Mentawai dan Marzuki Alie

Mentawai dan Marzuki Alie
Senin, 1 November 2010
Sumber : Kompas, 01 November 2010

oleh

Indra J Piliang 

KOMPAS.com — Mentawai adalah kabupaten kepulauan paling barat di Republik Indonesia. Kabupaten ini langsung berhadapan dengan laut luas: Samudra Hindia. Selama Indonesia berdiri, Mentawai hanya bagian dari masyarakat yang dianggap memiliki peradaban rendah.

Belakangan, Mentawai dikenal sebagai tujuan wisatawan mancanegara, terutama Australia. Lalu, muncullah gempa bumi sejak beberapa tahun terakhir. Mentawai hadir dalam pembicaraan publik nasional. Namun, tidak komprehensif. Cenderung parsial. Bahkan setelah banyak tim nasional dan internasional datang, Mentawai tetap diingat sebagai daerah rawan gempa. Tidak yang lain.

Yang paling memprihatinkan muncul belakangan. Entah dosa apa masyarakat Mentawai sehingga Ketua DPR bernama Marzuki Alie menyalahkan korban tsunami.

”Mentawai itu, kan pulau. Jauh itu. Pulau kesapu dengan tsunami, ombak besar, konsekuensi kita tinggal di pulaulah,” kata Marzuki (Kompas.com, 27/10/2010). ”Kalau tinggal di pulau itu sudah tahu berisiko, pindah sajalah. Namanya kita negara di jalur gempa dan tsunami luar biasa. Kalau tinggal di pulau seperti itu, peringatan satu hari juga tidak bisa apa-apa.”

Tidak setiap hari

Marzuki Alie sepertinya tak paham dengan apa yang dikatakannya. Mentawai bukan seperti Pulau Onrust di Kepulauan Seribu yang mungkin akan tenggelam akibat abrasi air laut. Mentawai berbukit-bukit tinggi. Di daerah yang terkena bencana tsunami, sebagian penduduk masih sempat naik ke bukit atau tersadar setelah sapuan pertama dan lari ke bukit.

Tsunami tidak terjadi saban hari sekalipun gempa bumi bisa muncul setiap pekan belakangan ini. Jadi, terlalu berlebihan solusi atas masalah Mentawai: meminta pindah penduduknya ke daratan atau Pulau Sumatera.

Sampai detik ini pun tak ada kebijakan itu. Kalaupun ada sosialisasi antisipasi gempa bumi, pemerintah daerah lebih banyak bicara menyangkut evakuasi, bukan pindah sejak dini.

Penduduk Mentawai semakin hidup ke tepi, apalagi yang menghadap langsung ke lautan lepas Samudra Hindia, ketika terdesak kehadiran masyarakat pendatang. Kayu-kayu balak mulai dieksplorasi pada awal tahun 1970-an.

Kedua orangtua penulis termasuk gelombang pertama kedatangan para perantau asal Minangkabau. Bukan hanya kayu, kebun-kebun cengkeh menjadi penyangga perekonomian. Penulis masih ingat bagaimana para pemetik cengkeh mencuci tangan dengan air limun atau soda.

Sebelumnya, Mentawai merupakan bagian dari Kabupaten Padang Pariaman. Kini, sebagai kabupaten kepulauan, tentu Mentawai berusaha otonom. Sumber pendapatan baru dikejar. Peran penduduk asli meningkat dalam kehidupan sosial dan politik.

Masyarakat laut

Marzuki juga lupa bahwa masyarakat Mentawai adalah masyarakat laut atau pulau. Mereka menghuni pulau itu sejak sebelum Masehi. Bagaimana bisa dalam sekejap bisa mengubah diri menjadi masyarakat daratan?

Mentawai bukanlah Roma yang bisa dibakar dalam semalam oleh Kaisar Nero. Memindahkan seekor gorila saja dari Afrika ke Kebun Binatang Ragunan butuh biaya tak sedikit. Apalagi memindahkan manusia dengan beragam budayanya.

