Belajar Pada Indra Jaya Piliang (BPIJP)

Sabtu, 1 November 2008
Sumber : http://infomus.multiply.com/journal/item/8/Belajar_Pada_Indra_J_Piliang

Belajar Pada Indra J PiliangJul 8, '08 5:26 AM
for everyone

Belajar Pada  Indra Jaya  Piliang

(BPIJP)

By : Musheni

 

Kegemaran penulis membaca kolom opini di sindo membuat penulis ingin melakukan sebuah “kajian”. Tentu saja, kajian yang saya berikan tidak begitu berbobot. Akan tetapi, tulisan itu lebih pada pelatihan keterampilan penulis dalam memahami ide-ide mereka. Lalu, untuk apa penulis memahami ide-ide penulis opini tersebut ?. tentu saja, penulis akan menjawabnya bahwa perlu untuk 20 tahun yang akan datang. Bukan untuk hari ini, besok atau tahun depan. Pemahaman ini, bahan tulisan ini akan menjadi bahan bacaan bagi generasi 20 tahun yang  akan datang. Apa maksud semua ini ?.

 

Tidak ada yang disembunyikan dari tulisan ini. Maksud penulis adalah hari ini memang penulis tidak dikenal, tidak diketahui hasil riset, pemikiran dan tulisan penulis. Akan tetapi, bersamaan dengan semakin berkembangnya kemampuan penulis dan semakin luasnya relasi penulis dan semakin besarnya rasa ingin tahu serta memberikan kontribusi kepada masyarakat. Maka, tidak ada kata lain selain dari pada harus mengabdi dengan ilmu. Ilmu yang bisa memberikan kita pada jalan kepahaman. 

 

Ada sebuah nasehat yang cukup tersirat dari mentor agama, pergerakan dan politik penulis adalah harus tahu “posisi”. Tahu posisi artinya, kalau mau berbicara politik maka harus dipertimbangankan dengan “apakah saya politikus ? “ atau, ya. Tahu posisilah. Artinya, otoritas. Otoritas. Tetapi, dalam kamus pergerakan posisi sebagai mahasiswa merupakan posisi penting pula. Penting dalam rangka merangkai kata-kata “perjuangan”. Nah, kembali lagi pada isu yang kita bahas bahwa tidak ada kata-kata bukan otoritas, bukan hak untuk berbicara atau tertutup untuk umum.

 

Oleh karenanya, penulis menulis tulisan ini bukan saja karena penulis ingin melatih kemampuan menulis. Akan tetapi, ada beberapa alasan. Pertama, memahami isi dan ide-ide serta cara Indra J Piliang. Mengatahui ide-ide dan cara menanggapi issue merupakan bahan penting dalam memahami kondisi masa depan. Karena, tidak menutup kemungkinan keputusan-keputusan setiap kebijakan pemerintah mengikuti tulisan, ulasan dari pengamat politikus. Atau sebaliknya, keputusan pengamat politikus tidak bisa lepas dari keputusan pemerintah.

 

Kedua, dalam mempelajari ide-dan pemikiran Indra J Piliang penulis tidak mempunyai pisau pembedah. Oleh karenanya, penulis ingin membuat sebuah kerangka pemikiran mengenai cara dan tata cara Indra J Piliang membuat tulisan serta tanggapan politiknya. Membuat kerangka pemikiran ini, hampir sama dengan keinginan untuk mengatahui dasar-dasar ideology perjuangan Indra J Piliang. Hal ini penting pula untuk mempertajam pengamatan penulis bagi setiap penulis itu sendiri.

 

Ketiga, banyak hal yang ingin penulis ekplorasi, apresiasi dan karya. Nah, sumber tulisan ini merupakan awal dari semua itu. Penulis ingin terus-menerus melakukan ekplorasi, apresiasi dan karya demi membuat sebuah kondisi yang lebih baik. Karenanya, penulis yakin walau hanya sebuah untaian tulisan ini  yang dimuat diblog ini, maka penulis tetap konsisten untuk menulis. Bahkan, penulis juga percaya atau tidak percaya kepada pembaca tulisan ini. Apakah tulisan ini juga akan dikonsumsi oleh pembaca ? atau kalaupun dikonsumsi lalu menjadi darah atau tulang bagi otak manusia atau sebaliknya menjadi sampah anus yang bercecerah di jalanan ? wallahualam. Yang terpenting, penulis tetap bisa berkarya. Atau jangan-jangan, bangk Indra J Piliang ikut membaca tulisan ini lalu ia memberikan komentarnya di blog ini. ah itu Cuma khayalan. Tidak… itu bukan hayalan. Kalaupun penulis menulis dikomputer tanpa dimuat diblog, tentu tidak ada yang mau membacanya. Apa mungkin bang Indra J Piliang mau kerumah saya untuk membuka computer dan membacanya. Mustahal … tapi bukan mustahil…haa…tapi lewat blog ini, semuanya mungkin.

