Tan Malaka Bukan Opera
Harian Haluan, 03 Mei 2011
Tan Malaka Bukan Opera
Oleh
Indra J Piliang
Belakangan ini banyak muncul upaya untuk menjadikan sosok-sosok yang pernah mewarnai sejarah sebagai bahan dagelan. Mungkin malahan lebih dari itu, sekadar sketsa di kanvas yang basah. Setelah kering, hanya ditaruh di dinding yang lama kelamaan berdebu. Tanpa ada lagi semangat zaman. Hanya sekadar gumaman.
Saya tidak tahu motif apa dibalik pementasan Opera Tan Malaka. Sejak semula, saya tak hendak menontonnya. Ada beberapa kawan yang menonton, baik yang berlatar belakang ilmu sejarah, maupun warga kebanyakan, termasuk yang berasal dari tanah Minang. Yang mereka tangkap hanyalah kebingungan. Opera yang tak bisa mereka pahami dengan baik. Kisah-kisah yang berlompatan.
Saya juga membaca komentar Wakil Presiden Boediono yang menontonnya. "Karya Goenawan Mohamad itu selalu tidak ringan, jadi saya tidak mengaku bisa menangkap semuanya, Ini karya yang berat bagi orang awam seperti saya, tapi benar-benar saya enjoy (menikmati- Red) tadi," kata Boediono (MetroTVNews.com).
Pementasan yang berdurasi selama 1 jam itu tentulah berisi tafsiran. Baik syair-syair yang dibawa, ataupun musik yang dikemas. Saya hanya bisa membayangkan. Penjara demi penjara yang dihuni Tan Malaka, medan perang gerilya yang penuh dengan hutan rimba, pergerakan anak-anak muda revolusioner, serta rakyat jelata yang menjadi kecemasan Tan Malaka, tentu telah diubah menjadi pentas bercahaya. Tan Malaka tak lagi sesosok keajaiban zaman revolusi, lahir dari perantauan yang panjang, melainkan hanya syair dan musik yang biasa dinikmati kaum borjuis kota.
Kehidupan masa kecil Ibrahim Tan Malaka adalah sebagaimana anak-anak Minang umumnya. Ia pintar mengaji, bahkan menjadi guru mengaji. Tentu di surau di nagarinya, Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat. Ia bersekolah di Sekolah Raja Bukittinggi. Lalu, ia menjelajahi banyak negeri dan negara. Berjibaku dengan penyakit paru-paru, lalu sembuh di rantau nan jauh di Negara China. Jelas opera jauh dari kehidupannya.
Ia memang pernah bersekolah di Belanda, lalu bertemu dengan aktifis-aktifis pergerakan negara-negara lain. Tapi jelas, Tan Malaka bukankah sosok yang suka hidup dengan dansa. Ia berbeda dengan Sutan Syahrir yang memang kadang ditemukan tertidur di tangga rumah keluarganya, usai pesta.
Saya kira memang diperlukan buku yang menerangkan hubungan Tan Malaka dan tokoh-tokoh pergerakan nasional lainnya dengan music. Tidak hanya hubungan mereka dengan buku. Musik apakah yang disukai Tan, Syahrir, Muhammad Hatta, A Rivai, dan lain-lainnya itu? Apakah mereka pernah masuk ke ruang-ruang opera, sekadar merasakan bagaimana hidup dimaknai oleh bangsa-bangsa kolonial? Seberapa jauh musik memberi spirit bagi perjuangan mereka. Apakah di ruang kontrakan H Agus Salim yang sempit itu terdapat alat-alat musik?
Tetapi, lagi-lagi, bukan opera tentunya. Apalagi opera yang khusus dikemas di zaman yang penuh kemasan ini. Bagaimana bisa seorang Tan Malaka yang selalu menyembunyikan identitas dirinya bersenandung musik tertentu yang dia dapatkan di Belanda? Bahkan, aksen asingnyapun dia berusaha tutupi. Hanya telinga orang-orang terlatih yang bisa menangkap bahwa sosok manusia tua yang ada di hadapan mereka itu adalah seseorang yang berpendidikan. Tan barangkali bisa berpakaian sebagaimana orang-orang kebanyakan, pada hari-hari penting tahun 1945. Tetapi, bagaimana ia menyembunyikan kemampuannya berbahasa asing, terutama Belanda dan Inggris, setelah pelariannya di banyak negara?
Merdeka 100% bagi Tan Malaka adalah hapusnya feodalisme, selain kolonialisme. Satu ciri dari masyarakat feodal itu adalah kesukaan para pangeran atau tuan-tuan tanah menonton opera. Sosok nasionalis tulen seperti Tan tak mungkin menunjukkan diri sebagai bagian dari kelas feodal itu. Sejak ia berhenti dari jabatan sebagai guru bergaji Eropa di perkebunan Senembah, Tan jelas sudah menanggalkan sisi keeropaannya. Matanya jelas tak tahan melihat betapa tuan-tuan perkebunan Eropa dengan seenaknya menjadikan istri-istri dan anak-anak perempuan para koeli kontrak sebagai barang dagangan.
