Catatan Harian Indra J Piliang
Rabu, 06 Mei 1998
Rabu, 11 Mei 2011
Rabu, 06 Mei 1998 Jadi pembicara Dialog Reformasi Politik SKS FSUI bersama Eep Saefullah Fatah. Session lainnya diisi oleh Rama Pratama, Desmawati, Gde Mahendra, Dadang Budiana, Anhar Gonggong dan Abdullah Azwar Anas.
Aku menguraikan betapa kekuasaan Orba sudah menghegemoni begitu dalam. Sehingga Ia dianggap suatu kebutuhan. Kekuasaan jenis ini harus diakhiri dari mentalitas para pendukungnya. Aksi-aksi penyadaran, dengan demikian, perlu mendapat porsi.
Eep menguraikan situasi terakhir gerakan mahasiswa, termasuk radikalisasi massa. Titik-titik api gerakan mahasiswa itu sudah muncul di Medan. Terjadi pembakaran toko-toko, perusakan rumah, penjarahan toko-toko, sampai penembakanan oleh aparat. Yang paling menjadi korban adalah warga keturunan. Situasi ini, menurut Eep, antara lain dipicu oleh naiknya harga BBM, tariff listrik dan tarif angkutan.
Aku tidak tahu, apakah uraianku cukup memberikan perspektif kepada audiens yang memenuhi aula Pusat Studi Jepang. Yang jelas, JJ Rizal sempat kecewa sekali dengan kegiatan yang digelar ini.
Selesai session, aku sempat bicara dengan Fadjroel Rachman, tokoh aksi 5 Agustus 1989 ITB . dia menawarkan aliansi antara mahasiswa dengan Forum Wacana (Mahasiswa Pasca Sarjana). Untuk urusan itu, aku katakana Rahmat lebih kompeten. Dia memang bicara dengan Rahmat kemudian.
***
Kekecewaan JJ Rizal tidak hanya terbatas pada acara Reformasi Politik SKS. Dia juga ‘kecewa’ setelah mendengar bahwa aku bergabung dengan Rahmat cs. Dia menangis di Kantin Sastra. Dia mungkin sedih melihat diabaikannya factor kebudayaan dalam aksi-aksi mahasiswa. Dia menilai alangkah keringnya gerakan mahasiswa. Posisi JJ Rizalpun selama ini sebatas mengisi acara dalam unjuk rasa di dalam kampus. Padahal dia ingin lebih dari itu, dan punya potensi.
Soal kebudayaan ini sudah kubicarakan dalam Musyawarah Mahasiswa FSUI tanggal 1 Mei 1998 lalu. Aku jadi pembicara tunggal soal kilas balik pergerakan mahasiswa Sastra. Aku tekankan tentang perlunya dibuat Lembaga Kajian Kebudayaan atau semacamnya. Kalau perlu organisasi-organisasi yang ada dibubarkan. Tapi aku tidak tahu hasil akhir dari Musyawarah Mahasiswa ini. Kabarnya tidak banyak yang berubah, akibat anak-anak Formasi yang ikut lebih memilih status quo. Dengan keadaan status quo, Formasi dan kader-kadernya peluang besar untuk jadi Ketua Senat Mahasiswa FSUI.
Ide-ide mengenai kebudayaan ini juga disampaikan dalam Studium General tanggal 4 Mei lalu oleh Dr Melanie Budianta. Banyak perspektif baru tentang kebudayaan yang diuraikan dalam acara itu. Sayangnya, ide-idenya hanya menyentuh perhatian segelintir mahasiswa, terutama JJ Rizal dkk.
***
Malamnya JJ Rizal, Yunadi dan Dadang datang ke kost-ku. Dia “mengadili” keterlibatanku dalam kelompok Rahmat. Dilain pihak, dia menguraikan betapa lemahnya pemahaman tokoh-tokoh mahasiswa yang melakukan aksi sekarang dalam bidang ilmu pengetahuan. Banyak di antara mereka terjebak dengan rutinitas rutin, dan kurang sekali membaca buku. Orang-orang seperti Gde, Fahri, Padang atau Dandi dipandang tidak memiliki perspektif ke depan dalam aksi mahasiswa ini. Orang-orang seperti itu yang menjadi bagian kelompok Rahmat hanya mempunyai pamrih dalam aksi-aksi ini, dan menjadikan aksi ini sebagai gaya/trend.
Aku terkejut dengan pemikiran JJ Rizal. Apa benar demikian? Menurutku, orang-orang seperti Rahmat cs datang dari kelompok menengah atas, dan menjadikan momentum ini untuk membangkitkan kesadaran kritis kalangannya. Kalaupun ada yang bergabung dengan kekuasaan nantinya, itu soal posisi saja. Toh tidak ada ketentuan bahwa seorang intelektual atau seorang aktivis harus ada diluar kekuasaan. Itu hanya soal pilihan.
Berita Sebelumnya