 

Keempat, ada sebuah indikasi bahwa penulis-penulis terkenal, politkus ulung dan semuanya : tiba-tiba, dan tidak sengaja. Artinya, penulis tidak sengaja bisa menulis dengan lancer tentang tokoh nasional. Penulis juga tidak bisa menyangka kalau akhirnya penulis pulang kampung dan hanya bisa berlangganan Koran lalu menjadi penulis blog pribadi yang dulunya pernah bercita-cita bahkan menjadi wartawan. Penulis juga tidak bisa menebak tentang masa depan penulis, tokoh-tokoh nasional, tetapi penulis ingin menyaksikan bahwa banyak hal dari filsuf mengatakan bahwa hari ini juga menyiapkan hari esok. Jadi, penulis hadir hari ini karena ingin bertemu esok hari.

 

Misalnya : tiba-tiba penulis menjadi pemenang sebuah sayembara, atau menjadi pemenang dalam lomba karya sastra, atau lomba penulisan esai, penulisan hasil riset atau lain sebagainya. Maka, tiba-tiba penulis menjadi buruan dari para penerbit untuk menerbitkan buku-buku yang penulis tulis. Ah.. itu hanya mimpi. Tetapi, maksud  penulis adalah mimpi-mimpi itu sebagai shyahwat untuk membangkitkan libido kebaikan dan kebarokahan masa depan. Kebaikan yang bisa menular lewat tulisan itu sendiri. Jadi, penulis putuskan untuk tetap menulis tulisan diblog ini.

 

***

 

Poin penting dari alasan penulis dalam menulis tentang Indra J Piliang adalah sudah jelas diatas. Hanya saja, penulis ingin mengingatkan bahwa penulis ingin mencari kerangka berpikir Indra J Piliang. Bagaimana bisa ia menjadi tokoh pengamat politik ?. ini yang menarik. Barangkali, mungkin ada pembaca yang siap membaca lalu tertarik untuk menjadi penulis, pengamat politik. Tetapi, penulis juga harus memperhatikan atau tidak menafikan adanya mereka yang pengiat high politic. Artinya, mereka tidak hanya ingin berbicara, juga berkarya. Inilah kader-kader partai.

 

Berbeda dengan pekerjaan para pengamat. Mereka hanya mempunyai bahan untuk memberikan deskripsi atau sebaliknya anotasi dan atau memberikan sanggahan. Berapa banyak peran yang mereka lakukan. Nah, disini penulis hanya ingin memberikan sari atau pencatatan mengenai apa yang menjadi sebuah issue. Jadi, dimotivasi oleh keinginan yang kuat untuk memperoleh ilmu pengatahuan dari sumber-sumber Koran tersebut.

 

Pokok pembahasan dalam kajian ini tidak dibatasi, berdasarkan oleh luasnya pembahasan oleh Indra Jaya Piliang. Maka, secara tidak langsung akan memberikan bahan pengkajian terhadap materi pembahasan itu sendiri. Artinya, penulis ingin menguraikan dalam kerangka penjelasan secara spesifik tentang materi yang dibahas. Lalu kemudian membentuk sebuah kerangka yang lebih luas atau sebaliknya sehingga mempunyai kesimpulan untuk direkomendasikan. Hal yang patut diketahui dalam pembahasan tulisan Indra Jaya Piliang adalah Pertama, berdasarkan waktu. Artinya, memulai dengan awal-awal tahun 2008. Sehingga, di akhirnya nanti adalah bulan terakhir dari waktu penulisan dan dimuatnya. Kedua, setelah menyusun berdasarkan waktu penulisan, maka selanjutnya menjelaskan ide-ide dan berbagai alasan yang dikemukan oleh Indra J Piliang. Ketiga, tujuan penulisan ini adalah memahami ide-ide dasar, gaya penulisan dan tingkat pemikiran Indra J Piliang. Keempat, sebagai sarana latihan penulis pribadi untuk dapat mudah memahami jalan pikiran Indra J Piliang. Kelima, sarana komunikasi antara penulis dengan yang diamati serta pembaca sekaliannya. Keenam, hasil pemikiran dan kajian ini tentu tidak mewakili dari arti yang sebenarnya Indra J Piliang. Hasil penulisan ini hanya sekedar pengisi waktu luang dan koson penulis, tetapi tidak menutup kemungkinan adanya respon yang positif dari para pembaca. Ketujuh, bisa jadi tulisan Indra J Piliang juga beredar di Koran lain, karena keterbatasan penulis maka penulis hanya memanfaatkan tulisan yang dimuat dikoran sindo.          

