Tiro dan Martti bagi Dunia

Kamis, 16 October 2008
Sumber : Harian Sindo, 16 Oktober 2008

Tiro dan Martti bagi Dunia
Sindo, Thursday, 16 October 2008
Kedatangan Muhammad Hasan Tiro ke Aceh dan Hadiah Nobel Perdamaian untuk Martti Ahtisaari telah membuka lembaran baru bagi sejarah Aceh.

Dengan kehidupan yang misterius,Tiro masuk ke dalam mitologi sosial masyarakat Aceh. Adapun Martti mendapatkan pamornya dengan kiprah yang salah satunya menjadi juru runding untuk menyelesaikan konflik selama 29 tahun di tanah Aceh.

Tiro adalah pejuang kemerdekaan yang gigih. Sebelum dia melangkahkan kaki berdiplomasi di jantung Eropa, Swedia, Tiro terlebih dulu menggerakkan sentimen perlawanan di hutan-hutan Aceh.

Kata-kata yang dia tulis begitu pedas dan tajam.Tiro juga seorang ideolog yang canggih. Paling tidak, lambang perlawanan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) berupa Bouraq-Singa, disertai bendera Bintang dan Bulan Sabit menunjukkan kemampuan Tiro dalam membaca sejarah Aceh sekaligus memberikan bumbu ideologis yang kuat:

Islam, Aceh,dan Turki Usmani. Sementara itu, Martti adalah fasilitator yang dingin, cerdas, dan visioner. Dia mampu menerobos kebekuan hubungan antara GAM dan Pemerintah Republik Indonesia dengan memfasilitasi pertemuan demi pertemuan.

Tanpa pengetahuan yang cukup tentang Indonesia dan Islam, mustahil bagi Martti untuk mampu menangkap dimensi paling terdalam dari konflik di Aceh.Jaringan yang luas dengan negara-negara Eropa juga membuat Martti dengan baik bisa menciptakan kondisi eksternal yang mendukung bagi perdamaian.

Tentu kita juga layak mencatat kontribusidariPresidenSusiloBambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Tanpa niat baik dari keduanya serta sinergi dalam mengendalikan pergerakan militer di lapangan, politisi di Senayan, serta berbagai kelompok yang menginginkan perang diteruskan, sulit mendapatkan kepercayaan dari pihak GAM yang sensitif dengan pengkhianatan demi pengkhianatan.

***
Nobel Perdamaian bagi Martti menunjukkan apresiasi dunia atas kerjakerja lapangan yang membutuhkan keuletan.Kalau tahun lalu Muhammad Yunus dari Bangladesh yang terkenal dengan model perbankan eceran yang mendapatkan hadiah Nobel, kini hadiah itu langsung diberikan kepada pekerja perdamaian dalam arti sosok sentral yang menghentikan konflik.

Persoalannya, untuk melangsungkan perdamaianabadi,sumbuapipenyebab konflik di bidang ekonomi harus benarbenar dipadamkan. Apalagi dunia makin terseret oleh arus krisis yang bergerak dari paru-paru model ekonomi pasar,Amerika Serikat.

Kepanikan yang melanda hampir seluruh penjuru dunia akibat krisis ini mengingatkan orang pada krisis serupa delapan puluh tahun lalu: bahwa zaman malaise akan berlanjut.Pabrik-pabrik akan kehabisan pasokan energi, para investor tidak lagi mempercayai lantai bursa, beragam negara terus meningkatkan produksi, terutama pangan.

Tetapi,sebagaimana kita tahu juga, ekonomi pasar selalu memiliki kemampuan untuk memperbaiki diri, sebagaimana juga model ekonomi alternatif di China dan Rusia. Tanpa harus mencoba melakukan perdebatan teoretis akan nasib ekonomi dunia dewasa ini, mengingat semakin kompleksnya persoalan yang dihadapi, sudah selayaknya kita memikirkan langkah-langkah mikro yang tepat.

Mumpung sistem ekonomi dunia belum benar-benar kolaps, sekalipun sudah banyak yang mencoba meyakinkan kita tentang matinya ekonomi pasar, antisipasi yang terpenting adalah pemenuhan harapan bagi rakyat kebanyakan.

Unit-unit usaha terkecil di tingkatan masyarakat layak digerakkan,bukan malah menghabiskan segala jenis usaha ke satu arah saja, seperti menyelamatkan lantai bursa. Dampak psikologis krisis ekonomi sebetulnya tidak mampir di Indonesia, kecuali di lantai bursa.

Masyarakat pada lapisan menengah dan bawah sama sekali tidak banyak yang ketakutan atas perkembangan situasi sekarang. Ini merupakan gejala yang baik.Pemerintah tinggal menyuntikkan program-program pemberdayaan yang masuk akal,atas dukungan kelompok-kelompok strategis di masyarakat.

***
Tiro adalah tokoh yang kokoh berjuang demi alasan-alasan kemartabatan suku bangsa Aceh.Namun, di usia tua, dia mengubah banyak hal. Dia mengeliminasi kelompok-kelompok tua dan muda yang mungkin masih menginginkan negara tersendiri yang terlepas dari Indonesia.

