Syamsudin Kadir: Mengalir Meniti Ombak
MENGALIR MENITI OMBAK
(Catatan atas buku MAMK: SHPP)
Oleh: Syamsudin Kadir
Beberapa waktu yang lalu, saya jalan-jalan ke Gramedia, Bandung Super Mall.[Biasa jadwal kunjungan pekanan]. Pada awalnya hanya ingin jalan-jalan, menghilangkan kepenatan setelah melaksanakan rutinitas yang sering saya anggap sebagai aktivitas "sok sibuk". [Saya juga terpenatkan karena setiap hari bertemu dengan "adik-adik"diskusi saya: Acep SM, Edi Mardiana dan Yodivalno Ikhlas.Penat, bukan karena mereka menjadi asap seperti asap kebakaran hutan di Kalimantan karena di bakar para penjahat hutan. Bukan juga seperti terpenatnya masyarakat Bandung melihat kemacetan Kota Bandung. Sama sekali bukan seperti itu. Yang membuat saya terkadang menjadi "penat" adalah karena diskusi dan obrolan mereka.
Diskusi yang mereka bangun terkadang seperti asap. "Terbang ke mana-mana." Karena mereka mendiskusikan berbagai macam hal. Benar-benar aneh. Obrolan tentang pulsa bisa berujung pada ide mengenai perlawanan terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai tak sejalan dengan nurani rakyat. Rakyat yang konon sudah dianggap saudara sekandung mereka. Obrolan seputar kuliah bisa berujung pada mimpi mengenai bagaimana menata rumah tangga, dan seterusnya.
Kadang humor yang dibangun juga sering membuat kader-kader KAMMI dari berbagai daerah dan kampus—ketika bertemu atau berdiskusi dengan mereka—jadi bingung.Bahkan mereka sering "ngerjain" siapapun yang datang berkunjung ke sekretariat [yang mereka sebut sebagai markaz intelektual gerakan] KAMMI yang konon sudah menjadi rumah mereka. Pokonya, benar-benar kebul seperti asap. Namun, dari mereka semualah saya mendapat banyak ilmu dan hikmah. Kalau pembaca bertemu dengan mereka jangan merasa luput dari aktivitas "dikerjain" mereka. Bahkan mereka sudah punya tradisi dan sebutan untuk yang baru-baru berkenalan dengan mereka: "Agenda Ospek" (Orientasi Pengkaderan) yang diplesetkan menjadi "Orientasi Pada Kerjain". Mungkin dengan cara begitulah mereka dan pendahulu mereka ketika meniti KAMMI dalam menggelindingkan gelombang gerakannya sehingga semakin dahsyat.]
Saat-saat bahagia itupun tiba. Di bagian tempat buku-buku baru saya menemukan sebuah buku yang dahsyat dalam berbagai hal. Dari diksi, metodologi sampaipesan-pesannya. Dia adalah buku Mengalir Meniti Ombak: Memoar Kritis Tiga Kekalahan. Buku setebal 568 halaman karya Indra Jaya Piliang yang diterbitkan oleh penerbit Ombak, Maret 2010 ini sangat luar biasa.
Singkat cerita, saya berkesimpulan bahwa tulisan-tulisan yang dibangun atas dasar kesadaran dan pengalaman jauh lebih dahsyat pengaruhnya terhadap diri penulis atau pembacanya daripada hanya kutipan-kutipan. Dan saya adalah salah satu korban. Benar-benar korban. Ketika saya bandingkan antara buku Bang Indra Jaya Piliang [murid pekanan Pa Mustafa Kamal, yang kini menjadi Anggota DPR RI] dengan buku Mengapa Aku Mencintai KAMMI ini sama. Saya tidak perlu menjelaskan kesamaan-kesamaan yang saya maksud, karena saya justru mengajak pembaca agar membeli [atau minimal membaca] kedua buku tersebut. Lebih lanjut, atas dasar itulah tulisan ini diberi judul Mengalir Meniti Ombak.