 

Pertama, judul tulisan itu adalah Pemilu Malaysia bagi Kita (Rabu, 27/2), Cendana Pulang Ke Beringin (selasa, 12/2/08), Kehormatan Staf Ahli DPR ( Selasa, 19/2/08), Tulang Belulang BLBI (Senin, 10/3/08), Ayat-Ayat Perang (Senin, 14/4/08), BBM, Benar-Benar Mabuk ( Rabu, 2/5/08), Rakyat Tanpa Payung Negara ( Selasa, 10/6/08), Parpol, Berbenalah ( Senin, 7/7/08). Tulisan-tulisan ini kesemuanya dimuat di Koran Sindo dan saya mendapatkannya dengan mengklipingnya. Judul tulisan opini tersebut paling tidak akan mewakili dari setiap episode dari peristiwa yang pernah terjadi di negeri ini selama 6 (enam bulan ) terakhir. Mengapa penulis katakana enam bulan terakhir, karena memang penulis baru pada bulan februari 2008 berlangganan Koran sindo.

 

Melalui judul-judul opini yang ditulis tersebut, Indra J Piliang ingin menunjukkan bahwa dirinya mempunyai kemampuan untuk membaca dari setiap perubahan yang ada. Tentu saja, sebagai dirinya yang menamakan dirinya sebagai –analis politik dan perubahan social CSIS. Barangkali, tidak keberatan jika penulis mengatakan bahwa hampir dikatakan tidak ada masalah lagi mengenai kredibilitas, otoritas beliau untuk menulis mengenai tema-tema perubahan dan proyeksi.

 

Dari judul tulisan tersebut pula, penulis dapat menyimpulkan ada beberapa pokok bahasan yang ditulis oleh Indra J Piliang. Pertama, politik luar negeri dalam hal ini adalah  masalah pemilihan umum di Malaysia. Kedua,  arah politik keluarga Seoharto. Ketiga, legislative. Keempat, kasus BLBI. Keenam, Sastra ideologis. Ketujuh, kenaikan BBM. Kedelapan, kekerasan. Kesembilan, partai politik. 

 

Penulis tidak ingin terjebak pada tema-tema yang dibahas oleh Indra J Piliang. Akan tetapi, lebih luas lagi. Penulis ingin mendapatkan beberapa point penting dari kajian terhadap tulisan Indra J P. Pertama, penulis sangat berkeyakinan bahwa Indra J P mempunyai jaringan khusus informasi politik dalam berbagai peristiwa dan agenda nasional. Maksud penulis adalah, Indra J P tidak lepas dari diskusi-diskusi dengan berbagai elemen politik lainnya untuk mendapatkan kajian yang komprehensif dan mendalam. Sehingga, tulisan-tulisan beliau merupakan seni dari resume politik yang terjadi atau akan terjadi atau bahkan proyeksi politik.  Sebagai contoh adalah pada opini beliau yang berjudul  Cendana Pulang Keberingin. Menurut penulis, paling tidak Indra J Piliang dapat memberikan pengaruh kepada keluarga cendana tentang tulisannya itu atau sebaliknya. Ada sebuah skenario bahwa konsultan politik cendana yang telah menyiapkan segala sesuatu halnya. Sebenarnya, hal itu bukan kapasitas penulis melakukan prasangka. Tetapi, yang penulis ingin katakana adalah barangkali Indra J Piliang juga termasuk dari lingkaran yang siap dengan kebangkitan keluarga cendana. Lagi-lagi ini bukan menuduh. Maksud penulis, awal dari skenario keluarga cendana tidak serta merta berdiri tanpa angin, tanpa asap, atau tanpa isyarat. Intinya, penulis bukan berpolemik pada Indra J P tetapi jalan politik keluarga cendana sebagaimana penjelasan Indra J P cukup masuk akal dan bisa.

