Wali Nanggroe....
Wali Nanggroe:
Utk Muhammad Hasan di Tiro
Oleh
Indra J Piliang
Sehari setelah sertifikat WNI itu datang
Engkau kembali ke pangkuan Illahi
Selamat jalan, Wali Nanggroe
4 Desember 1976
Di atas sebuah bukit
Kau kumandangkan perlawanan
Bersama guru-guru mengaji dari meunasah-meunasah
Hikayat Perang Sabil berdendang di pangkuan ibu-ibu yang menidurkan bayinya
Dengan korban, tentu. Apa saja yang bisa disebut. Apa saja yang bisa ditulis.
Korban yang tak kau harapkan, ketika Jakarta bisu dan pekak
Ketika marsoses-marsose baru bergerak ke gampong-gampong nan jauh
“Ini bouraq-singa, bukan garuda. Ini Darussalam, bukan Hindunesia!”
Ya, patut kita ingat kata-kata itu.
Kata-kata yang kau kubur dengan Nota Kesepahaman Helsinki
Jenewa tempatnya, 15 Agustus 2005 tanggalnya
Dalam aksara Inggris dan Indonesia, bukan lagi aksara Arab Melayu.
Wali, kau telah ajarkan tentang keteguhan
Tetapi juga tentang akhir dari sebuah keteguhan
Tentu, anak-anak muda di sekitarmu ingin terus berjuang, berperang
Sampai ke Libya mereka menguji nyali, mengolah raga, menggosok senjata
Dalam usia sepuh itu, kau berikan hatimu pada perdamaian
Damai yang indah. Damai yang tidak lagi serakah.
Kini, merah-putih telah membalutmu
Bintang dan Bulan Sabit tersimpan dalam rimba-belantara
Senjata-senjata digergaji
Kami, di negeri Kertagama ini
Dan turunan dari ribuan perang di masa lalu
Hanya bisa berharap dengan cemas: perdamaian itu abadi
Seabadi namamu, seabadi perjuanganmu
Dan bagimu Jakarta, hilangkan keangkuhan itu!
Jangan lagi kirim ekspedisi Kartanegara ala Singosari
Buang itu ambisi Gajah Mada di Padjajaran
Campakkan marsose-marsose ganas sewaan dari tanah India
Kami mengawasi, dengan mata tak berkedip, setiap gerak bibirmu: Jakarta!
Bersama Wali Nanggroe, kami abadikan perdamaian...
Selamat jalan, Wali...
Jakarta, 3 Juni 2010