“Saya sadar kalau kehidupan intelektual dan aktivitas selama ini menjadi bagian yang melekat dalam diri saya, sehingga ikut terhanyut. Ke mana ombak pergi, ke sanalah saya menuju. Pikiran, kepribadian dan emosi juga turut terlibat secara penuh. Karena itu, saya harus menitinya, alias tentu mengambil jarak secara tepat, tanpa harus selalu mengikuti arus. Mengapa ombak? Karena ombak adalah aliran air yang dipengaruhi oleh angin. Ombak mengarahkan ke daratan, kalau kita di pinggir pantai. Sebaliknya, ombak mengarah ke perahu atau kapal yang kita tumpangi, ketika kita sedang berlayar. Ombak bagi saya adalah hidup itu sendiri, selalu bergolak dan bergejolak, sering berubah haluan, tetapi ia adalah petanda kehidupan. Ketika ombak tidak lagi ombak, maka kehidupan menjadi mati (Indra Jaya Piliang, 2010, Mengalir Meniti Ombak, Yogyakarta: Penerbit Ombak, halaman 1-2).
Saya percaya bahwa kader-kader KAMMI yang lain—sebagaimana penulis buku Mengapa Aku Mencintai KAMMI: Serpihan Hati Para Pejuang [MAMK: SHPP]—juga melalui dan merasakan hal yang sama.
Meniti Ombak, Membuat Gelombang
Duabelas tahun yang lalu, ketika roda sejarah sekali lagi dicatat dan dito¬rehkan oleh kam¬pus; dunia mahasiswa mengasah potensi dan kompetensi diri dan perjuangan. Medio Mei 1998, ketika semua elemen korektif bangsa ini mandul, aktivis kampus, tepatnya aktivis dakwah kampus mengambil alih perubahan.Hegemoni kekuasaan dan pengakaran tokoh yang kultural dan strukturalpun tumbang seketika. Bagi aktivis dakwah kampus, ini adalah peluang besar dalam upaya melangsungkan agenda perubahan yang dicita-citakan.
Semangat kebangkitan mengusung kata "reformasi" mengalir bagai banjir bandang. Semua eleman masyarakat latah menggaungkannya. Gebrakan itulah yang mengantarkan Indonesia kepada pergantian kepemimpinan beruntun. Paling tidak sampai hari ini kita semua melihat evolusi perubahannya. Keberhasilannya mengantarkan perubahan, dan menggerakkan kembali struktur berbangsa, jelas merupakan kerja yang sangat besar. Lalu, bagaimana kabar dakwah kampus saat ini? Apa obsesi kita untuk masa depan dakwah kampus?
Dakwah kampus adalah elemen yang tak terpisahkan dari elemen dakwah secara umum.Karena itu, menentukan peran strategis dakwah kampus saat ini dan ke depan tidak dapat dilepaskan dari posisi sejarah panjang harakah Islamiyah dalam berbagai dimensinya. Baik sebagai gerakan dakwah pemuda Islam/gerakan mahasiswa, gerakan kebangsaan maupun sebagai bagaian dari gerakan keumatan (global). Untuk itu, kaderisasi pengusung dakwah kampus idealnya tidak selalu dipahami sebagai regenerasi aktivis untuk satu atau dua periode dakwah kampus. Dakwah kampus sangat elegan jika dipahami sebagai ruang pengkaderan generasi untuk kecerahan masa depan umat, bangsa ini dan bahkan peradaban dunia.
KAMMI adalah bagian tak terpisahkan dari gerakan perubahan yang terlahir dari kampus; dengan berbagai macam cita-cita dan obesinya. Untuk itu, apapun yang menjadi cita-cita KAMMI idealnya merupakan akumulasi dari berbagai macam cita-cita elemen kampus. Atas dasar itu jugalah kompetensi strategis kader dan gerakannya mesti berorientasi jangka panjang dan dibentuk sejak dini. Saya kira, setiap elemen gerakan atau institusi apapun di kampus [khususnya yang berbentuk unit mahasiswa] juga layak untuk menunaikan hal yang sama.
