JK: Saudagar Indonesia
Harian Sindo, 24 Oktober 2009
JK: Saudagar Indonesia
Oleh Indra J Piliang
Dewan Penasehat The Indonesian Institute, Fungsionaris Partai Golkar
Tepat pukul 10.23 menit, paling tidak di jam tangan saya, Boediono membacakan sumpah sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia 2009-2014. Otomatis, JK tidak lagi menjadi wakil presiden RI. Selama lima tahun menjadi wakil presiden RI dan Ketua Umum DPP Partai Golkar, JK muncul sebagai fenomena. Ia mendobrak tradisi Wapres sebagai ban serap atau pemain pengganti. Peranan besarnya sempat memunculkan masalah: “SBY-JK: Duet atau Duel?” Pers mencium proses pengambilan kebijakan-kebijakan resmi negara yang mendapatkan sentuhan Presiden SBY dan Wakil Presiden JK dalam pilihan berbeda. Ketika JK memberikan sambutan dalam serah terima memori akhir jabatan dengan Boediono, ia sempat juga berucap: “Kalau ban serap itu kan berarti siap menggantikan Presiden.” Rupanya JK masih ingat bagaimana Megawati Soekarnoputri menjadi “ban serep” Abdurrahman Wahid.
Itulah JK. Ia berpikiran rasional. Kekalahan dan kemenangan baginya sama saja. Kalaupun ada raut kelelahan dalam dirinya selama proses pilpres, namun bukan wajah penyesalan. Ia berjalan berkeliling ke pelbagai daerah, menyaksikan para pejabat negara tidak ada yang ikut serta, namun pada saat bencana alam di Sumatera Barat, kembali dikerubungi oleh para menteri kabinet. Toh sikapnya sama santainya, di muka dan di belakang orang. Jangan harap tanpa argumen jelas, kita bisa memenangkan perdebatan dengannya, apalagi kalau menyangkut like or dislike. Ia bukan tipe asal bapak senang. Ketika saya kirimkan sms bahwa Kec V Koto Kampung Dalam, Padang Pariaman, termasuk lokasi yang parah terkena gempa, JK mengeceknya lewat tokoh-tokoh lain. Ia memang datang ke Kampung Dalam, tetapi setelah tahu lokasi bencana di Tandikek, Kec Patamuan, tidak bisa dicapai dalam waktu singkat.
Ia banyak memiliki informan dan informasi, mengingat hubungan dekat yang ia bina dengan banyak orang. Tidak peduli orang itu berpangkat atau tidak, dia bisa mengingat namanya dengan jelas. Dalam teori kepemimpinan, dia termasuk tipe solidarity maker. Tetapi tipe itu bisa ia mentahkan dengan tidak larut di dalam lingkungan terdekatnya, yakni dengan menumbuhkan disiplin atas waktu dan agenda. Begitu juga ia bisa bergerak di luar jadwal, menyuruh berbelok ke kanan, kalau protokol resmi mengarah ke kiri. Dengan cara itu, ia bisa melihat “masalah” dengan cara terbalik: pembangunan sebuah bandara, fasilitas untuk korban bencana ataupun menjadi saksi atas realita.
***
Di antara mantan wakil presiden dari kalangan sipil, JK mungkin segera jadi legenda. Muhammad Hatta menulis sendiri memoarnya, begitu juga menerbitkan surat-menyurat dengan banyak tokoh sezaman. Hatta memang seorang penulis hebat dan jenius. Adam Malik memiliki beberapa misteri tak terjawab, sekalipun dia juga seorang jurnalis. Tidak banyak catatan-catatan Adam Malik yang bisa dicermati, terutama dari sisi hubungan diplomasi antar-negara yang coba dia bangun. BJ Habibie juga sama rumitnya, memasuki ceruk teknologi kelas tinggi, sehingga sedikit orang yang bisa mengikuti. Sementara JK: bisa berbicara lama, namun juga bekerja lebih lama lagi. JK bukan tipe penulis ulung seperti Soedjatmoko, untuk menjelas-jelaskan apa yang ingin dia lakukan. JK mengandalkan disain awal, berdasarkan poin-poin singkat, lalu melaksanakan.
