Baliho, Oh, Baliho
Senin, 2 Februari 2009
Baliho Permintaan atas balihoku semakin banyak. Padahal, baliho ini paling membuat masalah. Ada yang hilang, disobek orang, dilarang untuk dipasang, dan lain-lain. Karena ingin mengikuti selera pasar, aku juga membuat beberapa baliho. Harga balihoku tidak terlalu mahal, sekitar 60 ribu. Biaya pembelian kayu dan upah tukang per baliho sekitar 40 ribu. Sedangkan biaya pemasangan kupatok 50 ribu. Tapi ada juga yang lebih. Jadi, rata-rata, minimal, 150 ribu per baliho. Kalau 100 baliho saja sudah 10 Juta. Aku sudah membuat sekitar 75 baliho. Ada banyak caleg yang membuat baliho sampai seharga jutaan. Dipasang di banyak tempat. Bukan hanya calon DPR dan DPD, tetapi juga DPRD. Tapi, ketika tim survei dan tim silumanku bertanya di lapangan, kenyataannya masyarakat tidak kenal. Begitu juga ratusan ribu, atau jutaan, kalender yang tersebar di rumah-rumah penduduk. Baliho menurutku lebih sebagai “temuan” baru dalam pilkada, lalu diteruskan ke pemilu. Dalam pemilu 2004, tidak ada baliho. Toh yang dipilih ada yang partai, ada juga yang caleg bersangkutan. Dalam beberapa survei di tanganku, ternyata popularitas dan elektabilitas seseorang tidak tergantung dari banyaknya baliho. Ukuran-ukuran rasional masyarakat masih dominan: mampu mewakili rakyat, berpihak kepada rakyat, perhatian pada rakyat, dan lain-lain. Masyarakat di Sumbar memang sudah terbiasa dengan demokrasi. Sekalipun begitu, kita juga layak untuk jeli, karena begitu banyak proposal yang masuk ke setiap caleg. Sekarang, proposal-proposal itu makin berkurang ke poskoku. Mungkin Maret nanti akan bertambah banyak. Kita lihat saja. Karena dikenal sebagai caleg yang tidak mempunyai banyak uang, maka aku punya standar atas proposal yang masuk. Ya, mengagetkan bagi caleg-caleg DPRD yang tajir dan terbiasa dengan penggelontoran uang. Tetapi bagiku, yang terpenting adalah cost politik harus betul-betul minimal. Aku berpikir untuk beberapa tahun ke depan, kalau ada anak-anak muda potensial, berpengetahuan, berkarakter, cerdas, lalu terjun ke dunia politik tanpa uang, bagaimana nasib mereka? Dengan cara kampanye yang meminimalisir uang, aku berharap ada jalan yang lebih mulus bagi anak-anak muda itu nanti. Juga, jangan sampai para legislator terpilih membalas dendam setelah terpilih, karena merasa uangnya dikuras habis pas kampanye. Aku selalu mengingatkan soal ini, dimanapun aku dapat kesempatan bicara. Ada teman-temanku yang menjual hartanya untuk membiayai kampanye, tidak sedikit juga yang minjam uang. Aku beruntung masih dipercaya publik, karena sebagian dana kampanye berasal dari bantuan publik. Aku sedang berpikir untuk menggunakan sepuluh baliho besar. Masing-masing 1 per kebupaten dan kota. Tapi, entah kapan aku bisa membuatnya, dan memasangnya. Hanya 1 kegunaannya, yakni, aku ikut berpartisipasi dalam kampanye dengan cara turut berbaliho-baliho. Bali, hohoho.. Indra Jaya PiliangCalon Anggota DPR RI Nomor Urut 2 Dari Partai Golkar di Sumatera Barat II (Agam, 50 Kota, Pasaman, Pasaman Barat, Padang Pariaman, Payakumbuh, Bukittinggi dan Pariaman).
Catatan Lepas Sebelumnya
» KOMENTAR (5)
-
jadi mana yang bisa dipilih? baliho lebih banyak atau bicara lebih banyak, mas Indra?
mudah2an kecerdasan berpolitik masyarakat benar-benar terwujud.
salam,
Dora
Posted by dora on May 6th, 2009, 10:55:56 AM -
Saya sangat terkesan sekali mendengar orasi kampanye Partai GOLKAR yang disampaikan oleh Bang IJP di Pakandangan Kab. Padang Pariaman tanggal 24 Maret 2009, dan saya merasa GOLKAR kembali melekat di hati saya. Terima kasih Bang IJP, salam kenal dari saya. Semoga Bang IJP sukses selalu. Amin!!!!!!!!
Posted by Khairil Indra on March 25th, 2009, 08:37:51 PM -
Salam kenal uda,.... Kunjungan perdana di blognya uda,... wah ternyata banyak juga cost politik itu,... setuju dengan uda,.. jika seorang calon jor2an dengan dana politiknya, apakah akan ada udang dibalik batu nantinya?
Posted by avartara on March 10th, 2009, 03:16:57 PM -
udah tahu kan Ndra, politik itu kejam, tegang, dan memerlukan uang. Itu modal yang keluar jelas akan dipikir kembali, dan ketika proses memikirkan kembali itu, ruang untuk berpikir ke masyarakat dan kepentingan nasional menjadi urusan enam belas. Nah, bahkan syahwat dalam proses mengembalikan uang yang hilang melahirkan kombinasi yang seperti ini : rakus, tamak, kikir, dan diam-diam. Sikap yang buka-buka dan terus-terang di awal akhirnya menjadi setengah terus-terang, hingga akhirnya berbohong sama sekali. Inilah posisi ketika manusia sudah menjadi semakin buruk. Dan politik, hanya tinggal permainan intrik dan mengalahkan siapapun yang berbeda. Dalam skala makro adalah menjegal siapapun yang berbeda tanpa mau tahu inti rasionalitasnya. Tak heran ada partai yang jegal yang palin atau anggota dewan jegal presiden, bukan karena perbedaan ideologi atau prinsip, tapi persaingan dalam merebut kekuasaan, terutama uang. Politik emang begitu, siklusnya menjadi involusi. jalan di tempat!
Posted by Kemal on February 19th, 2009, 07:56:20 PM -
Mak, baa nyo agar baliho ini tidak mengotori dan merusak pemandangan?
Posted by Fikri on February 8th, 2009, 07:25:28 PM