 

Bukan kapasita penulis untuk melakukan –pengulitan- terhadap tulisan-tulisan Indra J P. yang penulis ingin katakan adalah sejarah akan mencatat tentang segala sesuatunya. Bolehlah kita melihat dari kebesaran Mega Wati Seokarno Putri, itu tidak lepas dari kharisma yang diturunkan oleh Seokarno. Pendukung fanatis Seokarno mewarisi fanatismenya pada Megawati. Selanjutnya, pendukung fanatis Seharto akan dipaksakan untuk mewarisi fanatisme keluarga cendana. Dan seterusnya. Lalu, apakah mungkin nantinya ada tokoh yang lahir dari bukan karena bapaknya ini dan itu ?. ia orang yang bisa mengayomi rakyat. Dengan kata lain, hanya satu aspirasi penulis yang perlu disampaikan kepada keluarga cendana. Infaqkan  sebagian harta cendana untuk rakyat Indonesia. Toh. Nantinya rakyat juga akan setia menerima taubat sosial yang dilakukan oleh kelaurga cendana. Tinggal taubat individu keluarga cendana dengan Tuhan Yang Maha Esa. Simple saja, penulis, juga rakyat Indonesia barang kali sangat sepakat jika sebagian harta keluarga cendana disisi untuk rakyat yang kelaparan. Itu saja yang penting bagi …keluarga cendana. Jangan terlebih dahulu mencari jalan selamat lewat jalur politik, tetapi cari selamat lewat jalan social-kulutral ketimuran- saling tolong-menolong.

 

Kembali lagi pada poin pertama yang ingin penulis sampaikan bahwa bukan maksud penulis menyudutkan Indra J P. Tetapi, yang penulis ingin tegaskan adalah gaya penulisan dan proyeksi politik Indra J P tidak bisa dianggap sederhana. Boleh jadi, penulis menggangap hal itu sebuah yang nyata. Ternyata kita membutuhkan info berikutnya untuk memastikan issue yang beredar. Termasuk, info-info yang ditulis ulang oleh Indra J P, terkhusus lagi masa depan cendana. Karena selama ini, CSIS memang dekat dengan keluarga cendana apalagi di masa orde baru.

 

Kedua, apa yang menjadi persama dan perbedaan antara pemilu di Malaysia dan Indonesia ? itulah kira-kira yang dapat penulis ambil dalam tulisannya yang berjudul Pemilu Malaysia bagi Kita. Banyak hal yang beliau ungkapkan. Ada persamaan dan ada pula perbedaan. Yang jelas, Malaysia menjadi objek : pemikiran terhadap Indonesia. Atau bahasa kasarnya : bahan pembanding. Karena memang banyak hal yang sama, juga paling banyak diberitakan antara Malaysia dan Indonesia. Kondisi sebelum pelaksanaan pemilu tanggal 8 Maret yakni semakin meluasnya aksi demonstrasi yang ditangani dengan kekerasan juga oleh pemerintah. Hanya satu pesan dari Indra J Piliang bahwa “ hanya saja, kita tentu juga menyadari bahwa fragmen jatuh-bangunnya pemerintahan di kawasan tidak lagi bersandarkan tokoh-tokoh besar. Lagipula, tentu, rakyat akan menjadi penentu, kemana pun suara itu mereka berikan”. Penulis, ingin memberikan garis bawah bahwa “ Setidaknya, apa yang terjadi di Malaysia akan menjadi cerminan bagi pemilu nasional di Indonesia pada 2009 nanti.” Tulis Indra J P.

 

Pemilu di Malaysia telah digelar, dan beberapa kursi berhasil diperoleh oleh oposisi. Menarik dari pernyataan Indra J P adalah tidak lagi bersandarkan tokoh-tokoh besar.  Dan tulisan Indra J P, ada benarnya dan kenyataan di Malaysia benar-benar terjadi walaupun belum bisa menggulingkan kursi : Perdana Menteri. Mungkin kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah tidak lagi bersandarkan partai-partai besar. Ya. Itulah kira-kira yang akan terjadi Indonesia tahun 2009 mendatang. Bahkan, sinyalemen itu benar-benar ada. Golkar dan PDIP dikalahkan  oleh PKS di Sumatera utara, Jawa Barat, Bengkulu, NTB dan lain sebagainya. Apakah ini termasuk sinyalemen 2009 untuk kemenangan PKS ? maka, penulis menunggu jawaban dari Indra J P. sebelum ia jawab, maka terlebih dahulu penulis ingin menjawabnya : 20 % lebih untuk PKS. Dan 8 % untuk Partai Hanura. Ini bukan analis, bukan survey, tapi ini maunya saya gitu..     

 

Kesimpulan : sebenarnya belum pas untuk disimpulkan. Tetapi, penulis Harus banyak lagi membaca sebelum melanjutkan tulisan ini. jadi, penulis menitipkan bahwa pada kesimpulannya Indra J Piliang mempunyai daya respon terhadap peristiwa, issue, juga mungkin melakukan proyeksi politik di Indonesia lewat CSIS –nya. (mus).  

© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com