Catatan Harian Indra J Piliang

Kamis (5 Mei 1994) - Selasa (10 Mei 1994)

Senin, 16 Mei 2011

Kamis, 5 Mei 1994

Pagi mencoba mendengarkan kaset rekaman SNAM (Simposium Nasional Angkatan Muda 1990-an: Menjawab Tantangan Abad 21), mencari Taufik Rahzen. Tapi tak mendapatkan. Padahal, aku janji untuk merekamkan ulang bagi Fahri Hamzah, anak FEUI yang menemuiku kemaren.


Tidak ada kuliah – Bayangkan, alangkah tidak disiplinnya para dosen!. Minjam buku Deliar Noer. Becanda dengan Musa cs. Membicarakan acara ulangtahunku dan Elsye di rumah Fana. Dengan Reni tentang SMUI. Menemani tiga cewek IKIP Jakarta di perpustakaan. Aku merasa tidak perlu kenal nama dan alamat mereka.

Makan siang di Balsem dengan Subuh Prabowo. Sebelumnya mengenal Zulkieflimansyah secara lebih dekat dan Ai, Campaign Managernya.

“Memilih Zul bukan sebagai primus enter pares, tapi yang jelek di antara paling jelek,” kataku.

Banyak hal yang kubicarakan dengan Subuh: idealisme, cita-cita, kondisi kemahasiswaan dan cewek.

“Tetapkan kriteria dan kejar, walaupun tidak mungkin 100%,” katanya. Ratih cs, adik kelasku, mendengarkan.

“Elu harus berani memulai, memutuskan dan mengikuti prosesnya,” kata Purwadji, Ketua BPM Fakultas Psikologi. Tiba-tiba, anak-anak kulihat lebih bijak dari sebelumnya.

Kiriman dana sponsor Rp. 2 Juta dari Bank Industri sudah masuk. Kupikir ada permainan di dalamnya. Jika didepositokan, mereka untung Rp. 600.000. Masalahnya, siapa “mereka”?

Dari 14.00 sampai 17.00 mengikuti Debat Lisan antara Eman Sulaeman versus Teddy dan Rivai (Phaon) versus Zul. Zul dan Teddy bicara dalam tataran ide-konseptual. Eman lebih aplikatif. Rivai terlalu praktis. Perdebatan antara Zul-Rivai seakan antara seorang filsuf dengan rakyat biasa. Kecenderunganku adalah memilih Zul. Namun ada satu kelemahan dia: tidak bisa mensintesakan hal-hal yang teoritis dengan persoalan praktis di lapangan. Dan dia bisa belajar banyak dari pengalaman kemaren. Sepertinya, Mustafa Kamal, Agus Widiarto dan Sukarman adalah arsitek di belakang Zul.

Aku terlibat diskusi intensif dengan Jaha dan Yaswin. Sedikit move kulakukan, yakni mengiterupsi Rifky Mochtar yang menjadi moderator. Soalnya, dia memojokkan Eman dengan kalimat, “Anda salah menangkap isi pertanyaan.” Namun, aku tidak terlalu ngotot, soalnya akan menurunkan kredibilitas Rifky dan panitia. Untung Fajar segera tanggap. Ada permintaan untukku: “Tahun depan elu harus maju!”


Pulang, ke Kalibata Mall dan membeli buku ini dan Alan Laulin. Sebelumnya, bicara dengan Ikhsan Dongoran soal KSM-UI. Dia mampu akomodatif dan memotivasi anak-anak lainnya. KSM UI harus besar.


“Kalau elu salah, gua akan kritik. Kalau elu benar, gua dukung,” begitu ikrar kami berdua.
Kupikir, aku harus maju tahun depan di SMUI. Tahun ini, mengakar dan berkiprah di KSM UI, serta menempa diri dengan konsep-konsep yang matang.

Jum’at, 6 Mei 1994

Kupikir, aku tidak bodoh dalam studi sejarah. Masalahnya, aku kurang membaca buku-buku sejarah dan tidak mendalaminya secara optimal, karena kesibukanku dalam dunia kemahasiswaan dan kedekatan hubungan dengan banyak anak di UI. Waktuku habis untuk membicarakan banyak hal dengan orang-orang berbeda, sehingga tidak hanya terfokus pada satu persoalan.

