03 Mei 1998
Depok, 3 Mei 1998
Kemaren ikut aksi KBUI di Salemba, dengan mahasiswa-mahasiswa PT lain se-Jakarta. Ada juga mahasiswa dari Lampung dllnya. Mahasiswa sempat bentrok di kampus ABA-ABI yang menyebabkan satu mahasiswa UI luka. Beritanya, dan foto, ada di Koran (Pos Kota, Merdeka).
Ketika massa UI Salemba ingin menjemput teman-temannya yang terkurung di kampus ABA-ABI, dihalangi petugas. Akibatnya terjadi dorong-dorongan dengan pihak keamanan yang mengerahkan panser dan berlapis-lapis tentara (di depan kampus UI Salemba). Aku berada di tengah-tengah bentrokan, tapi sempat menghindar karena tidak mengenakan jaket kuning. Mahasiswa cukup emosi ketika aparat menendang pakai sepatu lars.
“Sialan elu, jangan pakai kaki. Emang kami ini musuh ABRI?” kata mahasiswa, emosi.
Aku juga berteriak kea rah aparat agar tidak menendang pakai kaki. Chandra M Hamzah yang juga ada di barisan depan, sempat hampir menangis, ketika melihat mahasiswa UI ingin bentrok dengan pihak keamanan.
“Apa elu punya kontak dengan mereka? Tolong bilang, jangan dulu turun ke jalan. Soalnya ada pihak-pihak tertentu dalam tubuh ABRI yang ingin mahasiswa turun ke jalan,” ujar Chandra.
Tentu saja aku punya kontak. Padang Wicaksono, Fahri, Wisnu, dllnya adalah korlaps. Aku juga yang membawa spanduk “DPR Wakil Rakyat?” bersama Rahmat dllnya dengan mobil Anto. Aku jelaskan kepada Chandra agar jangan terlalu khawatir. Mahasiswa hanya ingin melakukan test case, untuk menaikkan tensi.
Memang agak konyol untuk turun ke jalan, apalagi Soeharto baru saja berucap “Reformasi politik boleh, setelah tahun 2003!” di depan pimpinan DPR/MPR Jumat kemaren (1/5). Pemberitaan itu dibantah sendiri oleh pemberitaan pers hari ini, lewat penjelasan Menpen Alwi Dahlan dan Hartono. Koreksi ucapan presiden oleh presiden lewat menterinya ini, pertanda Pak Harto makin tua dan pikun. Ini presiden buruk bagi kekuasaan Orde Baru.
Apalagi, bukan kali ini saja Pak Harto berlaku ceroboh. Ketika menandatangani letters of intent tanggal 15 Januari 1998, Pak Harto juga mengingkarinya di kemudian hari, karena merasa apa yang ditandatangani itu melanggar UUD 1945. Borok-borok kekuasaan, akhirnya ditunjukkan sendiri oleh pelakunya. Apalagi para pembantu Harto banyak yang tidak cakap, dan bukan sebuah tim yang padu. Mereka saling bertentangan dalam mengeluarkan pandangan, bahkan saling mengoreksi.
Dan aku memang sudah memutuskan, untuk ikut ‘main’ dalam aksi reformasi kali ini. Kelompok yang kupilih adalah Rahmat yang punya “tangan” UI dalam kelompok Posko UI. Aku memilih Rahmat lebih karena kedekatan emosional dan keterusterangannya. Dengan keterlibatan ini, otomatis aku meninggalkan “kelompok” Fahri Hamzah, Muni cs, atau malah KSM-UI Eka Prasetya. Apalagi posisiku jelas dalam kelompok Rahmat, sebagai actor di “belakang layar” dengan memberikan pandangan-pandangan objektif atas fenomena-fenomena yang berkembang.
Makanya, ketika Wien mengatakan aku disorot kamera TV, baik asing atau lokal, itulah pertanda “keterlibatan”-ku dalam aksi mahasiswa kali ini. Dengan adanya aku di depan para mahasiswa UI yang hendak bentrok dengan aparat di gerbong kampus UI Salemba kemaren, di tengah sorotan banyak mata dan kamera, karena aku mengatur-atur tanpa pakai jaket kuning jelas menjadi “proklamasi” bahwa aku sudah ada di dalam aksi mahasiswa ini, bukan lagi di luarnya. Lambat laun Rama Pratama, Selamat Nurdin (Didin), atau siapapun akan mengetahuinya.
***
Sore sampai malam ke markas anak-anak. Semua sedang tidur, kecuali Alpian Siagian. Alpian, sekalipun sudah sarjana dan lebih dulu lulus dariku, sampai sekarang belum bekerja. Dia masih sibuk mengurus Teater Sastra dan NGeK.
Malamnya ikut negosiasi, eh, evaluasi aksi kemaren. Banyak cerita-cerita lucu seputar aksi. Mahasiswa yang berkata “Sabar, Pak!” ketika bentrok, kesalahan komando korlap, aksi ngocol JJ Rizal cs, sampai minjam toa sama komandan Brimob untuk mengomando mahasiswa. Jelas, dibalik tuntutan yang serius – malah sampai ada yang bilang “Gantung Soeharto!” – tetap saja ada nuansa-nuansa khas mahasiswa, ketidakseriusan menghadapi situasi.
Malah, kata Padang, aku mirip intel, ketika berada di barisan depan mahasiswa yang berhadapan dengan aparat. Soalnya, aku pakai kemeja rapi, rambut cepak, dan mengatur-atur. Makanya, tak seorangpun berani menegurku, termasuk aparat.
“Udah, lain kali elu pakai jaket kuning aja!” kata Fahri.
Di balik itu, ada informasi serius tentang penyebab chaos di ABA-ABI. Menurut Fahri, perintah serbu bukan datang dari Korlap, tapi dari Suma cs. Suma adalah unsur radikal dalam Posko. Aku pernah diskusi dengannya. Dia membandingkan aksi-aksi mahasiswa UI yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mahasiswa UGM. Mahasiswa Yogya memang sudah akrab dengan bentrokan. Dan bentrokan itu sudah menjalar ke kota-kota lain: Lampung, Solo, Ujung Pandang, Medan, dan Jakarta, serta Bandung.
Aku baru tahu bahwa dalam KBUI memang terdapat kelompok-kelompok yang pro-kontra soal turun ke jalan. Padahal, bagi Rahmat dan kawan-kawan, turun ke jalan itu belum saatnya. Dan ini menarik, bagaimana mengambil sikap di tengah beragam tuntutan dalam situasi sulit. Mentalitas kepemimpinan diukur dari sini.