Catatan Harian Indra J Piliang

Minggu, 17 Mei 1998

Senin, 16 Mei 2011
Minggu, 17 Mei 1998
Jakarta rusuh tanggal 13 dan 14 Mei lalu. Kerusuhan merembet ke Tangerang dan Bekasi. Toko-toko, mal-mal, dan mobil-mobil hancur, dijarah dan dibakar. Ratusan penjarah terbakar. Jakarta mencekam. Awal dari peristiwa ini adalah ditembaknya 6 mahasiswa Universitas Trisakti oleh aparat, 4 tewas. Puluhan lainnya juga terkena tembakan dalam tragedy 12 Mei 1998.

Hari itu, tanggal 13 Mei, aku ada di Universitas Trisakti untuk mengamankan mahasiswa UI yang ikut bergabung. Rencana mau ke Depok naik mobil Dandi dengan JJ Rizal. Tapi massa sudah mengalihkan mobil, dengan menutup jalan kea rah Universitas Trisakti. Mobil segera diparkir kembali di RS Sumber Waras, sebagai tempat paling aman untuk mencegah kondisi terburuk.

Kerusuhan dimulai dengan pembakaran truk sampah, pom bensin. Sempat terjadi bentrokan dengan satu regu polisi Brimob yang terkepung massa di pos Grogol. Akibatnya, mereka melepaskan tembakan (peluru karet), beberapa kali. Aku sempat menyaksikan 5 orang tertembak, kebanyakan pelajar SMA. Para mahasiswa menolak ikut rusuh dengan bertahan di Universitas Trisakti. Alasannya:  sedang berkabung.

Sorenya aku ke rumah Ida, berjalan kaki. (Ida mengingat bahwa mataku merah, terkena gas air mata). Puluhan ribu massa memadati Jalan Hasyim Ashari, seraya membakar mobil, toko dan melempari gedung-gedung berkaca. Pasukan Marinir dan Brimob hanya menjaga Roxy Plaza. Aku berada di rumah Ida sampai dia pulang, karena khawatir dia terjebak massa. Sempat singgah di Kota, lalu kembali ke kost reformasi, dan berjumpa dengan Rahmat, Agus Gde, Dandi, etc.

Tanggal 14 Mei kerusuhan kembali meledak dengan skala lebih besar. Aku berada di Salemba, mengamankan lebih kurang 10.000 massa mahasiswa UI yang mengadakan aksi keprihatinan. Aku kecewa dengan pengamanan massa mahasiswa yang tidak terkontrol. Panitia aksi hanya sibuk berteriak-teriak agar mahasiswa mundur. Aku lihat Rama, Rifky dan Imran di mimbar.

Aku mengambil inisiatif dengan membikin rantai manusia dekat pagar, dan pelan-pelan memaksa massa mundur ke dalam kampus. Rifky, Setyohadi, Gde, Wien, dan lain-lain terlihat membantu. Ketika aku diserahi Gde menjadi komando lapangan, dengan memakai jaket kuning, sempat perang mulut dengan Butet, mahasiswa FH 96. Dia ingin massa bergabung dengan “rakyat” di luar pagar, sedangkan aku mencegahnya. Dia sempat menuduhku intel yang tidak ingin rakyat dan mahasiswa bergabung. Aku juga sempat melihat Irvan dan kawan-kawan berteriak “UI Tai!” karena tidak mau bergabung dengan massa diluar pagar.

Sorenya massa diluar pagar sempat masuk kampus, dipimpin Ali Sadikin dan Adnan Buyung. Yang memasukkan Pounsterling Harahap. Saat itulah ikut sejumlah tokoh, termasuk Dono dan Ruhut Sitompul – pengacara yang banyak memenangkan rezim Soeharto --. Aku minta Alif untuk menarik Ruhut Sitompul, kalau dia naik panggung lagi. Muni, Fahrel dan Sukarman juga mempunyai sikap yang sama denganku. Kedatangan Ruhut dan massa dari LBH itu sempat membuat aku punya pikiran buruk: Irvan, Butet, dan kawan-kawan (all FHUI) adalah perpanjangan (tangan) para lawyer ini.  

