Potret Buram DPR Kita

Jumat, 19 September 2008
Sumber : Sindo, 22 Agustus 2008

 Potret Buram DPR Kita? Oleh Lili Romli
Peneliti Pusat Penelitian Politik LIPI Direktur Desk Pemilu dan Pilkada Puskapol UI.
 Sindo, Jum’at, 22 Agustus 2008
Tanggal 19 Agustus lalu,pendaftaran calon anggota legislatif (caleg) dari partai-partai politik (parpol) peserta pemilu ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah ditutup.

Pada umumnya parpol-parpol tersebut mengajukan daftar calon/caleg sementara (DCS) pada batas akhir pendaftaran.Tampaknya, tradi
si pendaftaran pada detik-detik akhir penutupan masih dilakukan kalangan parpol. Ungkapan "bila masih ada waktu, mengapa harus terburu-buru" nyata benar dipraktikkan.

Sikap seperti itu tampaknya sudah menjadi bagian dari tradisi dan budaya yang dianggap lazim di dalam masyarakat kita. Di balik budaya seperti itu, sesungguhnya bisa jadi di lingkup internal tiap parpol dalam mengusung calon-calonnya yang hendak duduk di lembaga perwakilan terjadi berbagai masalah.

Persoalan yang muncul, antara lain, ketidaksiapan para parpol peserta pemilu dalam mempersiapkan secara matang persyaratan administratif caleg dalam proses pendaftaran secara matang. Selain itu, terlambatnya proses pengajuan DCS ke KPU ditengarai juga karena terjadinya perebutan nomor urut di antara sesama caleg.

Untuk menyelesaikan ini tentu saja tidak mudah, bisa jadi timbul konflik di antara mereka, kompromi-kompromi politik, atau bahkan transaksi-transaksi politik dan ekonomi. Terlepas dari itu semua,kini parpol peserta pemilu sudah mengajukan DCS kepada KPU. Dalam DCS tersebut, kita bisa melihat wajah-wajah caleg yang akan duduk di lembaga perwakilan (DPR/DPRD) yang nantinya akan mewakili ratusan juta rakyat Indonesia.

Harapan ratusan juta rakyat Indonesia tersebut dicurahkan dan ditumpahkan kepada para caleg tersebut. Persoalannya kemudian, apakah harapan tersebut akan terwujud? Lalu bagaimana wajah para caleg tersebut yang akan menjadi tumpuan harapan ratusan juta rakyat Indonesia? Adakah perubahan signifikan para caleg yang diusung oleh parpol?

Status Quo

Bila kita melihat beberapa nama caleg yang diusung oleh beberapa parpol, memang ada harapan tersebut. Hal ini karena beberapa parpol banyak yang mengusung caleg dari kalangan aktivis dan kalangan anak muda.
Di antara para celeg tersebut ada AH Garuda Nusantara, Bini Buchori, dan Dita Indah Sari.

Sementara itu dari kalangan anak muda, ada Anas Urbaningrum, Indra J Pilliang, dan Budiman Sujatmiko. Kita patut memberikan apresiasi, baik kepada partai politik yang telah membuka peluang masuknya para aktivis dan kalangan muda ke dunia politik tersebut maupun kepada aktivis dan kalangan muda itu sendiri yang sudah mau masuk wilayah politik praktis.

Namun persoalan yang terusmenerus menjadi pertanyaan, mampukah mereka ketika masuk ?ke dalam sistem? mengubah atau memperbaiki kondisi yang ada saat ini? Konon beberapa aktivis dan kalangan akademisi yang masuk dalam sistem tersebut, belum mampu mengubah kondisi yang ada.Alih-alih ingin memberi warna dan perubahan dari dalam, justru yang terjadi mereka terwarnai dan terjebak dalam status quo.

Bila kondisi seperti itu menjadi realitas, skeptisisme atau bahkan pesimisme terhadap para caleg hasil Pemilu 2009 akan lebih baik dari sebelumnya menjadi menggayut sehingga harapan untuk terjadinya perubahan menjadi sirna. Lalu ke mana lagi harapan itu digantungkan? Skeptisisme dan pesimisme itu semakin bertambah manakala kita melihat wajah para caleg yang lain.

Bila kita menelisik wajah-wajah para caleg, ternyata muka-muka lama tetap dominan. Mereka masih ingin tetap bertengger di legislatif.Politik status quo tersebut tampaknya terus dilakukan oleh mereka. Dalam mempertahankan status quo tersebut, modus operandi yang mereka lakukan, antara lain, agar dicalonkan dalam nomor urut jadi.

Bila mereka tidak bisa mendapat nomor urut jadi di dalam parpol sebelumnya, yang mereka lakukan lalu dengan cara "lompat pagar" ke parpol lain yang menyediakan nomor urut jadi. Orang-orang lama yang mendirikan atau bergabung dengan parpolparpol baru ikut juga menjadi caleg, maka semakin lengkap dominasi muka lama dalam pencalegan.

Selebritas Politik

Selain wajah-wajah lama,penghuni Senayan juga akan diramaikan oleh masuknya para artis dalam parlemen. Pada masa sebelumnya, sudah ada beberapa artis yang duduk di kursi DPR.Sebagian di antara mereka ikut berkompetisi juga dalam perebutan jabatan kepala daerah. Ada yang berhasil,ada pula yang gagal. Dalam menghadapi Pemilu 2009, kembali para artis direkrut oleh parpol untuk meramaikan bursa caleg.

Parpol berlomba-lomba mengusung para artis ini untuk duduk di lembaga perwakilan. Gayung bersambut, uluran tangan parpol tersebut langsung disambut oleh para artis. Ramai-ramai para artis menjadi caleg dari beragam parpol.Dengan bermodalkan popularitas, mereka diharapkan dapat menuai suara.
Sebenarnya fenomena artis men-jadi caleg ini sah-sah saja. Dalam alam demokrasi, setiap orang memiliki hak yang sama, termasuk para artis,untuk menjadi anggota Dewan.

Persoalannya, kita bukan anti- atau alergi pada para artis tersebut untuk menjadi anggota Dewan. Kita memberikan apresiasi, dengan mengabdi sebagai wakil rakyat tersebut.Tetapi perlu disadari bahwa pekerjaan menjadi wakil rakyat bukanlah suatu yang gampang. Perlu bekal pengetahuan dan kompetensi serta kapasitas yang memadai. Pertanyaan yang muncul,apakah para artis tersebut sudah memiliki bekal tersebut?

Jangan sampai di sana mereka mau belajar karena bukan pada tempatnya lembaga terhormat tersebut untuk belajar, tetapi untuk berbuat. Di DPR kita juga nanti akan diisi oleh beberapa anak pejabat dan pimpinan partai. Sebagaimana diberitakan di koran-koran, beberapa anak pejabat dan pimpinan partai diusung menjadi caleg.Seperti juga para artis, sah-sah saja mereka menjadi caleg. Namun yang harus dipertimbangkan, mereka menjadi caleg yang dikedepankan adalah aspek kompetensi dan kapasitas,bukan aspek genealogi dan askriptif.

Akhirnya,kita serahkan semuanya kepada sang pemilik kedaulatan,yakni rakyat Indonesia. Kita berharap nanti rakyat dalam memilih wakilwakilnya akan cermat, tidak terbawa arus sentimentil dan emosional. Dalam memilih nanti,rakyat akan benarbenar memilih anggota Dewan yang memiliki kredibilitas, integritas, dan kapasitas yang memadai sehingga potret DPR nanti tidak lagi buram. Semoga! (*)


 
© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com