Dalam menyukseskan dakwah kampus, terutama agar ia kembali menggelora dan mampu berperan aktif dalam agenda-agenda perubahan umat dan bangsa, banyak gagasan yang bisa ditunaikan. Secara pribadi saya memiliki banyak usulan, di antaranya kita mesti belajar dari pengalaman "saudara-saudara kita" yang telah melewati masa-masa itu. Mengenai hal ini, saya merasa penting dan perlu bagi kita untuk membaca [atau membedah] buku Mengapa Aku Mencintai KAMMI: Serpihan Hati Para Pejuang. Walaupun tidak selalu sempurna [apalagi judulnya terlalu segmentatif], namun justru di situlah letak keunikan dan kekhususan buku ini. Lebih dari segalanya, saya percaya bahwa buku ini mampu membawa kita ke dalam ruang dan suasana baru. Bukan saja informasi, tapi juga nilai-nilai luhur perjuangan.
Buku ini merupakan kumpulan tulisan 3 kader KAMMI yang memiliki "semangat yang sangat" dalam segala aspeknya. Pada awalnya hanya tulisan-tulisan, semacam "curhatan". Curhatan, semacam letupan emosi mereka terhadap berbagai fenomena ketika mereka aktif secara struktur di KAMMI. Memang tidak semua kejadian terrekam dalam tulisan-tulisan mereka, namun saya percaya bahwa buku yang berisi 3 bagian [bagian satu: Mengapa Aku Mencintai KAMMI, bagian dua: Bunga-bunga Haroki, dan bagian tiga: Mekar bersama Bunga Haroki KAMMI] ini bisa dianggap mewakili berbagai fenomena unik di KAMMI. Ada susah, senang, benci, suka, semangat, loyo, jujur, dusta, cinta, persaudaraan, persahabatan, serius, santai, tawa, canda, tangis, senyum, cemberut, lelah, letih, susah, senang dan berbagai macam hal yang boleh jadi tak semua orang mengalami hal yang sama.
Saya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari KAMMI merasa bahwa kader-kader KAMMI memiliki potensi besar. Selanjutnya, KAMMI juga sudah melawati sejarahnya sudah mamasuki dasawarsa kedua. Banyak hal yang bisa dilakukan, banyak fenomena yang terjadi dan serba-serbi keunikan yang tercipta. Masa lalu, masa kini bahkan masa depan adalah sejarah mengenai kerja-kerja besar yang pernah, sedang dan akan KAMMI torehkan. Banyak hal yang menjadi inspirasi, namun inspirator yang paling istimewa adalah inspirasi yang bersumber pada kerja-kerja nyata. Saya percaya ketiga penulis buku ini pernah, sedang dan akan terus menjadi inspirator dan boleh jadi akan terus terinspirasi oleh kader-kader KAMMI yang lain. Mungkin hari ini tak selalu menjadi saksi, namun masa depan adalah sejarah terbaik yang akan menceritakan semuanya tentang mereka, tentang kader-kader KAMMI dan tentang siapapun yang berpikir cerdas dan bergerak tuntas untuk masa depan Islam, Bangsa ini bahkan Peradaban dunia.
Pada awalnya hanya semangat, yah semangat untuk mendokumentasikan setiap kejadian di KAMMI dan momentum 12 tahun KAMMI [29 Maret 1998-29 Maret 2010].Namun, ternyata obsesi tersebut tidak cukup di situ. Bahkan yang utama adalah ingin membagi gagasan mengenai kesungguhan; mengenai bagaimana belajar bergerak dari sejarah dan pengalaman masa lalu serta upaya membangun budaya literasi. Di samping hal-hal lain yang mungkin belum terungkap secara tuntas. Atas dasar itu jugalah saya dengan tulus memfokuskan diri pada aspek-aspek sederhana: menceburkan diri dalam kolam ide dan fenomena KAMMI dan kader-kadernya; tepatnya budaya Membaca, Menulis dan Berdiskusi.
Mungkin ada orang yang menyebutnya sebagai pengamat, namun saya tidak merasa seperti itu. Karena saya lebih suka dan sangat bangga menyebut diri saya sebagai manusia biasa yang sedang belajar untuk membuat pelajaran kepada banyak orang mengenai kerja-kerja kecil. Itu saja. Kalaupun ada hal lain yang sempat terlontar, itu hanyalah selingan. Semacam penghibur ria di balik kepenatan yang terus menggoda. Dan itu sebuah warna yang membuat KAMMI menjadi asyik dan mengasyikkan banyak orang. Lebih dari itu, saya merasa bahwa saya memiliki tanggung jawab di KAMMI; sebuah organisasi di mana saya besar dan dibesarkan.