Aku merasa yakin dengan kemampuanku, termasuk menjadi seorang pakar sejarah dengan syarat: memberikan lebih banyak waktu untuk mendalaminya. Aku hanya butuh waktu untuk menyelesaikan peranku selaku aktivis, dengan mengikuti seluruh prosesnya. Setelah mantap, aku akan memfokuskan diri pada satu bidang: sejarah dan dunia penulisan. Secara perlahan, aku akan meninggalkan dunia kemahasiswaan.


Kuliah historiografi hanya memberikan peta permasalahan di sekitar sejarah, jenis-jenis penulisannya ataupun tokoh-tokoh dalam bidang tertentu. Hal ini perlu, apalagi dalam menentukan bahan yang akan dikerjakan dalam skripsiku.

Di perpustakaan membuat draf kertas kerja Bidang Pengabdian Masyarakat KSM UI, lengkap dengan program kerja dan dasar pemikirannya. Banyak hal yang bisa dilakukan: transfer ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, pengabdian dan dialog dua arah. Aku akan menawarkannya pada rapat KSM nanti.

Makan siang di Kantin Atas. Bicara dengan Saiful soal SMUI dan SM FSUI. Dia menanyakan konsepsiku tentang FS, suatu obsesi yang harus dilakukan di FS.

Kukatakan: “Satu hal yang belum dilakukan di FS adalah mengembangkan potensi-potensi di masing-masing jurusan dalam satu kesatuan Sastra. Sastra adalah pintu gerbang pertama dalam memahami suatu budaya atau negara lain. Selama ini, para pemikir atau tokoh-tokoh terkenal di Perancis, cuma dikenal oleh anak Sastra Perancis. Anak jurusan lain juga berkutat dengan jurusannya. Padahal, jika digabungkan, maka Sastra akan mampu berbicara sejajar dengan fakultas favorit lainnya. Dibalik itu, Sastra akan jadi satu. Bukankah kemanusiaan itu universal? Bukankah ilmu pengetahuan itu hukum-hukumnya juga sama di masing-masing negara, kecuali interaksinya dengan kebudayaan setempat?”

Aku juga bicara dengan Taufik Kurniawan, soal kebebasanku. “Itu lebih baik, ketimbang menjadi pemimpin, tapi mengikuti kemauan kekuasaan yang lebih besar,” kata Taufik.
Di Mesjid, ketemu Subuh dan kukatakan kepadanya, “Elu jangan melakukan move-move yang terlalu kasar dan kentara. Kalau elu ingin eksis, masuklah dalam kepengurusan SMUI berikutnya, siapapun pemimpinnya.” Dia lebih mudah mengeluarkan ide-idenya, jika ada dalam struktur.

Dalam perjalanan ke Mesjid, naik mobil Deden dengan JJ Rijal. Pembicaraan sekitar Jurusan Arkeologi yang merasa bukan anak Sastra. Sebabnya, mereka tersingkir dalam pemilihan Ketua SM FSUI. Kupikir, mereka akan sangat otoriter jika ada di atas. Sebaliknya, menjadi apatis jika orang lain yang berkuasa, bahkan anarkis.

Pelantikan pengurus KSM tertunda sampai 16.00. Aku dianggap Sutana sebagai otak dari ide, “KSM akan jadi pressure group bagi SMUI!” Dia mengatakan itu pada Bagus. Sementara, aku bicara dengan Bagus soal Dewi dan masalah buku filsafat (Frans Magnis Suseno) yang kubaca.

“Buku itu hanya pantas dibaca kalau perut sudah kenyang dan kebutuhan terpenuhi,” katanya. Aku agak kesal dan makin memahaminya, serta konsepnya tentang kemapanan atau aktualisasi diri.

Ada dialog dengan wakil-wakil PLD KSM. Yang menarik adalah cerita Mas Ardi tentang kejayaan KSM. Dia menguasai permasalahan dan bisa diajak diskusi.

