Tak Takut Bersaing

Rabu, 7 Januari 2009
Sumber : padangmedia.com

Tak Takut Bersaing

DR Poempida Hidayatulloh Sabtu, 03/01/2009 23:46 WIB

Sebagai caleg dengan nomor urut I untuk DPR RI dari Partai Golkar, Poempida Hidayatulloh tidak memperolehnya begitu saja. Ia juga bukan tiba-tiba menjabat posisi kunci di DPP Partai Golkar. Karir politiknya, seperti diceritakannya pada padangmedia.com beberap waktu lalu, ia tapaki sejak dari nol.

”Saya masuk ke DPP setelah lama di pengurus Golkar DKI Jakarta. Sebelum menjabat Wakil Bendahara Umum, saya di balitbang dulu. Jadi tidak memperoleh begitu saja, ” ungkapnya.

Pada Pemilu 2004 lalu, ia sudah dicalonkan di Jawa Timur dengan nomor urut 7. Kala itu nomor urut sangat menentukan dalam pemilihan umum legislatif. Tetapi sebagai langkah awal, yang disebutnya sebagai coba-coba ia berhasil mengumpulkan 12.000 suara.

”Prestasi itu menunjukkan bahwa secara kualifikasi saya bisa lewat. Tapi waktu itu saya kurang serius. Meski begitu, lumayan bagus mendapat suara sebanyak itu. Kita semua tahu kan di Jawa Timur basisnya hijau, bukan kuning,” katanya. Bila kemudian ia pindah wilayah ke Sumatera Barat, adalah karena ditugaskan partai.

Sebagai koordinator wilayah Sumbar, Jambi dan Bengkulu, sebenarnya ia juga berpeluang untuk dicalonkan di Bengkulu dan Jambi. Bahkan sudah ditawari. Tetapi kedua wilayah itu dianggapnya tidak sesuai dengan kondisinya. Ia mengaku sering pusing bila melakukan perjalanan ke Bengkulu.  

”Sumbar daerahnya sangat bersahabat. Apalagi istri saya orang Padang. Jadi saya sumando di sini.. Saya mendapat nomor urut I karena penghargaan DPPnya, karena saya sudah bekerja membina ketiga daerah itu. Selain itu makanan Padang enak sekali, luar biasa,” ujarnya seraya tergelak.

Bila ada pendapat bahwa orang Sumbar tidak akan memilih orang luar Sumbar sebagai wakilnya di DPR RI, Poempi tak dirisaukan oleh hal itu. Baginya, hanya dengan usaha maksimal, ia akan memperoleh suara terbanyak. Ditanya keyakinannya terhadap keberhasilannya mendapat simpati dari masyarakat Sumbar, Poempi tak berani mengukur keyakinan itu.

”Kalau yakin akan dipilih masyarakat Sumbar, saya tidak perlu kampanye atau mendatangi daerah-daerah. Cukup tenang-tenang saja duduk di rumah atau di kantor,” kilah pria kelahiran Sukabumi pada 18 Maret 1972 ini.

Tak Takut Bersaing

Dengan masuknya nama-nama seperti Indra J Piliang dan Jeffrie Geovani sebagai caleg Golkar, apakah bukan menjadi ancaman bagi Poempi?
 

”Saya juga pernah ditanya wartawan sebelumnya. Mereka tanya apa saya nggak takut? Apa saya takut bersaing dengan Jeffrie atau Indra J Piliang. Saya bilang kenapa takut? Sama setan saja saya nggak takut. Saya cuma takut sama Yang Satu Yang Diatas,” ucapnya.

Masuknya dua nama dan nama-nama tokoh lain ke Golkar menurut Poempi adalah hal yang positif. Bahwa tokoh non Golkar kemudian masuk Golkar, hal itu sangat positif. Namanya politik Imej. Namun ada negatifnya juga bagi mereka yang mengabdi lama di Golka akan muncul pikiran yang macam-macam.

Lebih jauh sebenarnya kondisi ini juga merupakan test case buat mereka karena mereka tokoh. Kalau tokoh seharusnya mereka banyak peminatnya. Benar nggak secara ketokohan mereka bisa. Nanti diujinya saat pemilu, karena kita nggak tahu hasilnya nanti seperti apa. Soal kader yang sudah mengabdi lama lalu tidak dicalonkan, menurut Poempi, sebagai caleg, juga ada proses persaingan.