Pembaca mungkin sudah menunggu sambil bertanya, "apa isi dan pesan buku ini?"
Bahkan suatu ketika ada yang bertanya kepada saya, "Apakah tulisan-tulisan dalam buku ini benar-benar terjadi, atau semacam `novel' buatan yang seakan-akan fakta?" Seketika saya menjawab, "penulis buku ini sebenarnya adalah .... tapi tidak perlu dicantumkan di buku ini. Itu lebih bijak bagi mereka yang belajar bergerak dari ruang sunyi atas nama cinta dan keikhlasan. Sunyi dari ria, sunyi dari sombong; namun mereka sangat mencintai KAMMI, bangsa dan agama [Islam] ini.
Nama mereka tak perlu dipampang di mana-mana, karena boleh jadi nama mereka lebih dahulu telah tercatat oleh Malaikat dalam klasifikasi manusia tawadhu.Yang lebih penting bagi kader-kader KAMMI dan pembaca secara umum yang membaca buku ini adalah kemampuan mengambil pelajaran di balik semua penggalan kisah, pengalaman dan fakta di dalam kepingan tulisan-tulisan yang terdapat dalam buku ini. Itu sudah cukup. Lebih lanjut, yah beli saja bukunya."
Buku ini merupakan kumpulan tulisan Imron Rosyadi, Evi Fitria dan Aji Kurniawan Darmawan yang tersebar di berbagai milis, blog dan lembar-lembar berserakan.[Sebenarnya ada banyak perubahan; baik dari aspek penulisan, diksi maupun kontekstualisasi pesan. Walaupun ada beberapa tulisan yang tidak sempat diperbaiki]. Karena kemauan yang kuat dari beberapa pengurus KAMMI [tepatnya yang terlibat di Muda Cendekia] untuk membangun budaya literasi, akhirnya kumpulan tulisan inipun disepakati untuk dibukukan. Bagian satu berisi tentang respon seorang kader KAMMI atas fenomena KAMMI; baik secara internal maupun eksternal KAMMI. Hal ini dilakukan sebagai bukti setia dan cinta penulisnya kepada kader dan organisasi KAMMI. Pada dasarnya hanya "curhatan" atas fenomena yang terjadi ketika penulisnya aktif secara struktur di KAMMI. Benar-benar"curhatan".
Namun, karena pesannya sangat istimewa, maka adalah sebuah kemestian bagi generasi setelahnya untuk belajar dari pengalaman dan kisah-kisahnya. Tulisan yang berjudul Namaku KAMMI [hal. Xi-xxi] adalah cerita sederhana kelahiran dan perjalanan KAMMI. Kemudian tulisan yang berjudul Jatuh Cinta pada KAMMI yang kedua kalinya [hal. xxiii-xxvii] pada bagian awal secara umum bisa dianggap mewakili semua tulisan pada bagian satu. Walaupun begitu, isi tulisan dari judul-judul lain juga layak untuk dibaca. Sebab jika kita membaca satu-persatu, maka kita akan menemukan keunikan tersendiri. Ada Komunitas Anti dari Yogyakarta, Tentang Fitri, No Ikhwan No Cry, KAMMI Merah, Kurang Anjar-Dasar Grendeng!, Lelaki Yang Memilih Menikah Dengan Pena Dan Buku, Yang Jatuh Yang Meneguh-Yang Jatuh Yang Meluruh, Cerita Tentang Betis dan seterusnya.
Bagian dua berisi tentang fenomena menyejarah, dan juga fenomena paradoksal dalam ruang aktivitas dan gerakan kader-kader KAMMI. Dari bagaimana memimpikan dan merencanakan yang terbaik bagi gerakan KAMMI dalam segala aspeknya, sampai hal-hal yang secara manusiawi pasti ada dan terjadi. Boleh jadi di antara pembaca ada yang merasa "kok yang gitu aja ditulis", "kok tentang defisit saja ditulis", "tentang cinta saja diungkap", "tentang akhwat yang jomblo karena lama nikah saja ditulis" dan seterusnya. Tapi percayalah, begitulah cara KAMMI melampaui kenyataan, mengkritik fenomena, sehingga membuat kader-kadernya bisa bertahan; bisa melanjutkan peran-peran kontribusi dalam ruang yang lebih luas.Kesungguhan, persaudaraan, kesetiaan bahkan cinta yang dibangun dalam ruang gerakan mereka adalah benar-benar bahasa jiwa. Yang terrumuskan dari ruang keimanan.
