Rantau TKW Sumiati
Harian Haluan, 23 November 2010
Rantau TKW Sumiati
Oleh
Indra J Piliang
Dewan Penasehat The Indonesian Institute
Seperti tubuh kehilangan opium, kita tiba-tiba merasa sakit sebagai bangsa. Sakit yang datang, selalu, setiap kali seorang warga negara menemui nasib buruk di luar negeri sana. Sebutan untuk warga negara itu juga mendua. Di satu sisi adalah pahlawan devisa. Di sisi lain, tenaga kerja wanita (TKW), karena memang mayoritas adalah wanita. Walau aktifis yang menyebut diri sebagai kaum feminis sudah mengoreksi wanita menjadi perempuan, tetap saja TKW adalah sebutan umum.
Di Sumatera Barat, dulu, TKW adalah merek minuman keras. Apa sekarang masih ada, penulis tidak pernah menjumpainya. Walau Sumbar adalah provinsi yang dikenal relegius, dengan konsep Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah, tetap saja minuman keras dikonsumsi sebagian kecil warga. Hampir 2 abad lampau, perang terjadi antara Kaum Paderi melawan Kaum Adat untuk masalah minuman keras dan sabung ayam ini.
Orang Minang juga terkenal sebagai perantau. Ada pembagian yang jelas antara ranah dengan rantau. Rantau bisa didefenisikan sebagai diluar Luhak Nan Tigo: Agam, Tanah Datar dan 50 Kota. Bisa juga disebut sebagai seluruh daerah di luar Sumatera Barat. Dalam konsep yang lebih luas, rantau juga bisa dimaknakan sebagai sesuatu yang dijejaki untuk kembali ke asal. Mempelajari ilmu pengetahuan tertentu adalah tindakan merantau secara pemikiran, sekalipun dilakukan sambil duduk-duduk di bawah atap rumah gadang.
***
Sumiati adalah seorang TKW di luar negeri. Ia seorang perantau. Penulis tidak tahu riwayat hidupnya. Wajah berjilbabnya di media massa menebarkan kecantikan. Kini yang penulis tahu, juga hampir seluruh orang Indonesia tahu, Sumiati adalah korban penyiksaan majikannya. Ia hampir kehilangan nyawa di negara tempatnya mencari nafkah: Arab Saudi. Yang paling parah, bibirnya digunting. Ia mencari makan ke tempat yang jauh, tetapi mulut untuk memasukkan makanan itu malah digunting majikan.
Dan kita, di kejauhan sini, lewat bantuan koran dan televisi, menyaksikan wajah penuh jahitan itu. Seperti kisah-kisah berulang lainnya: kita menganalisa, kita mengutuk, kita menghimbau. Bahkan kita ikur-sertakan titikkan air mata. Janji-janji perbaikan di masa datang dari yang memegang otoritas datang menderas.
Sumiati barangkali tak membayangkan dirinya mengalami kehidupan setragis sekarang. Kehilangan kecantikan di wajah. Kehilangan kepercayaan untuk kembali bekerja. Ia, mungkin, terlalu lama mendengar cerita turun-temurun tentang kehidupan melimpah materi dari TKW-TKW yang bekerja di Arab Saudi, Hongkong atau Malaysia.
Dulu, memang, kehidupan TKW di Arab Saudi begitu makmur. Merekapun hanya tinggal di sejumlah keluarga di perkotaan. Kota-kota yang relatif mudah dijangkau oleh petugas Kedutaan Besar Republik Indonesia. Tetapi, semakin banyaknya kiriman TKW, menyebabkan area kerjanya meluas. Tidak hanya di perkotaan, tetapi juga di pedesaan atau pedalaman negara Arab Saudi.
***
Sumiati berasal dari Dompu, Nusa Tenggara Barat. Bayangkan jauhnya ia merantau ke Madinah, Arab Saudi. Bayangkan kuatnya tekadnya untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Bayangkan tipisnya tali komunikasi yang bisa ia bangun dengan keluarganya. Selembar passport dan kawan-kawan sesama TKI atau TKW adalah mitra hidup yang bisa dia bangun, sebagai perempuan yang jauh merantau.
Sumiati adalah sosok perempuan perkasa, hebat, pemberani dan ciri kehandalan manusia Indonesia lainnya. Betul, kita kasihan kepada derita yang dia alami. Tetapi kita lebih kasihan lagi kepada pemimpin bangsa ini yang tak memiliki keberanian sebesar Sumiati. Sekadar menyatakan tanda prihatin saja bukan tugas para pemimpin. Yang jauh lebih penting adalah melakukan aktivitas yang bertujuan melindungi seluruh rakyat Indonesia, di manapun rantaunya.
Kita mengalami banyak duka belakangan ini. Banjir bandang di Wasior Papua Barat, tragedi tsunami usai gempa bumi di Mentawai Sumatera Barat dan letusan Gunung Merapi di Pulau Jawa. Negara dan warga negara sekuat tenaga bekerja mengatasi bencana demi bencana itu. Korban berjatuhan, baik nyawa, harta atau benda.
Ada banyak kritik betapa negara tak hadir di Wasior, Mentawai dan Merapi. Negara juga tak hadir di Madinah, Arab Saudi. Di zaman demokrasi ini, kritikan apapun sah-sah saja. Tapi kita patut untuk melepaskan diri dari upaya mencari kesalahan. Mari memberi arah kepada penanganan bencana dan perlindungan warga negara secara lebih baik.
***
Sumbar jarang memiliki perantau seperti Sumiati, menjadi TKW di negara orang. Rantau lebih identik dengan laki-laki. Kalaupun perempuan ikut merantau, maka kepergian itu tentu bersama laki-laki yang menjadi suami atau kerabat dekat sepesukuan. Belakangan, memang makin banyak anak-anak perempuan merantau tanpa harus lewat “keluarga batih” yang dekat.
Bagaimanapun, zaman tidak bisa ditolak. Kaum perempuan akan semakin banyak pergi ke rantau, entah untuk menempuh pendidikan, bekerja atau mendapatkan jodoh. Dunia sudah semakin terbuka lewat teknologi informasi. Dari ranah yang tersuruk di nagari-nagari, kaum perempuan bisa melongok dunia di rantau yang jauh lewat internet.
Karena itu, sistem sosial dan pemerintahan layak melakukan antisipasi. Aktivitas Balai Latihan Kerja (BLK) yang berinduk ke Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi mesti disesuaikan dengan perkembangan zaman. Peta Arab Saudi layak masuk setiap kantor-kantor BLK itu.
Dan yang penting, ketika ada warga Sumatera Barat yang merantau ke luar negeri, mesti ada informasi akurat. Jangankan seorang presiden atau menteri, bahkan seorang wali nagaripun wajib tahu dimana warganya berad dan siapa majikannya. Kantor wali nagari layak memampangkan informasi itu untuk diketahui warga. Dengan cara seperti ini, wali nagari benar-benar menjalankan fungsi sebagai agen perlindungan warga negara. Jadi, bukan sebagai penyanjung penguasa.
Untuk Sumiati, kita berdoa bagi kesembuhannya dan ganti rugi atas deritanya. Kita belajar padanya. Kita sandarkan kekuatan bangsa ini pada jemarinya yang pernah bekerja di luar tanah kelahirannya. Tanpa harus mendapatkan gelar pahlawanpun, Sumiati telah menoreh kisah tentang ketegaran perempuan-perempuan Indonesia...