Orang-Orang Muda Motor Tim Sukses Pasangan Capres-Cawapres

Kamis, 18 Juni 2009
[ Kamis, 18 Juni 2009 ]
Orang-Orang Muda Motor Tim Sukses Pasangan Capres-Cawapres (3-Habis)
Pilpres Selesai, Berlibur Bersama Keluarga ke Bali

Bintang-bintang muda bertaburan di Tim JK-Wiranto. Di antaranya Priyo Budi Santoso dan Indra Jaya Pilliang yang punya cerita menarik mengenai keluarganya di musim pilpres ini.

Priyo Handoko, Jakarta

---

BELAKANGAN ini Priyo Budi Santoso merasa sangat terhibur bila bisa berkumpul dengan istrinya, Fenti Estiana, beserta ketiga buah hatinya. Acara kumpul keluarga itu sangat berharga di tengah kesibukannya di pusaran pemilihan presiden.

''Hampir tiga bulan terakhir ini saya tidak bisa lagi jalan-jalan dan nonton film dengan anak-anak. Padahal, sebelumnya itu rutin kami lakukan setiap minggu,'' kata Priyo saat bincang-bincang santai dengan Jawa Pos di Jakarta kemarin (17/6).

Karena itu, dia mengaku sudah menyiapkan ''penebusan dosa'' bila pelaksanaan pilpres selesai nanti. Sebagai tim pendukung JK-Wiranto tentu saja dia berharap selesai perhelatan nasional itu dengan hasil kemenangan pasangan yang diperjuangkannya.

''Saya akan mengajak mereka liburan di Bali sebulan penuh. Niat awalnya sih mau ke New Zealand (Selandia Baru, Red). Tapi, kami takut flu babi. Makanya, cari yang aman-aman saja,'' ujar ketua Fraksi Partai Golkar (FPG) di DPR itu lantas terkekeh.

Saat proses lobi membangun koalisi, Priyo selalu tampak setia mendampingi JK. Setelah JK positif berdampingan dengan Wiranto, tugas Priyo bertambah berat. Bersama Ketua DPP Partai Hanura Fuad Bawazier, Priyo menyinergikan para juru bicara tim pemenangan JK-Wiranto yang berjumlah sembilan orang.

''Semuanya orang-orang muda,'' katanya. Siapa saja mereka? Priyo menuturkan, di antaranya, anggota Komisi I dari FPG Yuddy Chrisnandi, mantan pengamat politik yang kini menjadi politikus Golkar Indra Jaya Piliang, dan Wakil Bendahara DPP Partai Golkar Poempida Hidayatullah.

Ada juga Wakil Direktur Eksekutif Lembaga Pemenangan Pemilu DPP Partai Golkar Jefrrey Geovani. Dari luar kubu beringin ada Drajad Wibowo dan Alvin Lie, keduanya dari PAN.

''Usia saya dengan Yuddy hanya lebih tua enam bulan. Sama Indra juga masih segenerasi. Poempida itu setahun di bawah saya. Jadi, masih satu generasi. Tapi, saya memang dituakan dan dianggap kepala suku untuk generasi muda. Mungkin karena dianggap senior secara jabatan ketua fraksi di DPR,'' beber pria kelahiran Trenggalek, 30 Maret 1966 itu.

Karena usia yang tidak terpaut jauh itu, Priyo mengaku tidak punya hambatan berarti saat berkoordinasi. Priyo menuturkan, banyak ide progresif dan cemerlang yang lahir dari mereka. Misalnya, ide-ide iklan politik JK-Wiranto. ''Selanjutnya itu semua digodok bersama dengan para senior dan jenderal,'' katanya.

Dia merasa hasil yang dipetik sudah optimal. Mengingat mereka sama sekali tidak mensubkontrakkan program kampanye pemilu kepada konsultan profesional. ''Semua kami rumuskan sendiri. Soalnya, dana kami tidak sebesar pasangan lain, terutama incumbent,'' ujar Priyo yang mengaku tetap sangat menghormati Presiden SBY itu.

Selain menyinergikan para jubir, Priyo mengomandani caleg-caleg terpilih dan anggota DPR dari Golkar periode sekarang untuk turun ke daerah masing-masing. ''Secara khusus saya menjadi penanggung jawab pemenangan Jatim juga,'' kata caleg terpilih dari Dapil Jatim I, Surabaya dan Sidoarjo itu.

Indra Jaya Pilliang menceritakan, kesibukannya di Tim Pemenangan JK-Wiranto juga harus ditebus mahal. Salah satunya, dia terpaksa tidak bisa pulang ke Padang saat nenek tersayangnya meninggal dunia pada 30 Mei lalu. Sebab, pada hari itu Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengundi nomor urut pasangan capres-cawapres.

Sebagai salah satu jubir yang diandalkan Tim JK-Wiranto, kehadirannya tentu sangat bernilai strategis, terutama untuk berkomunikasi dengan media massa. ''Apalagi, pada awal-awal JK-Wiranto mulai running sepi sekali. Orang yang datang ke Mangunsakoro (markas tim Sukses JK-Wiranto di Jalan Mangunsakoro, Red) bisa dihitung dengan jari. Sekarang saya bersyukur sudah ramai, banyak yang mau bergabung,'' beber pria kelahiran Pariaman, Sumatera Barat, 19 April 1972 itu.

Indra menceritakan, sesibuk apa pun, dia tetap berusaha mencuri-curi waktu untuk rileks. ''Setiap hari saya mengambil beberapa jam, biasanya pagi untuk Facebook, baca buku, main-main bersama anak-anak atau jalan-jalan berdua dengan istri,'' kata mantan pengamat politik Centre for Strategic and International Studies (CSIS) itu, lantas tersenyum. (tof)
© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com