Terbanglah, Pak Hadi...
Terbanglah, Pak Hadi...
Oleh
Indra Jaya Piliang
Mantan Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS)
Hadi Soesastro PhD, setelah lebih dari sepuluh hari koma di rumah sakit, meninggal dunia tanggal 4 Mei 2010. Nama lengkapnya adalah Marwoto Hadi Soesastro. Beliau lahir di Malang, Jawa Timur, pada tanggal 30 April 1945. Sebuah acara di gereja dilakukan oleh kolega-kolega dekat Pak Hadi memeriahkan ulang tahunnya yang ke 65. Empat hari setelah itu, Pak Hadi pergi selama-lamanya.
Saya diterima di CSIS pada tanggal 1 Desember 2000. Sebelumnya, saya bekerja sebagai staf rumah tangga di sebuah apartemen di Jakarta. Beberapa kali menulis artikel, CSIS rupanya tertarik menguji talenta itu. Direktur Eksekutif CSIS kala itu sampai 2008 adalah Pak Hadi. Tanggal 1 Januari 2009 saya resmi mundur dari CSIS dan Pak Hadi digantikan oleh Rizal Sukma PhD.
Keahlian terbesar Pak Hadi adalah mendengar dan bertanya. Gosip-gosip apapun dia dengarkan sambil tersenyum. Kalau bertanya pada saya, pastilah terkait dengan peristiwa-peristiwa politik atau berkaitan dengan aktivitas masyarakat sipil. Kalau dibaca dari karya-karyanya, Pak Hadi bergerak ke banyak isu strategis, sekalipun lewat major ekonomi. Dalam hal ilmu pengetahuan, Pak Hadi memiliki pengetahuan yang luas, sekaligus dalam, runut, logis dan detil. Dalam hal pertemanan, Pak Hadi menerima informasi tangan pertama dari hampir semua pengambil kebijakan dan sekaligus pengkritisinya, baik di dalam maupun di luar negeri.
Kalau ada julukan terhadap Pak Harto sebagai The Smiling General, maka Pak Hadi adalah The Smiling Scholar. Wajahnya selalu tersenyum, berikut lesung pipinya dan sikapnya yang lembut. Pak Hadi punya kolega dimana-mana di seluruh dunia, terutama di kalangan universitas dan diplomat. Siapapun ilmuwan internasional atau diplomat baru yang datang ke Indonesia, bisa dipastikan menemuinya. Di ruangan fax di lantai tiga Gedung CSIS lama, saya melihat kotak surat atau fax untuk Pak Hadi selalu penuh.
Sebagai scholar atau ilmuwan, Pak Hadi terlalu hangat. Sebaliknya, kalau disebut sebagai diplomat, Pak Hadi terlalu dingin. Dia bisa mengambil jarak pada setiap pembicaraan, lalu memberikan argumentasi yang jernih. Jarang Pak Hadi muncul dalam semangat yang berapi-api, tetapi tentu melontarkan kalimat tajam kalau ada hal atau peristiwa diluar yang mengganggu pikirannya.
Selama delapan tahun di CSIS, boleh dikatakan hanya ada puluhan kali pertemuan saya dengan Pak Hadi. Yang bersifat pertemuan berdua, tidak sampai sepuluh jari jumlahnya. Sebagian besar menyangkut kegiatan internal di CSIS, editor untuk buku, laporan analisa politik bulanan, atau ketemu di meja makan siang di lantai 6. Terakhir kali saya bertemu Pak Hadi adalah ketika memutuskan mundur dari CSIS, lalu aktif di partai politik. Pak Hadi lebih banyak bicara soal masa depan saya nanti, setelah keluar dari CSIS.
Pekerjaan “besar” yang pernah saya lakukan bersama Pak Hadi adalah menjadi editor sebuah buku yang diberi judul “Merumuskan Kembali Kebangsaan Indonesia” (lihat: http://www.csis.or.id/publications_book_view.asp?id=3&tab=0) yang diterbitkan pada tahun 2002. Pak Hadi menjadi editor untuk bidang ekonomi, Edy Prasetyono untuk bidang hubungan luar negeri dan pertahanan, serta saya untuk bidang politik dan perubahan sosial.
Setelah itu, saya berkomunikasi secara bulanan lewat email – melalui Mas Ismanto --, untuk memberikan laporan dalam bahasa Indonesia. Pak Hadi menerjemahkan kedalam bahasa Inggris, setelah Ari Perdana dan Philips Jusario Vermonte sekolah ke luar negeri.
Untuk laporan bulanan itu, Pak Hadi memberikan tips: “Bayangkan kalau laporan ini bisa dibaca hanya dalam lima menit, lalu siapapun yang membacanya paham dan bisa mengambil kebijakan.” Biasanya, saya dan Mas Ismanto hanya menganalisa tiga-empat peristiwa, kecuali Pak Hadi meminta melaporkan peristiwa lain. Dan saya selalu tercengang dan puas setiap kali laporan dua halaman itu ditulis ulang Pak Hadi menjadi satu atau dua paragraf dalam bahasa Inggris yang jernih.
