Jupe di Kampung SBY
Jupe di Kampung SBY
Koran Tempo, 08 April 2010
Indra J. Piliang, DEWAN PENASIHAT THE INDONESIAN INSTITUTE
Artis kontroversial Julia Perez, terlepas dari definisi kita tentang artis, membuat heboh. Bukan karena aksi penampilan fisiknya, melainkan perihal rencana pencalonannya sebagai bakal calon Bupati Pacitan, Jawa Timur. Pacitan adalah daerah asal Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kalau Jupe—panggilan Julia Perez—berhasil menjadi Bupati Pacitan, setiap kali kunjungan Presiden SBY ke Pacitan pastilah disambut oleh sang bupati. Begitu juga rapat-rapat penting di Jakarta atau di Surabaya.
Seberapa penting masalah ini dalam kaitannya dengan demokrasi? Kalau dilihat lagi, panggung politik di bumi Nusantara sudah lama dihuni oleh para perempuan.
Keterlibatan itu ada dua, yakni menjadi ajang pertaruhan antara kerajaan dan menjadi panglima perang atau pemimpin formal. Kaum perempuan, terutama putri raja, dijadikan sebagai alat penawaran untuk sebuah perkawinan guna menghindari perang atau menciptakan perdamaian. Sejumlah perempuan malang ini tewas di medan perang, seperti yang menimpa Dyah Pitaloka dalam Perang Bubat.
Sebagai panglima, kaum perempuan asal Aceh tampil ke permukaan, begitu juga asal Maluku. Dalam masa-masa genting, perempuan itu juga berasal dari Kerajaan Majapahit, Tribuana Tungga Dewi. Belakangan nama ini diambil oleh Presiden SBY sebagai nama bagi cucu pertamanya.
Dalam banyak kisah, baik tambo, hikayat, mitos, maupun sejarah, nama-nama kaum perempuan perkasa ditampilkan, baik dengan segala kebesaran maupun nasib buruk yang menimpa. Dara Jingga, sebagai salah satu “ratu di Minangkabau”, juga disebut sebagai bagian dari “alat tukar”dalam menghindari perang.
Bagaimana dengan Jupe? Dia disambut dan ditolak. Oleh yang menyambut, Jupe dijadikan sebagai terobosan strategi untuk memperoleh suara tinggi. Kemenangan dalam pemilihan kepala daerah menjadi bagian penting dalam mendapatkan kekuasaan secara sempurna. Sementara itu, bagi yang menolak, Jupe adalah simbol yang jauh dari “nilai-nilai religius”, sebagaimana dikatakan oleh Bima Arya Sugiarto, Ketua DPP Partai Amanat Nasional.
Di balik itu semua, Jupe adalah medan pertaruhan atas seberapa dekat dan seberapa jauh kita dengan demokrasi. Dalam masalah hak dan kewajiban, Jupe memilikinya. Bukankah kewarganegaraannya adalah Indonesia sehingga siapa pun berhak untuk memilih dan dipilih dalam pemilihan umum, baik untuk pemilu nasional maupun pilkada? Sebagai orang yang juga membayar pajak, dalam arti sudah menjalankan kewajiban sebagai warga negara yang baik, Jupe tentu tidak bisa digergaji hak-haknya.
Dalam demokrasi, siapa pun dibolehkan berkontestasi menurut prosedur dan ke- tentuan yang berlaku. Tidak boleh ada teror apa pun terhadap pelaksanaan hak berdemokrasi itu. Anggapan bahwa demokrasi hanya diperuntukkan bagi kalangan terpelajar, para jenderal, pengacara, pengusaha, dan aktivis adalah kekeliruan yang tidak perlu. Itu sama saja dengan pembajakan atas demokrasi itu sendiri.
Kalaupun ada yang tidak menyukai Jupe, ketidaksukaan itu layak ditunjukkan lewat cara-cara yang sudah sesuai, misalnya berkompetisi dengannya secara fair.
Ironisnya, para pengguna Internet (Twitter dan Facebook) dan BlackBerry, dua hal yang berkaitan dengan dunia modern, malah beramai-ramai memenuhi akun mere- ka dengan foto-foto seronok Jupe berikut segala jenis ejekan. Seksisme berpindah dengan begitu cepat ke benak setiap orang yang merasa jauh lebih "religius"dari Jupe.
Yang lebih celaka lagi, beberapa yang menertawakan sosok fisik Jupe adalah kalangan terpelajar yang kehidupannya diisi dengan belajar dan belajar saja.
Politik adalah pertarungan beragam motif. Bagi Jupe, sejauh yang dia katakan, justru ingin keluar dari image dirinya yang "negatif"di mata publik. Satu perjalanan individual lewat sarana publik juga.
Beberapa nama yang berasal dari dunia selebritas itu kini mulai nyaman dalam kehidupan politik, baik lelaki maupun perempuan. Apakah kontribusi mereka jauh lebih banyak atau lebih sedikit dari "politikus murni"? Dari ukuran pemberitaan, kalangan selebritas jauh lebih disorot daripada politikus lain, kecuali dari trah keluarga.
Kehadiran Jupe, menurut saya, sudah menampar wajah politikus atau kaum intelektual yang membicarakannya dengan mulut miring: mencibir. Siapa yang mereka sebenarnya cibirkan? Dirinya sendiri yang tidak bisa mendapatkan proporsi pemberitaan yang besar? Ataukah keakuan dalam wajah yang seolah justru wakil dari kelas elite masyarakat politik? Atau kepura-puraan dalam mengerti apa mau- nya rakyat?
Jupe, bagi saya, adalah wujud dari sikap yang mungkin dia tidak sadari sepenuh- nya. Bahwa di dunia politik, terlalu banyak keangkuhan yang dibangun dari dalam dan dari luar oleh orang-orang yang justru menyatakan diri sebagai resi. Bagi pikiran konstruktivisme, kehadiran Jupe justru bagian dari terapi yang tepat bahwa dunia politik di Indonesia yang masih diwarnai beragam ketidakidealan. Ketika puisi tidak lagi bisa membersihkan dunia politik, tarian, nyanyian, atau suara Jupe adalah wakil dari apa yang saya sebut sebagai keawaman. Dengan itu, politik bukan lagi dunia yang tak tersentuh, melainkan justru wajah dari keseharian masyarakat sendiri.
Ketika—seandainya—Jupe berhasil menjadi Bupati Pacitan, maka seorang ar- tis dan seorang jenderal adalah profesi yang setara dalam altar politik. œ
-
Jika saya diminta oleh segelintir orang untuk menjadi kepala daerah, saya akan bertanya terlebih dulu "SUDAH PANTASKAH SAYA MEMIMPIN ORANG LAIN?"
Posted by pengamat politik on April 24th, 2010, 01:22:03 PM -
memang Jupe memiliki hak dan kewajiban sebagai warga negara.
tetapi, saya jadi teringat materi kuliah saya dulu, kalo ga salah syarat jadi kepala daerah diantaranya: "mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di daerahnya;"
di acara TV One beberapa hari lalu Jupe sendiri mengaku belum pernah ke Pacitan. cuma tau sedikit info pacitan dari browsing internet. bagaimana bisa dia mengenal daerah dan dikenal masyarakat daerah?
jika Jupe lolos menjadi calon, berarti telah terjadi pelanggaran undang-undang..........
Posted by ranggi on April 10th, 2010, 10:33:18 AM