, seperti yang terjadi di Universitas Nasional.



 

Kenaikan harga BBM sudah diumumkan. Genderang perlawanan juga sudah ditabuh. Ada banyak keluarga miskin yang mendapatkan bantuan langsung tunai (BLT), namun banyak yang antre di pompa-pompa bensin. Istilah bantuan itu sendiri dalam BLT tidak tepat, karena dana yang digunakan bukan milik pengusaha minyak atau hibah pejabat. Dana itu adalah dana rakyat, sehingga perlu dicarikan nama yang tepat agar aparat tidak arogan ketika membagikan.



 

Kenaikan harga BBM adalah tuba kebijakan. Lebih tepat kalau disebut juga sebagai simalakama. Kalau tidak dinaikkan, APBN jebol. Kalau dinaikkan, masyarakat termiskinkan. Sebagian mendapatkan dana kompensasi, namun sebagian yang lain harus pontang-panting mempererat ikat pinggang.



 Mengingat BBM adalah barang langka, dipastikan harganya akan terus naik dan naik. Kecuali ditemukan cadangan minyak yang besar di planet lain, lalu dengan mudah diangkut ke bumi, bisa dipastikan minyak akan semakin sulit didapatkan. Mesin-mesin yang bergantung pada minyak bisa mati total. Dan suatu hari kita akan hidup di zaman batu, hanya mengandalkan nyala api. Dokar dan kuda kembali berfungsi, kapal-kapal digerakkan oleh tenaga manusia, serta perjalanan antarbenua memakan waktu yang lebih lama. Masa depan akan kembali menjadi zaman prasejarah sebagaimana imajinasi para penulis dan pembuat film.*** 


Karena BBM sudah dinaikkan harganya, pemerintah harus bertanggung jawab atas potensi kenaikan berikutnya, serta akibat-akibat yang dimunculkan. Pemerintah tidak boleh lari dari tanggung jawab itu. Penggunaan kekerasan dalam menghadapi demonstran adalah tindakan keliru. Tidak boleh ada lagi penggunaan kekerasan di negeri merdeka ini. Untuk itu, memikirkan program jangka menengah dan panjang menjadi penting. Dalam jangka menengah, pemerintah harus melakukan penghematan atas anggaran negara. Untuk jangka panjang, segera disiapkan cetak-biru pencarian dan penggunaan energi alternatif di luar fosil.



 

Satu program yang penting dan segera itu adalah seluruh pejabat pemerintah segera melepas dasinya. Untuk apa menggunakan dasi di negara tropis ini? Dengan dasi yang tidak terikat di leher, dipastikan ruang-ruang ber-AC akan segera dipanaskan suhunya. Terlalu dingin akan membuat badan menggigil. Kalau selama ini ada aturan tentang pada suhu berapa AC dihidupkan, lebih baik manusianya yang diatur, teknologi menyesuaikan diri.



 

Justru semakin aneh kalau para pejabat lebih banyak menggunakan dasi, termasuk jas-jas mahal, ketika penghasilan rakyat kian menurun. Semakin tidak pro-penghematan kalau baju-baju dinas pejabat dan pegawai semakin tebal saja. Selain itu, harus ada aturan untuk boleh membuka jendela kantor-kantor yang tertutup agar udara masuk. Kipas angin bisa menggantikan AC, termasuk industri kipas angin dalam negeri bisa dihidupkan.



 Lepas dasi hanya satu program sederhana, tapi dapat dirasakan manfaatnya. Kesederhanaan lain bisa dicari. Harus juga mulai dikurangi "energi" pengawalan pejabat negara. Boleh saja sang menteri naik Kijang, tapi kenapa para pengawal berjejer-jejer di depan dan belakang menggunakan mobil-mobil mahal? Perhatikan juga bagaimana borosnya biaya BBM mobil-mobil pejabat di kantor-kantor pemerintah karena sang sopir terus-menerus menghidupkan mesin agar mobil tetap dingin ketika sang pejabat sedang rapat. Kalau presiden mau mendapatkan info valid tentang ini, ia bisa memerintahkan saya memotret kasus-kasus seperti itu atau orang lain yang ia percayai. Ingat, seliter bensin yang Anda pakai itu menggunakan uang rakyat, bukan uang moyang Anda!*** 


Soal energi alternatif juga penting. Negeri ini masih memiliki banyak pohon kelapa tua. Hargailah pohon kelapa itu. Beri harga layak kepada ibu-ibu yang bisa membuat minyak kelapa dari butir-butir kelapa. Sekarang orang malas memanjat pohon kelapa karena kelapa tidak lagi berharga. Bagaimana bisa di negeri yang punya lagu Rayuan Pulau Kelapa, justru kelapa tidak berharga sama sekali?



 

Lalu, untuk apa begitu banyak laboratorium dan pusat-pusat pengembangan energi dibangun kalau tidak dimanfaatkan? Perintahkan Menteri Riset dan Teknologi membuat satu kabupaten percontohan yang bisa menggerakkan kabupaten itu tanpa harus menggunakan energi dari negara lain yang mahal. Saya yakin Puspiptek Serpong sanggup mengerjakannya. Ketika orang melihat keberhasilan, mereka akan langsung mencontoh dan mempraktekkannya. Bukankah ITB adalah perguruan tinggi penuh anak-anak pintar?



 

Pemerintah terlalu sibuk dengan soal-soal kecil, seperti menanggapi ucapan satu orang, sehingga seluruh potensi positif bangsa ini tidak dilirik dengan baik. Pidato-pidato panjang tidak akan membuat orang bergerak. Begitu pula rapat-rapat yang berlama-lama dan bertele-tele. Berikan kepercayaan kepada orang-orang, maka orang-orang itu akan bergerak dan menegakkan kepalanya.



 

Dan jangan lagi pikirkan politik. Politik berhenti ketika Anda dilantik sebagai pejabat negara. Tidak perlu juga kekuasaan digenggam terlalu lama kalau Anda tidak bisa menggunakan secara benar. Lima tahun adalah waktu yang tidak lama untuk menghasilkan sesuatu yang berguna, namun satu hari terlalu melelahkan buat sesuatu yang tidak berguna juga.



 Maka, tidak perlu berpikir lagi. Besok pagi, mulailah melepas dasi. Gunakan baju-baju murah khas daerah tropis. Jangan suka terlalu lama di ruang-ruang tertutup, karena dunia akan berubah menjadi sempit. Satu tindakan sederhana jauh lebih penting bagi seorang penguasa, daripada menyusun sebuah laporan panjang sambil begadang. Ayo, Indonesia bisa! * 

© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com