Lari (Lancelot dan Kuda Putih)
Lari
: Lancelot dan Kuda Putih
Kemana kau akan lari, wahai kuda putih?
Setelah sekian pertempuran kau menangkan.
Bersama satu ksatria, menembus hujan dan badai, merenangi sungai, menatap langit biru, menata api unggun pada punggung malam.
Kau sudah tunjukkan kekuatanmu, kesetiaanmu, hanya pada ksatria itu.
Kau juga bukan piala yang hendak diperebutkan di kalangan para ksatria lain.
Ksatria itu tahu, kau lahir untuknya, sebagaimana kau juga tahu itu: ksatria itu lahir untukmu.
Sungguh, kau tidak akan bisa lari, menembus waktu, menebus dosa.
Kau tidak melakukan kesalahan, hanya kelengahan sesaat. Kealfaan akan mimpi masa lalu itu bukan kesalahan besar. Walau, ada yang kau sakiti, itupun tidak meninggalkan luka menganga.
Ksatria itu memang sedang ada dalam perang-perang terakhirnya. Ia berkali-kali mengasah pedang, berkali-kali juga kalah. Ia kehilangan semangat bertempurnya, bukan karena kau terlihat lelah, tetapi lebih karena pesona perang tidak lagi membuat ksatria itu terperangah.
Ksatria itu tahu, pertempuran tidak harus dimenangkan, tetapi perang wajib dihentikan. Ya, terlalu banyak korban bergelimpangan oleh perang tak berkeadaban itu. Kalah perang jelas jauh dari filosofi ksatria itu. Tapi ia harus berhenti, demi sebuah hari yang tenang.
Kau tahu, ada satu ratu yang bersama ksatria itu ikut mengisi punggung hangatmu. Kaupun ratu yang berpenciuman tajam atas bahaya. Berperasaan halus bak desau angin. Kibasan ekormu, ringkik suaramu, jejak kakimu, memberi peringatan atau tanda akan perasaanmu.
Di negeri ini, kau adalah kencana pada fitri. Kau juga cahaya yang memberi terang pada gelap nurani.
Kemana kau akan lari, wahai kuda putih? Ksatria itu akan jadi manusia malang tanpamu. Tidak mungkin ia menerima kuda-kuda lain, walau ia adalah raja menurutmu. Ia bukan raja tanpa kesetiaan. Kalau ia kehilangan kesetiaannya, maka ia bukan raja, apalagi ksatria.
Pada tatap mata ksatria itu, terhampar padang rumput luas penuh bunga. Kau, dan anak-anakmu, berlarian menembus horizon tak berbatas. Kalian mengisi hidup penuh welas asih. Menjadi satu keluarga. Membela kaum lemah. Mendekap para fakir. Menera huruf pada kertas putih.
Kembalilah, wahai kuda putih. Ksatria itu terus murung dan termenung di bukit karang itu, menatap seluruh benua, menyigi galaksi, mencarimu..
Jakarta, 5 November 2007