Marzuki mestinya paham itu dengan baik. Kalau tidak paham, Marzuki bisa bertanya kepada pihak yang paham, termasuk anggota DPR asal Sumatera Barat yang berjumlah 14 orang. Sayangnya, satu anggota DPR asal Sumbar dari Fraksi Partai Demokrat justru sedang berada di Yunani ketika Marzuki menyampaikan pendapatnya.

Tak hanya akrab dengan laut, masyarakat Mentawai menjadikan sagu sebagai salah satu sumber makanan pokok, termasuk ulat-ulatnya. Di Sumatera, pohon sagu semakin sulit ditemukan. Mentawai dan penduduk aslinya dalam banyak benak penyelenggara negara tetap saja dianggap sebagai masyarakat terbelakang. Akibatnya, dengan mudah dilakukan program yang sebetulnya mencabut penduduk asli dari habitat aslinya.

Masyarakat Mentawai, baik laki-laki maupun perempuan, tak takut terkena ombak. Perempuan Mentawai malah terbiasa mencari ikan di laut. Bukan laki-laki!

Bahwa Kepulauan Mentawai akan tenggelam dihantam gempa, seperti daratan di sekitar Gunung Krakatau yang meletus dulu, tentu perlu uji sahih dulu. Yang pasti, penduduk asli Mentawai sulit pindah. Kalaupun pindah, ke mana?

Belum pernah terdengar ada transmigrasi suku asli antarpulau, bahkan sejak zaman Belanda. Yang ada hanya program pemukiman berupa kehidupan berkelompok di rumah permanen ketimbang berpindah-pindah.

Bagaimana kalau pernyataan Marzuki dibalik saja: ”Kalau takut gedung DPR miring dan roboh, jangan coba-coba jadi politisi di Senayan”.

*Indra J Piliang, Dewan Penasihat The Indonesian Institute dan Wakil Sekjen DPN HKTI

 

» KOMENTAR (10)
  • berbagai penelitian menunjukkan, gempa mengangkat permukaan daratan Mentawai lebih tinggi dari sebelumnya. Secara berlawanan, Padang atau pesisir Sumbar malah mengalami penurunan. Atas fakta tersebut, bisa jadi pesisir Sumbar yang akan kian berkurang.

    Kontur Mentawai juga dihiasi perbukitan dengan ketinggian hingga 200 mdpl. Sangat irasional jika harus memindahkan masyarakat Mentawai ke Sumatera karena hal ini sama saja dengan membiarkan pulau itu kosong.

    Padahal, orang asing sangat tergiur untuk bersufving di sana dengan ketinggian ombak yang mencapai 7 m. Menurut saya, Mentawai seharusnya dibangun lebih komprehensif dan bisa menjadi pusat olahrafa surfing dunia.

    Jika pulau ini ditinggalkan, dampaknya sangat berbahaya bagi keutuhan dan keamanan NKRI. Saat ini pun, penjagaan terhadap pulau terluar di Sumbar ini masih lemah.
    Tidak tertutup kemungkinan perdagangan senjata illegal dimulai dari sini.

    O iya, masyrakat Mentawai menggantungan hidup pada perkebunan karena kondisi di sana mendukung itu. Melaut hanya dijadikan sebagai sumber protein untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari--bukan mata pencarian utama.

    Posted by
    eri naldi on January 7th, 2011, 11:15:15 AM
  • Saya mendukung pendapatnya IJP ,padahal Marzuki Ali kan ketua DPR RI kok tega - teganya ngomong seperti itu lha dia itu ngomong dulu mikir telat holak holok , pahpoh ,mikir cuma klo ada duitnya....Astagfirulloh gitu tho pimpinan DPR RI , lebih baik instruksikan pada seluruh anggota DPR RI untuk memotong gajinya dua bulan buat bantu para korban Mentawai gitu kan lbh baik tapi ini NGIMPIIII.....!!!