”Namanya persaingan, ada yang dapat dan ada yang ngga. Ketika berlomba seharusnya kita sadar bisa menang dan tidak. Nah itu harus dipahami, apa faktor yang menentukan orang ini dipilih, karena ini, karena itu. Tapi yang menentukan sebenarnya cuma satu karena lobi atau tepatnya silaturahmi. Orang tidak akan pernah merekomendasi saya kalau saya tidak mereka kenal. Sebagaimanapun hebatnya mereka seperti Jeffrie, tidak akan masuk jika tidak melakukan silaturrahmi politik. Tanya sama mereka bagaimana mereka bisa dapat rekomendasi itu. Saya sebagai korwil, memasukkan mereka dengan payung hukumnya. Jika soal nomor, mereka dapat nomor urut kecil, pada akhirnya nomor tak pengaruh karena Golkar sejak awal sudah menetapkan suara terbanyak. Kita pengalaman kasus Nurul Arifin. Suaranya jauh lebih banyak dari nomor 1 dan 2 tahun 2004, tapi ngga jadi karena harus pakai nomor urut. Tapi sekarang beda, semuanya sudah pakai suara terbanyak,” paparnya.  

Suka Membantu Orang

Menyikapi peta politik belakangan yang menggunakan suara terbanyak, bagaimanapun dibutuhkan kekuatan dalam penggalangan massa. Agaknya hal ini tak perlu dirisaukan Poempi. Sebagai doktor hasil luar negeri, ia telah berpengalaman hidup di negri orang. Lebih kurang 11 tahun ia hidup diluar dengan kemandirian. Situasi ini telah membentuk karakternya sebagai sosok yang suka menolong.  

Lagi pula, ketika di luar, bahkan hingga sekarang, ruang lingkup pekerjaannya lebih banyak pada pelayanan atau service. Ia tak segan-segan turun tangan langsung membantu orang lain yang membutuhkan bantuan. Ketika di Inggris, saat bekerja sebagai konsultan ia mendapat penghargaan meski tidak bekerja full time. Tetapi ia serius dan telaten. Jika ada orang yang minta bantuan akan dia bantu hingga tuntas.

”Karakter saya memang begitu. Mungkin tak semua orang punya itu. Salah satu yang mesti disiapkan adalah mekanisme. Mungkin saya karakternya siap membantu, tapi kalau tidak ada mekanismenya juga susah. Sekarang antara saya sendiri dengan jutaan rakyat Sumbar, jelas tidak akan klop. Ini tentu ada mekanismenya. Bagaimana di Sumbar bisa interaksi langsung dan menerima informasi secara up to date. Jadi yang saya lakukan adalah pendekatan seorang wakil rakyat dengan masyarakat. Kita tidak usah bicara programnya apa dulu karena program itu kita set up garis besarnya aja. Nanti mikronya itu kan berubah-ubah dari waktu ke waktu berdasarkan kemauan rakyat Sumbar sendiri. Ke depan kita ngga tau rakyat Sumbar mau apa. Kalau mereka mau merdeka, kan susah. Sementara saya kan NKRI. Rakyat sumbar minta referendum, kan bisa saja, jadi kalau masih dalam koridor sesuai UUD 45 saya akan lakukan dan bantu rakyat Sumbar,” ulasnya.

Tidak hanya ke depan, tapi lima tahun belakangan sebenarnya, kata suami Fahriza Fahmi ini, ia sudah membantu rakyat sumbar. Banyak teman-teman dari Sumbar yang ke Jakarta selalu menghubunginya.