Harapan Pak Umar terhadap KSM sangat besar: sebagai think tank SMUI, pelopor perubahan, pemicu semangat intelektual mahasiswa, dan lain-lainnya. Dia masih murni sebagai seorang ilmuwan, belum birokrat. Apakah dia masih bisa bicara seperti itu, jika sudah lama di kursi PR III UI? Katanya, masih. Orientasinya sudah jelas: keilmuan (research university), bukan politik praktis. Antara lain, mengundang tokoh-tokoh kontraversial untuk bicara secara ilmiah, dengan tidak mengundang pers, serta jaminan untuk KSM mendengarkan ceramah ilmiah, dan lain-lainnya. Prospek KSM baik di UI!

***

Ide-ideku sering muncul setelah membaca buku dan menghubungkannya dengan pengamatanku dan pendapat-pendapat lain yang pernah masuk ke kepalaku. Namun, seringkali aku belum bisa menangkap keseluruhan isi buku atau artikel koran, dalam satu paragraf. Aku biasanya terpengaruh untuk tidak menyelesaikan buku-buku yang kubaca, karena alasan kesibukanku. Aku perlu waktu khusus untuk membaca.

Sabtu, 7 Mei 1994

Pagi mengetik tulisan (opini) untuk Wida. Aku ternyata bisa dan mendapatkan kepercayaan diri yang kuat, apalagi jika dimuat.

Pukul 10.00 ke Sastra, setelah mengambil foto-foto di Foto Plaza. Bicara dengan Bodi dan Nelwandi di Kansas. Dalam suasana seperti ini, kami menjadi begitu terbuka dan saling bertukar pikiran. Bodi makin mantap dengan Studi Jepangnya dan teman-temannya di Sumitmas dan Jurusan Sastra Jepang. Aku dipandang punya modal di organisasi yang sedikit digeluti mahasiswa. Perbedaan karakteristik dan pemahaman atas kelebihan-kekurangan masing-masing individu mengakrabkan kami.

Hanya Nelwandi yang belum matang, karena ketidak-konsistenannya di Jurusan Sejarah. Dia terlalu terpengaruh pada keluarga dan teman-temannya yang memandang Sejarah sebelah mata. Padahal, secara ekonomi, dia tidak punya masalah, seperti halnya aku dengan Bodi. Aku dan Bodi berusaha membangkitkan lagi semangat hidupnya dan kepercayaan dirinya selaku mahasiswa UI. Mudah-mudahan dia mendapatkan sesuatu dari pembicaraan kami. Sampai pukul 13.00 di Warteg.

Di Senat memberikan surat buat Agus Widiarto. Aku ingin memperbaki hubungan dengannya.

“Selama ini kita tidak ada masalah, koq,” katanya.

Di Pusgiwa, pukul 14.00, rapat soal Program Kerja KSM UI. Didahului dengan presentasi Alex Antariksa soal “Penelitian Sosial” dan Yuliansyah soal “Tanggungjawab Sosial Industri Kesehatan”. Ternyata ada semacam kolusi antara dokter dengan industri farmasi soal biaya pengobatan. “Dokter sering memberikan resep untuk memakai obat-obat mahal, padahal ada obat yang lebih murah dengan khasiat sama!” Konsumen sering dirugikan karena ketidaktahuannya, bukti kelemahan YLKI atau IDI.

Pulang pukul 19.00. Rencana mau nonton di Pasar Minggu, tapi karena filmnya jelek, aku pulang.

Sampai malam nonton RCTI. Kisah memilukan di tengah kekuatan mata seorang bocah perempuan yang bisa membakar mobil, orang dan gedung. Dia selalu merasa berdosa melakukan kesalahan yang membuat orang lain menderita atau membunuh mereka. Namun, kematian dan kata-kata ayahnya untuk “memusnahkan semuanya”, yaitu lembaga riset yang memakai mereka sebagai kelinci percobaan (eksperimen), telah membuatnya kalap dan menghancurkan gedung dan orang-orang intelek tersebut.