Kurikulum pendidikan yang dibuat Tan Malaka lewat sekolah-sekolah Syarekat Islam di Semarang jelaslah tak memasukkan opera sebagai bahan ajaran. Kurikulum yang ditakuti oleh pemerintahan colonial Belanda itu jauh melampaui apa-apa yang kemudian dikerjakan oleh Paulo Freire atau Ivan Illich. Tan telah menerapkan dengan sangat baik bagaimana caranya agar pendidikan benar-benar adalah wahana pembebasan. Dia mendidik anak-anak, sebagai cikal bakal kelompok terpelajar yang nantinya menjadi tulang punggung bagi Indonesia merdeka.
Apa nyana, Tan ditangkap karena aktivitasnya di dunia pendidikan itu. Dan ia lantas melewati penjara demi penjara. Apakah ada opera di penjara? Tentu tidak ada. Bagaimana penjara berisi opera, sementara dunia begitu sempitnya. Penjara adalah ruang untuk memutus mata rantai penghuninya dengan dunia luar, termasuk kesenangan beropera.
Bahkan sampai kemudian Tan bergerak dengan menampakkan muka, membentuk yang namanya Persatuan Perjuangan, bergerak secara spartan dari medan gerilya yang satu ke medan gerilya yang lain, jelas tak akan ada opera di hutan-hutan itu. Tan yang diburu oleh intel-intel Belanda, Inggris, lalu Jepang, jelaslah sosok yang akan membuang simbol apapun bahwa ia adalah orang terpelajar. Naskah Madilog (Materialisme, Dialektika dan Logika) bahkan harus disimpan di dalam lubang kakus terbuat dari bambu di Kalibata sekarang yang dulu adalah tempat jin buang anak.
Maka, ketika Tan Malaka dipersembahkan dalam bentuk opera, bagi saya itu adalah lakon ahistoris. Tan Malaka yang berupa opera adalah lelaku borjuis dan feodal yang justru sangat berbeda dengan diri dan aktivitas Tan Malaka yang sebenarnya. Tan Malaka bukan opera, kawan!!!
Sebagai seorang pendidik sejak usia remajanya, sampai kemudian berjibaku dengan anak-anak muda pemberang zaman revolusi, jelaslah bahwa mengajarkan Tan dalam bentuk opera adalah salaharah…
Jakarta, 2 Mei 2011.
-
wallahualam bisawab..salah 1 Dosa pelaku negeri ini pembajakan.
bgai mna pn pembajakan adl tindakan yg merusak hak cipta & kebenaran Lisensi maupun aslinya..
Opera Tan Malaka yg d critakan bung Indra d ats jlas, suatu tindakan pembajakn sejarah yg tdk relevan,shingga mmbahayakn proses regenerasi bngsa ini dlm enkulturasi sejarah & budayanya..
Posted by asrul khairi on September 22nd, 2011, 11:18:26 PM -
Saya rasa bukan suara lagi, tapi teriakan marah yang keluar dari kubur Tan Malaka ketika dirinya dipentaskan untuk kaum borjuis oleh kelompok Kapitalis #Salaharah.
Posted by Dodi on May 10th, 2011, 09:55:31 AM -
Saya koreksi, tulisan ini terbit di Haluan
Posted by NASRUL AZWAR on May 9th, 2011, 08:53:29 PM -
perlu sosok seperti bapak sebagai counter banyak peristiwa masa kini, makasih pak IJP :)
Posted by ripai on May 3rd, 2011, 03:25:49 PM -
Menurut saya, artikel ini terlalu mensimplifikasi kaitan antara seni opera dengan budaya feodal dan kemudian dikaitkan dengan pandangan politik Tan Malaka. Contohnya pada kalimat ini, "Satu ciri dari masyarakat feodal itu adalah kesukaan para pangeran atau tuan-tuan tanah menonton opera. Sosok nasionalis tulen seperti Tan tak mungkin menunjukkan diri sebagai bagian dari kelas feodal itu."
Kita pun mengenal siapa Nyoto. Salah satu pucuk pimpinan Politbiro CC PKI ini merupakan . seniman. Ia mahir bermain beberapa alat musik barat. Apakah ia bisa dikatakan feodal karena gemar bermain musik yang sering digunakan para penyokong feodalisme? Padahal sikapnya sudah jelas, ia anti terhadap feodalisme.
Meski demikian, artikel ini cukup bisa menyegarkan pikiran. Salam, tabik!
Posted by arief on May 3rd, 2011, 02:10:14 PM