Penggalangan Dana Kampanye ala Caleg Muda
Penggalangan Dana Kampanye ala Caleg Muda
Buka Rekening, Ada yang Kirim Rp 50 Juta
Caleg tanpa fulus jelas sulit lulus ke Senayan. Sejumlah caleg melakukan berbagai kiat menggalang dana. Fenomena baru panggung politik Indonesia? - Priyo Handoko dan Tomy C. Gutomo, Jakarta
KETIKA menggelar farewell party atau pesta perpisahan dengan teman-teman sesama peneliti di Auditorium Nurcholis Madjid, Universitas Paramadina, Jakarta, Agustus 2008, Indra Jaya Piliang dengan nada setengah bercanda menyatakan membuka diri terhadap sumbangan dana kampanye dari para sahabatnya.
Sebagai caleg bernomor urut dua yang maju dari Partai Golkar di dapil II Sumbar, Indra tentunya membutuhkan support ”gizi” yang tidak sedikit. Seruan yang bernada undangan menyumbang dari Indra yang selama ini dikenal publik sebagai pengamat politik CSIS ternyata mendapat tanggapan serius.
Kepada Indo Pos, Indra mengaku bahwa dana yang terkumpul hingga sekarang Rp 200 juta. Rekor sumbangan terbesar Rp 50 juta, sedangkan terkecil Rp 50 ribu. ”Yang Rp 50 juta itu dari seorang tokoh. Nggak perlu saya sebut namanya,” katanya. Yang jelas, imbuh dia, semua sumbangan datang dari kolega dan teman-teman dekatnya.
”Mereka yang menyumbang rata-rata sudah saya kenal,” cerita pria kelahiran Pariaman, Sumatera Barat, 19 April, 37 tahun lalu itu lantas tertawa. Indra mengaku belum mendapat sumbangan dari tokoh atau anggota masyarakat asal dapilnya. Sumbangan yang masuk baik melalui rekening maupun langsung secara cash – justru datang dari orang-orang yang tidak terdaftar di dapil II Sumbar dalam Pemilu 2009.
Mantan aktivis HMI itu menuturkan, dirinya memang berkeinginan membangun tradisi politik baru yang bebas money politics. Menggalang dana kampanye secara terbuka dari teman-teman dekat merupakan terobosan kecil yang mulai dikembangkan alumnus Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia itu.
”Ini cara saya menghindari, diajak secara khusus ketemu si ini, atau ketemu si itu untuk minta duit modal kampanye. Saya nggak mau yang begitu-begitu. Biarlah ada teman yang tahu saya mencalonkan diri terus tergerak ikut membantu, alamiah saja,” bebernya.
Dibelanjakan untuk apa saja dana publik yang terkumpul itu?
”Sebagian besar untuk kegiatan masyarakat, mulai keagamaan, olahraga, kesenian, dan pendidikan. Tapi, kegiatan keagamaan yang paling banyak,” jelas Indra. Adapun untuk keperluan perangkat fisik kampanye, seperti kalender, baliho, dan kartu nama, Indra murni menggunakan dana tabungan sendiri. ”Bagaimanapun, kalau dihitung-hitung dan dibandingkan dengan sumbangan yang masuk, anggaran terbesar masih tetap yang bersumber dari kocek saya sendiri kok,” tuturnya.
Indra tidak sendirian. Sejak 26 Desember 2008, caleg DPR dari PDIP Budiman Sudjatmiko juga mengumumkan nomor rekeningnya kepada publik melalui SMS. Respons balik dari publik juga begitu besar. Selama seminggu ini sudah ada sumbangan yang mengalir, mulai Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu.
”Tapi, maaf sekali, saya belum bisa menyebutkan total sumbangan yang masuk ke rekening dalam seminggu ini,” kata Ketua Umum Repdem (Relawan Perjuangan Demokrasi), organisasi sayap PDIP itu lantas tersenyum.
Banyaknya aksi penipuan melalui SMS, agaknya, membuat banyak penerima SMS Budiman langsung menelepon balik. ”Mereka berupaya memastikan apakah SMS itu benar-benar dari saya,” ujarnya. Budiman berjanji, sumbangan-sumbangan itu akan dibukukan secara rapi.
”Setelah pemilu, semua sumbangan dan penggunaannya akan diaudit dan diumumkan ke media massa,” tuturnya. (*)