Menulis Airin versus Andreas?
Menulis Airin versus Andreas?
Oleh
Indra J Piliang
Airin dan Andreas adalah wajah baru. Keduanya belum mengenal birokrasi sebagai bagian penting dari pemerintahan. Bahwa kelak ketika memimpin, inovasi menjadi bagian yang harus dikompromikan. Bukan hanya kepada publik, melainkan kepada birokrasi yang mendukung, disamping tentunya juga kepada anggota DPRD Kota Tangerang Selatan.
Kedua sosok ini, mau tidak mau juga berhubungan dengan beragam organisasi sosial kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat, kampus, sekolah, pesantren, sampai segala bentuk lembaga-lembaga yang menjadi bagian dari masyarakat. Tentu juga berhubungan dengan kalangan pers, sebagai salah satu pilar penting dalam menyampaikan informasi publik. Dan tentu juga dengan pemerintahan pusat, dalam arti kementerian-kementerian negara sampai kalangan parlemen nasional.
Nah, dari kedua sosok yang sama-sama terkenal atau populer ini, yakni Airin dengan Andreas, siapakah yang memiliki kompetensi lebih? Masyarakat perkotaan seperti Tangsel tentu lebih membutuhkan kompetensi, ketimbang popularitas. Kenapa? Karena penduduk Tangsel banyak yang terkenal. Kalau di daerah lain diluar Tangsel, barangkali keterkenalan menjadi faktor kunci. Namun, untuk sebuah kota baru, Tangsel memerlukan kompetensi.
Apa kata lain untuk kompetensi? Kecakapan. Kecakapan tentu berbeda dengan kecakepan. Cakap berbeda dengan cakep. Dunia entertainment membutuhkan kecakepan, terutama di Indonesia. Bukan berarti tidak ada kecakapan, namun amat terbatas bagi sosok-sosok yang di belakang layar. Kecakapan belum banyak muncul di dunia hiburan kita. Rasa kehilangan terasa dalam untuk aktor-aktor serba bisa seperti Benyamin S.
Sebaliknya, dunia pemerintahan (sebagai bagian dari dunia politik), lebih membutuhkan kecakapan. Kecakapan di pemerintahan tentu bisa dipelajari. Bagi daerah yang sudah mapan dari sisi sistem pemerintahan, bisa jadi faktor kecakapan pimpinan tidak terlalu berpengaruh. Namun, untuk kasus Tangsel, ibarat seorang bayi yang baru dilahirkan, tentulah membutuhkan sentuhan dan kecakapan seorang ibu.
Tentu tidak banyak yang menduga bahwa Airin dan Andreas akan menjadi dua ikon penting dalam wajah pemerintahan Tangsel ke depan. Keduanya bukanlah jenis politisi yang lebih sering hendak melukai lawan. Sebaliknya, keduanya muncul sebagai sosok yang mungkin akan saling mengobati ketika ada luka.
Walau begitu, keduanya tentu memiliki jam terbang yang berbeda. Perbedaan-perbedaan itulah yang nanti akan menentukan bagaimana pengaruh keduanya, ketika salah satu terpilih, sementara yang lain harus puas berada di luar pemerintahan. Bisa jadi, siapapun yang berada di luar akan dirangkul untuk kepentingan Tangsel yang lebih luas. Seseorang yang pernah mengalami fase yang emosional seperti pilkada, tidak dengan mudah bisa kembali ke kehidupan normalnya, apalagi kalau bukan seorang yang memiliki mentalitas politikus.
Masyarakat Tangsel mengenal Airin sebagai sosok yang sudah berbuat, ketimbang berbual. Barangkali persiapannya untuk maju lebih lama dari kandidat lainnya. Artinya Airin mengenali dengan baik tujuannya. Maju ke pilkada bukanlah sesuatu yang diputuskan tiba-tiba, hanya karena ada peluang, misalnya. Maju ke pilkada adalah komitmen, sekaligus usaha yang tak mudah. Di negara-negara demokrasi, seperti Amerika Serikat, kisah Airin yang pernah maju pilkada sebetulnya memberi manfaat bagi publik. Barack Obama, misalnya, menuturkan dengan baik riwayat kekalahannya, sebelum menjadi Presiden Amerika Serikat pertama yang berkulit hitam.
Sementara, Andre atau Andreas dikenali sebagai sosok penyanyi, pemain film dan sekaligus pelawak dalam Opera Van Java. Andre termasuk satu dari sedikit sosok yang masih bertahan di dunia hiburan, ketika begitu banyak talenta baru menuai penonton. Dan kebetulan Andre dikenali masyarakat Tangsel, jadilah Andre menapak dunia yang bukan dunia hiburan: pemerintahan. Mengambil contoh Amerika Serikat lagi, sosok seperti Ronald Reagan dan Arnold Schwarzenegger pernah menjadi presiden atau gubernur negara bagian. Reagan dan Swarzenegger telah memiliki jejak rekam dalam politik sebelum maju. Andreas, belum sama sekali. Tiba-tiba pelawak ini muncul dalam kancah politik Tangerang Selatan.
