Berjuang Dalam Sistem
Hari ini saya akan mengakhiri kiprah sebagai analis politik dan perubahan sosial secara formal. Saya melangkah memasuki dunia yang saya amati.
Dalam metodologi kualitatif, ketika seorang peneliti memasuki wilayah amatannya, penelitiannya disebut penelitian terlibat.Tetapi saya tidak sedang meneliti, melainkan menjadi politikus. Kepada pembaca SINDO, saya mengucapkan permohonan maaf atas keputusan ini dan memohon doa restu. Tentu saya tidak akan berhenti menulis. Bagi saya menulis adalah bagian dari proses pembebasan pikiran.
Menulis memerdekakan diri dari kungkungan kegundahan, juga penyaluran atas idealisme yang berada dalam hati dan perbuatan. Tetapi ketika nanti saya menulis, kedudukan saya tentu berbeda,begitu juga dengan label yang saya gunakan.Walau pikiran yang saya gunakan tetap pikiran sendiri,tetapi tentu diimbuhi dengan kepentingan-kepentingan partai politik, kebijakan politik, atau muatan politik.
Saya harus katakan itu secara terus terang. Sekarang sudah banyak politisi yang menulis. Ini kemajuan, sekalipun bukanlah hal baru. Politisi awal Republik Indonesia juga para penulis. Mereka berasal dari semua kelas sosial di masyarakat, terutama kaum cendekiawan, ulama, dan tokoh masyarakat.
Para tentara dalam perang kemerdekaan juga penulis. Politisi yang menulis menurut saya adalah politisi berkelas, sekalipun belum tentu juga yang tidak menulis tidak berkelas.Banyak ideolog atau filsuf partai yang tidak mau menuliskan pikiran mereka untuk menghindari serangan-serangan dari lawan-lawan politik mereka.
Membenahi Sistem
Kenapa saya memilih menjadi politikus? Tentu dengan banyak pertimbangan. Saya tidak ingin berapologi. Saya bukanlah Plato yang harus menuliskan pidato terakhir Socrates sebelum meminum racun dengan judul Apologiaitu.Dengan menjadi politikus saya berharap saya ada dalam pusaran arus otoritas politik kekuasaan terkuat.
Dengan itu juga pemikiran yang ada dapat diperjuangkan di beragam tingkatan, baik di legislatif, eksekutif, yudikatif, maupun dengan terus menyambungkan dengan kelompok penekan, kelompok kepentingan, atau masyarakat sipil. Selama ini saya telah mencoba menjelaskan kepada masyarakat untuk tidak memusuhi politisi dan partai politik.Tetapi kenyataannya masyarakat tetap memusuhi politisi.
Sebagian besar memilih tidak menggunakan hak pilih dalam pemilu dan pilkada. Benar, pilihan menjadi golongan putih adalah juga hak. Hanya, sebagai negara yang belum lama menjalankan demokrasi, legitimasi rakyat berupa penggunaan hal pilih di kalangan mayoritas masih diperlukan.
Karena itu saya ingin mengatakan dengan tindakan bahwa politisi itu adalah pekerjaan mulia. Agak aneh kalau ada dugaan betapa sarang koruptor itu adalah politisi sehingga menyebabkan orang memusuhi partai- partai politik. Bagaimana bisa membentuk Indonesia menjadi lebih baik bila asal-muasal setiap pengambilan kebijakan di bidang regulasi, anggaran, dan pengawasan justru dihinggapi oleh orang-orang yang diindikasikan kotor?
Kalaupun terdapat para koruptor di lingkungan politisi, kita harus juga kaitkan dengan pihak pemberinya, yakni oknum pemerintah,kalangan pelaku usaha, sampai sebagian kecil masyarakat yang masih mengedepankan prinsip ”politisi banyak uangnya”sebagai modus dukungan dalam kampanye pilkada dan pemilu.
Hanya karena kita menganggap politisi itu kotor,lantas kita membiarkan kalangan-kalangan yang potensial korup ini dimasuki oleh pelakupelaku yang tidak autentik. Dengan langkah menjadi politikus, saya mendambakan semakin banyak orang yang merasa dirinya baik dan benar untuk memasukinya.
Kehidupan kepartaian harus dibenahi dengan cara membuat sistem yang semakin alergi terhadap korupsi, ditambah masuknya manusiamanusia yang berkelas dan berkualitas. Saya tidak mengatakan bahwa saya adalah bagian dari kelompok itu, tetapi dengan cara ini saya setidaknya berusaha membuat satu perubahan kecil yang mungkin tidak banyak artinya.
Peran Rakyat
Keemohan masyarakat atas para politikus adalah sikap yang bisa dimengerti, tetapi sulit diterima sebagai kebenaran tunggal. Memang belum ada satu partai politik pun bisa dianggap bersih dari praktik korupsi,tetapi sudah ada politisi yang membersihkan diri dari perilaku yang tidak bermartabat itu.
Masyarakat tinggal memilih, apakah akan membiarkan ranah politik dibajak demi kepentingan pribadi atau golongan, ataukah memberi dorongan kepada orangorang yang dianggap baik untuk memasukinya. Membiarkan politisi berada dalam gelimang harta korupsi juga kejahatan politik. Masyarakat harus mulai memilah-milah,mana politisi yang bekerja demi rakyat,mana yang terlena dengan kepentingan pribadi dan kelompoknya.
Alam demokrasi telah membuka catatan riwayat hidup para politikus ke permukaan dengan sangat transparan. Keberadaan lembaga- lembaga kuasi-pemerintah, seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), telah menimbulkan ketakutan kepada para pelaku korupsi. Saya pamit dari ranah masyarakat sipil ke komunitas politik.
Apakah saya berhasil atau gagal menjadi politisi yang baik, sangat tergantung juga pada kalangan pers dan masyarakat dalam mengawasinya.Warga negara yang aktif sangat penting bagi upaya menyehatkan demokrasi kita. Semakin warga negara tidak peduli dengan kehidupan politik dan demokrasi, semakin politisi merajalela untuk mengeruk keuntungan maksimal berkenaan dengan jabatannya.
Selama menjadi politikus saya tentu tetap memberikan perhatian pada bidang-bidang yang saya tulis selama ini. Saya ingin memaksimalkan kedudukan saya sebagai politikus itu untuk membantu masyarakat memahami dengan lebih bijak tentang apa yang sebenarnya terjadi dan dipikirkan oleh politisi.
Politik bukanlah sesuatu yang layak dihindari, melainkan didekati dengan pikiran yang jernih,semangat yang menyala, serta komitmen yang kuat. Semoga kita bisa membebaskan diri dari perangai politisi yang tidak mengabdi pada kepentingan masyarakat banyak.(*)