Martti adalah orang yang percaya kepada sesuatu yang normatif,yakni perdamaian abadi di seluruh muka bumi. Barangkali, untuk kondisi sekarang Martti tidak serealistis Tiro.Tapi, pada batas-batas tertentu, keduanya adalah sosok yang melepaskan ego pribadi demi kepentingan orang banyak.

Bagi dunia, orang seperti Tiro dan Martti tidaklah berjumlah banyak. Sebagian besar orang masuk kategori kebanyakan alias pengikut saja dari apa yang sudah dikerjakan atau dipikirkan oleh orang lain.Karena itu kita patut belajar kepada Tiro dan Martti yang matang dalam usia masing-masing.

Untuk tujuan-tujuan perdamaian,keduanya membulatkan tekad untuk tidak percaya pada kekuatan senjata dan kekerasan.Dulu Tiro mungkin mempercayainya,tapi sejauh dokumen-dokumen yang dia tulis,Tiro begitu canggih dalam menyajikan pikiran-pikirannya.

Ketajamanpemikiran itu juga yang dimiliki oleh Martti. Bagi Indonesia, sungguh sulit menjalankan idealisme apa pun di tengah pragmatisme yang melanda. Kalau idealisme mengenal cara, taktik, dan strategi, maka apa pun barangkali akan dipertengkarkan di panggung publik, ketika demokrasi sudah menjadi empiris.

Tetapi tampilnya Tiro dan Martti, dua sosok yang masih hidup dan mungkin segera mendapatkan status pahlawan ketika mereka menemui kematian, dalam belantara persoalan di Indonesia sungguh menggairahkan. Mereka mungkin akan masih berjasa lagi, sebelum maut menjemput.

Diperlukan lebih banyak lagi orang-orang yang bekerja berdasarkan visi yang jauh ke depan, ketimbang yang terseret arus persoalan hari ini dan seolah mampu menyelesaikan semuanya, secepatnya, setuntasnya.

Kita tidak membutuhkan sosok pahlawan-pahlawan super, melainkan manusia biasa yang bahkan harus mengubah pandanganpandangannya, untuk menata masa depan yang lebih baik.(*)

Indra Jaya Piliang
Analis Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Jakarta
» KOMENTAR (4)
  • Terima Kasih bung Indra, semoga cita-cita anda tercapai. Sebagai bangsa Acheh, saya bangga membaca tulisan anda yang memuji pahlawan kami. Sekarang, semoga anak Acheh ini seperti Tiro. Tak semua pemuda Aceh kenal dengan Tiro, tapi mereka semua ingin berjiwa seperti dia. Kemisteriusannya membuat anak-anak berdiri bulu roma ketika nama HASAN TIRO disebut. Mitologi itu memang menjalar sampai perdamaian tercapai, tapi perjuangan belum selesai.., thanks

    Posted by
    Mounaward on December 6th, 2008, 10:26:41 AM
  • Sya kira Tiro lebih cinta negaranya dari pemimpi kita yang telah mengelabui kita semua. Mereka larut dalam konspirasi dega pihak asing, dengan bungkusan nasionalisme yang nir-ideologi..... hanya bung karno aja yang jelas ideologinya menatap bangsa ini,. setelahnya hanya perpanjanmgan tangan AS dan antek2nya,,,,,,,,

    Mari rame2 merdeka....... =))


    Posted by ALDHIE on November 3rd, 2008, 11:50:43 AM
  • Sekadar mengingatkan,
    Ikhtiar Sebuah Kota
    Kamis, 09 Oktober 2008
    Oleh : Indra J Piliang, Putra Pariaman dan Calon Anggota DPR RI Periode 2009-2014
    apa kawan Indra masih analis politik kritis sekaligus caleg partai? saya kira kawan sendiri sudah mengakui, menjadi kandidat dan analis sekaligus adalah hal yang mustahil. sekali lagi hanya mengingatkan.


    Posted by Ary on October 25th, 2008, 12:36:59 AM
  • Bagi saya Tiro adalah pejuang sesungguhnya. Seorang ideolog, pengatur strategi dan rela berkorban. Tidak banyak yang seperti Tiro di Indonesia. Ia rela meninggalkan kemewahan. Walaupun sebenarnya mudah ia dapatkan. Karena memang Tiro dekat dengan Petinggi aceh waktu itu. Kemudian di beri kesempatan belajar ke luar negeri.

    Namun Tiro bukanlah oarng yang sombong, walaupun ia adalah bangsawan. Ia tidak rela dari warga aceh berceceran. maka ia angkat senjata. Dengan modal sendiri dan tantangan ancaman kematian yang setiap sat mengintai namun Tiro tetap berjuang. Syukurlah , Tiro masih di beri kesempatan untuk melihat hasil perjuangannya dan juga warga aceh.

    Banyak sebenarnya ketidakseimbangan pemerintah pusat terhadap daerah yag menyulut api perlawanan. walaupun kadangkal dianggap pemberontak oleh pemerintah, namun sebenarnya tidak!!. Mereka sedang memperjuangkan hak nya. Makanya kedepan pemerintah mestilah hati-hati dalam menagni kasus serupa.
    Saya adalah pengagum Tiro makanya buku dan tulisan tentang beliau pasti saya lahap. Mudah-mudahan banyak yang akn muncul Tiro-tiro Muda di indonesia. Amin.

    Posted by Revi Marta Dasta on October 23rd, 2008, 05:35:58 PM

© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com