Dan bagi saya itu adalah salah satu bukti bahwa mereka bergerak dalam kondisi kuat dan tegar. Mereka tidak memaknai terminologi yang sering diasosiasikan sebagai wejangan melankolik tersebut dalam pemaknaan yang kerdil, cemeng, cengeng, lemah dan serba kecil sebagaimana dipahami dan dimaknai oleh pemburu syahwat dan dunia yang serba palsu dan dungu. Tidak, sama sekali tidak. Karena mereka kuat dan benar-benar beda. Mereka tidak memburu uang seperti cerita kelam para koruptor yang tertawa terbahak-bahak dan sok gaya di depan rakyat setelah mendapatkan uang-uang rakyat untuk perut-perut mereka; koruptor-koruptor itu. Melankolik yang mereka pahami bukan seperti fenomen film yang kebanyakan membuat para penonton terburu-buru menjadi korban. Mereka sangat beda.
Adalah khalifah Abu Bakar Shidiq yang dengan bangganya menyatakan, "saya mencintai kalian karena Allah" menjadi inspirasi mereka. Mereka juga mungkin sudah terkena bumbu cinta Sang Nabi Muhamad tercinta ketika mengatakan, "Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian, sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri". Atau terprovokasi oleh riwayat yang menjelaskan bahwa "tidak sempurna keimanan seseorang mukmin jika tidak terbesit dalam dirinya untuk menata urusan publik", dan seterusnya. Jadi, jangan coba-coba menyamakan mereka dengan fenomena manusia pada umumnya.
Bagian tiga berisi tentang kritik, mimpi bahkan ide kader-kader KAMMI yang diwakili oleh penulisnya. Mengenai Trend KAMMI, Masa depan KAMMI, Karakter KAMMI, Fenomena Intelektualitas KAMMI bahkan bukti kesungguhan dan fenomena-fenomena yang konon membuat banyak orang menganggap KAMMI banyak titik "hitamnya", kaya berbagai "fitnah" dan lain-lain. Padahal tidak selalu sama dengan asumsi-asusmi itu. Sama sekali tidak. Walaupun ada, itu satu-dua; dan bukan semua kader KAMMI. Namanya juga belajar menjadi "orang", pasti ada salahnya. Apalagi yang ditata dan yang menata kader dan gerakan KAMMI adalah manusia-manusia juga. Bukan kumpulan Malaikat langit yang luput dari dosa dan durhaka. Ini bukan pembelaan, namun saya merasa perihatin dengan "sikap dan pendapat" orang-orang [yang konon banyak tahu padahal sok tahu] yang menstigmakan kepada kader-kader KAMMI.
Padahal mereka [kader-kader KAMMI] itu telah dan akan terus lelah menjaga stand pendaftaran anggota baru, cape merencanakan agenda, letih menjaga kader-kader [saudara-saudara mereka] yang sempat minta izin pergi. Mereka sudah mengorbankan segala yang mereka miliki untuk cita-cita besar; mereka telah merelakan harga diri mereka untuk dijual demi kebaikan Islam; mereka kadang tidak dianggap sebagai "kader" oleh "orang-orang" tertentu yang seakan-akan "orang-orang" itu sajalah yang memiliki saham besar untuk mendakwahkan agama ini. Saya menyaksikan dengan mata saya sendiri, kader-kader KAMMI yang sampai tak makan, sampai tak tidur, sampai dimaki-maki, difitnah, disisihkan, dianggap nyeleneh, dinilai melawan arus dan seterusnya. Lalu, apakah mata hati "orang-orang" itu tak terbuka melihat bahwa kebaikan sebagai kebaikan; bahwa KAMMI juga kumpulan manusia yang tentu memiliki potensi utnuk salah?
