Mimpi Jakarta (1)
Mimpi Jakarta (1)
Oleh
Indra J Piliang
Warga DKI Jakarta
Bagaimana kita menerjemahkan kondisi Jakarta yang semakin tidak kondusif bagi kemanusiaan? Baik orang kaya, kelas menengah, apalagi orang miskin, menghadapi kenyataan hidup di Jakarta yang kian keras. Kemajuan di bidang sarana transportasi yang berhasil dicapai, ternyata tak seiring dengan ketersediaan infrastruktur seperti jalan. Jakarta semakin tak layak huni.
Apa yang sebetulnya terjadi dengan pusat kolonialisme selama 3,5 abad, serta pusat beragam peristiwa politik yang mengubah rezim-rezim politik? Jakarta atau Batavia atau Jayakarta atau hanya sekadar Sunda Kelapa adalah mestizo dari beragam kebudayaan. Hanya saja, selain kesulitan dalam artian mengambil nafas bagi fisik manusia – alibat macet dan banjir --, bahkan nafas kebudayaan manusia-manusia Jakarta juga kian hilang.
Contoh mutakhir adalah perjalanan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jasin. PDS HB Jasin ini hampir saja ditutup, setelah tidak lagi mendapatkan subsidi dari Pemerintah DKI Jakarta. Gerakan masyarakat sipil yang dikomandani oleh para sastrawan, jurnalis dan mahasiswa berhasil mengubah opini Pemda DKI Jakarta. Anggaran pengelolaan dijanjikan dipenuhi.
Tetapi, jauh di atas janji Pemda DKI itu, masyarakat sudah digerakkan untuk memberikan sumbangan dalam bentuk apapun. Seorang kawan saya sudah sejak 6 bulan lalu melibatkan yayasan pribadinya untuk membantu PDS HB Jasin. Tanpa ada pengumuman resmi. Keterlibatan itu karena ada jasa-jasa masa sekolah yang diberikan PDS HB Jasin kepada perjalanan kemanusiaannya.
Di tengah situasi yang serba tidak pasti sekarang, tatkala pemerintah pusat kelihatan semakin disibukkan dengan beragam hal yang kita tidak tahu banyak, Jakarta hadir terlalu dominan dalam wacana publik. Hampir seluruh sumber pertengkaran politik berasal dari Jakarta. Tayangan infotainment murah dan meriah juga didominasi Jakarta.
Dan mimpi publik juga dibentuk oleh Jakarta. Mimpi-mimpi manusia Indonesia adalah bagian tak terpisahkan dari apa yang disuntikkan oleh tayangan informasi publik dari Jakarta. Walau Jakarta macet, walau Jakarta banjir, walau gempa sudah datang ke Jakarta tahun lalu, tetap saja membawa beragam imajinasi tentang Jakarta sebagai rumah masa depan.
Tahun depan, mimpi-mimpi warga Jakarta akan dipertaruhkan dalam pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur secara langsung. Untuk kedua kalinya sepanjang sejarah Jakarta. Selama ini, Gubernur dan Wakil Gubernur adalah pilihan Ratu Kerajaan Belanda (Gubernur Jenderal) ataupun atas pilihan DPRD DKI Jakarta. Sejak tahun 2007, warga DKI Jakarta memilih sendiri siapa yang layak mewujudkan mimpi-mimpinya.
Jelang tahun yang menentukan itu, alangkah eloknya kita bermimpi: apa yang baik tentang Jakarta? Saya akan memulai dengan satu catatan lepas ini. Dan saya akan meneruskan dalam catatan-catatan berikutnya.
Jakarta, 31 Maret 2011.