Briptu Norman dan Social Media

Briptu Norman dan Social Media
Selasa, 10 Mei 2011

Briptu Norman dan Social Media

Oleh
Indra J Piliang

Magister Ilmu Komunikasi FISIP UI

 

Tanpa sengaja (atau disengaja), sebuah video masuk ke Youtube. Dalam gaya yang terlihat begitu aduhai, seorang anggota Brimob sedang menyanyikan lagu “Chaiyya-Chaiyya” dengan penuh penghayatan. Di sampingnya, duduk seorang temannya yang sedang memainkan handphone.  Video sederhana itu menjadi pembicaraan publik. Yang membicarakan adalah para pengguna akun twitter, facebook dan peselancar dunia maya.

Briptu Norman segera menjadi bahan pembicaraan publik. Dalam waktu singkat, namanya setara dengan artis-artis papan atas lain yang sudah lama berjibaku dalam belantara music pop. Seluruh berita infotainment dikuasai oleh Briptu Norman. Situasi menjadi tidak lagi normal, ketika beragam kepentingan bisnis masuk ke dalam pemberitaan.

Apa yang sesungguhnya terjadi? Ketika video awal Briptu Norman muncul di youtube, masyarakat pengguna social media terpukau karena menemukan sesuatu yang orisinil. Sesuatu yang diluar diri mereka. Video awal itu bagaikan air jernih yang mengalir di dalam sungai yang kotor dan penuh limbah. Karenanya, Ia menjadi menarik. Ia mempesona. Ia memunculkan hysteria massa pengguna social media.

Kenapa demikian? Karena social media pada hakekatnya sejak awal lebih banyak dihuni oleh kalangan pelaku bisnis pencitraan. Mereka adalah agency yang tergabung di dalam public relation company, baik kelas atas, menengah ataupun pemula. Jadi, sesuatu yang sifatnya pencitraan masuk ke ranah social media dalam beragam bentuk. Informasi tidak selamanya muncul secara orisinal, melainkan sudah melewati beragam proses editing. Yang terjadi adalah pemiuhan infomasi. Sesuatu yang bersifat tidak apa adanya.

Selain itu, social media juga ruang bagi pavoritisme. Siapa yang punya nama, maka ia akan memiliki pengaruh lebih luas yang ditandai dengan jumlah followers di twitter, misalnya. Sifat ingin tahu public tentang kehidupan selebritis memicu para follower untuk mengikuti para selebritas ini. Tak heran kalau akun-akun yang dimiliki oleh para artis dan pemain sepakbola, misalnya, jauh lebih banyak followers daripada politisi.

Hal ini bukanlah sesuatu yang tanpa sebab. Di masyarakat sendiri, party id hanya berjumlah 20%. Artinya, delapan dari sepuluh orang sama sekali apolitis. Karena itu, 80% masyarakat yang apolitis inilah yang mencari akun-akun yang bukan dimiliki oleh politisi. Mereka tak terlalu ingin tahu tentang “kehidupan public” yang dimaknai oleh politisi, melainkan lebih tertarik dengan apa yang dilakukan oleh seorang artis dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks seperti itulah Briptu Norman hadir. Ia bukan diberlakukan seperti seorang artis, melainkan sosok yang menunjukkan sisi humanitas yang kuat. Briptu Norman dengan uniform lengkap adalah orang yang mencoba menjadi dirinya sendiri, sekalipun dibalut oleh imajinasi public betapa Brimob itu adalah sosok yang sangar dan serius. Karena itu juga, kebanyakan para pengguna media social tak berharap kalau Briptu Normal kemudian menjadi lebay dan justru masuk ke aliran sungai kotor dan penuh limbah, yakni sebagai medium pencitraan.

Dan lihat, setelah justru Briptu Norman hadir sebagai sosok yang seleb, digunakan sebagai ikon pemulihan citra polisi oleh Mabes Polri, hadir terlalu banyak bersama dengan kalangan selebritis lain yang ada dalam radar public, maka dengan cepat kehadirannya di dunia social media tidak lagi diperlukan. Secara sepintas kita mulai menemukan kalimat-kalimat kritis, ketika berita atau informasi tentang Briptu Norman kembali hadir.

Lalu kritisisme berubah menjadi serangan, antara lain lewat peredaran foto yang diduga adalah Briptu Norman bersama kekasihnya. Kategori foto yang terbilang “panas” itu lambat laun menunjukkan bahwa Briptu Norman bukanlah seseorang yang muncul dari desa dengan segala macam kemurniannya. Briptu Norman ternyata hanyalah seseorang yang sudah lama ingin memasuki dunia hiburan, lalu tersandung dengan statusnya sebagai anggota Brimob.

Social media kemudian dengan cepat melupakan Briptu Norman. Ia hadir di panggung yang lain, yakni layar televisi dan konser-koser musik. Ia kini sedang tenggelam dalam ranah pencitraan, termasuk dijaga oleh para entertainer yang profesional di bidang pencitraan. Briptu Norman tak lebih dari sekadar produk dari sebuah perusahaan kosmetika. Ia bukan lagi seseorang yang sedang menghibur temannya yang sedang ada masalah keluarga, melainkan menjadi pengisi dari panggung hiburan yang bernilai uang.

Jelas sudah, Briptu Norman bukan lagi seseorang yang berstatus “perawan” ketika videonya hadir di youtube. Ia sudah jadi pengantin dalam ranah pencitraan..  

» KOMENTAR (5)

© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com