“Just for you, my father!” katanya, sambil berlinangan air menyaksikan kematian, kebakaran dan kehancuran di depannya.

Cinta telah membawa manusia pada perbuatan yang bertentangan dengan hati nuraninya. Kesucian cinta, kadang-kadang mengerikan jika dimanifestasikan dalam bentuk berbeda.  


Minggu, 8 Mei 1994

Sebetulnya, aku punya rencana untuk menyelesaikan sebagian tugas-tugas kuliah. Tapi, tanggungjawab moralku mengharuskan untuk mengantarkan Etek Ida ke terminal Tanah Abang untuk kepulangannya.

Paginya menulis surat untuk ayah-amak tentang berbagai hal: kuliahku, pernikahan Tuan Ismed, pendidikan adik-adikku, rencana kedatangan Buyun di Jakarta dan ....calon istriku. Kalau aku menikah dengan gadis diluar Minang, setidaknya sedikit melegakan pihak yang bersaing karena sama-sama “buluih”. Entahlah. Mungkin juga sebaliknya, makin memusuhiku.

Senin, 9 Mei 1994

Lagi-lagi tidak ada kuliah. Tidak ada pemberitahuan dari Mbak Melly soal Sejarah Amerika. Katanya ada ujian skripsi.

Akhirnya belajar di perpustakaan. Membaca skripsi Lilian Issusianti (Sejarah 80) tentang PERMI (1930-1937). Ada kata-kata menarik dalam pengantar skripsinya:

“Pandanglah hari ini, sebab inilah hidup, hidup yang benar-benar hidup. Dalam jangkanya yang pendek ini terletak semua kebenaran serta kenyataan eksistensimu – kebahagiaan pertumbuhanmu, kemuliaan perbuatanmu, kemegahan karyamu. Sebab kemaren hanyalah mimpi dan besok hanyalah bayangan, tapi hari ini sungguh ada dan membuat kemaren jadi mimpi bahagia dan besok jadi bayangan yang berpengharapan. Oleh karena itu, pandanglah hari ini. Inilah salam kepada fajar.”

Membicarakan rencana ulangtahun Elsye, aku dan Agung di rumah Fana. Tapi aku malu karena tidak punya uang. Mereka sangat baik, namun aku belum bisa meyakinkan diriku.
Di Senat, ketemu Agus W. Suratku membawa perubahan.

“Kalau elu diminta jadi Ketua KOPMA FSUI, elu bisa?” tanya Agus. Kukatakan kesanggupanku. Agus kudorong jadi Ketua SM FSUI, nyatanya Isa (Alamsyah) yang maju. Isa lebih bisa diterima ketimbang Agus, kupikir.

Aku juga bicara soal Kamal dengan Halomoan dan Yunadi. Aku telanjur menilai kebimbangan Kamal karena kepentingan hijau. Padahal, Halomoan Kristen.

“Gua nasionalis,” kataku. Memberi saran Halomoan memfokuskan studinya dalam semester awal ini.

Makan bersama Fadli Zon dan Agus W. Diteriaki sebagai intel oleh Mangku. Ketemu Subuh dan bicara soal pembuatan buku hasil-hasil SNAM. Aku, Syamsul Hadi, Syafuan Rozi dan Fadli sebagai redaksi/editor, sedang Subuh sebagai sekretaris redaksi.

Ke Pusgiwa, membicarakan Hadi dan SMUI. Juga evaluasi demonstrasi ke (kedutaan) Yugoslavia, (kedutaan) Amerika Serikat dan Departemen Sosial yang dinilai Fadli: “Tepat!”

“Apa bukan sekadar legitimasi (post factum)?” tanyaku.

Fadli menilai tidak, karena setidaknya kita mau menyuarakan sikap kita. Sedangkan tudingan banyak pihak atas ketidaktepatan demo tersebut dinilai sebagai ucapan tanpa dasar. Buktinya, mereka yang menuding itu hanya diam.