Selanjutnya, saya tak cukup waktu untuk menjelaskan semua isi buku ini. Apalagicmerangkai hikmah di balik pesan-pesan istimewa yang terdapat di dalamnya. Karena itu, sebelum dilanjutkan ke acara diskusi, saya mengusulkan agar pembaca membaca pengantar saya yang berjudul Karena Mereka Elang Muda dalam buku ini.
Lebih lanjut, beberapa gagasan berikut sepertinya sangat relevan untuk diadopsi atau paling tidak minimal menjadi gagasan awal diksusi dan diskusi awal.
Pertama, objektivikasi sistem dakwah kampus. Sistem dakwah kampus mesti mengadaptasi realitas dan impian jangka panjang untuk kampus, bangsa dan dunia Islam. Dan semua elemen aktivis mesti memahami dan terlibat dalam agenda ini.
Kedua, membuat momentum baru. Kalau tahun 1998, trendnya adalah reformasi, maka saat ini dan (minimal) 10 tahun ke depan dakwah kampus juga mesti mengusung trend baru. Apapun trendnya, yang mesti disiapkan adalah menjadwal kembali rencana-rencana strategis yang (memang) sudah dirumuskan, atau dalam bahasa sederhananya adalah memenuhi syarat-syaratnya. Di antaranya: memperkuat kembali basis massa di kampus sampai tingkat jurusan/program study; mengarahkan trend kebangsaan pada cita-cita bangsa dan negara yang Islami; mengkombinasikan ide-ide keislaman secara global dengan lokal keindonesiaan. Agar hal ini berjalan realistis, maka perlu penguatan jaringan sesama elemen gerakan mahasiswa terutama Islam, baik di level lokal (kampus, daerah, wilayah) nasional maupun di kancah internasional (global).
Ketiga, memantapkan struktur dan pemetaan SDM berbasis kompetensi. Pemetaan sumber daya sepertinya lebih elok jika direkayasa berdasarkan karakter jurusan atau program study aktivis. Artinya, tidak selalu berdasarkan "kebutuhan jangka pendek".
Keempat, membangun tradisi dan kultur khas aktivis dakwah kampus seperti membaca, menulis dan berdiskusi. Setiap aktivis mesti membangun tradisi dan kultur ini kapan dan di manapun. Melalui karya tulis (buletin, majalah, buku, blog) misalnya, bisa menjadi sarana penampung ide sekaligus penokohan aktivis dakwah kampus di tingkat publik. Selain itu, yang lebih penting lagi adalah membangun kultur "english and arobic language day". Hal ini akan membantu dakwah kampus semakin mempesona publik, minimal publik kampus.
Goal Setting Gelombang baru
Basis dari semua perge¬rakan dakwah (termasuk kampus) adalah kaderisasi dan pembinaan. Inilah kontek yang selalu menjadi acuan dalam semua implementasi dakwah di lapangan. Perdebatan tidak ada di sana. Perdebatan ada dalam perbedaan cara kita mencapai acuan tersebut. Pada titik inilah dibutuhkan kejelian dalam menggunakan sayap dakwah yang dijadikan gerbang utama rekrutimen "besar-besaran". Kita sama-sama menyadari besarnya potensi yang dimiliki kampus dalam proses kaderisasi. Apa yang sekarang sudah dilakukan pun masih menyi¬sakan market size yang sangat besar. Akan tetapi jangan sampai kebijakan lapangan justru membuat kita sulit mengambil market share yang besar dari market size yang tersedia.
Selanjutnya catatan kita juga diarahkan kepada kualitas produk yang dihasilkan oleh dakwah kampus. Pada masa sebelum era jamahiri, era keterbukaan (era reformasi) kita mentarget untuk melakukan nashrul fikroh (penyebaran pemahaman, isi dan pesan) kepada sebanyak mungkin publik. "Pokoknya bagaimana caranya supaya orang mengenal dakwah ini; mengenal Islam". Saat ini, faktor eksternal kampus mutlak menjadi catatan dalam mem¬format produk dakwah kampus. Pengalaman kita selama ini, mantan aktivis kampus [dari mana dan apapun jenis organisasnya] masih ada yang tidak memiliki peran produktif di masyarakat. Hal tersebut terjadi karena memang gerakan kampus belum secara produktif mengarahkan diri ke arah sana. Maka ke depan, dengan peluang yang tersedia, dengan keterbukaan dan popu¬laritas dakwah, target produk kampus mutlak diarah¬kan mengisi peluang tersebut.