”Mereka bukannya ketemu wakil mereka di DPR-RI, karena bertemu dengan wakil mereka itu susahnya setengah mati. Tapi mereka sering kontak saya, janji ketemu. Mereka minta bantu, oke, saya bantu. Kadang teman-teman ini celaka juga, pengen bantuannya cepat beres. Padahal ada yang tidak bisa, mungkin ada yang bisa sehari, dua hari, kadang bulanan atau tahunan baru bisa beres. Misalnya aja untuk administrasi ada teman yang mau memecat anggotanya karena sudah melanggar dan diluar koridor. Mereka minta cepat suratnya klar, padahal saya harus minta tandatangan dulu sama Ketua Umum. Mesti ngertilah, Pak JK, gimana jadwalnya. Tapi semua saya ladeni, mulai minta bantuan mesin untuk industri. Bahkan bupati juga suka saya fasilitasi. Tidak hanya yang dari Golkar, bupati yang bukan Golkar juga pernah saya bantu. Rata-rata semua bupati dan walikota di Sumbar saya kenal baik,” lanjutnya.

Pemerintah Sekarang Sudah Baik

Menyikapi kondisi perekonomian saat ini yang dilanda krisis, menurut ayah 4 anak ini, pemeriantahn sekarang sudah cukup baik. Hanya saja masih banyak persepsi masyarakat yang salah dalam hal ini. Namun lulusan University Of Bristol dan Imperial College London ini sangat optimis ketika nanti pada saatnya orang sadar, pemerintah ini adalah republik yang terbaik ditengah alam dekmokrasi yang bebas. Karena katanya, tidak ada pemerintahan yang lebih baik lagi.

Sebelumnya, menurut Poempi Pemerintahan Soeharto baik karena otoriter. Jadi tidak susah mengaturnya. Tetapi sekarang, di alam demokrasi, inilah pemerintahan yang paling bagus. Hanya, sebutnya, kelemahannya satu karena bencana alam.

”Tapi itu bencana karena Allah. Selain itu juga harga minyak. Sebenarnya apa yang dilakukan pemerintah adalah stabilisasi makro ekonomi yang sudah betul langkahnya. Siapapun yang terpilih presiden tahun 2009, nanti 2010 sudah menikmati hasilnya. Makanya Golkar nggak boleh kalah. Ini saat yang paling menguntungkan karena ke depan lebih enak. Jangan salah lo, hutang IMF siapa yang melunasi? Pemerintah sekarang. Hal ini merupakan prestasi yang tidak pernah digembor-gemborkan. Saya ingat ketika Taksin jatuh di Thailand, rakyatnya berlinang air mata. Mereka mengatakan itulah saatnya kemerdekaan Thailand yang benar-benar merdeka, bebas dari IMF. Waktu itu tahun 2002/2003. Kita baru 2006. Meski terlambat, namun itu prestasi pemerintah sekarang.,” tuturnya.

Seharusnya sebut penggagas bahan bakar air ini, kita disadarkan, pemerintah ini memang membuat kita sakit atau susah, tetapi kebijakan yang dilakukan adalah untuk anak cucu bangsa ini mendatang. Pemerintah sudah berpikir ke depan dengan bijak. Sebenarnya, imbuhnya, jika pemerintah mau enak, bisa saja subsidi dilepas 100 persen. Tetapi pemerintah tidak melakukan itu. Tetap subsidi namun dikurangi dan sisanya dipakai untuk BLT.
Meski ada pro kontra terhadap BLT, namun secara teknis dan kebijakannya cukup membantu.

”Saya secara pribadi sebenarnya termasuk orang yang tidak setuju. Dari pada alokasi dananya tak jelas kemana, dan dikorupsi, mungkin lbantuan langsung lebih baik,” ujarnya.

Memang dalam kondisi yang dipertahankan pemerintah sekarang, terdapat kesulitan. Barang-barang rentan sekali pengaruhnya dari harga minyak. Faktor lain adalah ketergantungan negara ini pada Dollar.

”Saya sudah pernah melontarkan pendapat agar kita tidak bergantung pada Dollar, tetapi Euro dan Yen biar kuat. Sayangnya saya kan tidak berkuasa, apalagi pengambil keputusan. Cuma bisanya berkoar-koar diluar. Sekali-sekali didengar media, lalu diberitakan. Kalau saya di DPR RI, saya bisa berbuat lebih baik. Seorang Poempida di DPR RI tentu berbeda dengan Poempida di luar Gedung DPR,” katanya seraya tertawa. (nita indrawati)  

© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com