Dera

Selasa, 20 Juli 2010

Dera
Oleh
Indra J Piliang

Tengah malam. Lelana kembali terbangun. Tak ada guruh dan rintik hujan. Musim kemarau terlalu panjang tahun ini. Namun, udara dingin.

Debur ombak terdengar sayup. Lelana membuka pintu. Sebatang rokok menyelip di bibirnya. Asap beracun mengepul, ketika hisapan demi hisapan mengembang-kempiskan pipinya.

Langit penuh bintang. Angin seakan mati. Nun jauh di tengah, petromak-petromak nelayan menyigi kegelapan. Langit tanpa bulan biasanya memberi rejezi kepada setiap nelayan.

“Sebagai kenalan. Atau teman. Saling menghormati dan menghargai.”

Kata-kata yang dingin. Lelana baru menerimanya sore tadi, pukul 17.45. Kata-kata yang tidak dikenalnya justru datang dari seseorang yang begitu dikenalnya. Kalila. Itu nama pengirim kata-kata itu.

***

Sebuah pasar. Empat tahun lalu. Musim hujan.
Di pasar tradisional di pedalaman Kalimantan itu, hampir semua orang saling kenal. Lelana datang sebagai peneliti orang-orang hutan yang semakin hilang. Hutan Kalimantan yang hijau, kini kian menggurun. Rawa-rawa kehabisan unsur-unsur penyangga kelangsungan hidup planet ini.

“Berapa harga sesisir pisang ini, Bu?”
“Cukup duaribu lima ratus rupiah, Mas!”
“Kalau begitu, saya ambil dua sisir.”

Lelana mengambil dompetnya, lalu menyerahkan uang sepuluh ribu ke ibu itu. Ibu dari suku Dayak itu melihat sebentar, lalu berteriak.

“Kalila, tolong ambilkan kembalian. Lima ribu rupiah!”

Dari arah dapur warung kecil itu, seorang perempuan berparas ayu datang. Lelana memperhatikan. Perempuan itu menunduk. Sekilas, perempuan itu seakan hanya robot yang berjalan kearahnya.

Tangan mereka bersentuhan. Lelana seperti tersengat arus listrik. Sedikit. Tapi terasa. Tangan itu tentu berbeda dengan tangan seekor orang hutan yang sering dipegangnya. Kalaupun terasa lebih lembut, tangan itupun tidak sedingin tangan seekor bayi orang hutan yang ditinggal ibunya yang mati kena asap.

Ketika meninggalkan warung itu, Lelana sempat membalikkan badan. Hm, perempuan bernama Kalila itu tak terlihat. Dia masuk kembali kearah dapur.

Setiap kali pisang-pisang itu disuapkan Lelana ke mulut seekor bayi orang hutan di campnya yang sederhana itu, Lelana mengingat Kalila. Setiap kali dibayangkannya sengatan listrik itu, Lelana mengusap lembut tangan mungil si bayi orang hutan.

Untuk ukuran Kalimantan, hari pasar hanya sekali seminggu. Dan hari pasar bagi Lelana bukan lagi sekadar mencari kebutuhan camp-nya, tapi juga bertemu ibu dan anak perempuannya. Sekali dua kali tidak sempat ketemu, tetapi banyak sekali pertemuan yang ada. Tatapan dingin berubah hangat. Ketertundukan berubah menjadi tengadah. Gigi-gigi yang rapi ketika senyum.

Sampai bulan keenam  Lelana harus pergi. Camp-nya terbakar. Rupanya, para pembalak tidak menyukai. Pulang dari tempat mandi di pinggir Sungai Kahayan, Lelana menemukan bekas bensin. Api menggulung pondoknya. Sejumlah dokumen hilang. Lelana berteriak sekeras-kerasnya. Dia pergi keluar Kalimantan.

***

Ruang kerja redaksi Archipel. Majalah lingkungan dan petualangan. Lelana sibuk memperhatikan foto-foto yang masuk. Beberapa naskah juga diletakkan di mejanya. Sebagai redaktur eksekutif, Lelana memastikan setiap naskah yang masuk di majalahnya mesti mengandung satu unsur: keunikan. Unik dari sisi belum pernah dia baca dan ketahui.

