Resensi: Mengalir Meniti Ombak by Bhayu

Selasa, 20 April 2010
Sumber : http://lifeschool.wordpress.com/2010/04/12/mengalir-meniti-ombak-memoar-kritis-tiga-kekalahan-resensi-buku/

Mengalir Meniti Ombak: Memoar Kritis Tiga Kekalahan: Resensi Buku
Posted on April 12, 2010 by bhayu

Sesuai janji Jum’at (9/4) pekan lalu, saya akan menuliskan resensi mengenai buku memoar karya Indra Jaya Piliang (IJP). Judulnya cukup panjang: Mengalir Meniti Ombak: Memoar Kritis Tiga Kekalahan. (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2010). Sesuai judulnya, buku ini adalah otobiografi. Maka, meski masih berusia relatif muda -37 tahun- IJP merasa telah perlu menulis memoar.

Sebenarnya, buku ini nyaris ‘telanjang’ menguliti sepak-terjang IJP di dunia politik yang masih seumur jagung. Bisa jadi, hal ini dilatarbelakangi kebiasaan penulis yang gemar menuliskan catatan harian atau diary seperti diakuinya sendiri (xi-xvii). Beberapa bagian membuat saya mengernyitkan dahi, mengapa IJP dengan terus-terang ‘menelanjangi’ dirinya sendiri?

Sebutlah kisahnya di p. 66-67 tentang bagaimana ia menemui sejumlah tokoh dalam rangka memuluskan upayanya masuk Partai Golkar (PG). Nama-nama tokoh itu disebutkan gamblang, bahkan ada nama yang jarang dikenal publik tapi ternyata berperan besar dan disebut IJP sebagai “tokoh yang mencari bibit-bibit politisi muda PG”. Apakah tidak ada kekuatiran -meski tidak ada yang buruk di sana- bahwa nama-nama yang dituliskan IJP di bukunya sebenarnya memang tak pernah mau dikenal publik?

Demikian pula di banyak bagian IJP memaparkan dengan cukup lugas bagaimana rivalitas terjadi di lapangan, terutama antar caleg. Meski bagi orang awam seperti saya terasa berarti, informasi ini riskan karena terkesan ‘menguak borok sendiri’ terutama bagi PG. Saya jadi bingung, mengapa terkesan IJP seperti ‘membocorkan’ langkah-langkahnya di dunia politik tanpa dikemas secara cantik. Ini memudahkan pihak lain untuk mempelajari dan tentu saja untuk kembali mengalahkan IJP dalam kesempatan lain.

Padahal, judul buku ini sudah cukup mencerminkan: “Memoar Tiga Kekalahan”. Mustinya, IJP bisa belajar sesuatu dari kekalahannya itu. Bukan cuma soal logistik atau keuangan semata, tapi sebenarnya juga soal strategi. Dan justru dengan buku ini IJP jelas ‘buka kartu’ tentang strateginya.

Buat saya, yang tidak berminat bersaing dengan IJP apalagi dalam wadah PG, membaca buku ini jelas memberikan tambahan pengetahuan dan wawasan.  Saya jadi mengetahui betapa dunia politik yang sesungguhnya memang keras. Adagium “tiada kawan yang abadi, yang abadi hanyalah kepentingan” terasa benar saat membaca buku ini.

Bagaimanapun, saya mengacungkan jempol kepada kawan lama saya ini yang kini sudah berhasil menjadi ’selebriti’ di dunia politik. Penerbitan buku ini makin mempertegas status sebagai ‘pendatang baru potensial’ di dunia politik. Meski ia jelas mempersingkat biografinya, termasuk meniadakan sejumlah nama kawan lama yang saya tahu dulu sempat berperan dalam hidupnya, itu tidak menurunkan nikmatnya membaca buku ini. Saya juga termasuk yang tidak disebut sama sekali dalam buku ini. Padahal, dalam dua paragraf kecil di buku ini setidaknya saya punya peranan.

Tapi tak apa, saya toh bisa menulis buku sendiri nanti. Sekarang, saya hendak mempelajari dulu bukunya, guna mengambil pelajaran dari kekalahan seorang IJP di panggung politik. Selamat Indra, bagaimanapun Indonesia membutuhkan pemikiranmu.

http://lifeschool.wordpress.com/2010/04/12/mengalir-meniti-ombak-memoar-kritis-tiga-kekalahan-resensi-buku/

© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com