Kepada Nagabonar
Kepada Nagabonar
Oleh
Indra J Piliang
Ah, sudah kubilang, jadilah kau Presiden, Bonar.
Presiden Jadi-jadian juga tidak apa-apa.
Presiden Bayangan juga tidak apa-apa.
Pokoknya: Presiden.
Apa jawabanmu?
"Aku hanya punya satu dasi, itupun sudah dijual ke tukang loak.
Bagaimana pulak aku bisa jadi Presiden?"
Bonar, Bonar.
Apa hubungannya Presiden dengan dasi itu?
Kenapa pulak kau sebut tukang loak itu?
Tapi tak apalah, mudah-mudahan kau benar, Bonar.
Tapi bukan aku kalau aku mau menyerah.
Kubilang lagi: Jadilah kau Presiden.
Terserah Presiden Direktur,
Presiden Partai,
Presiden Petani,
Presiden Taksi
atau
Presiden Pengemis di negeri ini.
Nah, mati kau!
Kulihat wajahmu berbinar, Bonar.
"Alah, mana bisa Presiden tanpa rakyat.
Rakyat tanpa Presiden bisa melakukan apa saja.
Tapi Presiden tanpa rakyat?
Tidaklah. Kau sajalah!"
Jawabmu pula, sambil nelangsa, seolah bijaksana.
Busyet...!
Bonar, Bonar.
Kali ini kau tetap benar.
Apa kau telah makan minyak tangkur buaya dari Tarutung sana?
Kirimilah aku satu sendok saja, agar lemas ketegangan di otakku ini.
Tapi bukan aku namaku, karena pasti adalah kamu, dia, kalian, bukan?
Kubuka lagi buku-buku primbon,
kudatangi pusara Datuk Panglima Elang,
kupanjati pohon dedemit di pinggir hutan jati itu.
Kucari akal, agar kau mau jadi Presiden.
Nah, kukatakan lagi kepadamu, Bonar:
Nih, sekepal tanah dari kuburan moyangmu,
sebilah belati patah yang kutemukan di dasar sungai Cisadane,
serta sobekan kain tujuh rupa peninggalan patih Gajah Mada.
Jadilah Presiden!
"Apa? Apa aku mau kau jadikan sebagai Presiden orang mati? Presiden itu untuk orang hidup, tahu!"
Ndilalah, ndilalah!
Habislah akalku, Bonar.
Kali ini kau lagi-lagi benar, Bonar.
Kaupun mendengkur, di dekat kandang ayam.
Tinggal aku yang nanar menatap ke langit hitam.
Titik-titik bintang terlihat muram.
Tak sanggup mengirim cahaya ke bumi ini.
Warna bulan menjadi pudar.
Dan tiba-tiba, tiga ekor naga muncul dari sudut malam.
Matanya merah,
hidungnya merah,
sungutnya merah,
nafasnya merah!
Aku berteriak:
"Bonar, ada naga! Ada naga! Ada naga!"
Aku tergoncang.
Byur!
Air bau pete dan jengkol mendarat di kepalaku.
Ah, mimpi buruk.
Dan kau memegang ember sambil terkekeh:
"Kalau si Bonar jadi Naga, baru itu Presiden.
Tapi kalau si Bonar jadi Presiden, kau hanya akan berputar-putar saja dengan igauan dan logikamu yang tidak kumengerti itu. Hahahaha!"
Batavia, setelah "pidato Century & KPK itu", 23 November 2009.