    Posted by Razikan on November 21st, 2010, 04:58:37 PM
  • Akankah kita menjadi penonton yang setia dari sebuah drama yang tak bersutradara?,kalau memang tidak dari sudut mana kita harus memulai untuk merongrong moral elit2 yang tidak bertanggung jawab?

    Posted by Khairul Muslimin on November 6th, 2010, 05:51:36 PM
  • ah...kalau begitu pemilu 2014 golput aja ah, abis kita terus yang disuruh memahami "mereka", sementara "mereka" tidak ada yang memahami kita, kurang ajar gak tuh namanya ?????hehehehe...

    Posted by Roland on November 4th, 2010, 01:38:24 PM
  • ”banyak pihak sepertinya tak paham dengan apa yang ada di hati dan pikiran Marzuki Alie.” (Marzuki Ali).

    emang gue pikirin, ngarep banget si ?! tugas lu mikirin banyak orang, bukan banyak orang suruh mahamin lu... huuuufh!

    Posted by wiwit rf on November 4th, 2010, 07:23:42 AM
  • Betapa sulitnya pemimpin negeri ini untuk mengucapkan saya mengaku salah dan meminta maaf kepada rakyat indonesia khususnya warga mentawai.
    Selalu saja mencari pembenaran dan tidak mau disalahkan!!

    Posted by Akusuma on November 4th, 2010, 07:10:06 AM
  • Mentawai adalah Indonesia
    Marzuki Alie | Kompas | Kamis, 4 November 2010
    Tulisan Indra J Piliang dengan judul ”Mentawai dan Marzuki Alie” (Kompas, 1/11) merupakan kelanjutan polemik soal bencana Mentawai yang bermula dari pernyataan saya sebelumnya (27/10).

    Tak salah apa yang ditulis Piliang kalau saja kutipan pernyataan yang termuat di berbagai media massa, yang menjadi acuan Piliang, mencerminkan dengan sesungguhnya apa yang ada di hati dan pikiran saya selaku Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

    Perlu klarifikasi, tidak saja menyangkut kepentingan nama baik sebagai ketua parlemen, tetapi juga menyangkut persepsi masyarakat. Bahwa maksud saya bukan memindahkan begitu saja masyarakat Mentawai dari habitat ekonomi, sosial, dan kulturalnya ke suatu ruang baru yang kosong dan asing.

    Konteks pernyataan saya adalah bahaya bencana tsunami yang bisa datang kapan pun dan topografi Mentawai yang rawan terhadap gempa dan tsunami sehingga sulit terhindarkan dari bencana sekalipun mekanisme peringatan dini berjalan efektif.

    Motivasi dari pernyataan ini adalah keinginan tulus untuk menyelamatkan manusia Mentawai sebagai manusia dan sebagai warga negara yang tentu harus dilindungi oleh negara. Kepedulian yang humanis adalah dasar ketika saya mengeluarkan pernyataan yang dinilai tidak bijaksana oleh sebagian kalangan, yang bahkan terus dipolitisasi oleh sebagian pelaku politik.

    Tak ada sama sekali niat melecehkan Mentawai dan seluruh manusia dan atribut budayanya yang luar biasa dan menjadi kebanggaan Indonesia yang satu dan sama.

    Maka, intensi atau tujuan pernyataan saya sebenarnya hendak mengajak kita semua, seluruh rakyat Indonesia, untuk bersama-sama memikirkan Mentawai dan semua daerah yang rawan bencana di seluruh Tanah Air. Mentawai adalah Indonesia, kita semua harus memikirkannya. Evakuasi dan lain sebagainya tak cukup menghentikan laju jumlah kematian akibat bencana alam.

    Saya maklumi betul, berita yang pendek di media massa tak cukup menampung motivasi, argumentasi, dan orientasi yang luas dan dalam. Dalam situasi inilah saya dicerca, dihujat, dan disudutkan oleh kawan-kawan politisi yang tak menangkap lebih jauh dan lebih dalam apa yang saya maksud.

