Wayang
(Puisi Indra J Piliang)
Wayang
: Karman
Pikiran harus gelisah.
Rumus kehidupan adalah perubahan.
Socrates, Plato, Descartes, Huizinga: mereka sufi pencerahan.
“Dan Semar, ingat itu!” ulangmu, lagi.
Lalu kau korek kerak-kerak logikanya dengan logikamu sendiri.
Begitu sejuk kita diskusi di bawah pohon akademia.
Lampu jalanan sering mati, kawan.
Lebih baik jadi manusia goa, tak peduli pada cahaya.
Ya, seperti seratus delapan puluh juta rakyat tentram di antara rayuan pulau kelapa itu.
Ya, mungkin termasuk kita.
“kecuali satu, ingat itu!” ulangmu, lagi.
Ah, matamu begitu cekung, penuh misteri.
Belum kulihat kau memakai kacamata.
Padahal, kita sering bertemu di ruang pustaka.
Bagaimana kau bisa membaca indeks sebuah buku?
“dan jaket kita berwarna kuning, ingat itu!” ulangmu, lagi.
Ya, kucingpun berwarna kuning, begitu kata emha.
Juga baju kita.
Telah kususun silsilah para raja.
Tapi tak kutemukan satu garispun dari Semar itu, dari kekecualian itu.
Selamanya Semar tetap Semar, kecuali tetap kecuali.
Dan Semar tetap kekecualian.
“Dan hijau....,”
Cukup!
Telah hancur semua teori!
Telah bubar semua diskusi!
Lenteng Agung, 4 Maret 1995