Kita sama-sama sadari, proses kaderisasi dan regenerasi nasional di negara ini adalah salah satu problem akut yang kronis. Kita juga sama-sama sudah memahami kemandulan lingk and match lulusan kampus terhadap daya serap tenaga kerja. Maka gerakan-gerakan perubahan berbasis kampus harus mampu membidik dan mengarahkan pembinaan dan kaderisasi ke arah sana. Tentu saja hal tersebut menuntut perubahan strategi dan perluasan networking. Kita bicara hal ini, karena kita melihat peluang yang sekarang terbuka dan tersedia dari pergerakan dakwah secara umum.
Basis pengkaderan bahkan masing-masing gerakan sudah sejak beberapa tahun lalu mengangkat tema agenda perubahan pasca kampus atau kembali ke kampus, adalah sebuah tawaran untuk melihat konteks yang dibutuhkan oleh perubahan dari elemen pergerakan kampus ke depan. Bahwa pro¬duk dakwah kampus seharusnya adalah SDM yang disiapkan secara sistematis untuk mampu mengisi fungsi regenerasi kepemimpinan di negara ini. Lulus dan dikenal tidak hanya sebagai aktivis lapangan, melainkan dipersiapkan jalur¬nya untuk masuk ke dalam struktural kehidupan. Tawaran menarik adalah apa yang sekarang menjadi trend dalam pembinaan mahasiswa. Konsep pesantren mahasiswa yang diarahkan menyiapkan SDM unggul yang cakap adalah salah satu ide kreatif dan perbaikan dari produk dakwah kampus. Pesantren mahasiswa yang dimaksud tentu bukan sekedar menyiapkan kafa'ah syar'iyah produk dakwah kampus, melainkan (kalau memungkin¬kan) sampai kepada model mentor dan tutor dengan tokoh-¬tokoh struktural dan kultural yang memiliki peran dan pengaruh di masyarakat, dalam semua bidang.
Mengenal KAMMI
KAMMI dapat dipetakan dalam tiga dimensi gerakan, yakni sebagai gerakan mahasiswa (harakah thullabiyah), gerakan kebangsaan (harakah wathaniyah), dan gerakan keummatan (harakah Islamiyah).
Baik KAMMI sebagai gerakan mahasiswa, kebangsaan, maupun keummatan, pada hakikatnya perjuangan pergerakan KAMMI bersifat terpadu (integral), tidak diartikan secara terpisah (secular). Begitu pula gerakan KAMMI tidak bisa dilihat dari sisi ke-KAMMI-annya saja. KAMMI perlu menempatkan diri sebagai bagian inheren dari arus besar anasir perubahan, baik ia sebagai gerakan mahasiswa, kebangsaan, maupun keummatan. Jadi di sini publik mesti memahami KAMMI bahkan kader-kader KAMMI sendiri harus menyadari bahwa sejarah gerakannya adalah bagian dari kelanjutan sejarah gerakan mahasiswa, gerakan kebangsaan, dan gerakan keummatan.
Penutup
Tentu, keseluruhan tanggung jawab atas tulisan ini berada di tangan saya. Saya berharap, buku Mengapa Aku Mencintai KAMMI: Serpihan Hati Para Pejuang [termasuk tulisan] ini mampu menindaklanjuti aliran-aliran ombak pikiran kader-kader KAMMI [bahkan generasi muda bangsa ini]. Tulisan ini lahir di sela-sela deburan ombak putih saya dalam gerakan KAMMI yang menggapai pantai-pantai kehidupan baru. Dari satu dermaga keangkuhan menuju dermaga ketulusan; yah menuju kehidupan baru dan serba baru. Karena bagi saya, 12 tahun KAMMI adalah momentum besar bagi saya [bahkan juga bagi kader-kader KAMMI] untuk menata secara matang pribadi-pribadinya; menjadwal ulang rencana-rencana gerakannya. Bahwa apa yang telah dilakukan beberapa waktu yang lalu belumlah seberapa.