Airin versus Arsid
Gambaran Airin versus Andreas itu tidaklah mencerminkan pertarungan yang sebenarnya. Yang ril adalah Airin versus Arsid, sama-sama calon walikota. Kata orang bule: apple to apple alias seimbang. Pertarungan kedua apel, eh, tokoh ini yang menentukan wajah Tangsel lima tahun ke depan. Mau yang manis atau yang pahit? Mau yang rasa kosmopolitan atau magis-tradisional? Yang menumbuhkan semangat kebersamaan atau kedaerahan sempit?
Airin menata pengenalan dirinya kepada warga Tangsel dengan langkah yang tertib, elagan dan teratur. Airin mulai dengan kegiatan berbasis warga, taman bacaan, go green movement, pengolahan sampah secara mandiri dan kegiatan-kegiatan lainnya. Airin adalah seorang aktivis sosial. Airin adalah ketua PMI Tangsel dan pembina posyandu. Sepertinya Airin sangat menyadari bahwa kedaulatan ada di tangan warga. Karenanya langkah-langkah yang dimulai Airin dari bawah termasuk pendekatan partisipatif. Secara tidak langsung Airin berbuat dan mengatakan: Citizen First!
Arsid adalah mantan camat di lebih dari satu kecamatan. Arsid paham sekali permainan politik lokal dan teknik-teknik mendapatkan suara. Camat adalah mesin birokrasi pemerintahan pusat dan daerah paling efektif. Kalau orientasinya adalah perolehan suara, maka seorang camat bisa memaksimalkan dukungan. Pengalaman Arsid di birokrasi kabupaten Tangerang tentu juga terkait trik-trik praktis memperoleh suara pemilih. Trik-trik ini berhasil. Arsid memperoleh suara signifikan mengimbangi Airin. Pengalaman sebagai birokrat di lingkungan kabupaten Tangerang dan pemahamannya akan peta politik lokal menguntungkan Arsid, ketimbang Airin.
Itulah beda antara Airin dengan Arsid. Airin berorientasi kepada partisipasi warga sejak awal menjalankan kegiatan-kegiatan sosial. Arsid malah terlihat berorientasi kepada mobilisasi dengan unsur ketiba-tibaan. Airin dialogis, sementara Arsid monologis. Dua karakter yang antagonistis. Nah, silakan membayangkan wajah Tangerang Selatan ke depan dari gaya dan pendekatan kedua calon walikota ini.
Benyamin versus Andreas
Wakil walikota adalah pembantu walikota. UUD sama sekali tak menjamin keberadaan wakil walikota. Malahan, dalam rencana perubahan terhadap UU tentang Pemerintahan Daerah, wakil gubernur atau wakil bupati atau wakil walikota nanti bisa jadi dipilih oleh DPRD atau oleh gubernur, bupati atau walikota terpilih. Atau malah dihilangkan sama sekali.
Karena itu, sang wakil walikota harus mampu mengambil peran-peran yang kosong atau yang tidak termaksimalkan dari sang walikota. Kalau sang wakil tidak tahu apa yang harus dilakukan, maka kedudukannya hanya sekadar hiasan saja dalam etalase pemerintahan dan politik.
Nah, bagaimana membandingkan antara Andre dengan Benyamin? Sejujurnya, Benyamin tentu akan lebih berperan. Sebagai birokrat dengan posisi terakhir sebagai Kepala Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah), Benyamin akan sangat membantu Airin. Ibaratnya: Benyamin adalah seorang penasehat senior, tetapi juga sekaligus bagian resmi di pemerintahan. Benyamin seperti mengambil peran Lee Kuan Yeuw yang menjadi menteri senior di Singapura.
Dalam hal ini Airin bisa memainkan peran-peran teknis-simbolis dan Benyamin mengisi peran-peran konseptual-intelektual. Gagasan-gagasan pembaharuan Airin dilekatkan oleh Benyamin ke dalam sistem birokrasi yang rumit. Airin adalah orang luar yang masuk ke dalam sistem birokrasi, sementara Benyamin adalah pihak dalam yang menyambut perubahan. Kedua figur ini memiliki kecakapan yang berbeda, sehingga mampu menjadi kombinasi yang jenius bagi kemajuan Tangsel sebagai Kota baru hasil pemerkaran.
Nah, disinilah masalah bagi pasangan Arsid-Andreas. Bisa jadi Andre nanti yang menjalankan peran-peran simbolis, terutama yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan populis. Tetapi, siapa yang sebetulnya walikota? Dominasi sosok Arsid sebagai birokrat di satu sisi, dan hegemoni populisme Andre di sisi yang lain, membawa ketimpangan dalam peran. Benarkah begitu? Mari kita lihat...
Jakarta, 18 Februari 2011
Indra J Piliang: Penulis dan Politisi.