Globalisasi Orang Minang - dari Detik.Com
Sekalipun pernah mendapatkan sebutan sebagai propinsi paling maju dalam pembangunan, dalam Pelita III dan IV Orde Baru, hingga mendapatkan Parasamya Purnakarya Nugraha, ternyata lindasan ideologi developmentalisme represif Orde Baru yang berhimpitan dengan kapitalisme global yang masuk ke ruang-ruang pribadi penduduk telah menimbulkan implikasi luar biasa. Terkumpulnya lebih dari 10 ribu masyarakat ketika mendesakkan Maklumat 21 November itu, sungguh mencengangkan,
karena belum pernah terjadisebelumnya.
Saya tak akan membahas khusus masalah ini. Saya hanya ingin mencoba berefleksi, atas sejarah orang Minang, dalam konteks yang lebih luas, serta "pengaruh" kebijakan Jakarta atas mereka. Untuk itu, menarik juga mengikuti perhelatan dua hari, Jum'at dan Sabtu (21-22 September 2001), 40 orang anggota Panitia Ad Hoc II Badan Pekerja MPR. Mereka mengadakan seminar dan lokakarya tentang budaya Minang di Bukittinggi. Kota yang pernah menjadi ibukota negara RI selama Pemerintahan Darurat RI itu, kembali dijadikan sebagai tempat pencarian tatanan kehidupan kebangsaan kedepan ditengah situasi "darurat" berupa krisis kebudayaan yang dihadapi bangsa ini.
Upaya itu tentulah menarik, di tengah sedikitnya pembicaraan sekitar reformasi dan reformulasi kebudayaan nasional kita. Hampir seluruh agenda reformasi, termasuk yang dituntut mahasiswa, terhubung dengan agenda-agenda politik dan ekonomi.
Tentu kita bertanya, kenapa harus Minang? Tanpa bermaksud untuk "mencermati" apa yang terjadi di Bukittinggi sana, penulis menghubungkan kebudayaan Minang itu dengan dua agenda besar bangsa ini: transisi demokrasi dan sekaligus globalisasi dunia menyangkut keikut-sertaan Indonesia dalam AFTA tahun 2003, dan APEC tahun 2020. Kesiapan menghadapi dua hal ini, sangat terkait dengan kebudayaan atau mentalitas bangsa Indonesia, karena bisa saja transisi mengalami setback kearah rezim otoritarian, apabila kebudayaan yang menopang masyarakat Indonesia belum sepenuhnya demokratis.
Rezim otoritarian itu bukan hanya sebagai bentuk pemerintahan, yang bersandar kepada budaya feodal, melainkan telah berubah menjadi rezim pikiran. Dalam pemikiran Islam, misalnya, tanah Jawa sendiri sudah mengalami berbagai bentuk pemikiran alternatif - seperti komunitas Islam Liberal yang sekarang bermarkas di Utan Kayu --, sedangkan Minang justru terbelit dengan feodalisme akibat sedikitnya kontribusinya kedalam komunitas majemuk Indonesia. Hal terakhir ini ditunjukkan dengan Rencana Perda
Pemberantasan Maksiat (Pekat).
Biografi Orang Minang
Padahal, apabila kita melirik catatan-catatan sejarah, biografi orang Minang dikenal sebagai kontributor > utama kalangan intelektual, negarawan, dan agamawan Indonesia. Basis filosofis yang dibangunpun beragam, mulai dari Marxisme, Komunisme, Sosialisme, Nasionalisme, Islamisme, dan Liberalisme. Masing-masingnya terhubung dengan anak-anak Minang generasi pertama abad 20, antara lain Agus Salim, Tan Malaka, Mohammad Hatta, Nasir Sutan Pamuncak, Rasuna Said, Rahmah el Yunusiah, Rohana Kudus, Muhammad Yamin, Sutan Syahrir sampai Chaerul Saleh, Chairil Anwar, AA Navis, dan HAMKA. Biografi individu-individu itu menjadi menarik untuk disimak, sebagai gambaran betapa demokrasi telah menemukan alamnya di ranah Minang dan tertanam dalam diri masyarakatnya.
Sebagai komponen masyarakat Minang, ternyata kemudian individu-individu itu menyangga banyak sekali pemikiran moderen di zamannya. Pengejawantahan dari masing-masing pemikiran itu juga tak bersifat mutlak, bahkan siap untuk didialogkan dan diterapkan secara sangat ketat, tanpa harus melanggar kebebasan orang lain. Apabila biografi sebagian besar suku bangsa lainnya di Indonesia terlihat seperti monografi, karena kulturnya yang homogen, biografi orang Minang justru sangat heterografi. Unsur heterogen begitu menonjol, bahkan tanpa segan-segan untuk mempertentangkannya di muka umum.
Pada dasarnya, generasi itulah yang langsung menjadi perantara dari pemikiran-pemikiran terbaru di dunia Barat dan Timur ke Indonesia.