    Menuduh dan menghakimi

    Tulisan Indra J Piliang pun memperlihatkan kesan menuduh dan menghakimi. Seolah-olah Marzuki Alie tak memiliki hati dan tak memahami ikatan manusia dan habitatnya dengan segala kekhasan yang tak bisa digantikan begitu saja. Kalau saja manusia bisa berpikir bebas dari segala latar belakang politiknya, tentu tulisan Piliang tak begitu berbau tuduhan atau penghakiman.

    ”Marzuki Alie sepertinya tak paham dengan apa yang dikatakannya. Mentawai bukan seperti Pulau Onrust di Kepulauan Seribu yang mungkin akan tenggelam akibat abrasi air laut. Mentawai berbukit-bukit tinggi. Di daerah yang terkena bencana tsunami, sebagian penduduk masih sempat naik ke bukit atau tersadar setelah sapuan pertama dan lari ke bukit. Tsunami tidak terjadi saban hari sekalipun gempa bumi bisa muncul setiap pekan belakangan ini. Jadi, terlalu berlebihan solusi atas masalah Mentawai meminta pindah penduduknya ke daratan atau Pulau Sumatera”. Demikian Piliang.

    Lalu di bagian akhir tulisan, ada kalimat bernuansa politis, yakni ”Bagaimana kalau pernyataan Marzuki dibalik saja: Kalau takut gedung DPR miring dan roboh, jangan coba-coba jadi politisi di Senayan”.

    Pernyataan ini senapas dengan suara sejumlah politisi yang menuntut Ketua DPR diganti. Saya tak mempermasalahkan pergantian karena menjadi politisi bukanlah bekerja untuk hidup sendiri. Menjadi politisi bagi Marzuki Alie adalah mengabdi pada kepentingan umum.

    Niat baik saya tak dimengerti karena tak tertampung dalam pernyataan yang pendek dan dalam waktu yang singkat.

    Pemahaman yang berbeda atau tafsir yang tak sama merupakan dinamika yang biasa dalam berdemokrasi. Tetapi, janganlah perbedaan tafsir dimainkan secara politis untuk tujuan tersembunyi yang tak bijaksana.

    Jadi, tak salahlah jika kita coba balik apa yang ditulis Indra J Piliang, bukan lagi ”Marzuki Alie sepertinya tak paham dengan apa yang dikatakannya”, tetapi ”banyak pihak sepertinya tak paham dengan apa yang ada di hati dan pikiran Marzuki Alie.”

    Marzuki Alie Ketua DPR RI



    Posted by admin on November 4th, 2010, 06:59:22 AM
  • katanya anggota dpr studi banding ke yunani utk bljar etika tapi kenapa marzuki alie yg notabene adlh ketua dpr rpublik trcinta ini tdk punya etika sdikit pun?,JANJI STINGGI LANGIT PNCAPAIAN HNYA D KAKI BUKIT..,,hari ini marzki alie sdh mmberikan silet yg tramt tjam buat rkyat Indonesia,insya Allah bsok Atau kpanpun rkyat akan membalas dgn sebilah keris yg sangat berbisa

    Posted by Khairul Muslimin on November 2nd, 2010, 04:28:09 PM
  • ada apa dengan mentawai,hampir semua orang tak peduli,mereka turun karena mendengar presidenya akan berkunjung,aparat pemda sumbarpun setengah hati,apakah mentawai bukan bagian dari republik ini,mereka juga anak bangsa yang butuh perlindungan dari negaranya

    Posted by tridesman on November 2nd, 2010, 04:27:50 PM
  • Terimakasih atas Response Kakanda atas pernyataan marzuki ali yg menyalahkan korban gempa tsunami mentawai.Saya mendukung Kakanda...

    Posted by HENDRA SYAFRI on November 1st, 2010, 06:40:28 PM

© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com