Dalam aksi itu terdapat isu-isu seperti ABRI akan sweeping, ada serangan massa, dan lain-lainnya. Itu tidak terbukti.

Pukul 04.00 (15 Mei)  naik mobil Dito ke Depok, lewat jalur-jalur yang mungkin tidak ada perusuhnya. Benar-benar mencekam. Dimana-mana terdapat bekas bekas kebakaran. Kami lewat Cikini, Menteng, Kuningan, Sahardjo, Pancoran, Duren Tiga, Mampang, Depok.

Di daerah Kuningan sempat ketemu mobil Wapres Habibie yang mau menjemput Pak Harto di Bandara (Halim). Kabarnya, Pak Harto pulang dinihari tanggal 15 Mei dari Kairo. Isu yang berkembang, terjadi kontak senjata Prabowo vs Wiranto di Halim untuk memperebutkan “Supersemar II”. Menurut Fahri Hamzah, Pak Harto kena stroke dan Amien Rais diculik Prabowo. Isu yang benar-benar murahan, di kemudian hari. Soalnya hari Jumat (15 Mei), Amien Rais tampil di Mesjid Al Azhar bersama Fahri Hamzah, Rama Pratama, dan sejumlah aktivis KAMMI.

Praktis hari Jumat tidur di kost Graha 2010. Paginya dihubungi Ida untuk datang ke rumahnya. Rencananya mau nganterin ke Grogol, Pademangan. Tapi angkutan kota masih lumpuh. Jalan-jalan di Hayam Wuruk dan Gajah Mada dipenuhi marinir. Puing-puing kebakaran mobil dikerumuni massa. Bank, pertokoan, diskotik, dan perkantoran milik keturunan Cina benar-benar jadi sasaran. Inilah biaya mahal yang dibayar oleh Soeharto.

Tidak jadi berangkat. Seharian di rumah Ida, bicara dengan Maman, ibunya, dan Susi. Aku banyak nonton dan baca akibat kerusuhan. Malamnya rencana mau balik, tapi dicegah ibu Ida. Soalnya ada isu perkampungan sekitar Krukut akan dibakar oleh warga Cina yang berniat membalas dendam. Aku disuruh ronda, tapi lebih banyak tidur di sofa.

Sabtu (16 Mei) pagi ke rumah Adnan. Hayati tidak bekerja lagi, karena kantornya dibakar massa. Glodok juga hangus, hingga Yunas, Hanafi dan lain-lainnya tidak bisa berdagang.

Aku mengurus Jurnal Reformasi kepada Luthfi dan Jali. Biayanya naik lagi. Aku kesal. Begitupun Rahmat. Sampai hari inipun belum ada contoh cetakan. Malamnya tidur di kost reformasi. Malam kemaren sempat ada isu sweeping. Rahmat menyiapkan evakuasi selama 5 menit, dan Jali. Tapi tidak ada rencana itu. Di sekitar Margoda suasana panas.

***

Hari ini (17 Mei) Jurnal Reformasi terbit. Sayang, beritanya agak basi, terutama tulisanku dan Andi Rahman, mengingat cepatnya perubahan. Percepatan politik ini amat spektakuler, sulit diikuti nalar, tapi punya logika tersendiri, terutama dikaitkan dengan aktor-aktor elite yang melakukan maneuver, baik sipil atau militer.

Aku sempat menulis untuk bulletin Momentum. Buletin ini punya Latansa FISIP UI. Soal yang kutulis adalah “Kebangkitan Kaum Intelektual II”.

Siangnya, rapat dengan Enin, Fadjroel, dan teman-temannya alumni ITB. Enin dan Fadjroel adalah alumni Nusakambangan juga, akibat peristiwa 5 Agustus 1989. Hal yang dibahas adalah cara menduduki DPR/MPR. Ada banyak cara yang ditawarkan, tergantung kondisi lapangan. Dalam soal aksi mahasiswa, terutama di lapangan, mereka jagonya.
© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com