Kejutan, Kejutan
Dalam kepulanganku kali ini, terdapat sejumlah kejutan. Sesuatu yang akan mempengaruhi apapun yang kulakukan ke depan.
Pertama, seseorang yang kukenal sebelum aku masuk Partai Golkar, Shaipul Effendy Tanjung, meninggal dunia Sabtu lalu. Dia adalah salah satu Wakil Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Padang Pariaman. Dia kader yang loyal, pekerja keras, easy going, dan terbuka. Dia kenal dengan banyak sekali orang. Pikirannya cerdas, melebihi kader-kader lain yang kukenal. Aku begitu bersedih atas kepergiannya. Aku datang ke rumahnya, dimana ada stiker aku dan dia terpampang berdua, lalu kuantar sampai ke kuburannya. Dia juga jadi caleg nomor 1 di dapilnya.
Kedua, seseorang yang bernama Andi Basri dari Bone datang ke rumahku, pagi-pagi. Rumahku begitu jauh, harus menyeberang sungai. Dia mungkin beberapa kali naik angkot, lantas naik ojek, setelah itu naik perahu, baru nyampe di rumahku. Dia datang menawarkan kain tenun khas Bugis. Aku membelinya, tentu, hanya dua bungkus berisi empat lembar kain. Harganya Rp. 700.000,-. Kain ini diujinya di depan kami, termasuk ayahku, dengan cara membakar, menyundut pakai rokok, disayat-sayat, dll. Aku tidak percaya pada pertunjukkan itu, tetapi aku menaruh hormat pada kerja-kerasnya. Dia memanggilku: “Puang!”
Ketiga, di sebuah tempat, dimana aku menonton Debat Partai di TV-One antara Gerindra vs Partai Golkar (aku dan Priyo Budi Santoso jadi jubir Partai Golkar, sementara Fadli Zon dan Ahmad Muzani jadi jubir Partai Gerindra), aku sekali lagi terkena imbas sebagai “caleg DPR”. Harga minum dan mungkin rokok yang dipesan orang-orang yang datang melambung tinggi, Rp. 540.000,-. Karena mobilku berhenti di tempat itu, orang-orang datang, termasuk caleg DPRD Kab Padang Pariaman dari Partai Golkar nomor urut 1. Temanku ini yang semula hendak membayar, kaget. Langsung kuambil bonnya dan kuminta adikku yang membayarnya.
Keempat, di tempat lain, ketika aku dan tim turun, ada tukang jualan topi datang. Harga topi itu Rp. 10.000,-. Semula Rp. 12.500,-. Di Cibubur, aku pernah membeli topi yang sama seharga Rp. 20.000,- untuk kusumbangkan kepada kader-kader Pramuka kontingen Kota Pariaman yang juara 1 lomba kesenian. Semula, topi itu hanya kutawar untuk dipakai sendiri, lalu kepada tiga orang yang ada di warung itu. Eh, tiba-tiba masyarakat datang, termasuk kaum ibu. Terpaksa 24 buah topi yang ada diborong semuanya. Untung pedagang topi itu tidak membawa 100 buah topi.
Beberapa kejutan lain masih kucatat dan kucatat. Aku menyenangi pekerjaan pulang sebagai politisi kampung dan eceran ini. Begitu banyak kejutan.