Sepuluh (10) Suara dari Anda..

Sabtu, 1 November 2008

Kepada setiap orang yang menyapa, entah dimana, termasuk lewat media ini, saya selalu sisakan satu kalimat akhir: “Tolong bantu saya sepuluh suara, tanggal 09 April 2009 nanti”.  

Sepuluh suara yang menentukan bagi keberhasilan atau kegagalan saya untuk mendapatkan satu kursi DPR RI di antara 560 kursi yang tersedia.  Untuk mendapatkan suara itu, saya sudah masuk kampung keluar kampung, masuk kota keluar kota. Saya bertemu dengan orang-orang, menghadiri pertandingan sepakbola, sepak takraw, buru babi, pemilihan wali nagari, pengajian di mesjid, atau bahkan masuk ke sekolah-sekolah membagikan buku. Di kedai-kedai, saya berdiskusi dengan banyak orang, lalu mengedarkan kartu nama dan stiker.  

Ini bukan pekerjaan yang mudah, tetapi menyenangkan. Setidaknya, di setiap tempat saya mencatat, mengamati, memikirkan, dan juga merumuskan analisa-analisa dan kesimpulan-kesimpulan baru. Sebagai orang yang terlatih sebagai peneliti, saya tentu harus mengubah sejumlah kerangka teori yang saya punya, sekaligus juga mempertahankan yang benar-benar saya yakini kebenarannya. Menjadi politisi adalah juga bagian dari proses “penelitian terlibat” dalam model penelitian kualitatif.  Saya harus belajar mengendalikan emosi, sekalipun dalam beberapa kesempatan saya juga harus sedikit berceramah, kadang juga marah dengan nada tinggi, mengeluarkan pemikiran-pemikiran dasar tentang demokrasi, pemilu, kedudukan sebagai anggota DPR, termasuk juga bagaimana cara memenangkan satu kursi di dapil saya. Bahkan saya menyampaikan pemikiran-pemikiran itu kepada orang-orang dari partai lain. Bagi saya, membagikan apa yang saya ketahui kepada orang lain bukan malah membuat kita semakin bodoh, melainkan semakin menyadari kelemahan-kelemahan teoritik yang kita percaya.  

Tidak banyak uang yang saya punyai untuk membuat alat-alat peraga kampanye, seperti stiker, kartu nama, apalagi spanduk, baliho dan iklan. Selama di lapangan, saya sudah menghabiskan anggaran lebih dari 150 Juta (September-Oktober 2008). Uang sebanyak itu saya dapatkan dari sumbangan teman-teman dekat, kurang dari 10 orang. Ada yang menyumbang 500rb, tetapi ada juga yang 50jt. Saya bersyukur memiliki teman-teman yang mempercayai saya dengan bantuan keuangan itu. Bagi saya, uang itu besar sekali nilainya.  Namun, yang terpenting, saya juga mengorbankan pekerjaan saya. Menjadi pembicara dengan honorarium besar tidak bisa lagi saya lakukan, karena saya minimal 15 hari dalam sebulan ada di daerah pemilihan saya. Begitu juga dengan menjadi penulis yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Dulu, dalam sehari, saya bisa hadir dalam dua-tiga seminar, pelatihan, diskusi atau apapun yang menguras pemikiran. Saya juga bisa menulis puluhan artikel dalam sebulan. Kini, kalau saya hadir di satu acara serupa di daerah pemilihan saya, maka justru saya yang menyumbang untuk kegiatan-kegiatan itu.  

Ke depan, tentu saya masih memiliki harapan akan bantuan-bantuan dana, logistik, kaos, dan lain-lain. Seorang Barrack Obama mendapatkan dana kampanye yang besar sekali dari publik Amerika, sebesar lebih dari US$ 150 Juta. Saya tentu bukan Barrack Obama, namun untuk menjadi seorang “Kongresmen” versi Indonesia, saya kira setiap kandidat pastilah membutuhkan uang untuk mencetak stiker, spanduk, baliho, mengadakan pertemuan massa, dan segala bentuk kampanye tertutup dan terbuka lainnya.  