Lalu diskusi di KSM dengan Zul dan Phaon. Aku sebagai moderator yang nyatanya tidak moderat, karena turut menilai. Padahal, kupikir ini adalah dialog untuk mencapai satu kesimpulan/kesepakatan. KSM belum bisa keluar dari peraturan-peraturan yang dibuat sendiri dan mengikat anggotanya. Keilmiahan suatu forum diskusi justru dinilai dari suasana formalitas yang melingkupinya.

Zul bicara secara filosofis-teoritis, sedang Phaon praktis-empiris. Zul pantas dikagumi atas pengetahuannya yang luas dengan dimensi intelektual yang tajam. Mungkin benar kata Kamal, “Zul lebih baik dari saya!” Aku mempunyai image terlalu negatif atas Zul, padahal belum mengenalnya. Suatu pelajaran berharga. Satu nilai positif dari pencalonan keduanya: kemantapan pribadi, terlepas dari kalah atau menang.

****

Sejarah lokal patut dipelajari dan diteliti untuk bisa mengadakan koreksi terhadap generalisasi-generalisasi yang sering dibuat dalam sejarah nasional – Sejarawan Filipina --.

Selasa, 10 Mei 1994

Tulisanku tentang “Suksesi dan Kendaraan Politik Mahasiswa” dikritik Karman karena kekacauan bahasa atau logikanya. Aku dinilai tidak jernih melihat fenomena, bahkan terlibat dalam tulisanku sebagai ‘penghujat’! Faktor lain, karena aku tidak bisa mengambil jarak terhadap subjek yang kutulis dan kurangnya pengetahuanku tentang perspektif sejarah (Arnold Toynbee). Hal terakhirlah yang kurasa sebagai faktor utama kesalahanku.

Pemilihan Ketua Harian dan Ketua Umum SMUI dimulai hari ini. Sepertinya, Zul akan menang mutlak di FSUI, seperti yang kulihat dari para pemilih yang mayoritas (seluruhnya?) massa Zul. Kata Kamal, Zul adalah intelektual muda yang pandai mengarahkan dirinya pada satu garis lurus.

Ada persoalan di sekitar utusan Jurusan Sejarah dalam BPM, prosedur yang ademokratis. Kita cepat tanggap dan Kamal membicarakan dengan Bondan.

“Tahun ini untuk Angkatan 91,” kata Bondan. Dia adalah calon pasti, disamping Musa. Aku tidak setuju Musa, karena dia tidak pernah serius mengerjakan sesuatu. Aku mengusulkan Bondan dan Agus Sofyan.

Membicarakan Studi Klub Sejarah, BPM dan SMUI dengan Bondan. Aku ingin membenahi SKS, sebagai ketuanya. Setidaknya, aku punya obsesi untuk mengembangkannya menjadi laboratorium sejarah. Perlu dukungan dari Angkatan 91, minimal.

Sore dan malam menulis surat untuk Nur Azizah dan Dr Mestika Zed. Bicara masalah Islam dan sejarah Pariaman.

Nonton film tengah malam TVRI. Sangat bagus, inspiratif dan membangkitkan kecintaan pada manusia selaku individu. Bercerita tentang musik, persahabatan yang diwarnai pertentangan dan bayangan-bayangan masa silam. Nostalgia yang mengikat, namun mempesona. Nostalgia, walaupun pahit, merupakan harta paling berharga dan membangkitkan nuansa-nuansa keindahan. Karakter masing-masing tokohnya jelas dan mantap, sehingga sulit membedakan antara aktor utama dengan aktor pendukung. Bagiku, Eddie, Frank, Lionne, Doc atau Lilian adalah tokoh utama. Ketokohan kolektif.

Muncul suatu gagasan atau gambaran bahwa Eddie adalah Subuh, sedangkan aku adalah Frank. Aku ingin mendirikan suatu kelompok diskusi dan persahabatan dengan anggota tim: Subuh, Jaha, Agus W, Fadli, Indra dan Rudi. Leonne-nya adalah Emma, Dewi atau siapapun. Indonesia akan mendengarnya dan dunia akan ternganga!

Aku adalah syair, Subuh adalah musik. Kesepakatan yang tumbuh diam-diam.

© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com