JK memang keturunan saudagar pribumi, sebelum kemerdekaan. Usaha keluarganya sudah berlangsung selama 70 tahun lebih, sementara usia JK sendiri baru 67 tahun. Usaha keluarga JK sudah ada sebelum dirinya lahir. Kaum saudagar mendapat citra buruk, dibandingkan dengan para bankir, dalam zaman kontemporer ini. Padahal, berkaca pada sejarah, saudagar-saudagar pribumi inilah yang membentuk lembaga-lembaga yang kemudian berubah menjadi masyarakat sipil dan politik. Ingat saja Sarekat Dagang Islam. Haji Samanhudi, mustahil menjadi tokoh pergerakan, apabila tidak memiliki cukup dana untuk mengadakan pertemuan dengan kalangan aktivis pergerakan, kaum intelektual dan saudagar lain di zamannya. Demokrasi, ketika muncul, juga diusung oleh para saudagar yang ingin keluar dari kungkungan kelas aristokrat (termasuk tentara) dan kaum agama.
Tetapi, para pengkritik JK, lebih menyukai kalangan bankir. Dan itu sah-sah saja. Yang tidak proporsional adalah membumi-hanguskan segala hal yang dilakukan JK selama di pemerintahan dan politik. JK tentu tidak minta ucapan terima kasih, sebagaimana juga para veteran lain di pentas politik dan pemerintahan. Yang perlu dilakukan hanyalah mengatakan bahwa JK telah melakukan sesuatu secara berbeda. Stabilitas pemerintahan jauh lebih terjamin, dibandingkan dengan masa 2004-2009. Padahal, tantangan yang dihadapi jauh lebih rumit akibat perang global menghadapi terorisme – terutama di dalam negeri --, goncangan krisis ekonomi dunia, dan lautan bencana yang menempatkan Indonesia di atas tungku api. JK sudah memimpin rapat resmi sebanyak 420 kali, ditambah dengan rapat-rapat non resmi lain, termasuk bergerak ke seluruh penjuru tanah air.
***
Kini, JK sudah menjadi orang biasa. Ia kembali menemukan kemacetan di jalan-jalan raya. Tetapi, dari segi pergerakan, ia jelas lebih bebas. Ia bisa kemana saja, tanpa harus mengikuti aturan protokoler apapun. Ia mungkin menjadi guru di sekolah atau universitas tertentu. Ia juga akan hadir dalam pengajian-pengajian di banyak mesjid dan pesantren. Yang paling utama, ia pasti menghabiskan banyak waktu dengan anak-anak dan cucu-cucunya. Ia telah dibebaskan dari tugas-tugas rumit yang menyita waktu dan segalanya. Keluarga, kini menjadi fokusnya.
Apa JK tidak memiliki perhatian lagi kepada bangsa dan negara? Tentu punya. Barangkali ia lebih melihat potensi dari kalangan muda yang kelak menjadi pemimpin di dunianya masing-masing. Saya termasuk orang yang memiliki keyakinan betapa JK akan bergerak dari satu kelompok ke kelompok yang lain, berdiskusi apa saja. Beberapa kali ia melakukannya: berbicara dalam sebuah lingkaran, lalu menjawab pertanyaan siapa saja yang hadir. Seperti Haji Samanhudi, HOS Tjokroaminoto atau sebut saja Haji Hasyim Ning, Haji JK adalah saudagar tua yang berpikiran terbuka. Ia tidak dididik di bangku universitas dalam waktu lama dan memiliki tradisi akademis yang tinggi, tetapi pengetahuan dan pengalamannya bisa menghasilkan kajian-kajian akademik bermutu.
JK adalah saudagar Indonesia. Hanya orang-orang yang tidak membaca buku tebal sejarah Indonesia yang alergi kepada saudagar seperti dia. Orang-orang yang barangkali lebih paham data-data statistik lembaga-lembaga internasional, namun tidak pernah datang ke sebuah pasar tradisional dan bertanya tentang harga cabe keriting. Saudagar keliling, mungkin Ia akan disebut nanti, dengan pengalaman panjang mengelola negara dan non-negara. Ia mungkin juga akan dilupakan, tetapi sejarah sudah mencatat namanya. Selamat pulang kampung, Pak.