Tiba-tiba, matanya tertumbuk pada sebuah artikel dan foto orang-orang hutan.

“Sungai Kahayan ber-orang hutan lagi!”

Judul yang menyentaknya. Dia lahap artikel itu. Organisasi WWF ternyata punya kantor baru di tengah hutan Kalimantan. Orang-orang hutan mendapatkan tempat yang baik di sebuah taman yang luas di pinggir sungai. Ada juga tempat khusus bagi para wisatawan yang datang, yakni dari atas kapal.

Sesosok perempuan terlihat sedang menyuapkan sebuah pisang pada bayi orang hutan. Rambut yang legam. Kulit yang putih. Tidak begitu jelas keseluruhan wajahnya. Gelang terbuat dari batu-batu melingkari tangan kiri perempuan itu. Anting-antingnya juga batu.

Di balik foto itu ada keterangan: Kalila, penulis artikel, bersama Lelana sang bayi orang hutan.

Lelana terkesiap. Segera ditekannya angka-angka telepon seluler yang terdapat di artikel itu. Suara halus menjawabnya.

“Hi, Kalila. Apa kabar?”
“Hallo, kabar baik. Ini siapa?”
“Ayah bayi orang hutan itu.”
“Maksudnya?”
“Nama saya sama dengan bayi itu. Kebetulan sekarang bekerja di Archipel, Jakarta..”
Lama tak terdengar suara. Handphone seperti diletakkan begitu saja. Lelana berteriak teriak.
“Iya... Maaf. Saya kaget saja.”
Suara itu menyahut juga.
“Tidak apa-apa. Bagaimana bayiku? Terima kasih Kalila menjaganya dengan baik.”

Kalila bercerita singkat. Dia melamar pekerjaan di WWF, setelah ibunya tiada. Dengan tetua-tetua Dayak, dia mencapai kesepakatan untuk melestarikan hutan dan orang hutan.
“Tak ada Dayak, bila tak ada hutan dan orang hutan!” Begitu moto yang dia kembangkan. Jadilah, camp yang dulu terbakar dibangun kembali.

Lelana tentu tak ingin kehilangan berita besar itu. Keesokan paginya, setelah dipastikan pemuatan artikel Kalila dan seluruh bahan edisi Archipel bulan itu, Lelana berangkat. Dia menuju Palangkaraya.

Kalila menjemputnya di bandara. Di perjalanan, mereka bercerita seperti dua orang yang sudah kenal lama. Lelana disediakan sebuah kamar di rumah pohon dekat camp orang hutan. Sepanjang petang itu, keduanya sibuk melihat-lihat area camp. Makan malam terdiri dari sayur-sayuran hutan, ikan patin, ikan papuyu dan udang sungai.

Pukul sembilan malam, Kalila pamit.
“Saya mengurus dua anakku. Rumah kami dekat pinggiran kota. Kamu ditemani oleh teman-teman WWF di sini!”

Itu saja kata-kata yang keluar. Lelana terpaku. Patuh. Sepanjang malam dia tak tidur. Keesokan pagi, Kalila datang membawa sarapan: lontong sayur. Suasana hati Lelana berubah dingin. Udara membeku. Nyanyian burung-burung enggang tak lagi indah di telinga.

Keesokan paginya lagi, Lelana kembali ke Jakarta. Pikirannya kosong. Hampir tak ia dengar ketika putri ciliknya memanggil “Ayah” ketika menjemput di bandara.

***

“Mas, tidak tidur lagi?”
Seseorang sudah berdiri di belakang Lelana. Kehati, istrinya.
“Sebentar lagi, sayang. Lagi nyari ilham” jawab Lelana, sambil menggenggam tangan istrinya.  
“Jangan lupa mengunci pintunya, ya. Kalau ilhamnya nggak ketemu, pasti ada tersimpan di balik selimut kita!” kata Kehati, sambil memanyunkan bibirnya. Genit. Lelana mengecupnya, lembut.

Sambil menghabiskan sebatang rokok lagi, Lelana berjalan ke arah pantai. Deru ombak kian jelas. Deru yang mendera. Ombak yang dikenalnya sejak kecil. Ombak yang menjadi sahabatnya. Ombak yang sangat ia hormati.

Jakarta, 19 Juli 2010.
 

© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com