Kami Siap hadapi Pertarungan Politik Terkeras
Kamis, 30 Juli 2009
Wawancara Beritajatim.com dengan Indra Jaya Piliang (2-Habis)Kami Siap hadapi Pertarungan Politik Terkeras
Rabu, 29 Juli 2009 08:17:47 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Jember (beritajatim.com) - Kekalahan Golkar dan Jusuf Kalla dalam pemilu membunyikan lonceng keras: partai ini perlu melakukan pembenahan. Salah satunya dengan meninjau kembali orientasi partai untuk merengkuh pemilih baru. Dalam hal ini, Musyawarah Nasional tak sekadar menjadi kancah perebutan kursi ketua.
Beritajatim.com mewawancarai Indra Jaya Piliang, seorang intelektual muda yang menjadi kader Partai Golkar. Berikut petikan wawancara seri kedua dari dua tulisan bersambung.
Banyak yang menyebut Golkar partai modern karena tidak ada ketergantungan pada figur tertentu. Namun di satu sisi, pemilih loyal partai ini adalah generasi tua yang tumbuh dan berkembang di masa Orba, sebagian adalah PNS. Bagaimana Golkar merengkuh pemilih baru?
Ya, memang ada peralihan pemilih yang harus disikapi. Sebagian pemilih Golkar adalah yang merasa berutang budi dengan Golkar. Istilah masyarakat yang saya temui: "Saya pernah makan beras Golkar dulu." Tetapi, bagi PNS baru, mungkin mereka sudah beralih ke Partai Demokrat. Tidak setia juga. Lihatlah, kompleks PNS dalam pilpres dan pileg lalu dikuasai oleh Partai Demokrat.
Nah, memang modernisasi di tingkat organisasi dan kegiatan layak dilakukan, termasuk dengan profesionalisme di kalangan pengurus atau karyawan partai. Untuk pemilih baru, Golkar harus melakukan kegiatan sejak dini, bukan hanya hadir ketika menjelang pemilu atau pilkada. kami sedang memikirkannya untuk lima tahun ke depan.
Bagaimana konsep revitalisasi dan regenerasi di tubuh Partai Golkar?
Kalau soal ini, akan ada waktunya. Sekarang belum saatnya disampaikan. Tetapi ide dasarnya bukanlah pemotongan generasi, tetapi rekonsiliasi, proporsionalitas dan juga kolektivitas. Individualitas wajib dihilangkan. Tidak semua yang muda bagus, sebagaimana tidak semua yang tua jelek.
Revitalisasi lebih dimaknai sebagai penggunaan seluruh sumberdaya manusia, aset dan infrastruktur partai bagi pemenangan dalam pemilu, dan pengabdian kepada masyarakat lewat anggota parlemen atau kepala daerah terpilih.
Yuddy Chrisnandy (YCh) menjadi salah satu kandidat ketua umum Golkar dari generasi baru. Anda optimistis dia bakal menang?
Saya selalu optimis dalam bekerja, tidak terkecuali untuk YCh. Kami baru mulai bekerja dengan baik. Manajemen pemenangan Yuddy berorientasi publik dan juga internal. Publik coba kami libatkan dalam menentukan kemenangan bagi YCh. Publik menjadi pikiran dan orientasi kami, karena parpol idealnya milik publik, bukan milik pengurus.
Seberapa jauh dukungan dari internal Golkar untuk YCh saat ini?
Dukungan yang kami punyai kebanyakan muncul dari kader-kader idealis dan reformis. Tetapi, belum tentu mereka memiliki suara. Suara kan datang dari DPD II, DPD I, DPP dan onderbouw Partai Golkar. Jumlahnya kira-kira 550 suara. Suara itu diputuskan dalam musda bagi DPD I dan DPD II, lewat Pleno DPP dan lewat proses pengambilan keputusan lain oleh onderbouw, termasuk organisasi pendiri, spt SOKSI, Kosgoro dan MKGR.
Saya yakin, kami mampu mencuri perhatian dari publik dan mendapat dukungan dari DPD II, DPD I dan bahkan mungkin juga DPP.
Siapa lawan terberat YCH? Bagaimana kubu YCh akan mengatasinya? Tidakkah uang bakal menjadi persoalan?
Semuanya berat. Kami tidak akan menggunakan cara yang sama dengan mereka. Tentu kami punya taktik, tidak perlu dibeberkan. Kami juga belum sepenuhnya yakin, apakah ada dua atau tiga kandidat lain? Soal uang, tentu kami juga punya donatur. Uang kami mungkin sedikit, tetapi berasal dari sumber yang banyak. Kalau ada pihak yang menyumbang, berarti otomatis memberikan dukungan politik. Nanti kami akan menggelar semacam kegiatan malam dana (fund raising).
Apa kelemahan dari dua kandidat tua (Ical dan Paloh) yang bisa menjadi advantage (keuntungan) bagi seorang YCH? Bagaimana menggunakannya?
Tidak ada kelemahan berarti. Kelemahan utama hanya satu: mereka sudah dikenal publik, begitupun cara-cara meraih dukungan. Sementara, kekuatan kami adalah: kami belum sepenuhnya dikenal publik. Kekuatan kami yang perlu disampaikan: rata-rata pendidikan pendukung Yuddy tinggi, punya sikap yang jelas, juga mapan secara ekonomi (tdk tergiur melihat uang, kerena juga punya uang), memikirkan masa depan.
Jadi, kalau pemilih dalam Munas nanti berorientasi pada masa depan, tentu memilih kami. Patut diingat, Yuddy masih 41, tahun 2014 baru usianya 46 tahun, usia yang matang dalam politik. Kalau Pak Ical setahu saya usianya 62 tahun. Pak SP 58 tahun. YCh kepala 4, SP kepala 5 dan Ical kepala 6. Lima tahun lagi, SP juga kepala 6.
Jika YCH kalah dalam munas mendatang, bagaimana nasib Golkar ke depan? Anda dan generasi muda Golkar keluar dari Golkar?
Kami akan tetap di Golkar. Pertarungan politik menjelang dan saat Munas ini bukanlah tujuan. Tujuan utama kami membesarkan partai ini, menjadikan partai ini kembali sebagai partai terdepan yang reformis, militan, juga berorientasi untuk memperbaiki nasib rakyat yang paling miskin, paling menderita dan paling bodoh.
Barangkali, kami bisa masuk ke susunan pengurus, kalaupun tidak, kami bisa mengembangkan organisasi alternatif yang tetap menyalurkan hak politiknya lewat partai golkar. Yang jelas, kalaupun kalah, kami adalah orang yang paling siap untuk menghadapi pertarungan politik terkeras sekalipun pada 2014 nanti. Kami paling kompak ketika mendukung JK-Wiranto, juga kompak mendukung YCh -- tidak semuanya--, tentu kami akan jauh lebih kompak lagi mendukung Partai Golkar menuju kejayaannya. [wir]
Catatan Lepas Sebelumnya