Jujur, KAMMI belum melakukan apa-apa jika dibandingkan dengan generasi tua [para sahabat nabi, ulama] dan para pahlawan. Jangankan untuk Islam sebagai dien atau Indonesia sebagai negara di mana KAMMI dilahirkan; KAMMI pun belum mampu melakukan semua hal yang terbaik bagi kader dan gerakan KAMMI sendiri. Karena KAMMI sadar bahwa di atas keideal cita-cita dan mimpi, ada realitas yang selalu mengahdang dan akan terus melawan. Karena itu, KAMMI merasa bahwa mimpi-mimpi KAMMI mestidijelaskan secara terbuka kepada semua elemen bangsa, bahwa yang KAMMI inginkan adalah kebaikan agama ini dan kebangkitan bangsa ini. KAMMI rindu saudara-saudara KAMMI yang belum "menikmati nikmatnya hidup dalam naungan Islam itu sangat indah" bisa merasakan hal yang sama.
Walau KAMMI sadar bahwa di sela-sela aktivitas KAMMI [kader-kader KAMMI] pasti terjumpai berbagai macam salah dan kesal. Ini bukan pembelaan tanpa alasan. Namun demikian, saya tentu berhak berkata jujur dan benar. Di atas semua itu sebenarnya kader-kader KAMMI sangat mencintai siapapun saudara-saudara seiman dan seperjuangan, apapun organisasinya dan di manapun mereka beraktivitas. Kader-kader KAMMI juga sangat mencintai bangsa Indonesia, negara di mana KAMMI lahir dan besar. Lebih dari itu, kader-kader KAMMI sangat mencintai rakyat dan para pemimpin negeri ini;terutama agar mereka paham dan mengerti tentang hak dan kewajiban-kewajiban mereka. Makanya kader-kader KAMMI sering melakukan protes, intrupsi dan kritik politis atas berbagai fenomena yang KAMMI nilai tak wajar dan tak adil.
Selanjutnya, kader-kader KAMMI mencoba belajar untuk mencintai KAMMI yang tentu tidak melebihi cinta kader-kader KAMMI kepada Allah dan Rasul-Nya, namun—lebih tepat—tetap dalam kontek itu. Semoga! []
Gang Sayyid Qutbh, Jl. Ahmad Yani No. 873 Kota Bandung Senin/12 April 2010, Pukul 04.45 – 10.30 WIB
Catatan:
Ini adalah tulisan saya untuk peserta pada acara bedah buku Mengapa Aku Mencintai KAMMI: Serpihan Hati Para Pejuang pada Senin/12 April 2010 di Kampus Universitas Pasundan Kota Bandung-Jawa Barat. Pembedah: Syamsudin Kadir (Editor Muda Cendekia) dan Pembanding: Idral (Ketua KAMMI Daerah Riau Periode 2008-2010)
-
Revisi tulisan ini bisa dibaca di: http://akarsejarah.wordpress.com/2010/06/16/mengalir-meniti-ombak-2/
Cp: 085 220 910 532
Posted by Syamsudin Kadir on August 3rd, 2010, 01:03:11 AM -
Semoga penglaman haru dan gagasan cerdas Bang Indra Jaya Piliang bermanfaat untuk kita semua. Jujur, walau saya di KAMMI, saya terinspirasi oleh Bang Indra [minimal melalui bukunya Mengalir Meniti Ombak yang sangat dahsyat; kaya pesan, diksi yang renyah dan pokoknya luar biasa. Salam kenal untuk semuanya; untuk Islam dan masa depan rakyat Indonesia.
Cp. saya: 085 320 230 299
Posted by Syamsudin Kadir on April 21st, 2010, 04:33:37 PM -
Mantap bukunya. sukses slalu bwt kawan2 smua.
Posted by Adiyasa Norman on April 20th, 2010, 05:13:07 PM -
thanx buat info terbarunya..
jd pengen punya dewe buku tsb..
salam kenal kang.....
Posted by tommy on April 20th, 2010, 05:07:06 PM