Tetapi kemudian, dalam perjalanannya, ketika terjadi character assasination terhadap orang-orang Minang pasca PRRI, biografi orang-orang Minang mengalami kegoncangan. Saat itu, sebagian nama-nama orang Minang yang mengambil dari bahasa Arab atau ayat-ayat dalam Al Qur'an, digantikan dengan nama-nama asing, mulai bahasa Inggris, sampai
Sanskerta, bahkan Jawa (seperti nama Irwan Prayitno yang keluarganya merupakan aktifis PRRI).
Ketika keluarga Kennedy begitu populernya di USA akhir tahun 1950-an sampai awal 1960-an (pasca PRRI), di Minang lahir bayi-bayi yang mengambil mentah-mentah nama keluarga Kennedy, bahkan nama baptisnya "F". Memang, ketika nama Saddam Husein muncul ke permukaan dalam Perang melawan pasukan multi nasional, bayi-bayi di Minang juga kemudian banyak yang mengambil nama dari penguasa Irak itu. Intervensi biografi orang Minang paling hebat terjadi selama Javanese Autocracy (istilah yang dilansir oleh FEER edisi Agustus 2001). Demokrasi menjadi kehilangan bentuknya, ketika sistem pemerintahan nagari digantikan dengan model-model desa di Jawa. Fungsi niniak mamak, urang sumando, ulama, bundo kanduang dan cerdik cendekia serta pemuda, yang biasanya ketika menyelesaikan perkara berada dalam status yang sejajar, menjadi hilang dan hanya bersifat seremonial dalam upacara perkawinan.
Begitu juga fungsi "tigo tungku sajarangan" (istilah yang bermuara kepada pemikiran Trias Politika), kehilangan basis sosialnya, mengingat dominannya peranan pemerintahan pusat akibat sentralisasi kekuasaan. Dari pintu birokrasi daerah yang harus menjalankan fungsi sabdo pandito ratu kepada pemerintahan pusat inilah, masuk feodalisme tanah Jawa, yang di Jawa sendiri mulai ditinggalkan. Ranah Minang akhirnya disibukkan dengan usaha memproduksi kaum birokrat, sebagaimana tercatat dalam komposisi Kabinet Pembangunan Orde Baru yang pernah didominasi orang-orang sipil dari Minang. Demokrasi mengalami mati suri, di tanahnya yang paling subur.
Perantau dan Globalisasi
Tradisi merantau kemudian hanya menjadi kegiatan ekonomi, bukan lagi kegiatan intelektual. Padahal generasi pertama awal abad ke-20 menggunakan perantauan sebagai sarana untuk menimba ilmu pengetahuan, sekalipun harus hidup miskin, seperti ditempuh Chairil Anwar, Tan Malaka, atau Agus Salim.
Kesadaran menggunakan budaya Minang sebagai local genius untuk melakukan filterisasi kebudayaan lainnya diluar ranah Minang, dibentuk oleh seperangkat nilai-nilai yang ditanamkan sejak kecil. Bahkan ketika terjadi lompatan pemikiran yang tak dikenal di masyarakat Minang, katakanlah komunisme, tetap saja basis sosialnya dikembalikan ke sistem masyarakat Minang.
Indonesia
Kalau memang ada upaya menggali kebudayaan alternatif, sebagai pengganti feodalisme yang dipakai selama Indonesia ada, memang nilai-nilai yang tertanam dalam kebudayaan Minang menjadi satu kontributor. Tetapi Indonesia bukan hanya Minang. Indonesia juga Bugis, Batak, Nias, Aceh, Madura, Dayak, Ambon, Bali, Jawa, Papua, dan etnis serta budaya lokal lainnya yang terbentang di seluruh Nusantara. Lebih tepat lagi kalau apa yang terjadi di Bukittinggi dibawa ke forum yang bersifat lintas etnis, lintas budaya. Jangan sampai ada klaim historis bahwa ada ras Arya di Nusantara ini, mengingat klaim itu sendiri akan membawa masalah dimasa depan. Klaim itu juga tak sesuai dengan biografi orang Minang.
Konflik etnis yang terjadi selama beberapa tahun ini, semestinya juga tak terjadi, apabila masing-masing etnis merasa bahwa mereka mempunyai saham dalam bangunan kebangsaan Indonesia. Yang menyebabkan rusaknya wajah ke-Indonesia-an justru ketika homogenisasi dan bahkan personalisasi kekuasaan terjadi. Ketika satu pemikiran, budaya, sistem ekonomi, atau katakanlah ideologi, menjadi begitu dominan, justru yang terjadi adalah penolakan diam-diam oleh yang tidak dominan.
Bukan berarti tribalisme tidak diperlukan, justru penghormatan terhadap hak-hak ulayat atau indigenous people mutlak dilakukan, sebagai bagian dari penghormatan atas kemanusiaan dan diri sendiri.
Apabila memang benar nenek moyang manusia itu berasal dari satu ayah dan satu ibu, entah itu secara genetikal merupakan keturunan dari manusia purba atau bukan, dan entah itu berasal dari Adam dan Hawa bagi umat beragama, buat apa kemudian manusia-manusia Indonesia bertengkar dengan saudaranya, darah-dagingnya, sendiri? Wallahu 'Alam. @