Ikhtiar Sebuah Kota

Senin, 13 October 2008
Ikhtiar Sebuah Kota
Kamis, 09 Oktober 2008
Oleh : Indra J Piliang, Putra Pariaman dan Calon Anggota DPR RI Periode 2009-2014

Pada hari ini, Drs H Mukhlis R, MM dan Helmi Darlis SH, SpN dilantik sebagai Walikota dan Wakil Walikota Pariaman periode 2008-2013. Keterpilihan ini melengkapi pilkada-pilkada lain yang masih terus berlangsung di seluruh Indonesia.

Kedua sosok ini mewakili simbol masyarakat pesisir di Minangkabau yang dikenal kritis, egaliter dan terbuka. Secara fariatif, keduanya juga berasal dari dua latar belakang berbeda, yakni sebagai seorang birokrat karier dan profesional non pegawai negeri sipil.

Sebagai kota baru yang dari sisi anggaran masih sangat tergantung kepada pemerintah pusat, Pariaman juga sedang berkejaran dengan kota-kota lain guna mencapai kemajuan yang dibalut oleh tradisi.

Tanpa akar yang kuat pada tradisi dan nilai-nilai masyarakat Minang khas pesisiran, sulit bagi kota ini untuk menonjolkan diri dan dilirik oleh komunitas lokal, nasional dan internasional. “Pariaman kotonyo langang, batabuik makonyo rami,” barangkali akan menjadi pameo yang lama diingat, bila tidak dikikis oleh beragam terobosan kebijakan.

Kemacetan yang melanda jalur Padang, Padang Panjang dan Bukittinggi selama dua hari lebaran menunjukkan bagaimana padatnya arus moda angkutan darat pada saat-saat tertentu. Di samping kelemahan dari sisi manajemen transportasi dan ketiadaan kerjasama antara berbagai elemen pemerintahan di wilayah yang dilalui kendaraan itu, hal ini juga menandakan kebutuhan akan jalur-jalur alternatif.

Akan tetapi, masyarakat belum memiliki informasi yang cukup untuk melalui Padang Luar, Maninjau, Lubuk Basung, Tiku, Sungai Limau dan Pariaman. Pengembangan infrastruktur jalan yang menembus jalur barat di Sumatera Barat ini tentulah membutuhkan kerjasama yang kuat antara satu pemerintahan daerah dengan pemerintahan daerah lain, termasuk fungsi intermediasi oleh gubernur, serta bagaimana pemerintah pusat memiliki visi dan misi yang sama.

Dalam beberapa tahun ke depan, jalan-jalan yang sudah ada harus benar-benar diteruskan pengembangannya yang menghubungkan kota Padang, lalu memutar ke Ketaping, terus ke Ulakan, serta tentu melewati Pariaman, Sungai Limau, Tiku, Maninjau, Padang Luar dan menjangkau kawasan di tengah dan timur Sumatera Barat.

Mau tidak mau, Pariaman akan menjadi titik sentral kedua setelah Padang sebagai kota di pesisir Sumatera Barat. Perlintasan kereta api wisata yang menghubungkan Padang dan Pariaman sudah menjadi modal awal bagi arah yang hendak dituju itu.

Sehingga, sudah tepat bagi Pariaman untuk menjadikan dirinya sebagai kota dagang, jasa dan pariwisata. Hanya saja, masih banyak yang perlu ditata guna mencapai tujuan-tujuan itu. Yang pertama dan utama sekali adalah bagaimana menyiapkan aparat pemerintahan kota yang benar-benar kreatif, melayani dan profesional.

Dan yang kedua adalah menyiapkan seluruh elemen masyarakat untuk mendukung kebutuhan sebuah kota dagang, jasa dan pariwisata. Tentu yang ketiga adalah menarik sebanyak mungkin orang untuk berkunjung dan melaui kota ini, dengan tujuan masing-masing.

Dari sisi ketokohan, Mukhlis dan Helmi sudah memenuhi seluruh prasyarat yang dimiliki sebagai pemimpin di kota Pariaman. Keduanya berusia muda dan dalam puncak karier masing-masing.

Keduanya tidak memiliki jejak rekam yang negatif sebagai hambatan psikologis bagi seorang pemimpin. Dari sisi politik, keduanya memiliki legitimasi yang kuat. Tentu Mukhlis dan Helmi membutuhkan dukungan dari fraksi-fraksi di DPRD Kota Pariaman. Sandaran keduanya tidak cukup hanya diletakkan di bahu atau pundak satu partai politik saja. Politisasi yang tinggi harus dihindari.

Sehingga, Mukhlis dan Helmi membutuhkan dukungan semua pihak, termasuk dari para pamong senior dengan beragam fungsi. Kalangan muda birokrasi, kaum profesional, pebisnis-pebisnis inovatif, jaringan aktifis masyarakat sipil, sampai dukungan dari kalangan berpendidikan di kota Pariaman tentu menjadi kebutuhan kedua figur ini. 

Sebuah pemerintahan yang baik memerlukan lingkungan eksternal yang baik pula. Tidak mudah untuk hanya berharap pemerintahan menjadi baik, tanpa masyarakat yang baik pula.

Tali-temali hubungan ini memerlukan sosok yang dingin, solid dan cekatan. Sebagai putra yang lahir di Kampung Balacan, Kota Pariaman, penulis merasa kedua sosok ini memiliki modal intelektual yang lebih dari cukup, sekaligus juga pengalaman di bidangnya masing-masing.

Terdapat jaringan alumni sekolah-sekolah menengah di Kota Pariaman yang siap bahu-membahu dalam mengembangkan kota ini, termasuk juga yang sudah menempuh pendidikan tinggi di kampus-kampus terbaik di Indonesia dan luar negeri. Kedua pemimpin ini tinggal memanggil tenaga-tenaga yang dibutuhkan untuk menjadi mitra strategisnya.

Sebagai ikhtiar, sebuah kota tidak lahir dengan sendirinya. Kota dilahirkan oleh para perencana, pemimpin, pebisnis, kaum intelektual, seniman, dan beragam profesi yang melahirkan banyak perubahan dalam setiap kurun waktu.

Tetapi riwayat sebuah kota juga seperti riwayat manusia, akan memasuki masa-masa pubertas, matang, dewasa, arif, tua atau bahkan kematian. Beberapa kota di dunia telah berubah menjadi tempat yang mengerikan bagi kemanusiaan, karena menelantarkan warganya hanya demi mengejar pertumbuhan inftrastruktur.

Pariaman tentu ingin menjadi kota yang mandiri, relegius, sekaligus juga tanpa harus meninggalkan modernitas. Pada abad ke 16, Pariaman telah menunjukkan ciri-ciri yang moderen di zamannya. Bangunan-bangunan kuno, kuburan, nama kampung, juga berbagai dokumen di Perpustakaan Nasional dan Arsip Nasional telah menjadi saksi atas kiprah Pariaman di zamannya.

Penulis melihat, dari sisi momentum, perkembangan kota Pariaman sekarang untuk sepuluh sampai seratus tahun ke depan sangat ditentukan oleh kualitas kepemimpinan kedua tokoh yang hari ini dilantik. Keduanya tinggal mencatatkan diri dengan keberhasilan demi keberhasilan.

Atas nama pribadi, penulis mengucapkan selamat kepada keduanya. Atas nama kaum muda kota Pariaman, tentu ada banyak hal yang bisa dikerjakan secara bersama-sama, termasuk dengan cara mengkritisi setiap kebijakan pemerintah kota ini. Demi bangsa dan negara, sudah pada arah yang tepat bagi Pariaman menyumbangkan potensi terbaiknya. (***)

© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com