Balada Obama

Majalah Trust, 18 November 2010
Balada Obama
Oleh
Indra J Piliang
Dewan Penasehat The Indonesian Institute
Kesulitan terbesar bangsa Indonesia dalam alam demokrasi adalah menemukan politisi yang autentik, yang tak terjebak dengan kekonyolan sikap. Atau politisi yang tak jatuh dalam kepura-puraan berbingkai pencitraan. Kita memimpikan politisi yang bisa bersikap untuk isu-isu publik, tanpa mempertimbangkan faktor untung-rugi terhadap posisinya. Politisi yang buka kulit, tampak isi.
Indonesia juga sulit menemukan politisi yang meroket lewat jejak politik yang jelas. Sejak muda. Politisi yang melakoni kehidupan sebagaimana orang-orang biasa menjalaninya. Tanpa menunjukkan bahwa dia hebat -- meskipun pada gilirannya dia memang hebat.
Mungkin karena kelangkaan itu, bangsa Indonesia menoleh ke luar. Dalam waktu singkat, seorang Barack Obama mampu mengisi kekosongan figur kontemporer di dunia politik moderen. Mungkin karena itu juga kedatangan Obama yang hanya sebentar ke Indonesia, pada 9-10 November 2010 lalu, meninggalkan kesan --atau tepatnya memorabilia-- yang hangat. Tapi apakah dalam?
Entahlah. Sebelum Obama datang lagi ke sini, setelah tahun 1971 – tahun di saat Obama terakhir kali tinggal di negeri ini sampai berusia 10 tahun --, buku The Audacity of Hope yang diterjemahkan menjadi “Barack Obama: Dari Jakarta Menuju Gedung Putih” sudah laku puluhan ribu eksemplar. Sebelum menaiki tangga Gedung Putih-pun, kiprah Obama sudah diikuti lewat mekanisme konvensi nasional Partai Demokrat di Amerika Serikat. Dan patung masa kecilnya sempat dibuat dan dipasang di taman Menteng, sebelum dipindahkan.
Obama datang ke Indonesia lagi, setelah hampir 40 tahun. Kondisinya tidak sedang enak karena kekalahan Partai Demokrat dalam meraih kursi mayoritas di DPR Amerika. Tapi, Obama tetap menjadi bintang terang. Dalam pidato di Universitas Indonesia, di hadapan 5000-an orang tamu, Obama membeberkan pengetahuannya tentang Indonesia. Ia bernostalgia: becak, gedung Sarinah yang jangkung, serta bakso dan sate. Tepuk tangan bergemuruh, setiap kali dia berbahasa Indonesia atau menyebut hal-hal yang jarang disebut politisi Indonesia: Binneka Tunggal Ika dan Pancasila, misalnya.
Jutaan orang Indonesia menonton pidato itu. Frekuensi penayangan siaran ulangnya sangat luar biasa. Seharian televisi mengulanginya, bahkan ditambah dengan hari-hari yang lain.
Setelah berpidato, Obama menuju Seoul. Dengan segera, ia pun hilang. Tinggal foto penulis pidatonya, seorang anak muda Amerika berusia 29 tahun, masuk ke blackberry kaum perempuan moderen Indonesia. Segera menjadi idola baru. Hampir setiap artis perempuan Indonesia di twitter menunjukkan keterpesonaan pada sosok itu: Jonathan Favreau.
Apa yang kita ingat dari pidato Obama? Pulasan dan ulasan atas Indonesia. Termasuk sejarah, kondisi kekinian, serta imajinasi atas masa depan. Dalam batas waktu pidato yang singkat, Obama berhasil membuai anak-anak muda Indonesia tentang arti bernegara. Walau pada bagian akhir ia agak keteteran, dengan mengulangi pidato di Kairo beberapa kali, Obama telah memberi pesan dan kesan yang baik.
Pengetahuan Obama tentang Indonesia sejatinya jauh lebih detail dan terus terang dalam buku The Audacity of Hope. Obama mungkin tidak memaksudkan buku itu untuk pembaca Indonesia. Tetapi, setiap kali membaca uraiannya tentang negeri kita, nada empati tetap terasa dalam. Maaf kepada pemuja Jonathan Favreau-- isi pidato Obama di UI jadinya terasa seperti wikipedia ketimbang versi bukunya.
Di buku itu, Obama dengan terus terang menulis: “...selama 60 tahun ini takdir bangsa mereka (Indonesia) secara langsung terikat kepada kebijakan luar negeri AS.” (hlm 34 versi Barack Obama: Dari Jakarta...). Dan masih banyak keterus-terangan yang lain. Tidak hanya tentang Indonesia, tetapi juga tentang diri dan keluarganya, tentang kekalahan dan kemenangannya.
Buku ini, sebenarnya, semakin memperjelas autentisitas seorang Obama – ketimbang balada singkatnya selama 22 jam di negara kita. Tetap saja, kita terkesan pada polahnya yang begitu bersemangat, berlari menaiki tangga pesawat, meninggalkan satu kesan: anak Menteng (dalam) itu tak kehilangan sentuhan sebagai orang biasa. Ia berhasil memperlihatkan kekuatan adidaya dalam tubuh seorang manusia biasa...