Tak Pedas Maka Tak Minang

Tak Pedas Maka Tak Minang
Kamis, 6 Januari 2011
Sumber : Haluan, 06 Januari 2011

Tak Pedas Maka Tak Minang
Oleh
Indra J Piliang
Wakil Sekretaris Jenderal DPN HKTI 2010-2015

Harga cabe (bisa ditulis cabai) sedang tinggi-tingginya ketika tahun 2010 berganti tahun 2011. Tak kurang dari Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawati mengatakan agar cabe tidak dimasukkan sebagai komoditas inflasi. Artinya, dengan tak mencantumkan cabe merah dan cabe merah keriting di dalam data Badan Pusat Statistik (BPS), maka inflasi bisa “dikendalikan”.

Cabe telah menjadi unsur “kecil” tapi “problematis”. Kecil dari sisi bentuk, namun sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Dibandingkan dengan beras, tentu cabe hanyalah teman dari beras. Kalau ada sensus, pilih beras atau cabe, maka beras akan menang, cabe pasti kalah. Tak ada orang yang kenyang makan cabe.

Bagi orang Minang, cabe adalah menu harian. Bukan hanya di ranah, tetapi juga di rantau. Rumah makan Minang (sering disebut sebagai rumah makan Padang) adalah perekat rantau dan ranah, baik di dalam ataupun di luar negeri. Sekalipun Minang dikenal sebagai penghasil kaum intelektual, tetapi perkenalan pertama orang-orang di luar Minang adalah rumah-rumah makan Minang ini. Kini istilah yang dipakai adalah kuliner.

Kalau restoran Minang ini menyediakan macam-macam lauk pauk yang berkolesterol tinggi, barangkali konsumennya sudah tahu banyak. Bahkan minumannyapun tak bersahabat untuk diet, katakan saja teh telor. Dan ujung dari semua makanan dan minuman itu adalah cabe. Cabe merupakan trademark rumah makan Minang. Tak pedas maka tak Minang.

Soal harga yang relatif mahal dari Warung Tegal (Warteg), tentu tergantung dari menunya. Yang jelas, banyak mahasiswa Minang di Jakarta yang rela makan sekali sehari, asal makan masakan Minang. Tiga kali makan di warteg, bisa sekali makan di restoran Minang. Mau bagaimana lagi, lidah pedas membentuk selera makan.

***

Sudah banyak penelitian yang menyebutkan kalau makanan memberi bentuk kepada kebudayaan. Karena kebudayaan adalah ciptaan manusia, maka makanan memberi warna pada manusia. Manusia yang pemakan hewan, terutama hewan buas, dipercaya juga memiliki sikap yang lebih keras dibandingkan dengan pemakan tumbuhan saja.  Tentu ada juga yang membantah “teori” itu dengan menyebut sejumlah nama “sosok pembantai” dalam sejarah manusia sebagai orang yang justru banyak puasa, ketimbang makan.

Kembali ke cabe, kenapa harganya naik turun? Bagi orang Minang, kenaikan harga cabe biasanya hanya terjadi menjelang hari lebaran Idul Fitri. Barangkali karena begitu banyak orang menggunakan kesempatan itu untuk “malapeh salero”. Pergantian tahun tidak berpengaruh kepada harga cabe.

Tetapi lain halnya dengan para pedagang makanan. Kenaikan harga cabe adalah petaka. Bukankah orang-orang datang bukan hanya mencari daging ayam atau sapi atau ikan, tetapi berikut sambalnya yang pedas? Gulai lebih kental. Aroma juga menyengat. Bagi pecinta kuliner, pedas tidaknya lauk-pauk jadi penentu, ketimbang murah-mahalnya harga makanan.

Cabe bagi orang Minang adalah tradisi yang dikemas dalam bentuk makanan. Alam Sumatera Barat juga cocok dengan tanaman ini, baik di pesisir atau pegunungan. Entah mengapa, cabe asal Sumbar jauh lebih pedas daripada asal daerah lain. Dalam menghadapi korban gempa bumi tahun 2009 lalu, posko yang kami bentuk selalu memilih cabe asal Sumbar untuk dibagikan. Bahkan, dibeli di Pekanbaru sekalipun. Masyarakat mempertanyaan cabe asal daerah lain yang kurang pedas.

*** 

Naiknya persoalan cabe, sampai mengundang komentar Wakil Menteri Keuangan dan Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa komoditas ini kurang dipelihara. Mestinya, Indonesia surplus terus dengan cabe. Bukankah begitu banyak perusahaan yang membuat saos atau membungkus sambal dalam ukuran kecil? Hampir semua gerai makanan impor atau bermerek dagang negara lain menggunakan cabe.

Saya tidak tahu, apakah cabe-cabe yang sudah masuk botol atau kemasan plastik itu juga diekspor ke negara lain? Ataukah hanya sebatas dikonsumsi di Indonesia? Super-market sudah dipenuhi dengan komoditas yang bukan lagi cabe merah keriting itu.

Jadi, kalau ada alasan apabila cabe terlalu banyak ditanam akan mudah busuk, sama saja dengan argumen-argumen lama bahwa teknologi tinggi jauh lebih berguna daripada pertanian. Keduanya tak bisa saling dihadapkan dalam ukuran prioritas. Idealnya, keduanya paralel. Di satu sisi pemerintah mendukung pengembangan teknologi tinggi, lalu diekspor. Lalu, di sisi yang lain, tetap mendukung usaha-usaha pertanian tradisional, termasuk cabe.

Cabe memisahkan dengan sangat jelas antara pasar tradisional dengan pasar-pasar yang lebih moderen. Kalau cabe mudah didapatkan dalam bentuk teronggok-onggok begitu saja di pasar tradisional, tidak demikian dengan yang di super-market: terbungkus rapi di dalam plastik. Selain itu, di pasar tradisional bisa diminta tambahan kepada si penjual. Sebaliknya, di super-market tentu tak bisa.

Cabe menjadi penanda kebudayaan lama di negara tropis. Sementara kemasan-kemasan lain adalah bagian dari teknologi baru yang menguasai ekonomi. Ketika cabe dikeluarkan dari data BPS, Indonesia akan mengikuti apa yang terjadi pada tembakau, yakni munculnya rokok-rokok plastik. Dan sudah ada, sebetulnya, ketika rasa pedas tidak lagi muncul dari cabe, tapi dari “bahan pengawet” lain.

Di beberapa sekolah, terutama sekolah taman kanak-kanak dan sekolah dasar, cabe dijadikan sebagai alat peraga. Tapi bukan cabe yang sebenarnya, melainkan cabe yang terbuat dari kayu dan dicat merah. Jangan-jangan, apabila proses pelestarian cabe tidak dilakukan, anak-cucu kita kelak hanya bisa melihat dari rekaman video tentang apa itu cabe. Apalagi, tanaman ini rentan akan perubahan cuaca.

Jadi, langkah membuang cabe merah dan cabe merah keriting dalam komoditas inflasi adalah cara potong kompas untuk pelan-pelan melepaskan ketergantungan akan cabe. Dulu, kita mudah menemukan cabe rawit di pasar-pasar. Sekarang, cabe rawit itupun sudah jarang ada. Jangan-jangan, justru karena tak masuk komoditas inflasi di BPS? Atau karena orang-orang Minang semakin jarang makan “lado kutu” itu maka lidahnya tak lagi pedas? Semakin mudah tunduk kepada yang berkuasa? Entahlah...

 

© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com