Sebaliknya, ketika suatu hari seorang komisaris besar Badan Intelijen Kepolisian (BIK) menemui saya di CSIS, lalu meminta saya memberikan laporan analisa keamanan, Pak Hadi menolaknya.
“Mereka tidak akan paham hanya dengan membaca. Kalau mereka mau, silakan datang ke sini, lalu berdiskusi dengan para staf peneliti,” kata Pak Hadi.
Pak Hadi tidak pernah ribut untuk apapun yang saya tulis di koran. Tulisan saya untuk Jurnal Analisis CSIS atau laporan bulanan menyangkut peristiwa politik dan perubahan sosial lebih padat data, sementara gaya penulisan saya di koran berbeda. Nuansa sastra sengaja saya lekatkan, sekaligus juga beberapa perbandingan dengan masa lalu (sejarah). Pak Hadi baru berkomentar atas komentar saya dalam bentuk wawancara di koran dan menanyakan detilnya. Koran memang memiliki agenda setting dan framing sendiri, serta tentu keterbatasan halaman dalam melaporkan hasil wawancara untuk seseorang.
Sebagai keluarga besar CSIS, Pak Hadi meminjamkan uang kepada saya ketika menikah tahun 2002 yang saya angsur lewat potongan gaji. Pak Hadi memerhatikan betul sekolah para staf di CSIS, tetapi Pak Hadi tahu bahwa saya tidak pernah berusaha atau berniat sekolah di luar negeri. Maka, ketika kembali sekolah di Universitas Indonesia, saya tidak meminta bantuan pendanaan dari CSIS. Saya merasa, sekolah adalah urusan saya, bukan urusan CSIS.
Pernah sekali saya mengajukan anggaran untuk menghadiri sebuah konferensi ilmu antropologi di Denpasar, Bali. Saya membawakan makalah. Itulah pertama kalinya saya ke Bali. Pak Hadi meminta bagian keuangan untuk membayarkan tiket dan akomodasi saya di hotel yang murah. Setelah itu, dalam banyak kepergian lain ke seluruh Indonesia, saya tidak lagi membebani CSIS.
Begitupula perjalanan saya ke luar negeri, tidak pernah sama sekali menggunakan biaya CSIS. Paling-paling saya mengajukan ijin kepada Pak Hadi lewat Mas Rizal Sukma dan Mas Tommi Legowo. Maka, Pak Hadi kaget ketika berpapasan di area transit Kuala Lumpur International Airport (KLIA) dalam perjalanan saya ke Thailand Selatan. Kami sedang duduk-duduk memesan makanan menunggu keberangkatan.
Pak Hadi memang banyak terbang kemana-mana ke luar negeri. Selain konferensi, mengajar, seminar, ataupun menghadiri acara kawan-kawannya, pada beberapa perjalanan terakhir tentulah berobat untuk kanker yang dia derita.
Isu yang paling hangat menjelang kepergian Pak Hadi selamanya sekarang adalah sarapan pagi dengan Presiden SBY di sebuah hotel di Amerika Serikat, ketika kebijakan bail-out Bank Century dilakukan di kantor Departemen Keuangan RI oleh Prof Dr Boediono dan Dr Sri Mulyani Indrawati. Christianto Wibisono yang melaporkan acara sarapan pagi itu di sebuah kolomnya di media. Saya juga membaca artikel Pak Hadi di sebuah koran, dalam bentuk kritisismenya menyangkut kerja politisi di Senayan.
Pak Hadi memang membela kebijakan bail-out, sebagaimana banyak teman ekonom saya di CSIS. Tetapi, seingat dan sepengetahuan saya, Pak Hadi melakukan itu berdasarkan nalar yang objektif dan logika yang matang. Pak Hadi bukanlah sosok politis dalam ukuran apapun. Pak Hadi juga bukan orang yang bisa membela kolega dekatnya, tanpa alasan.
Kini, Pak Hadi sudah terbang selama-lamanya. Rencananya, pada hari Kamis nanti jenazah Pak Hadi akan dikremasi di sebuah tempat. Saya tidak tahu, apakah keluarganya akan melepaskan abu jenazahnya itu di banyak titik dalam hidupnya, ataukah menyimpannya. Apapun itu, jelas Pak Hadi bukanlah abu. Pak Hadi adalah pelangi yang memberi warna kepada banyak pemikiran di bidang ekonomi, hubungan internasional, budaya, sampai masalah-masalah masyarakat sipil, politik, pertahanan dan hak-hak perempuan. Sebagai pelangi, Pak Hadi memberi warna yang indah kepada tempatnya mengajar – terutama FEUI --, beragam kampus, institusi CSIS yang dihuninya sejak tahun 1971, sampai ratusan atau mungkin ribuan buku, jurnal, artikel dan bahan-bahan kuliah.
Selamat terbang Pak Hadi...
Jakarta, 04 Mei 2010