Teuku Kemal Fasya: Cerita Kekalahan Seorang Kolumnis

Senin, 19 April 2010
Sumber : Koran Jakarta, 19 April 2010

Cerita Kekalahan Seorang Kolumnis

Senin, 19 April 2010


Judul : Mengalir Meniti Ombak:
Memoar Kritis Tiga Kekalahan
Penulis : Indra Jaya Piliang
Penerbit : Ombak Yogyakarta
Tahun : I, 2010
Tebal : xxiii + 568 halaman
Harga : Rp65.000

Buku berjudul Mengalir Meniti Ombak: Memoar Kritis Tiga Kekalahan tidak akan pernah hadir jika sang penulisnya tidak pernah mengalami kekalahan yang beruntun dalam sejarah politiknya.

Indra Jaya Piliang, seorang kolumnis dan peneliti di The Indonesian Institute, mendedikasikan kekalahan yang dideritanya dalam sebuah memoar.

Tidak seperti memoar umumnya yang melulu berisi cerita sukses dan narasi hiperbolik dari birokrat uzur, memoar ini dituliskan ketika sang penulis sedang berada di puncak ranum kehidupan.

Untuk seseorang yang belum berumur 40 tahun, menulis biografi hanya seperti mengiris sebagian sejarah hidup yang masih penuh teka-teki dan belum banyak terkuak. Indra “mengecat tubuhnya” dengan jujur dengan narasi yang lugas dan sastrawi.

Historiografi dimulai ketika memutuskan untuk mengikuti Pemilu Legislatif dari Partai Golkar, 9 April 2009, kemudian menjadi tim sukses JK-Wiranto dalam pemilihan presiden dan wakil presiden, 8 Juli 2009, dan terakhir menjadi pendukung Yuddy Chrisnandi pada pemilihan Ketua Golkar, 7 Oktober 2009.

Kesemua proses itu dilalui dengan kekalahan sehingga, diakui atau tidak, aspek traumatis tetap terekam dalam tulisannya.

Berbeda dengan dunia politik yang penuh kekalahan, ia mengambarkan dunia intelektualnya dengan gembira.

Indra J Piliang tumbuh sebagai sosok yang dikenal publik ketika bergabung dengan Centre for Strategic and International Studies (CSIS), sebuah lembaga think tank Soeharto dan pemberi nasihat paling rutin bagi Orde Baru. Perjodohannya dengan lembaga itu terjadi ketika namanya mulai muncul sebagai penulis di sebuah media besar nasional.

Perkenalannya dengan tokoh-tokoh intelektual cum-birokrat seperti Daoed Joesoef, Jusuf Wanandi, Harry Tjan Silalahi, dan Rizal Sukma ikut mempertajam daya analisisnya. Ia mengambarkan fase sejarah ini dengan judul “Delapan Tahun yang Hangat”.

Ia pun mengambarkan suasana di CSIS dengan frasa “dunia penuh buku, diskusi, tulisan, serta beragam tanya-jawab dengan para jurnalis, diplomat, peneliti, serta aktivis dari tempat lain, termasuk dari negara lain.” (hal. 88).

Indra hanya delapan tahun di lembaga ini, dan kemudian bercerai untuk pulang ke ranah politik. Ketika akhirnya memilih bergabung dengan Golkar, partai yang semasa aktivis dan penulis dikritik tajam, ia pun seperti menerima karma, mencintai sesuatu yang dulunya dibenci.

Banyak aktivis 98 kecewa dan mengomentari dirinya secara satire. Seorang aktivis 98, Padang Wicaksono PhD, mengirimkan SMS, “turut berduka cita atas matinya idealisme Indra J Piliang”. (hal. 288).

Takdir sejarah mencatat Indra gagal melenggang ke Senayan karena kalah suara dari tokoh Golkar lainnya di wilayah Sumbar 2, Nudirman Munir. Tokoh sekelas Jusuf Kalla ikut memberikan kata pengantar dalam memoar ini.

Dalam tulisannya, Kalla mengapresiasi sosok Indra yang berani bertaruh untuk masuk ke dunia politik.

“Indra mengambil risiko masuk ke dunia politik yang sebelumnya dilihatnya dari jauh. Sebuah pertaruhan pribadi ia lewati dengan baik, berikut pertarungan yang menyertainya,” tulis Kalla.

Peresensi adalah Teuku Kemal Fasya, mantan aktivis mahasiswa 1998

 

© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com