Catatan Tahun Baru 2011

Catatan Tahun Baru 2011
Senin, 3 Januari 2011

Catatan Tahun Baru 2011

Selamat datang di tahun 2011. Tahun yang mungkin masih menyisakan harapan bagi kemajuan, kemajemukan dan kebebasan dalam berpendapat. Tahun yang akan dilalui dengan cepat, tanpa ada konflik tak perlu di level apapun: negara, masyarakat ataupun di antara keduanya.

2010 adalah tahun perceraian antara politik dengan ekonomi. Sederhananya: tanpa sentuhan kalangan politisipun ekonomi bergerak sendiri. Tabungan kedigdayaan ekonomi era pemerintahan sebelumnya masih cukup besar. Belum lagi pengaruh dari perkembangan kawasan: ASEAN dan ASIA.

Namun, ada kalangan politisi yang terlalu sibuk dengan komentar-komentar harian yang datang dari delapan penjuru angin. Komentar itu datang dari sedikit sekali politisi, dibandingkan dengan jumlah politisi yang sebenarnya. Untuk ukuran politisi parlemen saja, baik lokal atau nasional, jumlahnya bisa mencapai 15.000 orang. Jumlah itu datang dari 560 anggota DPR, 132 anggota DPD, beserta anggota DPRD provinsi, kabupaten dan kota. Dilihat dari jumlah itu, tentu politisi yang bekerja di parlemen jauh lebih banyak, ketimbang politisi yang berkomentar atas pekerjaan politisi lain.

Di luar itu, terdapat politisi non parlemen yang terdiri dari beragam jenis juga, baik yang menjadi pengurus partai, tersingkir dari kepengurusan, berseragam non politisi ataupun sebagai pekerja politik biasa yang mengantarkan dokumen-dokumen rapat. Politisi non parlemen ini sebetulnya tidak banyak, karena dibutuhkan energi yang besar untuk terus menyandang status politisi ini. Kalau tak punya pekerjaan yang nyaman, maka politisi non parlemen masuk dalam kategori pengangguran.

Yang juga penting, agenda politik 2010 lalu banyak ditentukan di Jakarta. Kasus-kasus yang muncul seolah adalah masalah nasional dan terkait dengan hidup matinya republik. Agenda itu digodok, lalu dilemparkan kepada publik, termasuk publik daerah yang tinggal di desa, kampung dan dusun, tanpa tahu apa yang dimaksud. Bak racun, agenda-agenda itu memakan waktu orang-orang yang mestinya bekerja di ladang dan dangau, hanya sekadar untuk melepas rasa ingin tahu tentang apa itu yang disebut sebagai politik.

Dua hal yang mendapat perhatian Jakarta dari daerah hanyalah bencana dan konflik. Ketika bencana ada atau konflik datang, maka himbauan-himbauan datang dalam ukuran sangat masif. Tapi, ketika bencana dan konflik tak ada di daerah, maka “bencana” dan “konflik” ciptaan didisain di Jakarta, lalu dilemparkan ke daerah. Sebagai contoh, masalah Yogyakarta. Yang lain: artikel koran yang menjadi masalah nasional bagi hakim konstitusi.

Nah, akankah tahun 2011 juga akan menampakkan ciri yang sama? Jakarta terlalu dipenuhi dengan segala macam kepentingan. Saking tak tahunya tentang republik, Jakarta memberitakan masalah bunuh dirinya seseorang di mal jauh lebih penting daripada kelaparan di sebuah pulau karena gelombang tinggi. Jakarta terlalu sibuk dengan dirinya sendiri, seolah kemacetan di simpang lampu merah Tanah Abang adalah masalah besar bagi orang-orang yang tak pernah melihat jalan aspal di Kalimantan sana.

Mari kita lihat, bagaimana Jakarta, politisi di Jakarta, jurnalis di Jakarta, kaum intelektual di Jakarta, atau siapapun di Jakarta, memaknai Republik di tahun 2011 ini. Apakah akan tersesat di masalah-masalah serupa, seperti orang-orang yang telanjur makan ikan larangan, berputar-putar tanpa arah? Mari... Selamat tahun baru.

Indra J Piliang: Peneliti, Penulis & Politisi

© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com