Lara
Lara
: Tragedi Pandeglang & Temanggung
Kapan kami bisa bersandar pada sebuah tiang untuk punggung yang lelah ini?
Siang malam kami ketakutan
Malam siang kami dilanda duka
Kemaren, kami dihantam di tengah sawah berlumpur
Kami cium tanah-tanah itu untuk memohon pertolongan
Sebagian kami ditolong tanah-tanah itu: kembali ke Pangkuan-Nya
Sebagian lagi memberi warna coklat tanah-tanah itu dengan tambahan merah
Ya ya ya: itu darah kami!
Hari ini, kami dikejar ke rumah ibadah kami
Kami dirazia
Tanpa kerudung, kami bukan siapa-siapa
Kami ternyata bukan warga negara
Kami ingin sembunyi
Pada rerumputan basah
Lalu mengais-ngais sisa makanan di kedai-kedai penuh orang bersedekah
Menyulam malam dalam dengkur kekenyangan
Ohoiiiii
Katanya negara ini sudah lama merdeka
Katanya negara ini menjadi malaekat bagi kebebasan berkeyakinan
Katanya Perserikatan Bangsa-Bangsa belajar menyusun aturan lewat kontitusi negara ini
Ohoiiiiiiiiiiiii
Sejak 1945
Hak-hak asasi manusia menggumpal-gumpal dalam lidah para pendiri bangsa
Berlari-lari dalam banyak tulisan
Memancar indah lewati beragam aturan
Kini?
Kami seperti hilang asa
Kemana kami mengadu?
Tolong beri kami pengharapan...
Kami adalah warga negara negeri ini
Kami adalah penyebab tuan-tuan dan puan-puan ada di kursi itu
Apakah tuan-tuan dan puan-puan tidak kenal kami?
Ohoiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii..................
Indra J Piliang, Jakarta, 08 Februari 2011