Mungkin tidak masuk akal bagi siapapun, kenapa saya rela berhenti dari pekerjaan “prestisius” sebagai pengamat dan analis politik, lalu terjun ke kancah politik dengan modal dari orang lain. Bagi saya, inilah seninya politik. Kalau anda ingin betul-betul menjadi pejabat publik, maka publiklah yang idealnya membiayai seluruh kampanye anda dan sekaligus publik juga yang memberi anda suara. Kalau anda menggunakan dana pribadi, maka itu sama saja dengan anda menganggap remeh orang lain dan dengan mudah mengatakan: “Saya sudah membeli suara anda, kenapa juga saya harus memikirkan anda setelah saya terpilih?”  

Nah, mulai sekarang, saya akan terus mengatakan kepada anda, tolong pengaruhi minimal 10 orang yang anda kenal yang tinggal di Sumatera Barat 2 untuk memilih saya. Daerah pemilihan saya itu meliputi Kota Pariaman, Kota Bukittinggi, Kota Payakumbuh, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Agam, Kabupaten 50 Kota, Kabupaten Pasaman (Timur) dan Kabupaten Pasaman Barat. Sebutkan saja nama saya, partai yang mengusung saya, serta nomor urut yang saya punyai: INDRA JAYA PILIANG, SS, M.SI + PARTAI GOLKAR + NOMOR URUT 2.  

Kalaupun anda tidak tinggal di Sumatera Barat, anda bisa mendatangi sebuah rumah makan padang, sate padang, soto padang, dan segala sesuatu yang berbau Padang (baca Minang), dimanapun anda bisa, lantas tanyakan dan beritakan soal saya. Minimal, beritahu mereka agar mengabarkan ke kampung halaman masing-masing bahwa ada seorang putra Minang yang kini pulang ke ranah dan membutuhkan bantuan suara sepuluh dalam pemilu 09 April 2009 nanti.  

Apa arti sepuluh suara itu buat anda? Tentu tidak banyak. Mungkin anda hanya akan menganggapnya sebagai kewajiban sebagai warganegara atau ritual lima tahunan. Anda akan melupakan setelah menyontreng. Tetapi, bagi saya, itu sangat berarti. Apa? Anda telah memberikan saya kepercayaan untuk berbuat sesuatu yang berguna bagi bangsa dan negara.  

Anda tentu belum mau membantu mengirimkan dana kepada saya. Bagi anda, itu adalah hal yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Politisi, bagi anda, barangkali sejenis parasit atau penyakit yang dibikin-bikin oleh ahli-ahli ilmu politik. Tidak apa-apa. Kepastian bahwa ada sepuluh orang yang memilih saya dalam pemilu tanggal 09 April 2009 nanti jauh lebih besar maknanya buat saya.  

Kalau anda memberikan sepuluh suara itu, maka sepuluh hari setelah tanggal 09 April 2009, anda bisa mengucapkan selamat ulang tahun ke-37 kepada saya dengan nada gembira, entah saya berhasil duduk atau gagal. Bagi saya, tujuan politik bukanlah bagaimana bisa terpilih, tetapi bagaimana menggunakan kepercayaan anda itu untuk kebaikan manusia dan kemanusiaan. Andai saya tidak terpilih, maka anda barangkali bisa membeli sebuah buku yang saya beri judul: “Mengapa Saya Gagal?” Sebaliknya, sebuah buku lain juga menanti, kalau saya berhasil terpilih: “Apa dan Bagaimana Saya Bekerja di DPR RI?”  

Sungguh, dengan sepuluh jari yang terkatup, serta sebelas dengan tundukan kepala, saya mohonkan kerjasama anda untuk mencarikan sepuluh suara bagi saya. Dan terima kasih atas kerjasama itu. Semoga Allah SWT membalasnya. Amin..

© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com