Catatan Harian Indra J Piliang

Senin (18 Mei 1998) - Kamis (21 Mei 1998)

Senin, 16 Mei 2011
Senin, 18 Mei 1998
Masih di kost reformasi. Nyatanya anak-anak SMUI dan Rama sudah bergerak ke DPR, melanggar kesepakatan semula. Di gedung itu, Rama dikejar-kejar oleh anak-anak Forum Kota. UI dianggap pengkhianat, sehubungan dengan kedatangan Rektor UI dan kawan-kawan ke Jalan Cendana.

Jurnal Reformasi terbit semuanya. Aku membawa contohnya ke kampus. Ketemu Tono. Ia mengabarkan Suara Mahasiswa UI sudah terbit. Sayangnya, Ia kesulitan mendapatkan penulis-penulis berbakat.

“Mereka sudah lulus semua,” ujar Andi Rahman. Andi mungkin benar, seraya menunjuk Angkatan 90 dan 91. Akibatnya, edisi Jurnal Suara Mahasiswa belum terpenuh target penulisnya, bukan hanya kualitas, tapi juga kuantitas. Kehadiran Jurnal Reformasi mungkin memberi contoh.

Hari ini ada tiga kejadian penting: mahasiswa menduduki DPR/MPR; Ketua dan Wakil Ketua DPR meminta Pak Harto mundur; dan Jenderal Wiranto mengatakan permintaan pengunduran diri itu bersifat individual, sekalipun disampaikan secara kolektif. Aku terus mengikuti perkembangan itu dengan cermat.

Selasa, 19 Mei 1998

Beberapa tokoh Islam bertemu presiden, seperti cak Nur, Cak Nun, Yusril Ihza, Malik Fadjar, Gus Dur, dan lain-lainnya. Mereka minta secara tegas Pak Harto mundur. Tapi Pak Harto menolak dan menawarkan jalan kompromi dengan membentuk Komite Reformasi dan Kabinet Reformasi.

Habis berita itu, aku rencananya mau ke rumah Tuan Ismet. Tapi di halte UI ketemu iring-iringan bis menuju Gedung DPR. Karena kesepakatannya aku harus mengawal anak-anak UI yang datang ke DPR, aku ikut bis pertama. Lebih dari 5000 mahasiswa UI segera menguningkan DPR. Padahal mereka tidak tahu apa tuntutannya. Hanya mike di DPR dipenuhi dengan suara-suara menuntut Soeharto mundur. UI bagian dari itu.

Yang membuat aku gondok sekali adalah kehadiran Rama di depan massa mahasiswa UI, bersama Rifky Mochtar. Dia seolah-olah memimpin massa dan memberikan keterangan kepada pers asing. Betul-betul tidak punya rasa malu, setelah mengkhianati teman-temannya sendiri.

Aku memikirkan teknis pengamanan mahasiswa UI. Apalagi kemaren nyaris terjadi bentrok antara massa PP dengan massa mahasiswa, dengan spirasi berbeda. Aku khawatir mereka mudah diprovokasi.  Tapi Padang dan Fachri tidak segera kutemukan. Akibatnya Rama merajalela.

Rabu, 20 Mei 1998
Hari ini masih ada di DPR. Semalam jalan dengan Eva Mazrieva yang jadi reporter SCTV. Katanya, media massa nasional sudah mulai memboikot Rama yang tidak simpatik. Aku juga diskusi dengan anak-anak KSM UI.

Dinihari sempat bertengkar dengan Rahmat. Soalnya, dia ingin mengevakuasi mahasiswa UI malam itu juga, karena adanya isu macam-macam. Malah Chandra M Hamzah sudah dimintai menyediakan bis 40 buah. Aku menolak evakuasi itu, karena berdampak negative bagi mahasiswa UI. Makasiswa UI akan dicela kalau hanya mengambil jalan aman. Evakuasi tidak jadi dijalankan karena kesulitan mengkoordinasikan massa. Akhirnya tidur di DPR. Sempat dibangunkan malamnya, pukul 3 pagi, karena ada isu penyerangan aparat. (Kami lari kea rah belakang Gedung DPR).

Sempat ketemu Bagus Hendraning Kobaryasih, Rudi Kurniawan, Indra Kusuma, Icus, dan lain-lainnya. Juga ikut mengadili anggota FKP DPR RI, Ekky Sharuddin, soal kepastian sikap DPR. Juga ketemu tokoh-tokoh reformis, seperti Dimyati Hartono, Kemal Idris, Emil Salim, Amien Rais, dan lain-lain. Yang menarik, Mustafa Kamal langsung kasih komando kepada anak-anak KAMMI untuk melingkari Amien Rais. Rencananya aka nada pengerahan massa yang diklaim sebagai massa KAMMI ke Monas, tapi dihadang oleh aparat.

Hari ini, Jakarta milik tentara, kecuali kawasan DPR RI. Malamnya aku ke Kota lewat Cikini.

Kamis, 21 Mei 1998
Aku ada di Kota, ketika Soeharto mundur dari jabatan Presiden RI dan menyerahkan kepada Habibie. Aku terpana, begitu juga rakyat. Hanya mahasiswa yang bersorak gembira.

Aku kembali ke Depok, dan memperhatikan betapa lengangnya jalanan. Inikah kemenangan mahasiswa atau kemenangan seluruh lapisan rakyat yang membantu mahasiswa? Bagaimana nasib Indonesia pasca Soeharto? Anak-anak kost reformasi juga tidak begitu “gembira” atau berhentinya Soeharto. Mereka tidak menduga, begitu cepatnya Soeharto mundur.

Aku langsung berpikir tentang pekerjaan, bahkan kawin. “Toh Soeharto sudah turun,” begitu ucapan selamat dari anak-anak.
© 2008 Indra Jaya Piliang, All Rights Reserved
Powered by Bergerak!com